
Dengan adanya suara bisikan itu membuat Mayang suri mampu meredakan amarahnya dirinya kembali tenang hatinya berbisik "terimakasih guru, hi...hi..hi..hi.. tidakkah kau sudi memperkenalkan dirimu kisanak agar aku dapat dengan mudah menunjukkan jalanmu menuju ke neraka" ucapan Mayang suri terdengar lembut namun bagaikan godam yang menghantam gendang telinga Demang karja rupanya dia belum menyadari siapa wanita yang tengah berada dihadapannya ini
"bedebah jangan banyak bacot pendekar hadapi aku sekarang dan untuk menghadapi mu aku tidak membutuhkan anak buahku"
"tunggu dulu kisanak jangan keburu nafsu bagaimana kalau kita berdamai saja? kau datang kesini untuk mengambil upeti dari penduduk bagaimana kalau kita berbagi saja?"
"cieh.. tidak Sudi aku berbagi dengan mu dan asal kau tau tujuanku mengambil upeti dari penduduk dusun ini untuk ku gunakan dalam perburuan mu, dan kau sekarang sudah berada dalam genggaman ku jadi aku tidak lagi harus bersusah payah"
"pintar juga kau bedebah selaras dengan wajahmu yang menjijikan itu, tapi tidak apa-apa semakin kau marah semakin aku melihat dengan jelas dari wajahmu tapi di mataku kalian sangat lucu" Mayang suri terus memancing emosi Ki Demang karja dan sudah di duganya amarah Ki Demang karja meluap hingga ke ubun-ubun
"jumawa bajingan tengik biadab, katakan siapa dirimu sebenarnya sebelum aku menghabisi nyawamu aku ingin melihat wajahmu yang tersembunyi di balik cadar itu"
"oohhh.. rupanya iblis seperti mu pun penasaran dengan kering kecantikan yang ku miliki, baiklah tapi dengan satu syarat kau yang harus membuka cadar ini dengan tanganmu sendiri" di balik ucapan pendekar pedang Dewa Naga hitam tersimpan sebuah tantangan
darah Ki Demang karja semakin mendidih
"baiklah kalau itu yang kau inginkan aku akan membuka cadar itu dengan tanganku sendiri" secepat kilat Ki Demang karja melompat tangannya melayang meraih cadar Mayang suri namun ini bukanlah Mayang suri yang dulu yang dengan mudahnya dapat di sentuh
dalam emosi Ki Demang karja yang meluap sangat mudah bagi Mayang suri untuk menghindarinya tubuhnya yang ringan melayang keatas sebuah cabang pohon mangga yang sengaja di tanam di pekarangan rumah kepala dusun
Mayang suri tertawa cekikikan melihat tubuh Ki Demang karja yang sempoyongan akibat terbawa tenaganya sendiri
"hi..hi..hi.hi..hanya segitu kemampuan mu kisanak? kalau hanya cuma itu anak ingusan pun mampu melakukannya
__ADS_1
maaf kisanak sebentar aku ingin bermain-main dulu dengan anak buah mu" Mayang suri pun melompat ke tengah-tengah anak buah Ki Demang karja yang telah bersiap-siap menjaga segala kemungkinan yang akan terjadi
sementara kepala dusun dan istrinya hanya mengintai melalui lobang kecil dinding bilik
dan pertarungan pun terjadi dengan hebatnya tubuh pendekar pedang Dewa Naga hitam yang kecil dan mungil me liuk" ba'k seekor naga di tengah kepungan anak buah Ki Demang karja agar tidak membuang-buang waktu pedang Dewa Naga hitam pun ikut andil cahayanya berkilatan menyilaukan mata sehingga siapapun yang terkena kilatan cahaya itu pandangannya menjadi nanar
satu per satu anak buah Ki Demang karja ambruk ke tanah dengan tubuh berlumuran darah, melihat kejadian itu Ki Demang karja menjadi sangat geram
"perempuan terkutuk aku akui kehebatan mu tetapi mereka bukan lawanmu, akulah lawan tandingmu" Ki Demang karja dengan penuh kemarahan Ki Demang karja berteriak sambil menepuk-nepuk dada,
