MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 50 PENYERANGAN II DAN KEMBALI BERPISAH


__ADS_3

Wisnu Abi Rawa berbisik di telinga Mayang suri entah apa yang di bisikan nya itu namun tidak lama kemudian Mayang suri meraih tangan Panji gara lalu memeluknya


tiba-tiba asap hitam mengepul namun sepertinya tidak ada prajurit yang memperhatikan kejadian itu karena mereka kewalahan menghadapi serangan Singgih narpati, Naga sura, Wisnu Abi Rawa, Sidra giri dan Darma Sena hingga rencana Mayang suri dan Panji gara berjalan dengan mulus


asap hitam pun menghilang dari area pertempuran terdengar lagi suara teriakan seseorang


"sebaiknya menyerahlah kalian semua, mengapa kalian membuat kerusuhan di kerajaan kami? jika kalian menyerah dengan baik-baik maka aku sebagai panglima di kerajaan ini tidak akan menghukum kalian dengan berat"


tiba-tiba seseorang berlari dari dalam istana "panglima di dalam istana telah terjadi kerusuhan dua penyusup masuk kedalam, lindungi Gusti prabu dan putra mahkota biar aku yang menghadapi mereka, kalian pasukan pemanah lepaskan anak panah kalian bunuh mereka"


rupanya yang baru keluar adalah Patih kerajaan dialah yang bernama Wulung Geni


untuk melindungi adik-adik seperguruannya dari hantaman anak panah Wisnu Abi Rawa merentangkan jubah saktinya hanya dengan beberapa kibasan saja panah-panah itupun berjatuhan ke tanah sebelum mengenai sasaran


tiba-tiba terdengar suara lantang perempuan


"Patih tarik mundur pasukanmu lihatlah ini jika tidak ingin Raja dan putra mahkota menjadi mangsa pedang-pedang kami, segera perintahkan prajurit-prajurit mu untuk menarik mundur pasukan dan asal kau tau panglima andalan mu sudah pergi ke neraka" ternyata yang berteriak itu Mayang suri sebelah tangannya mengunci kedua tangan Wulung Sabak Raja istana Cipamanahan sementara tangan yang satunya menggengam pedang Dewa Naga hitam yang ujungnya tepat mengarah ke leher sang Raja yang dalam keadaan tertotok


sementara Panji gara menarik tali yang mengikat tubuh putra mahkota dan menyeretnya tidak ubahnya menyeret seekor kambing, posisi Panji gara dan Mayang suri saling membelakangi untuk menjaga segala kemungkinan


wajah Patih Wulung Geni nampak pucat pasi melihat Raja dan putra mahkota telah berada di tangan musuh apalagi saat mendengar bahwa panglima andalannya telah terbunuh, tidak berpikir panjang lagi Patih Wulung Geni segera memberi perintah

__ADS_1


"tarik mundur pasukan..tarik mundur pasukan"


Mayang suri tertawa cekikikan


"Hi..hi..hi..hi. lihat Wulung Geni buka matamu lebar-lebar Raja mu tidak berdaya di tanganku, mana nama besar Wulung Sabak, mana nama besar Wulung Geni yang selama ini ku dengar berkumandang ternyata hanya segini saja kemampuan kalian manusia-manusia serakah yang bisanya hanya merampas milik orang lain


kakang Wisnu mau di apakan kerbau ini?


apakah aku harus menyembelih nya disini di depan mata sekutu-sekutunya?"


