
Dengan susah payah Dewi kilat khusus berusaha untuk bangkit tangannya menekan dada wajahnya meringis menahan kesakitan. sebelum melangkah Dewi kilat kematian masih sempat bicara
"jangan tinggi hati pendekar aku tidak akan mengucapkan terimakasih pada dirimu karena kau tidak membunuh diriku. dan suatu saat nanti aku akan mencarimu dan disaat aku menemukan dirimu bukan salahku jika aku membunuhmu" Dewi kilat kematian mendengus lalu meninggalkan tempat itu
Mayang suri dan Satria saling berpandangan
"terkadang aku tidak mengerti jalan pikiran orang-orang seperti mereka tidak pernah mau mengakui kekalahannya justru malah sebaliknya malah mengancam akan menuntut balas. sudah jelas-jelas dia yang melakukan kesalahan"
mendengar celotehan Satria mengingatkan Mayang suri pada Panji gara
"dimana sekarang dia berada aku rindu akan Senda gurau nya" gumam Mayang suri dalam hati sejenak terlintas dalam benak Mayang suri bayangan kakak-kakak seperguruannya terutama Panji gara Mayang suri menghela nafas berat
"begitulah adanya jagat persilatan Satria jika sedikit saja kita lemah maka kita akan mati dengan sia-sia. ini faktanya Satria dan orang-orang seperti kita tidak dapat menghindari nya" nada ucapan Mayang suri setengah mengeluh
"kau benar pendekar karena itu juga pengalaman ku sepanjang pengembaraan ku. aku sering kali bertemu dengan perampok, dengan pendekar-pendekar bayaran dan sering kali aku melihat perampok-perampok yang menjarah kampung selain mengambil harta mereka juga menculik anak-anak gadis penduduk dan jarang sekali aku bertemu dengan orang sebaik dirimu pendekar"
Mayang suri tersenyum mendengar ucapan tulus pemuda itu
"jangan memuji ku Satria belum tentu aku sebaik yang kau kira dan satu hal lagi jangan panggil aku pendekar panggil saja namaku Mayang suri. terlalu riskan kedengarannya jika kau memanggilku dengan sebutan pendekar"
Satria tertawa kecil diam-diam pemuda
itu mengagumi kerendahan hati pendekar yang punya nama besar di jagat persilatan saat ini
"kau terlalu merendah pendekar. tapi baiklah jika itu yang kau inginkan. dan malam sudah sangat larut ada baiknya kau beristirahat dulu di gubuk ku dan besok baru melanjutkan perjalanan dan kebetulan besok pagi aku pun akan melanjutkan pengembaraan ku. dan pastinya kau lapar di gubuk ku ada sedikit makanan untuk sekedar mengganjal perut mu. gubuk ku tidak jauh dari sini itu di balik batu besar itu" Satria menunjukkan batu besar tempat dirinya bersembunyi tadi
__ADS_1
Mayang suri pun mengangguk tidak baik rasanya menolak tawaran baik seseorang namun meski tetap begitu dia tetap berhati-hati
saat sinar Surya terasa hangat menyentuh tubuhnya Mayang suri membuka kedua matanya pandangannya mengelilingi sekitar gubuk namun dia tak lagi menemukan apa yang di carinya
"dimana dia?" gumam Mayang suri
pandangan Mayang suri tertumpu pada sehelai daun yang mungkin dengan sengaja di letakkan nya di atas sebuah batu. Mayang suri segera meraih daun itu.
benar pendekar pedang Dewa Naga hitam telah menduganya pada helai daun itu bertuliskan pesan
"maaf pendekar aku pergi lebih dulu aku tidak berani membangunkan pendekar untuk berpamitan. sudah ku siapkan sarapan ada baiknya sebelum pergi isilah dulu perut mu. semoga takdir mempertemukan kita kembali di lain kesempatan. Satria"
Mayang suri meletakan kembali daun itu setelah dibaca tulisannya. matanya melihat tiga buah ubi bakar dan air kelapa muda yang juga di letakkan di atas batu
"siapa sebenarnya pemuda itu? dan kemana tujuannya aku tidak percaya kalau dia hanya pengembara biasa"
meskipun orang yang menyediakan nya sudah pergi namun wajib untuk tetap menghormati nya dia orang yang baik jadi tidak ada salahnya menghargai kebaikan nya. setelah selesai sarapan Mayang suri meraih pedang pusaka nya lalu dia pergi meninggalkan tempat itu.
