MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 97 TERBUNUHNYA PRABU HINDUN RANCASAN


__ADS_3

Tidak semua orang-orang yang berada disekitar nya mengetahui siapa sebenarnya Trenggana dan apa ikatannya dengan Sangkara Geni sepertinya mereka saling mengenal dengan baik. hanya Wisnu Abi Rawa, Satria, dan juga Singgih narpati yang mengetahui hal itu tetapi mereka hanya diam dan menyaksikan apa yang akan terjadi


"tidak semudah itu Trenggana kau membawaku ke istana langit. karna aku yakin betul kesaktianmu pun tidak berfungsi di muka bumi ini"


"tidak untuk kali ini Sangkara Geni. aku mendapat ijin sepenuhnya menggunakan kekuatan ku di manapun aku berada untuk menghancurkan orang-orang sepertimu!!


dan ku tanya sekali lagi kau ikut dengan ku secara baik-baik atau aku paksa?"


sikap Trenggana tetap tenang


"lakukan jika kau bisa Trenggana"


suara Sangkara Geni bernada menantang


"baiklah jika itu yang kau inginkan"


Trenggana merentangkan tangannya ke atas seperti meminta kekuatan langit tidak sedikitpun terjadi keanehan namun semua melihat dengan nyata entah darimana datangnya sebuah guci kecil berwarna kecoklatan dan bergambar ukuran se ekor naga telah berada dalam genggaman sang Satria langit


mata Sangkara Geni tidak berkedip tidak dapat di pungkiri ada rasa gentar dalam hatinya namun Senopati andalan kerajaan gelang-gelang itu berusaha menyembunyikan nya


"apa kau masih tetap bersikeras Sangkara Geni?"


"sudah ku katakan Trenggana lakukan jika kau bisa dan keluarkan seluruh kekuatanmu"


"baik Sangkara Geni sudah saatnya kau menjalani hukuman"


tutup guci di bukanya. perlahan pusaran angin keluar dari mulut guci itu nampak biasa saja tetapi mengandung kekuatan yang sangat dahsyat pusaran angin itu mengarah ke satu titik yaitu Sangkara Geni

__ADS_1


penyihir itupun sepertinya sudah menyiapkan perlawanan dengan kekuatan tenaga dalam nya Sangkara Geni mendorong pusaran angin agar berbalik arah "buuuummms" dua kekuatan pun beradu saling dorong-mendorong semakin lama semakin terjadi perubahan


dari hidung dan mulut Sangkara Geni mengucurkan darah segar dan bukan hanya itu tubuhnya seperti menyusut dan mengecil semula tubuh itu terlihat tinggi besar dan gagah perkasa, kini menjadi makhluk kerdil yang mengerikan makhluk itu terus memberikan perlawanan namun pada akhirnya tenaganya terkuras habis hingga tubuh kerdil itu tidak berdaya


saat pusaran angin menggulung dan menyedot nya masuk ke dalam guci yang masih berada dalam genggaman Trenggana hanya suara teriakan keras yang bergema di sekeliling area pertempuran,


itulah kekuatan Dewa Langit setelah pusaran angin seluruhnya masuk kembali secepat kilat Trenggana pun menutup guci ajaib itu di masukannya ke saku jubahnya


Sangkara Geni telah sirna dari muka bumi


melihat peristiwa itu Prabu Hindun Rancasan menjadi kalap terdengar suara teriakannya sangat keras


"Braja Gonta, Sara dipa, bunuh pemuda sinting itu balaskan dendam Senopati andalan ku"


saat kedua orang itu mengarahkan kudanya hendak memburu Trenggana Dewi kilat kematian segera menghadangnya


"ha..ha..ha..ha.. Prabu Hindun Rancasan satu per satu kekuatan mu telah hancur Prabu tamak, dan kini giliran ku untuk memusnahkan mu dari muka bumi ini!!


aku ingin melihat apakah tubuhmu masih kebal dengan senjata?"


pendekar pedang Dewa Naga hitam mencabut dua pedang pusaka nya dari sarungnya masing-masing


"perempuan terkutuk bicaralah sesuka hatimu. aku Hindun Rancasan sang penguasa jagat tidak sedikitpun gentar melihat kedua pedang mu itu karna dimataku pedang itu hanyalah mainan anak-anak"


