
"Tutup mulutmu bocah edan, jangan terlalu bermulut besar kau belum tau siapa kami!!" satu prajurit menghunus pedang nya menyerang Panji gara dengan kemarahan karna merasa terhina
Panji gara hanya tertawa. tubuh kecilnya dengan ringan melompat menghindari serangan
merasa di beri komando oleh salah satu prajurit maka ke empat prajurit lainnya turut menyerang pula termasuk yang kepalanya telah terluka
memang tidak pernah ada yang menduga apalagi orang-orang yang baru bertemu dengannya karna dilihat dari segi penampilan Panji gara hanya pemuda biasa tetapi siapa sangka kesaktian pemuda itu luar biasa hanya dengan lima jurus ajian petir meretas bumi Lima prajurit gelang-gelang telah dibuatnya luka parah keringat bercampur dengan darah membasahi pakaian prajurit-prajurit itu
Panji gara mengambil ranting kayu sebesar pergelangan tangan. tidak ubahnya mengusir anjing-anjing liar Panji gara mengacung-acungkan ranting kayu
"aku pendekar malaikat Dewa khayangan diutus ke bumi untuk melenyapkan manusia-manusia seperti kalian, kalian punya dua pilihan segera tinggalkan tempat ini dan nyawa kalian aman, atau tetap disini dan arwah kalian akan menjadi penunggu pohon ini"
Panji gara menunjuk sebuah pohon besar dengan daunnya yang rindang sepintas pohon itu menyeramkan sepertinya itu pohon beringin hutan
dengan tatapan mata yang lesu lima prajurit gelang-gelang itu tentu memilih untuk tetap hidup. meskipun seluruh tubuhnya terasa sakit dan tulang-tulang nya terasa patah semua mereka berusaha bangkit
melihat hal itu Panji gara masih belum merasa puas diapun kembali menakutinya
"jika dengan dalam hitungan kesepuluh aku masih melihat salah satu dari kalian itu artinya takdir telah menentukan arwahmu menjadi penunggu hutan ini"
kelima prajurit itu semakin panik mereka tidak ingin arwahnya menjadi penunggu pohon beringin besar itu, dengan sisa tenaga yang ada mereka lari meninggalkan hutan itu
"Ha..ha..ha..ha..ha..ha"
Panji gara tertawa terbahak-bahak hatinya merasa puas "selamat jalan kawan hati-hati semoga kita dapat bertemu lagi.
ha...ha..ha..ha.. dasar pecundang" bibir usil Panji gara menambahkan
sementara si gadis yang sejak tadi bersembunyi di balik rumpun semak mengulum senyum melihat tingkah pemuda itu diapun segera keluar dari balik semak lalu menghampiri Panji gara untuk mengucapkan terimakasih
"terimakasih kakang karna kakang telah menyelamatkan hidupku"
__ADS_1
Panji gara menoleh seraya tersenyum
"sama-sama Nini, aku ingatkan tidak baik gadis sepertimu berkeliaran di hutan sendirian sangat berbahaya, sekarang katakan dimana rumahmu? aku akan mengantarkan mu pulang"
gadis itu menghela nafas berat
"Haaaahhhh. namaku Ken Rara aku lari dari istana karna aku sudah tidak sanggup lagi menyaksikan penderitaan ayahku"
gadis itu mengatakan jatidiri nya sambil duduk diatas akar pohon beringin yang menonjol di permukaan tanah
Panji gara pun mengikutinya
"oohh jadi kau seorang putri? apakah kau ini putrinya Gusti Prabu Gandara seta?"
