
"Panjang sekali ceritanya kakang bagaimana adikmu ini mendapat julukan itu
nanti ku ceritakan semuanya"
"oyah adik Panji kau bisa bersama-sama dengan adik Mayang? dan mengapa pula kalian bisa berurusan demereka-mereka itu?" Singgih narpati bertanya mengenai keberadaan mereka di tempat itu
"sebetulnya aku pun baru bertemu adik Mayang kakang itupun tidak sengaja aku hanya kebetulan melintas di tempat ini dan ku lihat sedang terjadi pertarungan, semula aku tidak sekali berniat untuk mencampuri urusan mereka namu setelah ku perhatikan ke empat orang itu orang-orang yang pernah ku jumpai yang selalu melakukan hal-hal untuk kepentingan nya sendiri meskipun harus mengorbankan orang lain hingga aku harus perlu turun tangan, untuk lebih jelasnya mungkin adik pendekar pedang Dewa Naga hitam bisa lebih memberi penjelasan" Panji gara menoleh ke arah Mayang suri
"sebetulnya aku tidak mengenali mereka kakang apalagi punya urusan, mereka menghadang perjalanan ku dan aku hanya mempertahankan nyawa ku hingga kakang Panji muncul membantuku itu saja yang terjadi kakang" jelas pendekar pedang Dewa Naga hitam
"jadi jelasnya yang kenal mereka itu justru malah kau adik Panji?" tanya Singgih narpati
"benar kakang tetapi aku yakin kakang Singgih pun akan mengenalinya
kakang masih ingat pertarungan kita dua tahun lalu dengan hulu balang kerajaan nareh?"
"ohh ya..ya..ya tentu aku masih sangat mengingatnya lalu hubungan Wigena dengan ke empat orang itu?" tanya Singgih narpati memastikan
"salah satu dari mereka putranya hulu balang Wigena namanya Bayu kelangkas dan dialah yang tadi di pergunakan sebagai badai menerjang buana, dan satunya lagi Warok sangar alias si kumis baplang selain dia guru nya Wigena dia juga gurunya Bayu kelangkas, semenjak pertarungan kita dulu sudah tiga kali ini aku berurusan dengan mereka dan yang dua orang lagi aku sama sekali tidak mengenalnya entah mereka murid Warok sangar juga atau pendekar belian, aku sudah bisa pastikan peristiwa tadi ada kaitannya dengan Wigena" tutur Panji gara panjang lebar
Singgih narpati mengangguk-angguk dapat mengerti penjelasan Panji gara
"maaf kakang" Mayang suri ikut bicara
__ADS_1
"ngomong-ngomong soal mereka bagaimana kondisinya sejak pormasi itu ambruk? belum satupun dari mereka ada yang bangkit apakah mereka mati kakang?"
