MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 5 PENGUASA LEMBH GURANG-RANG


__ADS_3

karja berteriak memanggil penjaga


diluar kedua orang penjaga datang menghampirinya. "kami siap melaksanakan perintah juragan"


"buang mayat Mayang suri ke jurang di ujung desa sana" perintah juragan karja


lalu penjaga masuk kedalam kamar Mayang


didalam kamar didapatinya Ningsih tengah menangis sambil memeluk tubuh kaku Mayang


dengan kasarnya kedua penjaga itu mendorong Ningsih "buk" suara tubuh Ningsih menabrak dinding kamar


"ambil kain itu" salah satu orang itu bicara


lalu tubuh Mayang di bungkus dengan kain tersebut


***


"pada saat yang bersamaan di tepi jurang


ada seorang nenek tua sedang mencari tanaman herbal," tiba-tiba matanya menangkap sosok bayangan putih


"benda apa itu? sepertinya ada sesuatu di dalam bungkusan itu" gumam si nenek


"Dengan gerakan yang sangat cepat nenek itu melesat menyambar sosok bayangan putih itu


setelah meletakkan benda itu di atas batu


lalu si nenek melihat ke atas juragan


dengan penglihatan yang sangat tajam si nenek dapat melihat beberapa orang laki-laki berpakaian serba hitam yang sedang memastikan bahwa benda tersebut sudah jatuh ke dasar jurang"


tidak lama kemudian mereka pun pergi


nenek tua itu memeriksa apa yang ada di balik kain putih itu alangkah terkejutnya si nenek setelah mengetahui apa yang ada di balik kain putih itu "siapa orang ini mengapa mereka membuangnya ke dalam jurang"


"perlahan-lahan nenek tua membuka kain putih untuk memastikan lebih jelas


nenek tua menempelkan telinganya di dada wanita tersebut namun tidak ada detak jantung, lalu memeriksa pergelangan tangan


masih ada getaran walaupun sangat lemah


lalu memeriksa leher wanita itu


Masih hangat"


"masih hidup wanita ini masih hidup"


gumam si nenek


"semoga aku bisa menyelamatkan nya"


"tangan kiri si nenek meraih keranjang tanaman herbal lalu membopong tubuh wanita tersebut di pundaknya


dengan gerakan yang sangat cepat nenek tua itu melesat melompati bukit-bukit kecil yang di lalui nya, terlihat ilmu meringankan tubuh nya sangat sempurna"


"tidak sampai setengah jam nenek tua itu sampai di mulut goa yang tertutupi rumput-rumput yang menjalar tumbuh di mulut goa


si nenek menyibak rumput tersebut dan masuk ke dalam go"


"di dalam goa dalam keadaan gelap gulita

__ADS_1


nenek menerobos masuk matanya begitu jeli mengenali setiap sudut di dalam goa


rupanya si nenek mengunakan ajian si mata pedang sehingga langkahnya tidak tertahan oleh benda-benda apapun"


"sosok yang terbungkus kain putih di letakkan di atas lempengan batu pipih


setelah itu si nenek menyalakan api untuk penerangan di dalam goa"


"si nenek duduk di samping Mayang dan membuka kain yang menutupi wajah Mayang


sambil menatap wajah Mayang"


si nenek bergumam


"Nini kasihan sekali cantik-cantik kenapa nasibmu seperti ini siapa orang yang tega membinasakan Nini?"


"tidak terasa air mata menetes di pipi si nenek


seolah-olah nasib yang di alami Mayang


di alami juga oleh dirinya"


"mendadak wajah cantik Mayang yang sedang di tatap si nenek perlahan-lahan meleleh


si nenek terkesima tersentak kaget"


setengah berteriak si nenek berkata


"oh hiyang Widhi apa yang terjadi dengan gadis ini?, mengapa tiba-tiba wajahnya meleleh?"


