MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 71 PERMINTAAN SANJAYA


__ADS_3

"Kakang pendekar kalau boleh saya tau siapa nama kakang? dan hendak kemana?"


"tentu Sanjaya namaku Satria dan itu temanku namanya Nirwana Wadon Segoro. kami hanya pengembara dan tidak punya tujuan pasti" Satria lalu melambaikan tangan pada Wadon Segoro untuk bergabung dengan mereka. tanpa harus diminta dua kali pendekar pedang Dewa Naga hitam pun segera menghampirinya


mereka semua manggut hormat


"namamu sangat bagus kakang sepadan sekali dengan pembawaan mu. dan saya sangat berterimakasih bisa bertemu dengan pendekar-pendekar kelas tinggi di jagat persilatan!! kakang Satria saya selalu mendengar seorang pendekar yang saat ini begitu ramai di bicarakan orang. pendekar sakti dan baik hati. dan mereka menyebutnya pendekar pedang Dewa Naga hitam. saya sangat tertarik sekali kakang bahkan saya dan teman-teman pernah ber hari-hari mencarinya untuk berguru tapi pencarian kami tidak membuahkan hasil. kakang Satria apakah kakang punya petunjuk mengenai keberadaan pendekar sakti itu?"


Satria tersetawa sambil menatap wajah anak muda itu Satria melihat kejujuran di sorot mata pemuda itu


"Sanjaya apa kau mengetahui pendekar pedang Dewa Naga hitam itu laki-laki atau perempuan? lalu apa kau percaya dengan apa yang di katakan orang-orang banyak kalau pendekar itu sangat sakti dan baik hati?"


"menurut yang saya dengar pendekar itu seorang perempuan. dan saya percaya dengan apa yang di katakan orang-orang meskipun saya belum bertemu secara langsung. tetapi hampir semua orang mengatakan hal yang sama termasuk di wilayah ini. itulah kakang mengapa saya ingin sekali berguru padanya" Tutur Sanjaya polos dan jujur dari nada bicaranya terdengar jelas pemuda ini sangat ingin berguru pada sahabatnya


"apa kau benar-benar ingin berguru padanya Sanjaya?" tanya Satria memastikan


Sanjaya mengangguk sinar matanya penuh harap dan penuh semangat


"aku bisa saja mempertemukan mu Sanjaya dengan pendekar pedang Dewa Naga hitam tetapi mengenai mau atau tidaknya dia mengangkat mu sebagai murid


untuk hal itu aku tidak bisa memastikan karna sejauh yang ku tau seperti halnya diriku dia juga seorang pendekar pengembara dan ku harap kamu tidak kecewa"


"yang penting buat saya kakang saya bisa bertemu dulu. mengenai bersedia atau tidaknya mungkin bisa di bicarakan baik-baik dan saya sangat berterimakasih jika kakang Satria mau mempertemukan saya dengan nya. karna saya percaya sebagai sesama pendekar kakang Satria pasti mengenal nya"


"baiklah Sanjaya akan aku pertemukan kalian tidak perlu jauh-jauh mencarinya karna yang kamu cari sudah ada disini.


inilah pendekar pedang Dewa Naga hitam dialah sahabatku"


semua orang yang berada di warung itu menatap tidak berkedip terutama Sanjaya dia tidak tau apa yang harus di lakukan nya


hatinya sangat gembira

__ADS_1


"tidak bisa di percaya apakah ini hanya mimpi? tidak sadar" Sanjaya berteriak memanggil teman-temannya