Mayang suri berteriak pada Wisnu Abi Rawa


"tidak adik Segoro mereka sudah tidak berdaya ada baiknya Raja lalim dan putranya itu kita jadikan jaminan untuk sementara waktu, adik Singgih dan kau adik Sura lucuti senjata-senjata mereka dan kau adik Giri segera pergi caritahu keberadaan Prabu Wira Nanta"


"apa kalian masih mengingat wajah ku? orang yang telah kalian hancurkan dan kalian fitnah dengan kejam, inilah saatnya aku membalas perbuatan kalian dan aku tidak perlu bertanya dimana pengikut-pengikut kalian yang lainnya karena aku bisa mencarinya sendiri


tidak ada yang menduganya Darma Sena mengayunkan pedangnya "slash..slash" suara tebasan pedang dan dua kepala jatuh menggelinding ke tanah


Wisnu Abi Rawa terkesiap kaget melihat apa yang dilakukan Darma Sena


"Sena kenapa kau lakukan itu? yang kau katakan padaku kau ingin membersihkan nama baikmu tapi sekarang kau membunuh mereka, lalu siapa yang akan bertanggung jawab untuk mengembalikan nama baikmu kembali?"

__ADS_1


"mereka memang pantas mati kakang


jika aku membiarkan mereka berkeliaran di muka bumi ini itu artinya aku telah membiarkan kebiadaban meraja rela, masih ada beberapa orang yang harus bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa ku dan keluarga ku"


meski ada penyesalan dalam hati Wisnu Abi Rawa atas keputusan yang di ambil Darma Sena namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karna sejujurnya jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam mengakui bahwa pada saatnya nanti dirinya pun akan melakukan hal yang sama pada manusia-manusia yang telah merenggut kebahagiaan nya


lalu Wisnu Abi Rawa memerintahkan adik-adik seperguruannya meringkus orang-orang yang telah mengambil kekuasaan kerajaan Cipamanahan untuk kemudian di beri hukuman yang setimpal dan biarkan Prabu Wira Nanta yang menentukan hukumannya, sementara mayat-mayat prajurit kerajaan di makamkannya dengan layak


sementara Sidra giri harus bekerja keras melawan kekuatan dari sebangsa jin yang melindungi terali ruang penjara bawah tanah yang mengurung Prabu Wira Nanta dan permaisuri nya, tetapi bukanlah pendekar pemburu nyawa jika tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik


setelah terali besi di bobolnya meski dalam ruangan sangat gelap namun Indra penglihatan Sidra giri dapat dengan jelas melihat dua sosok tubuh tergeletak di tanah dalam keadaan terikat hingga terkulai lemas, dengan mudah pendekar pemburu nyawa melepas rantai besi yang mengikat kaki dan tangan Prabu Wira Nanta dan permaisuri nya lalu membopong kedua kedua tubuh itu dan segera dibawa keluar dari penjara bawah tanah yang telah bertahun-tahun lamanya menyiksa Prabu Wira Nanta dan permaisuri nya


Wisnu Abi Rawa dan adik-adik seperguruannya yang lain tersenyum menyambut kedatangan Sidra giri


"terimakasih adik Giri kau telah berhasil membawa Prabu dan Ratu, tapi bagaimana kondisinya?"


"tidak perlu berterimakasih kakang, ini sudah menjadi tugas kita bersama, mengenai kondisi Gusti Prabu dan Gusti Ratu sangat mengkhawatirkan ada baiknya jika kita bersama-sama membantu memulihkan kembali kondisinya"


mereka semua pun setuju dengan usulan Sidra giri dan untuk sementara merekapun tinggal di istana, selain memulihkan kondisi Prabu Wira Nanta dan permaisuri nya mereka juga mencari orang-orang kerajaan yang dulu yang masih setia pada Prabu Wira Nanta


sedangkan Wulung Sabak dan sekutu-sekutunya di jebloskan kedalam penjara bawah tanah tidak satupun yang tersisa di luar meskipun ada beberapa prajurit yang berusaha membela diri dengan alasan merasa patuh pada Wulung Sabak hanya karena takut, tetapi Wisnu Abi Rawa dan yang lainnya tidak menerima alasan itu untuk menjaga terjadinya kecurangan

__ADS_1


setelah kondisi mulai membaik Wisnu Abi Rawa memutuskan untuk segera meninggalkan kerajaan Cipamanahan meski berat hati Prabu Wira Nanta melepaskan kepergian mereka yang telah menyelamatkan dirinya dan kerajaannya untuk di jadikannya benteng-benteng istana


BERSAMBUNG


__ADS_2