"si nenek berusaha mengamati cairan ke kuning-kuningan yang keluar di sekitar wajah Mayang"


"hiyang agung hiyang rumuhun rupanya gadis ini terkena serbuk racun yang amat sangat mematikan"


" secepat kilat si nenek melompat dari samping Mayang dan meraih keranjang yang berisi tanaman herbal, dengan tangkasnya tangan si nenek meracik ramuan obat kemudian di tempel di sekitar leher hingga pundak Mayang"


"ramuan ini bukan penawar tetapi hanya sekedar untuk penangkal agar racun itu tidak menjalar ke tubuhmu Nini"


nenek sakti penguasa lembah gurang-rang itu termenung dan bergumam


"bagaimana caraku untuk mendapatkan penawar dari racun itu? aku tau siapa pemilik penawar nya tapi apa mungkin aku mengemis memintanya?"


"hiyang Widhi bagaimana ini apa yang harus aku lakukan gadis ini butuh pertolongan


tapi di sisi lain enggan rasanya aku berjumpa dengan si tua renta itu"


tangan si nenek menepuk keningnya sendiri


"suara hatinya terus mengatakan aku harus menolongnya- aku harus menolongnya


berkali-kali"


"seandainya aku pergi kessana butuh waktu lima jam sementara racun ini akan terus bereaksi tidak ada pilihan lain untukku selain pergi ke sana"


si nenek berbisik di telinga Mayang


"kau tunggulah aku nini, aku akan segera pergi mencari penawar racun ini"


si nenek pun menghilang dari dalam goa


"di satu tempat yang cukup jauh dari goa tempat Mayang berada, di puncak gunung

__ADS_1


sima gong-gong tempat si pemilik penawar racun tinggal muncul sosok nenek tua dari kehampaan"


di puncak gunung yang di tuju si nenek


tanpa permisi si nenek berteriak dari luar


"hei tua renta aku tau kau berada di dalam aku datang untuk meminta sesuatu"


dari dalam terdengar suara terkekeh


"he he he, akhirnya kau datang juga nyai rupanya kau masih membutuhkan pertolongan ku, masuklah nyai jangan hanya berdiri di luar


tidak baik seorang tamu berteriak-teriak di luar"


"tua renta aku datang bukan untuk basa-basi


aku datang untuk meminta penawar racun katak merah" jawab si nenek


"he he he he, bagaimana mungkin wanita sesakti dirimu bisa terkena racun itu?"


"aku datang kesini dengan baik-baik, kau berikan atau ku ambil secara paksa?"


"coba jelaskan dulu untuk siapa penawar racun itu?"


"dengar tua renta aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya, seseorang sedang menungguku dan dia sangat membutuhkan penawar racun itu"


"he he he he, baiklah nyai kali ini aku percaya


dari suaramu kau sama sekali tidak berbohong


tangkaplah ini nyai, he he he he"


"sebuah benda berukuran kecil terbungkus kain hitam melesat ke hadapan si nenek


Dengan tangkas si nenek menangkapnya"


sambil melompat si nenek berteriak


"terimakasih tua renta aku pergi"


si nenek pun kembali menghilang dari pandangan


"di dalam goa tempat Mayang terbaring tiba-tiba muncul retakan di udara dan keluar sosok nenek tua itu"


"tanpa berpikir panjang si nenek menyiapkan


segala sesuatunya"


sesudah segalanya siap


"si nenek meraih tangan kiri Mayang dan menekan urat nadinya lalu menggores nya dengan pisau kecil setelah luka menganga penawaran racun pun bubuhkan nya lalu mengikatnya dengan sehelai kain


begitu pula dengan tangan kanan Mayang di lakukan hal yang serupa si nenek kembali duduk di samping Mayang"


"malam pun beranjak pagi di luar goa mentari sudah menampakkan sinarnya,


perlahan-lahan jemari tangan Mayang bergerak


si nenek melonjak kegirangan"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2