Panji gara ingin lebih jelas
"benar sekali kakang. sudah tiga tahun ini kerajaan ayah handaku di kuasai oleh Prabu Hindun Rancasan dan selama itu kami hidup dalam tekanan kesengsaraan dan penderitaan terutama ayah handaku beliau terpaksa memeras rakyat nya dengan melipat gandakan upeti setiap bulannya sehingga rakyat kelaparan karna harus kehilangan seluruh hasil panennya. ayah handaku terpaksa melakukan itu karna diriku yang selalu menjadi ancaman Prabu Hindun Rancasan. ayah ku menyetujui apapun permintaan Prabu Hindun Rancasan asalkan aku selalu berada di sampingnya termasuk memeras rakyatnya,
mungkin mereka rela mengorbankan harta benda nya ataupun nyawanya karna mereka sangat mengenali watak Rajanya yang sebelum kerajaan hilir jati di kuasai oleh Prabu Hindun Rancasan, sedikitpun ayah handaku tidak pernah meminta upeti pada rakyatnya meskipun beliau mengetahui hasil panen mereka melimpah ruah tetapi ada sebagian rakyat yang datang berbondong-bondong ke istana memberikan hasil panen mereka kepada ayahanda agar Raja mereka dapat mencicipi hasil panen mereka itu katanya,
Ken Rara memalingkan wajah untuk menghapus air matanya agar tidak diketahui oleh Panji gara yang duduk di sampingnya
pemuda itu merasa tersentuh
"betapa kejinya perbuatan Hindun Rancasan" bisiknya dalam hati
"oh ya kakang hendak kemana kau ini?
atau kakang pendekar berkelana yang kebetulan lewat di hutan ini?"
"namaku Panji gara aku seorang duta yang sengaja dikirim oleh Gusti Prabu Nara Wenda untuk menemui Gusti Prabu Gandara seta ayahanda Putri" Panji gara menjelaskan tujuannya
__ADS_1
"sungguhkah ucapan mu itu kakang? bahwa kakang utusan Paman Prabu Nara Wenda?"
"benar Putri" jawab Panji singkat
dari kantung kainnya pemuda itu mengeluarkan bambu kecil yang berisikan pesan untuk di sampaikan kepada Prabu Gandara seta, di sodorkannya bambu itu pada Putri Ken Rara
dengan cepat gadis itu menerimanya
di bukanya penutup bambu itu lalu mengeluarkan gulungan kecil daun lontar di bacanya kalimat demi kalimat wajah gadis itu yang sejak tadi nampak muram menjadi cerah setelah membaca pesan dari Prabu Nara Wenda, di gulungnya kembali lontar itu lalu dimasukannya kembali kedalam bambu
"aku senang berjumpa denganmu kakang tetapi untuk menyusup masuk ke istana sangatlah riskan karna di sepanjang perbatasan, disetiap sudut istana di jaga ketat oleh prajurit-prajurit gelang-gelang. seperti halnya yang terjadi pada diriku!!
dini hari tadi aku mengendap-endap keluar dari istana dan aku lolos tapi di perbatasan ini mereka berhasil menangkap ku. mungkin karna sejak kecil aku jarang sekali keluar istana sehingga aku tidak dapat menghapal jalan di wilayah kekuasaan ayah handaku sendiri"
"berapa banyak penjaga yang di tempatkan di setiap sudut istana?" tanya Panji ingin memastikan
"hanya sekitar empat atau lima kakang tetapi mereka selalu berjaga bergantian sehingga siapa saja yang hendak melarikan diri selalu dapat tertangkap, kami ingin memberontak kakang tapi apalah daya kami. karna kesaktian, pengaruh dan juga kekuasaan Prabu Hindun Rancasan teramat sangat kuat hingga kami tidak berdaya dibuatnya"
"apakah di istanamu tidak ada lorong rahasia untuk melarikan diri? karna setauku di setiap istana kerajaan pasti akan memiliki lorong rahasia"
"tentu ada kakang tetapi mulut lorong rahasia istana kami telah di ketahui oleh Prabu Hindun Rancasan sehingga kini selalu berada di bawah penjagaan" Ken Rara menjelaskan
"apakah Putri masih ingat dimana letak mulut lorong rahasia itu?"
"di sebelah barat hutan Koja kakang. masih wilayah kekuasaan kerajaan hilir jati"
Ken Rara seperti mengingat-ingat
BERSAMBUNG
dukung terus ya sobat
__ADS_1
tinggal like dan komen ko mudah banget
makasih