MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 22 PENDEKAR SEJATI


__ADS_3

setelah itu Putri lara kemuning di baringkannya di pangkuan pangeran Wira Geni


"maaf pangeran saya dengar pangeran pun terluka, boleh saya memeriksa luka mu?"


Mayang suri menoleh ke arah pangeran Wira jagat


"tentu Dewi silahkan" Wira jagat menjawab cepat


"coba tolong buka pakaian mu" Mayang suri meneliti bekas pukulan-pukulan tadi


"luka mu tidak terlalu parah pangeran, rupanya pukulan itu bersarang lebih dulu di dadanya Putri lara lalu di dadamu,


dan itu artinya lapisan racun hanya berada dalam satu pukulan" Mayang suri menjelaskan sambil meneliti luka-luka di dada pangeran Wira jagat


"pangeran tolong ambilkan beberapa pucuk daun ilalang yang masih muda"


Mayang suri meminta bantuan pada pangeran Wira Pati


"baik Dewi" jawab Wira Pati sambil melangkah, setelah mendapatkannya daun ilalang muda di tumbuk nya hingga halus


di tetesinya dengan beberapa tetesan air agar tumbukan daun ilalang menjadi basah


tangan Mayang suri sangat cekatan meramu obat-obatan penawar luka,


diam-diam rupanya pangeran Wira Geni memperhatikan nya


"siapa sesungguhnya gadis ini selain dia baik dia sangat mengerti dengan ramuan-ramuan obat penawar, aku yakin dia bukan gadis biasa namun sayang aku tidak bisa melihat wajahnya, secantik apakah wajah di balik cadar hitam itu? tetapi siapapun dia aku yakin dialah malaikat penolong yang di kirimkan Tuhan buat kami" pangeran Wira Geni bergumam dalam hati

__ADS_1


lamunan nya di kejutkan oleh suara pangeran Wira Pati


"maaf Dewi jika pertanyaan saya lancang, berapa lama penawar itu bereaksi, bagaimana dengan kondisi adik saya Dewi?"


Mayang suri tersenyum meski senyuman itu tidak terlihat tapi sinar matanya mewakilinya "kondisi adik pangeran baik-baik saja tidak usah terlalu khawatir penawar racun itu bereaksi dengan cepat hingga racun-racun di pembuluh darahnya dengan cepat akan segera sirna tetapi jangan banyak bergerak dulu, untuk memulihkan tenaganya butuh waktu tiga hari beristirahat total" dengan sabar Mayang suri memberi penjelasan


"terimakasih Dewi kami tidak akan melupakan kebaikan Dewi, kalau boleh kami tahu siapa sesungguhnya Dewi ini? dari mana dan hendak kemana? itupun jika Dewi berkenan memberitahukan kami dan jika tidak pun kami tidak merasa kecewa


tapi kami selalu berharap suatu saat kita akan bertemu lagi" pangeran Wira Pati bertanya dengan sopan karena merasa takut kalau-kalau pertanyaan nya akan menyinggung perasaan Dewi penolongnya


Mayang suri merasa tidak enak juga tidak baik menyembunyikan jati dirinya pada orang-orang yang berhati baik dia pun menjawab pertanyaan pangeran Wira Pati


"nama saya Mayang suri saya murid eyang Resi purba kesa dari perguruan gunung singgaru, sebenarnya saya sudah lebih dulu berada disini sebelum kalian datang dan saya tahu semua yang terjadi disini hingga pertarungan kalian dengan Dewi kilat kematian, maafkan saya jika saya datang terlambat, maaf pangeran jika boleh saya tahu apa yang terjadi di istana kerajaan kalian itu? yang saya dengar tadi dari mulut Dewi kilat kematian dan apa benar pula kalian sangat membutuhkan pedang pusaka pemburu iblis untuk membebaskan kerajaan dan juga ayah handa kalian dari genggaman orang-orang jahat?"


pangeran Wira Geni dan adik-adiknya menatap wajah di balik cadar mereka dapat menangkap kalimat-kalimat yang di ucapkan oleh Mayang suri