Di tempat yang jauh di puncak gunung singgaru. dua pendekar muda samber nyawa dan Pemburu nyawa setelah tiga hari tiga malam menempuh perjalanan merekapun tiba di puncak gunung singgaru
semula kedua pendekar itu berniat untuk sejenak melepas lelah di depan pondok namun suara seseorang dari dalam pondok membatalkan niat mereka
"masuklah anak-anak ku aku sudah menunggu kalian"
kedua saling berpandangan. tangan Wisnu Abi Rawa mendorong pintu sambil mengucapkan salam merekapun melangkah masuk kedalam di dapatinya Resi Purba kesha tengah duduk bersemedi bibirnya tersenyum menyambut kehadiran kedua muridnya
__ADS_1
"selamat datang anak-anak ku apa kabar kalian? bagaimana keberadaan di luar sana apakah menyenangkan?"
Wisnu Abi Rawa meraih tangan gurunya setelah mencium punggung telapak tangan gurunya di ikuti pula oleh Sidra giri
"seperti yang guru lihat kabar kami baik-baik saja guru. lalu bagaimana dengan guru? apakah guru baik-baik saja?" Wisnu Abi Rawa balik bertanya
"tentu anak-anak ku hingga saat ini aku tidak kekurangan suatu apapun. tentunya kalian lapar sejak tadi aku sudah menyiapkan makanan di dapur. sebelum kita mengobrol lebih lanjut ada baiknya kita makan bersama-sama dulu. Giri tolong kau ambilkan makanan-makanan itu bawa kemari" Resi Purba kesha meminta pada Sidra giri untuk membawa makanan dari dapur
"baik guru" jawab Sidra giri singkat
"Wisnu bagaimana kabar adik-adik mu yang lain?" di sela-sela makannya Resi Purba kesha menanyakan tentang murid-murid nya yang lain
"mereka baik-baik saja guru. mereka menitipkan salam hormat untuk guru. mereka tidak ikut serta menemui guru karena masih ada tugas dari Gusti Prabu Wira Nanta. Gusti Prabu pun menitipkan salam untukmu guru. beliau mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari guru"
Resi Purba kesha tersenyum mendengar penuturan dari muridnya
"bukan aku yang seharusnya menerima ucapan terimakasih dari Gusti Prabu. karena semua itu berkat kalian. tapi tolong sampaikan juga salam dariku jika kebetulan kalian berjumpa dengan beliau"
setelah selesai makan Sidra giri kembali merapihkan alas makanan serta menyimpannya kembali ke dapur
"Wisnu adakah kabar lain yang kau bawa untukku selain mengenai kerajaan Cipamanahan"
"benar guru ada hal yang sangat penting bagi kami yang ingin kami tanyakan pada guru. dan mengenai tugas yang guru dan Biung Ratu berikan pada kami. kami telah menyelesaikan nya dengan baik. hanya saja kami tidak bisa membantu Gusti Prabu Wira Nanta menata kerajaan nya kembali dari awal"
"tidak apa-apa Wisnu. Giri. Kalian sudah melaksanakan tugas dengan baik itu lebih dari cukup. perihal apa yang ingin kalian tanyakan padaku sepertinya sangat penting sekali?"
__ADS_1
Wisnu Abi Rawa dan Sidra giri saling berpandangan dan Sidra giri pun mengangguk memberi isyarat tanda setuju untuk menanyakan hal itu.
BERSAMBUNG