"akhirnya jahanam itu mengatakan juga jati dirinya, dan kini aku tidak sangsi lagi untuk membalaskan dendamku" bisik hati Mayang suri
"kalian dengar anjing-anjing liar apa yang dikatakan ketua kalian? karna kalian bukan tandingku jadi dengan penuh hormat aku minta menyingkirlah dari hadapan ku
"tidak namaku jalak sutra tangan kepercayaan juragan Demang dan aku punya kewajiban untuk menjaga juraganku dan pantang bagi jalak sutra untuk meninggalkan arena pertarungan meskipun nyawaku yang jadi taruhannya"
mendengar pengakuan jalak sutra Mayang suri tertawa sambil bertepuk tangan
"satu lagi buruanku muncul, tapi dimana satunya lagi jalak walungu sejak tadi aku tidak melihatnya?" Mayang suri menatap seluruh anak buah Ki Demang karja
"benar satu lagi kepercayaan Ki Demang karja yang bernama jalak walungu tidak berada diantara mereka"
dengan lantangnya Mayang suri atau pendekar pedang Dewa Naga hitam bersuara "dengar kalian semua ada satu hal yang harus kalian tahu terutama kau Demang biadab dan kau anjing peliharaan buka mata dan telinga kalian lihat wajahku baik-baik dan pastinya kalian akan terkejut"
__ADS_1
tangan Mayang suri meraih cadar dan membukanya di bawah cahaya bulan nampak dengan jelas wajah pendekar sakti itu
Demang karja mundur selangkah begitu juga dengan jalak sutra keduanya mengucek mata dengan punggung tangannya apakah mereka sedang bermimpi ataukah ini ilusi ataukah ada seseorang yang menyerupai wajah gadis yang beberapa tahun yang lalu telah di siksanya
Mayang suri kembali berteriak
"apakah kalian terkejut? aku yakin kalian kalian masih sangat mengenal wajahku yang telah kalian bunuh dan yang telah kalian siksa tanpa punya perasaan, kini aku datang untuk membayar hutangku, hei biadab namamu karja bukan apakah masih ingat akulah selirmu Mayang suri, apa kau masih berniat untuk menjadikan diriku selir lagi untuk yang kedua kalinya dan kini tanpa kau harus paksa aku bersedia, dan kau anjing kurap anjing peliharaan apakah kau masih ingat saat kau dan temanmu memaksa membawaku ke Kademangan untuk menjadi mangsa juragan mu? sekarang mengapa kau diam cepat bawa aku serahkan aku pada juragan mu"
nada suara Mayang suri bergetar menahan amarah
jujur betapa terkejutnya Ki Demang karja namun bukanlah juragan karja jika dia tidak dapat menyembunyikan kejujurannya dengan tenang diapun berbicara
"rupanya kau masih hidup anak manis"
karja berdecak kagum sambil menggeleng-gelengkan kepala
"kini wajahmu nampak cantik dari sebelumnya aku sama sekali tidak menyangka kalau pendekar yang namanya tengah berkumandang di jagat persilatan ternyata itu dirimu, jika benar yang kau katakan tadi kau masih bersedia menjadi selirku untuk yang kedua kalinya maka dengan senang hati aku pun menerimanya kemarilah manis aku sangat merindukanmu peluklah aku manis"
Mayang suri tauladan ucapan Demang karja hanya untuk memancing emosinya dan dia katakan itu hanya untuk menyembunyikan rasa takutnya
"tentu Demang aku masih sangat bersedia dan bukan hanya diriku saja tetapi juga pedangku ini sangat merindukanmu bersiap-siaplah Demang untuk menyambut ujung pedangku ini"
di akhir kalimatnya tubuh Mayang suri melayang tangannya begitu tangkas memaikan pedang tidak diduga samasekali serangan Mayang suri mengarah pada Ki Demang karja, ternyata serangan itu berbalik jalak sutra yang masih dalam posisi terkejut semakin terkejut mendapat serangan yang mendadak hingga mau tidak mau dia harus menahan serangan pedang Dewa Naga hitam dengan pedang yang berada di tangannya
__ADS_1
BERSAMBUNG