
"iya bibi saya makanan dan juga wedang jahe" jawab Mayang cepat
"baiklah Nini akan segera saya siapkan" dengan tangkasnya pemilik kedai menyiapkan makanan dan juga wedang jahe seperti yang di pesan Mayang suri
"silahkan Nini" pemilik kedai mempersilahkan
karena seharian perutnya tidak di isi makanan apapun Mayang suri menyantap makanan itu dengan lahap nya
"Nini kalau boleh saya tau apakah Nini seorang pendekar? Nini hendak kemana?" dengan sopan si pemilik kedai bertanya
di sela-sela mengunyah makanan Mayang suri tidak urung menjawab juga
"saya bukan pendekar bibi, saya pengembara biasa saya hendak ke kota raja Kademangan mekar jaya untuk menemui seseorang kerabat tapi sayang saya kemalaman disini"
"ooh begitu ya Nini? apakah Nini datang dari desa jauh?, Nini masih butuh perjalanan sekitar dua hari untuk mencapai kota raja Kademangan
"benar bibi saya berasal dari Malaka, sudah hampir seminggu ini saya menempuh perjalanan, dulu saya pernah datang ke dusun ini memang sudah lupa-lupa ingat tetapi seperti yang bibi katakan tadi masih membutuhkan dua hari untuk tiba disana,
oh iya bibi apa di dusun ini ada penginapan? saya tidak berani kalau harus meneruskan perjalanan pada malam hari
mungkin sebaiknya malam ini saya beristirahat disini" Mayang suri memberitahukan dari mana asal dirinya sekaligus menanyakan penginapan disini
"tidak ada penginapan nini, tetapi jika Nini berkenan Nini boleh menginap di rumah saya" dengan senang hati pemilik kedai itu menawarkan tamunya untuk menginap
"baiklah bibi terimakasih, berapa saya harus membayar untuk menginap dan juga makanan-makanan ini?"
"saya tidak menyewakan kamar Nini,
Nini boleh beristirahat disini tanpa harus membayar jika Nini ingin membayar cukup makanan nya saja"
Mayang suri menatap pemilik kedai itu
seperti pesan guru-guru nya dia harus selalu hati-hati terhadap kebaikan orang-orang yang ditemuinya bukan mencurigai tetapi hanya sekedar mewaspadai
__ADS_1
"tidak bibi tetap saja saya harus membayar sewa kamar dan juga makanan, maaf bukan saya menolak kenaikan bibi tetapi itu sudah menjadi peraturan" Mayang suri merogoh saku pakaian nya menyerahkan beberapa tail uang
"apa ini cukup bibi?" tanyanya sambil memberikan uang
"ini lebih dari cukup Nini, sebaiknya jangan semua. Nini masih butuh bekal untuk perjalanan besok". pemilik kedai menolak secara halus karena menurutnya uang yang di berikan Mayang suri lebih dari cukup untuk menyewa kamar dan membayar makanan
"ambil saja bibi jangan menolaknya saya memberikannya dengan tulus, oh iya bibi apakah sering ada pendekar-pendekar yang lewat disini atau barangkali pedagang yang kemalaman?"
"kalau pendekar sering, tetapi kalau pedagang jarang lewat di dusun ini karena bagi para pedagang yang bertujuan ke kuta Kademangan itu sangat besar resikonya apalagi melewati gunung itu". pemilik kedai menjawab dengan sungguh-sungguh
"oh iya Nini jika Nini mau membersihkan badan di belakang ada ****** Nini boleh mengunakannya dan saya akan siapkan kamar untuk Nini beristirahat"
Mayang suri mengangguk setuju karena memang seluruh badannya sudah terasa gatal dan juga pegal-pegal
setelah mengantar Mayang suri ke belakang, pemilik kedai menyiapkan kamar
setelah selesai diapun menutup kedai nya
"malam belum terlalu larut bibi tapi mengapa kedai sudah di tutup? mungkin saja nanti ada orang yang lewat dan kebetulan membutuhkan makanan"
"dusun ini agak rawan Nini, kadang-kadang dusun ini suk di satroni perampok, saya disini hanya sendirian seperti yang terjadi tiga bulan lalu warung saya si acak-acak perampok, masih untung mereka tidak membunuh saya, jadi sekarang-sekarang ini saya selalu menutup kedai lebih awal untuk menjaga keselamatan"
Mayang suri mengerutkan kening mendengar penuturan wanita setengah baya itu, "apa sering terjadi bibi?
