MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 57 PARA BEGUNDAL


__ADS_3

Pelayan-pelayan pun segera datang dengan baki-baki yang penuh dengan makanan serta menyajikannya di atas meja


"pelayan bodoh" laki-laki itu kembali membentak nya


"sudah ku katakan keluarkan semua arak dan makanan. apa kau tuli? masa iya hanya ini yang kalian hidangkan apa kalian tidak mengenal ku?"


"tapi maaf juragan persediaan arak dan makanan di kedai kami hanya ini"


"bohong apa perlu aku yang masuk mengambil arak-arak itu?"


"jangan juragan saya tidak bohong hanya ini yang kami punya"


"persetan kau pikir aku bocah ingusan yang dapat kalian bohongi?" laki-laki brewokan itu meraih kursi dan melemparnya


"praaakk" suara kursi yang di lempar hingga hancur berkeping-keping


Panji gara tidak lagi dapat menahan emosinya melihat kejadian itu.


tanpa harus menoleh pemuda itu melemparkan tulang paha ayam yang baru selesai di santapnya tepat ke arah si brewok itu


"bangsat kurang ajar, siapa yang berani melemparku dengan tulang ayam sialan ini?" hampir saja tulang ayam mengenai hidung si brewok jika saja dia tidak berkelit


Panji gara dan Singgih narpati masih terus menghabiskan makanannya ketika si brewok menghampiri ke mejanya


"hei bocah ingusan apa kau yang mencari gara-gara dengan ku? apa kalian tidak tahu siapa aku?"


Panji gara menjawab dengan mulut yang masih penuh dengan makanan


"rasanya kami tidak perlu mengenal kalian karena dari penampilan kalian pop pun aku sudah dapat melihatnya kalian itu perusuh pembuat onar pengacau dll sebagainya"

__ADS_1


suara Panji gara tidak jelas di dengar oleh si brewok karena makanan di mulutnya hingga si brewok semakin marah karena merasa di sepelekan


"bocah edan kurang ajar berani sekali menghinaku selama ini tidak ada satu manusia pun yang tidak tunduk dan hormat padaku"


Panji gara hampir tersedak mendengar kalimat yang di ucapkan si brewok dia pun segera berusaha menelan makanan nya karna bibirnya terasa gatal untuk menjawab


diapun segera berdiri serta menepuk tangan Singgih narpati


"kakang kau teruskan saja makan mu. tenang saja kakang untuk masalah sekecil ini rasanya kakang tidak perlu turun tangan biar adikmu yang tampan ini yang menyelesaikannya"


Singgih narpati hanya tersenyum menanggapi ucapan adiknya


lain halnya dengan si brewok laki-laki itu semakin geram "brrraaakkkk" tangan si brewok menggebrak meja dengan kerasnya


namun aneh tidak ada satu tempat makanan pun atau cangkir minuman yang tergeser dari tempatnya dan bahkan tidak sedikit pun makanan atau minuman yang tumpah keluar dari wadah-wadah nya padahal hantaman tangan si brewok sangat keras karena dilapisi dengan tenaga dalam yang sangat kuat


bibir Panji gara nyengir kuda mengusap-usap sebelah tangannya seolah-olah dia yang merasa kesakitan. mulut usil nya pun mulai berceloteh


Singgih narpati tidak kuasa menahan tawanya melihat tingkah adiknya itu namun dia takut si brewok tersinggung hingga singgung hingga Singgih pun berpura-pura mengusap-usap kumis nya


"bangsat bocah tengik aku tau kau hanya merendahkan kesaktian ku itu artinya kau telah menantangku. asal kau tau siapa sesungguhnya diriku ini. akulah si tangan maut pendekar ternama di jagat persilatan dan itu adik seperguruan ku bergelar si tangan seribu. aku perkenalkan diriku agar kalian tidak mati penasaran"


"Hah hah hah hah hah" Panji gara tertawa terbahak-bahak pandangan matanya mengarah pada laki-laki yang di tunjuk si brewok "ha ha ha hah oohya rakus sekali adik seperguruan mu itu hingga memiliki tangan seribu. lalu bagaimana dengan yang lainnya apakah mereka tidak memiliki tangan? tapi anehnya sejak tadi aku melihat hanya dua tangan lalu dimana disembunyikan yang 998 tangan nya lagi karena yang ku lihat hanya ada dua tangan"


mendengar ejekan Panji gara laki-laki yang disebut si tangan seribu berdiri dari duduk nya dengan wajah merah padam


"bocah kurang ajar berani sekali kau menghina ku. jangan bicara aku tidak suka basa-basi bukankah kau ingin merasakan hantaman tangan-tangan ku yang lainnya?"


tidak seperti si brewok yang ini beda selain wajahnya yang lumayan tampan sikapnya juga agak tenang suaranya tidak membentak-bentak sekeras si brewok

__ADS_1


Singgih narpati berdiri menghampiri adiknya seraya berbisik


"hati-hati adik Panji aku melihat orang itu memiliki kesaktian lebih tinggi di banding si brewok aku yakin tangan seribu itu ajian pamungkasnya jadi berhati-hatilah menghadapinya"


mata Singgih narpati memang sangat tajam dia mampu melihat kesaktian lawan meski hanya sekilas


Panji gara memang selalu mengagumi kesaktian yang dimiliki oleh kakak seperguruannya yang satu itu


karena kemarahan pendekar tangan maut dan juga pendekar tangan seribu yang sudah tidak dapat di bendung lagi maka pertarungan pun tidak dapat di hindari


melihat kedua gurunya maka murid-murid si tangan maut pun yang sejak tadi hanya menonton saja kini mereka pun turun ke arena pertarungan membantu kedua gurunya


bukan murid Purba kesha jika harus kewalahan hanya menghadapi pendekar-pendekar kelas bawah lihat saja hanya dalam tiga jurus ajian gunting selawi mereka yang mengaku dirinya jago-jago ternama telah ambruk di tanah tidak berdaya jangankan begundal-begindal nya kedua ketuanya pun sudah di buatnya tidak sanggup lagi untuk melawan kedua pendekar puncak singgaru


"ampun pendekar jangan bunuh kami biarkan kami untuk tetap hidup"


si tangan seribu mewakili kawan-kawan nya agar Panji gara dan Singgih narpati membiarkan mereka pergi dalam keadaan hidup. dan bukan Panji gara jika merasa puas hanya sampai disitu


"diam jangan banyak bicara. ternyata tangan palsu mu tidak ada apa-apanya.


dan kau brewok salah mu sendiri tadi bahkan aku sempat memohon untuk kau jadikan murid tapi kau malah menolaknya dengan kasar. baiklah aku ampuni kalian tapi dengan satu syarat berikan uangmu padaku. ayo cepat berikan jika tidak ku pindahkan muka mu ke bagian belakang"


mendengar ancaman Panji gara si brewok tangan maut menjadi ketakutan


"baiklah pendekar baik akan aku berikan tapi ku mohon jangan siksa aku" tangan si brewok mengeluarkan sekantung uang dari balik pinggangnya lalu memberikannya pada Panji gara


"hanya sekantung uang yang kau berikan? aku yakin kau masih memiliki berkantung-kantung uang lekas berikan semua padaku sebelum aku melucuti seluruh pakaian mu"


"ampun pendekar aku berani bersumpah hanya itu yang ku miliki" dengan suara bergetar si tangan maut mengatakan yang sebenarnya

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2