
Bibir wanita itu menyeringai
"untuk apa kau mencari bajingan terkutuk itu? apakah kau salah satu begundalnya?
terkutuk itu sudah lama tidak tinggal disini. dan aku juga tidak tau berada dimana dia sekarang. dan jika kau tidak percaya kau boleh masuk" wanita itu membukakan pintu lebih lebar memberi jalan Sidra giri untuk lewat
tentunya Sidra giri memang penasaran dia harus mencari di dalam. dengan langkah hati-hati pendekar pemburu nyawa memasuki rumah usang itu yang hampir disemua sudut ruangan terlihat kotor dan acak-acakan nampak jelas rumah itu sudah tidak lagi terawat hanya ada beberapa ruangan di terangi lampu. rumah itu cukup besar hingga tidak semua ruangan di beri penerangan karna memang untuk apa.
wanita itupun mengikutinya dari belakang
sebenarnya wanita itu belum terlalu tua usianya hanya kira-kira sekitar 37 tahunan hanya karna penampilannya dan juga pakaian nya yang lusuh hingga terlihat lebih tua dari usia yang sebenarnya mungkin dia sudah tidak lagi peduli akan dirinya
di ruangan paling belakang yang hendak mengarah keruangan dapur Sidra giri menghentikan langkahnya dia tidak menemukan yang dicarinya yang dia temui hanya tikus dan kecoa liar.
"apa kau percaya anak muda dengan apa yang aku katakan? tua bangka itu sudah tidak tinggal disini lagi" wanita itu menghempaskan tubuhnya pada bangku kecil di dekat dinding. "kau boleh pergi anak muda karna percuma jika kau ingin menunggu pun hanya sia-sia saja karna dia tidak akan pernah kembali"
"maaf Nyai siapa Nyai sebenarnya? lalu mengapa Nyai mau tinggal sendirian di rumah sebesar ini? lalu kemana Demang karja perginya? dan mengapa dia pergi meninggalkan rumah ini?"
__ADS_1
"sudah ku katakan aku tidak tau kemana setan itu pergi. mungkin dia punya rumah baru di desa lain. atau mungkin saat ini dia sedang bersenang-senang dengan gundik-gundiknya yang baru. tidak penting kau tau siapa diriku. aku tinggal disini untuk menunggu maut menjemput ku. sekarang pergilah anak muda" setengah mengusir wanita itu menyuruh Sidra giri untuk segera pergi
"tidak Nyai aku tidak akan pergi sebelum mendapat keterangan mengenai Demang karja" Sidra giri tetap bersih keras
"sebenarnya siapa dirimu anak muda? ada hubungan apa antara dirimu dengan si tua bangka itu? apakah kau anaknya dari salah satu gundik nya?"
"bukan aku bukan anaknya Demang karja. aku mencarinya untuk meminta pertanggung jawabannya lima belas tahun yang lalu manusia terkutuk itu telah menghancurkan keluargaku sehingga aku hidup terlunta-lunta terpisah dari orang-orang yang aku sayangi. sekarang aku datang untuk menuntut balas. dan saya sangat berterimakasih jika nyai mau memberikan keterangan sedikit saja mengenai manusia terkutuk itu"
wanita itu menghela nafas berat
"duduklah ank muda mungkin ada sedikit yang aku ketahui dan bisa membantumu bertemu dengannya. namaku Ningsih aku salah satu selir dari sekian banyak selir-selir Demang karja. sepuluh tahun yang lalu tempat ini di obrak-abrik oleh orang-orang kerajaan. Demang karja di tuduh bersekongkol dengan seorang tumenggung kerajaan nareh. dan ternyata tuduhan itu benar hingga akhirnya dia di pecat dari kedudukan nya sebagai Demang belakangan dia diketahui selama menjabat sebagai Demang dia juga lintah darat kepala rampok yang selalu membuat keonaran dimana-mana. memerintahkan anak-anak buahnya untuk menculik gadis-gadis desa dan di jadikan nya selir. meminta upeti dengan semena-mena terhadap penduduk kampung dan siapa orang yang membantahnya di bunuh nya tanpa belas kasihan. sejak rumah ini di obrak-abrik perempuan-perempuan yang dijadikan selir olehnya sebagian kembali ke kampung halamannya dan sebagian ada yang di jual ke rumah bordir untuk di jadikan wanita penghibur dan aku tetap bertahan disini karna aku sudah tidak punya keluarga dan untuk di jual aku sudah tidak menarik lagi. aku hanya tinggal menunggu kematian disini. ada berita yang sempat kudengar di desa Sindang sugih ada seorang juragan besar namanya juragan Kosim. aku tidak mengatakan kalau dia si tua bangka itu karna menurut beritanya ku dengar juragan Kosim itu cacat selain sebelah kakinya pincang satu matanya pun buta. namun ada kemiripan dari tabiat juragan Kosim dengan si tua bangka karja. kejam. sewenang-wenang. dan juga suka memaksa gadis-gadis muda untuk di jadikan selir. dan jika kau ingin memastikan pergilah ke desa itu. jarak nya tidak terlalu jauh dari sini" ada suatu kepedihan di wajah Ningsih saat dia menghentikan bicaranya
pendekar pemburu nyawa merasa tidak tega kalau harus meninggalkan Ningsih di rumah itu lagipula mana mungkin dia bisa bertahan hidup tanpa bekal makanan atau kebutuhan yang di perlukan sehari-hari
"apa pedulimu anak muda aku bukan siapa-siapa. lagi pula apa yang harus aku pertahankan aku sudah tidak memiliki apapun. hidupku sudah hancur" dengan nada suara yang putus asa Ningsih menolak tawaran Sidra giri
"dengar Nyai aku tau kau belum setua penampilan mu ini dan aku yakin hidupmu masih bisa berguna. ayolah Nyai di luar sana Nyai masih punya kehidupan"
__ADS_1
mendengar penuturan yang tulus dari pemuda di hadapannya air mata Ningsih bercucuran isak nya terdengar perlahan nada suaranya putus-putus kerongkongan nya tersekat dengan tangisan
"selama ini aku sudah tidak mempercayai lagi satu orang pun apalagi orang yang baru ku kenal. bertahun-tahun aku hidup dalam neraka penderitaan tapi kini kau datang memintaku untuk meninggalkan rumah ini meninggalkan neraka ini yang telah menghancurkan semua yang ku miliki bahkan satu-satunya orang yang sudah ku anggap adikku sendiri orang yang paling ku percaya dan ku sayangi telah di bunuh oleh manusia terkutuk itu dengan kejam. anak muda apa benar yang kau katakan kau akan membawaku dari tempat ini? dan menempatkan ku di tempat yang layak?"
rupanya Ningsih masih tidak percaya
"percayalah padaku Nyai aku tidak mungkin mendustai mu. melihat penderitaan mu mengingatkan ku pada seseorang jadi aku sangat berkewajiban untuk membawamu keluar dari tempat terkutuk ini"
sidra giri menegaskan dan usahanya pun tidak sia-sia
akhirnya Ningsih pun menyetujui untuk ikut serta dengannya meninggalkan hari-harinya yang kelam
***
di balik dinding sebuah bangunan rumah megah sesosok bayangan tengah mengendap-endap seperti sedang mengintai yang ada di dalam rumah
seorang juragan besar tengah duduk pada sebuah kursi di dampingi oleh beberapa wanita cantik serta di temani oleh para begundal-begundal nya terdengar suaranya yang keras penuh dengan kesombongan di selingi tawa yang menjijikan
__ADS_1
BERSAMBUNG