"benar Dewi telah terjadi prahara di kerajaan kami dan ayah handa kami menjadi jaminannya, sebetulnya bukan kami yang menginginkan pedang pusaka itu tetapi jelasnya kami harus mendapatkan pedang itu sebagai penukar dengan ayah handa kami" nada ucapan pangeran Wira Geni terdengar lirih,


pangeran Wira Pati memberanikan diri untuk bertanya


"tentu pangeran saya tahu gunung itu hancur karena pedang pusaka dewa rajawali atau pedang pemburu iblis telah di ambil dari dinding goa hantu, kalian tunggu disini aku pergi sebentar jangan kemana-mana dulu" Mayang suri bangkit berdiri lalu berlari menuju sebuah pohon


pangeran Wira Geni dan adik-adiknya saling berpandangan mereka sama-sama menggelengkan kepala


dengan sangat ringannya Mayang suri melompat keatas pohon tempat dimana dia menyembunyikan pedang pusaka itu tidak lama kemudian tubuhnya melayang kembali dan mendarat di tanah di tangannya tergenggam sebilah pedang mereka yang berada di tempat itu menatap takjub


"luar biasa rupanya rupanya wanita itu pendekar sakti yang sulit dicari tandingannya, jika bukan bagaimana mungkin dengan semudah itu dia dapat menaklukkan penjaga-penjaga di goa hantu hingga dapat mengambil pedang pusaka itu

__ADS_1


mereka saja yang bertahun-tahun menimba ilmu untuk dapat mengambil pedang itu hingga kini inilah yang terjadi


"pedang ini kan yang kalian cari pedang ini sudah ada di tanganku jika kalian memang benar-benar membutuhkannya aku akan memberikannya pada kalian, bagiku nyawa ayah kalian lebih penting, pangeran terimalah pedang ini dan pergilah selamatkan ayah handa kalian secepatnya"


Putri lara kemuning yang sejak tadi mendengarkan dan kondisi nya sudah mulai membaik bangkit dari baringnya lalu duduk bersimpuh dia tidak sanggup membendung air matanya mendengar ketulusan pendekar wanita di hadapannya yang rela menyerahkan pedang itu demi nyawa ayah handa mereka dengan suara pelan lara kemuning bicara


"kakak Dewi sungguh mulia hatimu kaulah yang pantas di juluki pendekar sejati,


terimakasih kakak pendekar selain kau telah menyelamatkan nyawa kami kau juga ingin menyelamatkan ayah handa kami


apa yang harus kami lakukan untuk membalas kebaikan kakak Dewi?"


Mayang suri membungkukkan badan meraih dagu Putri lara kemuning yang menunduk


"tidak Putri aku tidak menginginkan balasan apapun dari kalian, hanya satu yang harus kalian tahu sejak kecil hidupku sebatang kara tanpa keluarga dan tanpa orang tua


aku memang sudah terbiasa tetapi pada saat seseorang menyelamatkan ku dari kematian membawaku dan mendidik ku aku baru merasakan betapa berharganya sosok orang tua, jadi aku serahkan pedang ini pada kalian karena aku yakin bertahun-tahun kalian menunggu disini itu demi nyawa ayah handa kalian, jadi jangan terlalu banyak berpikir terimalah pedang ini"


Mayang suri meletakan pedang itu di pangkuan lara kemuning


"tidak dinda" dengan cepat pangeran Wira Geni menyela pembicaraan


"bukan itu yang kami inginkan, Dewi mohon maaf karena saya sendiri pun tidak yakin setelah pedang ini di serahkan apa mungkin mereka akan melepaskan ayah handa kami dalam keadaan selamat"


rupanya pemikiran pangeran Wira Geni cukup cerdas dalam keadaan seperti itupun dia masih bisa berpikir panjang


"benar Dewi kakang Wira Geni memang benar saya pun satu pemikiran dengan nya"

__ADS_1


pangeran Wira Pati menimpali


BERSAMBUNG


__ADS_2