"Gandi. Damar. apa kalian mendengarnya cepat berkumpul ayo cepat berkumpul"


ke empat temannya berhamburan mendekati Sanjaya. tanpa adanya komando ke lima pemuda itu bersimpuh di lantai di hadapan Satria dan pendekar pedang Dewa Naga hitam


di perlakukan seperti itu Wadon Segoro merasa tidak enak hati. di cubit nya lengan Satria dengan keras. Satria meringis di sela tawanya sebetulnya dia tau betul akan watak wadon Segoro dia bukanlah pendekar yang haus akan pujian


melihat Satria yang hanya tertawa mau tidak mau Wadon Segoro buka suara


"kalian semua berdirilah semua bisa di bicarakan dengan baik-baik tidak harus seperti itu. dan jika kalian tidak mau berdiri aku yang akan pergi" Wadon Segoro mengancam agar anak-anak muda itu mau berdiri


mendengar ancaman itu mereka serentak berdiri dengan tegap dan penuh semangat


tidak ubahnya satu pasukan tentara yang siap di perangkan


melihat kelakuan mereka Satria tertawa


"dasar bocah-bocah ingusan" gumamnya dalam hati


ucapan Wadon Segoro setengah meluapkan rasa kesal nya karna merasa di pojokan oleh Satria


pendekar sakti itu hanya melirik sambil tersenyum. dia tau pasti itu jawaban nya


akhirnya Sanjaya memberanikan diri untuk bicara


"maafkan kami pendekar jika sikap kami tidak berkenan di hati pendekar. tapi saya mohon kabulkan permintaan saya meskipun pendekar tidak bersedia mengangkat kami sebagai murid tapi setidaknya pendekar dan juga kakang Satria Sudi untuk menemui ayah saya. pertama sebagai ucapan terimakasih karena kakang Satria telah menolong saya.


kedua atas permintaan maaf karna perbuatan kami tadi. ketiga untuk memenuhi keinginan ayah saya yang sangat ingin bertemu dengan pendekar.


jadi tolong pendekar saya mohon kabulkan lah permintaan saya sekali ini saja. ayah saya bernama Diwangkara beliau bertugas sebagai hulu balang kerajaan lingga buana"

__ADS_1


Dengan melipat tangannya Sanjaya penuh penghormatan


Satria dan Wadon Segoro saling berpandangan


"bagaimana suri?" Satria minta pendapat


"entahlah Satria terserah kau saja"


"tapi suri tidak ada salahnya jika kita memenuhi permintaan Sanjaya sebentar saja. lagipula untuk saat ini kita belum punya tujuan" sepertinya Satria akan memenuhi permintaan Sanjaya dan Wadon Segoro pun tidak bisa menolaknya


"baiklah Sanjaya kami penuhi keinginan mu untuk mempertemukan kami dengan ayah mu"


mendengar ucapan Wadon Segoro yang bersedia bertamu ke rumahnya


lagi-lagi Sanjaya berlutut di hadapan dua pendekar itu


"terimakasih pendekar terimakasih sekali


sekarang saya benar-benar percaya dengan apa yang di ceritakan orang-orang"


"cukup Sanjaya berdirilah tidak perlu berlutut hanya untuk mengucapkan terimakasih. sebentar aku bayar makanan dulu setelah itu baru kita berangkat. apakah rumahmu jau dari sini Sanjaya?"


"tidak kakang hanya beberapa kilo meter saja dari sini. dan satu lagi permintaan saya kakang ijinkan saya membayar makanan yang kakang dan Dewi pendekar makan. saya mohon kakang saya samasekali tidak bermaksud merendahkan kakang. ini hanya sebagai ungkapan terimakasih"


"he..he. he" Satria tertawa kecil


"lama-lama aku bingung sama kamu Sanjaya terlalu banyak permohonan. tapi terserah kamu saja dan terimakasih"


Sanjaya tersenyum girang karna Satria mengijinkan membayar makanan yang telah mereka makan. ternyata Sanjaya tidak hanya membayar makanan saja sebagai bentuk permintaan maaf pada pemilik warung karna telah bersikap kurang ajar pada putrinya Sanjaya memberikan uang tiga kali lipat dari semestinya


setelah berpamitan mereka segera meninggalkan warung menuju rumah hulu balang. wajah dan hati Sanjaya sangat riang karena mimpinya akan segera terwujudkan

__ADS_1


tiba di halaman sebuah rumah besar dan megah Wadon Segoro menghentikan langkah. seakan mengingatkan kembali pada masa-masa yang telah di lewati


BERSAMBUNG


__ADS_2