"tidak adik Mayang mereka hanya pingsan saja untuk satu atau dua jam kedepan
satu per satu mereka akan sadarkan diri jadi jangan khawatir kan mereka, adik Panji sesungguhnya aku sedang mencari mu
kakang Wisnu Abi Rawa meminta kita untuk segera menemuinya di gunung kembar" Singgih narpati menjelaskan tujuan semula hingga diapun melewati tempat itu
"oohhh.. jadi kakang ketua Wisnu bukan hanya memberitahukan aku saja melainkan kakang Singgih juga tapi bagaimana dengan yang lainnya? kakang Giri dan kakang Sura apakah mereka sudah mengetahui hal ini? atau mungkin kakang Singgih sudah berjumpa dengan mereka?" Panji gara pun mengatakan yang sebenarnya lewat di tempat itu pun hanya kebetulan saja
"jadi adik kita tunggu apalagi sekarang juga kita segera berangkat ke Gunung kembar untuk menemui kakang Wisnu, mengenai kakang Giri dan kakang Sura aku yakin kakang Wisnu sudah memberitahu nya sebelum orang-orang Wigena siuman ada nb baiknya kita tinggalkan tempat ini
adik Mayang sebaiknya kau ikut dengan kami agar mengenali dua kakang mu yang lainnya, selain itu dirimu berhak tau apa yang akan di bicarakan oleh kakang ketua pada kita karena tidak dapat di pungkiri kau juga salah satu dari kami" Singgih narpati dan Panji gara mengajak serta Mayang suri untuk bertemu Wisnu Abi Rawa di tempat yang sudah di tentukan
"kalau boleh kami tahu urusan apa yang harus kau selesaikan secepatnya? apakah tidak sebaiknya jika kita selesaikan dulu bersama-sama karena urusan mu menjadi urusan kami juga" dengan bijak Singgih narpati menawarkan
"terimakasih kakang aku bukan menolak kebaikan kakang karena tujuanku belum pasti aku sedang memburu seseorang namun aku tidak tahu berada dimana dia saat ini, begini saja kakang kalian berangkat saja lebih dulu jika dalam satu hari aku belum menemukan orang itu maka aku akan menyusul kalian ke Gunung kembar" Mayang suri atau pendekar pedang Dewa Naga hitam memutuskan
"baiklah adik Mayang jika memang sudah jadi keputusan mu kami pun tidak bisa memaksanya"
"baiklah kakang sekali lagi terimakasih untuk saat ini kita berpisah dulu" Mayang suri bangkit dari duduknya di ikuti oleh Singgih narpati dan Panji gara
setelah saling berjabat tangan mereka pun berpisah meninggalkan Warok sangar dan orang-orang nya yang hingga saat itu masih belum sadarkan diri
__ADS_1
menjelang pagi hari Singgih narpati dan Panji gara tiba di tempat tujuannya
yaitu Gunung kembar tempat yang telah di sepakati bersama untuk mengadakan pertemuan, suasana masih sepi sepertinya belum ada satupun yang tiba disana sebelum Singgih dan Panji
"kakang rupanya kita tiba lebih awal dari mereka tapi tidak apa-apa sambil menunggu mereka aku bisa beristirahat terlebih dahulu" dalam keadaan mulutnya yang masih nyerocos Panji gara mendorong pintu pondok yang memang sengaja di bangun oleh mereka beberapa tahun yang lalu untuk mengadakan pertemuan penting
Panji gara menghempaskan tubuhnya ke atas bale mulutnya masih belum juga terdiam "akhirnya aku bisa juga melepaskan lelah setelah berhari-hari aku berjalan untung saja kedua kaki ini bukan buatan empu penempa senjata pusaka hingga pagi ini kedua kaki ku masih utuh kakang" Panji gara membalikkan badannya menatap Singgih narpati dengan raut wajah yang polos
"coba kakang bayangkan andai saja kaki manusia di buat oleh para empu, seberapa lama diya sanggup bertahan? sedangkan hampir setiap hari, setiap waktu dia di pergunakan untuk berjalan menaiki tangga, menaiki pohon, bahkan di pergunakan untuk menendang, coba kakang pikirkan barang kali kaki-kaki ini sudah terlepas dari sambungan nya" Singgih narpati menatap wajah polos adik seperguruan nya itu
terkadang dia tidak mengerti mengapa selalu muncul pertanyaan yang tidak masuk akal
"adik Panji kadang-kadang kakang mu ini merasa tidak habis pikir, mengapa di benak mu selalu ada pertanyaan yang aneh-aneh padahal semua orang tau bahwa makhluk di muka bumi ini itu ciptaan sang pencipta tetapi jika kau masih penasaran kau cari jawabannya" Singgih narpati agak jengkel juga
Panji gara bangkit dari baringan nya
"apa ada yang bisa ku tanyai mengenai hal itu?"
"tentu ada adik Panji"
"siapa kakang? dan dimana, aku akan mencarinya untuk meminta jawaban"
BERSAMBUNG
__ADS_1