MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 62 PETUNJUKK BUAT SIDIK MAULANA DAN MENGHITBAH UMALAYA


__ADS_3

"Setelah ini kau mau kemana kakang?" Umalaya bertanya


"entahlah Nini sudah ku katakan aku tidak punya tujuan yang pasti"


"hari sudah senja kakang sebentar lagi malam dan jika kakang mau kakang boleh ikut kami. rumah ku di ujung hutan sana dan agak jauh dari rumah warga lainnya. di desa kami tidak ada penginapan dan itupun jika kakang mau kakang boleh menginap di rumahku untuk malam ini dan besok pagi kakang boleh melanjutkan perjalanan. dan yang kakang harus tau selain desa kami tidak ada desa lain di dekat sini. dan satu hal lagi jika malam tempat ini menyeramkan. selain bandit-bandit liar ada juga begal dan terkadang ada Ratu siluman laut yang menyamar menjadi gadis cantik"


dengan nada suara perlahan Umalaya memberitahukan kondisi di sekitar itu jika malam sudah tiba


sepertinya Sidik Maulana tidak punya pilihan mungkin benar apa yang di katakan Umalaya jangankan malam hari baru senja pun tempat itu sudah terasa menyeramkan


"baiklah Nini aku ikut kalian dan sekali lagi aku ucapkan terimakasih atas kebaikan kalian padaku" setelah membereskan bekas bekal dan melepaskan tali kekang kuda yang di ikatkan pada dahan pohon mereka pun segera meninggalkan tempat itu seperti juga sang Surya yang telah menyembunyikan tubuhnya di balik Awan


hanya menempuh waktu sekitar tiga puluh menit saat Adzan Maghrib berkumandang mereka pun tiba di ujung hutan. nampak ladang sayuran memang tidak terlalu luas tetapi sayur-sayuran itu tumbuh dengan suburnya


sepasang suami istri setengah baya di wajahnya terlihat rasa khawatir melihat kemunculan mereka ke khawatiran di wajah sepasang suami istri itu sirna seketika


setengah memarahi wanita itu menegur Umalaya dan Jamilah


"dari mana saja kalian kalau sudah bermain ke pantai hingga lupa waktu apa kalian tidak sadar hari sudah gelap begini kalian baru muncul"

__ADS_1


"maaf Biung kami terlambat pulang tadi kami bertemu kakang ini dia tersesat dia hendak pergi ke dusun yang sangat jauh tapi berhubung hari sudah sore maka saya dan Jamilah mengajaknya kesini. saya harap Biung sama Abah tidak marah"


"yasudah tidak apa-apa sekarang kalian masuk bersihkan badan kalian. nanti kita ngobrol" laki-laki yang di panggil Abah oleh Umalaya memerintahkan mereka untuk segera masuk


"maaf Ki apa di sekitar sini ada surau? saya ingin melaksanakan ibadah Shalat Maghrib terlebih dahulu" tanya Sidik sekaligus mohon ijin


"disini tidak ada surau anak muda. tetapi jika anak ingin melaksanakan Shalat Maghrib silahkan di dalam saja. dan untuk mengambil air wudhu di belakang pondok ada ****** mari saya antar"


tidak lama kemudian Jamilah pun pamit pulang. selepas Maghrib merekapun berkumpul di ruang tengah. Umalaya menyediakan makanan seadanya suasana hening di isi oleh suara Abah yang mulai bertanya


"anak muda perkenalkan nama Abah Mursidin dan ini istri Abah namanya Romlah. dan ini Putri semata wayang kami namanya Umalaya usianya hampir dua puluh dua tahun tapi sifatnya masih ke kanak-kansk kan. dan jika anak muda berkenan menceritakan siapa. darimana. dan hendak kemana? kami akan sangat senang mendengarnya"


"terimakasih aki. dan sebelumnya saya minta maaf jika kehadiran saya mengganggu aki sekeluarga. nama saya Sidik Maulana saya berasal dari desa ci hanjuang ayah saya seorang pemimpin padepokan bernama padepokan tapak suci.