apa hanya sekali-sekali saja
terus mereka mencari sesuatu atau hanya sekedar merampok saja?" Mayang suri bertanya penasaran
"akhir-akhir ini kerapkali terjadi, saya tidak terlalu pasti, tetapi menurut yang saya dengar mereka bukan perampok biasa
melainkan pendekar-pendekar sakti dari golongan hitam yang menyamar menjadi perampok, seluruh dusun ini tidak mengetahui yang sebenarnya jika mereka sedang mencari sesuatu kami tidak tau apa yang mereka cari"
Mayang suri manggut-manggut menanggapi penjelasan pemilik kedai dengan serius,
__ADS_1
"Nini sebaiknya segera masuk kamar semoga saja malam ini tidak terjadi apa-apa saya khawatir pada Nini karena menurut cerita selain merampok mereka juga menculik gadis-gadis di dusun ini"
pemilik kedai menambahkan penjelasan nya
Mayang suri pun menuruti diapun masuk kedalam kamar, hampir tengah malam Mayang suri belum dapat memejamkan matanya meski
tubuhnya terasa lelah namun dia masih mengingat cerita pemilik kedai, diapun berpikir keras
"apakah mungkin mereka juga yang memburu pedang pusaka ini, jiak itu benar mengapa dia harus merampok dan juga menculik gadis-gadis dusun? apakah mungkin mereka orang-orang nya demang kerja jika itu benar betapa biadabnya jahanam itu" mengingat nama demang kerja rahang gadis itu gemelatuk marah kesal, dan juga dendam
"baiklah malam ini aku tidak akan tidur aku ingin tahu siapa sebenarnya bandit-bandit terkutuk itu" Mayang suri membaringkan tubuhnya diranjang namun dia tidak tertidur telinganya di pasang tajam-tajam agar dia bisa mengetahui kalau-kalau mereka datang malam ini
sekitar pukul dua dini hari terdengar suara langkah serta derit bangku yang di duduki seseorang, Mayang suri bangkit perlahan-lahan agar tidak menimbulkan suara telinganya di tempelkan pada daun jendela untuk lebih memperjelas pendengarannya
suara seseorang terdengar berbisik-bisik meskipun hanya bisikan namun telinga Mayang suri dapat menangkapnya dengan jelas dia menggunakan aji Bayu pangrungu
pada saat yang bersamaan di luar kamar terdengar suara yang memanggilnya
"Nini apakah kau masih terjaga? ini saya pemilik kedai ijinkan saya masuk ke kamar mu"
tanpa menunggu jawaban dari Mayang suri wanita setengah baya itu pun menerobos masuk ke dalam kamar, dan di dapatinya gadis itu tengah memasang tinga dengan tujuan untuk memastikan siapa sebenarnya mereka yang berada di luar di tengah malam buta seperti ini apakah mungkin mereka beritikad baik
Mayang suri terkejut setengah mati manakala bahunya ada yang menepuk, rupanya gadis itu tidak menyadari kalau wanita si pemilik kedai sudah berada di sampingnya wajahnya terkesiap suaranya pun agak tergagap
"rupanya kau bibi sejaka kapan kau berada di dalam kamar ini?" sambil bertanya mata Mayang suri menatap sebuah benda yang terbungkus kain hitam yang berada di dalam dekapan wanita setengah baya itu
"dengar baik-baik Nini mereka yang berada diluar itu orang yang pernah saya ceritakan yang sebenarnya pendekar-pendekar pilihan yang bertopengkan perampok
"kita tidak punya waktu banyak Nini yang mereka incar adalah benda ini kau harus menyelamatkan nya, cepat pergi dari sini selamatkan benda pusaka ini biar saya yang menghadapi mereka"
.
BERSAMBUNG
__ADS_1