"jangan takabur Hindun Rancasan karna aku tau semua yang kau katakan hanya untuk menutupi rasa takut mu dan lihatlah ini" tiba-tiba tidak seorang pun menduganya tubuh pendekar wanita itu melesat bagaikan kilat hingga sulit di tangkap oleh pandangan mata dan serta merta "crrraaasss" kepala panglima Salaka dompa yang menjadi sasarannya kepala itu jatuh menggelinding mengucurkan darah yang bau busuk lalu tubuhnya ambruk ke tanah


"kau lihat itu Hindun Rancasan? apakah kau juga ingin merasakan tebasan pedang ku ini?"

__ADS_1


"terkutuk, laknat" amarah Prabu Hindun Rancasan semakin memuncak sampai ke ubun-ubun tubuhnya bergetar hebat kedua bola matanya merah menyala dari sela-sela bibirnya muncul taring-taring yang lancip sehingga wajah Prabu Hindun Rancasan terlihat amat sangat mengerikan


namun pendekar pedang Dewa Naga hitam segera bertindak dengan cepat dua bilah pedang pusaka nya berkelebat dengan cepat menyambar leher Prabu Hindun Rancasan dan akibat sambaran pedang Dewa Naga hitam dan pedang pemburu iblis kepala Prabu Hindun Rancasan terlepas dari lehernya namun keanehan terjadi entah karena kekuatan apa selain tidak setetes pun tidak mengeluarkan darah kepala Prabu Hindun melesat ke udara berputar-putar matanya mengeluarkan sinar merah yang siap memangsa atau menghancur leburkan semua yang ada di tempat itu


namun tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat dengan sehelai kain putih di lemparkannya sehingga membungkus kepala Hindun Rancasan yang telah dirasuki satu kekuatan yang sangat dahsyat. ternyata Satria Abimanyu dia bertindak dengan cepat karna jika tidak semua akan menjadi korban!! di raihnya kepala itu di masukannya ke dalam kantung kain berwarna hitam sehingga kepala itupun tidak lagi berdaya begitupun dengan tubuhnya serta merta ambruk ke tanah


semua menghela nafas lega sesaat ketegangan melanda kembali sirna pendekar pedang Dewa Naga hitam berniat hendak memasukan kembali pedangnya dalam sarungnya ketika tiba-tiba selarik sinar merah melesat dari balik pohon besar hampir menghantam wajah sang pendekar pedang Dewa Naga hitam jika saja sebuah benda terlambat menghadangnya


"buummmmms" dentuman bergema di sekeliling area tempat itu akibat bentroknya kedua kekuatan. wajah sang pendekar nampak sedikit pucat karna terkejut


sebuah suara yang sangat di kenalnya muncul dari atas pohon yang lain yang berada tidak begitu jauh dari mereka berdiri


"jangan coba-coba untuk membokong muridku karna aku tidak akan membiarkannya. keluarlah perlihatkan wujudmu sudah saatnya kita menyelesaikan urusan kita dulu"


melihat siapa yang muncul bukan hanya pendekar pedang Dewa Naga hitam saja yang merasa senang tetapi seluruh murid perguruan Gunung singgaru juga merasa lega meskipun ada pertanyaan di benak mereka mengapa sang penguasa hutan gurang-rang itu ada disini? tujuan apa yang membawanya? dan siapa orang yang barusaja menyerang pendekar pedang Dewa Naga hitam dengan sembunyi-sembunyi


"terimakasih guru berkali-kali guru telah menyelamatkan nyawa saya"


pendekar pedang Dewa Naga hitam membungkuk memberi hormat terhadap gurunya. rupanya yang datang itu Biung Ratu embok guru dari pendekar pedang Dewa Naga hitam


"sudah kewajiban ku Mayang karna kau muridku dan aku tidak akan tinggal diam melihat bahaya mengancam dirimu"


dan bukan hanya sang pendekar pedang Dewa Naga hitam saja yang memberi hormat tetapi juga Dewi kilat kematian menghampiri guru besar itu


"hormat saya bunda Ratu mohon ampuni saya. sejak kapan bunda Ratu berada diantara kami?"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2