dan tanpa diminta oleh Ki Mursidin Sidik Maulana menceritakan peristiwa yang menimpa calon istrinya dari awal hingga akhir


sementara nyi Romlah dan Umalaya hanya menundukan kepala mendengar cerita Sidik


"begitulah adanya aki saat ini saya sedang kehilangan arah. saya ingin mencari petunjuk kemana saya harus melangkah" Sidik Maulana mengakhiri ceritanya

__ADS_1


Ki Mursidin tersenyum hatinya merasa terharu "nak Sidik setiap manusia memiliki suratan takdir masing-masing. mungkin inilah ujian sebagai hamba yang taat pada ajaran. kita hanya berkewajiban untuk menerima kenyataan dan jika nak Sidik ingin mencari petunjuk dan mencari ketenangan jiwa pergilah ke satu tempat disana nak Sidik akan berjumpa dengan seorang Petapa sakti bernama eyang Sanca Mukti bergurulah padanya. tempatnya memang lumayan jauh membutuhkan waktu tiga hari tiga malam dan jika kau mau kau bisa pergi besok pagi


dan saya akan membekali mu sesuatu agar eyang Sanca Mukti dapat menerima mu tanpa banyak pertanyaan" Ki Mursidin sedikit memberikan petunjuk kepada Sidik


"tentu aki apapun halangannya dan berapa lama pun perjalanan nya saya akan menempuh nya karna petunjuk inilah yang selama ini saya cari. terimakasih banyak aki dan saya berjanji saya akan secepatnya kembali kesini setelah saya menemukan apa yang saya cari. dan jika aki dan Nyai mengijinkan saya ingin menghitbah Umalaya untuk saya jadikan istri. tetapi untuk sementara waktu saya akan tinggalkan dulu setelah urusan saya selesai secepatnya saya akan kembali kesini untuk memboyong Putri aki ke padepokan dan itupun jika aki dan Nyai mengijinkan"


mendengar penuturan yang tulus dari pemuda itu baik Ki Mursidin nyi Romlah dan tentunya Umalaya berbagai macam perasaan berbaur menjadi satu


"oohhh Gusti inikah jawaban dari doa-doa kami selama ini? hampir saya tidak percaya mendengarnya tapi inilah mu'zijat mu kau telah mengirimkan pemuda yang baik dan tulus untuk mempersunting Putri hamba.


terimakasih nak Sidik tentu Abah menerima niat baik nak Sidik. dan kami akan selalu menunggu sampai masanya tiba nak Sidik meminang Umalaya"


mereka pun saling berpelukan dan berjabat tangan


Umalaya pergi ke dapur serasa dalam mimpi dia hampir tidak percaya dengan apa yang barusaja di dengarnya. seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan yang sangat di dambakan nya Umalaya menjadi salah tingkah


seperti yang sudah disepakati tadi malam pagi-pagi sekali Sidik Maulana sudah pergi meninggalkan rumah Ki Mursidin namun kepergiannya meninggalkan ikatan suci yang telah di ikrarkan oleh pemuda itu terhadap Umalaya. gadis itupun berjanji untuk selalu menjaga kesetiaan nya hingga saatnya tiba pemuda itu datang untuk menjemput dirinya.


***

__ADS_1


pagi hari langit nampak cerah udara terasa sejuk hati pendekar pedang Dewa Naga hitam terasa senang dan riang meskipun perpisahan dengan kedua kakak seperguruannya kembali terjadi hal itu memang tidak dapat di pungkiri karna mereka masih sama-sama punya urusan yang harus segera di selesaikan. rupanya pertarungan yang terjadi untuk kedua kalinya dengan Warok sangar dan Bayu kelangkas telah membuat dirinya berhasil menyadarkan pendekar-pendekar sesat itu untuk kembali ke jalan benar mereka berjanji akan bertobat untuk menjadi yang lebih baik


BERSAMBUNG


__ADS_2