
"Katakan permintaan terakhirmu karja dan aku akan menyampaikan nya pada selir-selir mu, dan sebelum ajal mu tiba kau ku beri kesempatan untuk memohon ampunan nya agar perjalananmu ke neraka di beri kelancaran"
"ampuni aku Mayang suri, dan jika kau mengampuni ku aku akan berikan seluruh kekayaan yang aku miliki, dan kau akan hidup dalam kemewahan dan satu hal lagi yang kau harus ketahui aku tidak akan mati begitu saja, dan percuma saja meskipun kau membunuh ku arwah ku akan terus menghantui mu, jadi bagaimana Mayang suri? apa kau tidak tertarik dengan tawaran ku?"
"tutup mulutmu bedebah ajal sudah di ujung kerongkongan mu masih saja membual, jika memang tidak ada permintaan terakhirmu maka terimalah kematian mu saat ini juga pergilah kau ke neraka karja pedangku akan mengantarkan mu kesana" Mayang suri mengayunkan kedua pedangnya yang satu mengarah ke leher dan yang satu mengarah tepat ke jantung Demang karja
namun tiba-tiba entah darimana datangnya sesosok bayangan hitam berkelebat menyambar tubuh Demang karja yang sudah pasrah dan membawanya pergi tanpa Mayang suri tau siapa sosok bayangan hitam itu
Mayang suri berniat untuk mengejarnya namun sayang sosok bayangan hitam itu telah hilang
"bedebah terkutuk siapa kau lancang sekali mengambil mangsa ku, baiklah bedebah untuk kali ini kau lolos dari tanganku, tetapi ingat suatu saat aku akan dapat menemukanmu kembali"
suasana di pekarangan rumah menjadi hening hujan pun mulai reda, pintu depan rumah kepala dusun pun terbuka
dengan obor menyala di tangannya kepala dusun dan istrinya ter gopoh-gopoh menghampiri Mayang suri
"terimakasih pendekar kau telah menyelamatkan kami, dan seperti yang sudah kami janjikan kami akan memberikan imbalan yang sepadan, tubuhmu basah kuyup pendekar sebaiknya kau bersihkan badan mu dulu dan istri saya akan menyiapkan makanan untuk mu"
"tidak kisanak terimakasih aku tidak bisa berlama-lama disini aku harus meninggalkan tempat ini dan aku pastikan dusun mu akan aman seperti semula, segeralah minta bantuan pada penduduk yang lain untuk menguburkan jasad perampok-perampok itu dengan layak, ingat kisanak meskipun mereka perampok tetapi tetaplah mereka manusia dan aku pamit mohon diri" Mayang suri pun segera berpamitan
__ADS_1
kepala dusun berusaha menahannya
"pendekar kami belum memberikan apapun padamu sebagai bentuk rasa terimakasih kami, apa tidak sebaiknya pendekar pergi besok pagi saja setelah bertemu dengan penduduk yang lainnya?"
"tidak kisanak aku tidak membutuhkan imbalan apapun dari kalian, aku membantu kalian bukan karena uang tetapi atas dasar kewajiban ku"
di tempat yang jauh di dalam hutan
hari itu cuaca agak mendung padahal hari hampir menjelang tengah siang sepertinya sang Surya enggan menampakan dirinya
seorang pemuda bertubuh tinggi kurus berkulit hitam manis berwajah lumayan tampan tengah duduk di bawah sebuah pohon di pinggir sungai, wajahnya yang lugu menengadah ke atas langit bibirnya yang tipis tidak henti-hentinya berceloteh
entah mengapa setiap tempat yang ku singgahi selalu saja tidak dikenali, he...he Panji-Panji kau ini memang bodoh
pantas saja tempat ini tidak di kenali datang kesini saja baru kali ini, udara disini ternyata sejuk juga sepertinya enak juga kalau aku tertidur disini, tetapi kalau aku tertidur disini nanti ada Ratu siluman buaya putih yang muncul dari dasar sungai lalu membangunkan ku dan membawaku ke istana keratuan nya dan aku dijadikannya budak, he..he..he Hi..ngeri juga ya?
ya sudah daripada aku dibawa Ratu siluman lebih baik aku tidak usah tidur saja"
disaat pemuda itu sibuk berceloteh tiba-tiba dengungan menyusup ke gendang telinganya Panji gara nama pemuda itu mengerutkan kening sambil berceloteh
__ADS_1
"sepertinya ada yang memanggilku tapi siapa dan ada berita apa? mungkin sebaiknya aku jawab dulu" Panji gara merubah posisi duduknya yang tadinya berselonjor kaki berganti posisi dengan duduk bersila kedua tangannya mendekap dada matanya terpejam pikirannya di pusatkan pada panggilan terdengar suara seseorang terdengar dari jarak jauh melakukan panggilan dengan menggunakan aji bayu telepati
"adik Panji apa kau mendengar ku? berada dimana kau saat ini segera cari kakang-kakang mu yang lain dan temui aku di gunung kembar"
tanpa sempat Panji gara menjawab suara itupun sudah lenyap
"ada apa kiranya sehingga kakang Wisnu memintaku untuk mencari sodara-sodara ku yang lain apakah ada hal yang sangat penting yang harus di bicarakan
atau kakang Wisnu rindu pada kami terutama padaku karna sudah lama kami tidak bertemu, tetapi harus kemana aku harus mencari kakang Singgih, kakang Giri, kakang Naga sura aku saja tidak tau dimana mereka sekarang ini, ya aku ingat dulu Biung Ratu pernah mengatakan jika kita hendak mencari sesuatu yang tidak diketahui keberadaannya maka kita harus minta bantuan pada kunang-kunang sebagai penunjuk jalan, Ha...ha..ha..ha tapi mana ada kunang-kunang di siang bolong begini"
ekor mata Panji gara menangkap seekor tupai sedang melompat di atas dahan pohon pemuda itupun lekas-lekas berdiri sambil menepuk rumput kering yang menempel di celananya mulutnya masih tetap berceloteh " tidak ada kunang-kunang tupai pun jadi Hais... kemana dia cepat sekali larinya ku pikir dia mau menunjukkan jalan, he taunya dia hanya menggoda ku tapi tidak apa-apa lah biar langkah kaki ku saja lah yang menjadi penunjuk jalan"
bosan berceloteh mulutnya ganti bersiul sepanjang jalan menerobos hutan bibirnya tidak henti-hentinya bersiul tidak terasa sudah hampir satu jam Panji gara menapaki jalan setapak di tengah hutan tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara dentingan pedang pemuda itu memicingkan mata memasang telinga agar lebih jelas terdengar
"sepertinya di depan sana sedang terjadi pertarungan tapi siapa mengapa juga mereka harus bertarung? tapi memang mungkin begitulah adanya jagat persilatan selalu saja dihiasi dengan pertarungan kapan saja bisa terjadi dimana saja bisa terjadi tidak mengenal waktu ataupun tempat entah siapa dengan siapa itulah kenyataannya, tapi aku penasaran juga apa yang mereka perebutkan sebaiknya aku mengintip saja"
tubuhnya yang tinggi kecil melayang melompat keatas cabang sebuah pohon tidak ubahnya seekor kera tubuh Panji gara bergelantungan dari cabang pohon yang satu ke cabang pohon yang lainnya hingga tepat berada di arena pertarungan namun pemuda itu tidak lantas turun dia tetap berada diatas pohon untuk memastikan siapa mereka yang tengah bertarung itu
BERSAMBUNG
__ADS_1