
..."Aku tidak peduli jika kau ingin membunuhku! Hidupku sudah tidak ada artinya lagi, lebih baik aku mati daripada tersiksa seumur hidupku."...
..._______...
Aleta masih terbaring lemah di atas ranjang berukuran queen. Ia belum juga terlihat membuka mata setelah 5 jam yang lalu, Dokter pribadi Damar memeriksa keadaannya.
Damar memilih mengistirahatkan tubuh di ranjang miliknya daripada harus menunggu Aleta sadar, sebab melihat wajah wanita itu justru membuat amarahnya kembali memuncak. Ia hanya memerintahkan dua anak buahnya untuk menjaga Aleta di depan pintu kamar, karena tak ingin mendengar wanita itu kabur secara diam-diam.
Damar mematikan lampu kamar setelah ia merebahkan tubuhnya dan matanya mulai terpejam. Namun begitu terlelap, ia bermimpi. Mimpi yang berhasil membuat kedua alisnya beradu saat matanya masih terpejam.
Didalam mimpinya itu, ia tersenyum bahagia bersama sosok wanita yang wajahnya tersamarkan oleh cahaya, bahkan ia berciuman mesra dengan wanita tersebut.
...•••...
Pagi yang cerah mengantarkan Aleta pada kehangatan sinar mentari yang cahaya kilaunya berhasil menerobos masuk kedalam kamar. Matanya perlahan terbuka, ia menatap atap langit ruangan yang begitu mewah.
"Apa sekarang aku sudah di alam yang berbeda? Apa aku benar-benar mati sekarang?"
Ia bergumam pada lamunannya ketika belum menyadari keberadaannya saat ini. Hingga dimana terdengar suara bariton pria yang tengah duduk santai menghadap ranjang.
"Apa tidurmu nyenyak malam ini?" tanya Damar sambil bersedekap dada.
Aleta nampak terkejut mendengar suaranya, Ia segera terduduk dan menatap pria yang tak asing lagi baginya. Tatapan sengit dan penuh kebencian yang langsung diketahui oleh Damar.
Damar menyeringai, "Aku begitu menyukai tatapanmu, karena kau semakin terlihat bodoh!" cibirnya.
"Kenapa kau membawaku kesini?" tanyanya gusar.
"Bukankah harusnya kau berterima kasih padaku karena aku telah menyelamatkan nyawamu dan kau berhutang budi atas itu." balas Damar
"Aku tidak memintamu untuk menyelamatkan ku," ucap bengis Aleta.
"Aku lebih baik mati daripada bertemu dengan pria jahat sepertimu!" lanjutnya kemudian.
__ADS_1
Mendengar perkataan Aleta, serigainya kini berganti dengan tatapan tajam nan dingin terlebih melihat Aleta yang berusaha untuk melangkah keluar dari sana.
Duarr!!
Satu peluru keluar dari pistol yang tengah digenggam Damar dan peluru yang nyaris mengenai dirinya seketika membuatnya terpaku dan bergetar hebat. Ia menyaksikan jelas, Damar yang berani melukainya meski ia seorang wanita.
Peluru itu menembus wall decor hingga terjatuh ke lantai granit. Aleta bergidik ngeri dan melangkah mundur untuk menjauhi Damar, namun langkahnya justru membuatnya tersudut, sebab Damar mengikuti langkahnya sambil mengarahkan pistol di kening Aleta.
"Selangkah saja kau berani mencoba pergi, maka peluru ini akan tertanam di dalam otakmu!"
Ancaman Damar mampu membuat Aleta menelan saliva kasar dan terbelalak hebat. Ia tak menyangka harus menghadapi pria mengerikan seperti Damar. Rasanya hidupnya akan semakin tersiksa jika berada di ruang lingkup pria yang saat ini tengah menatapnya sinis.
...•••...
Seharian itu Aleta terkurung di dalam ruang kamar, ia tidak di izinkan sama sekali melangkah keluar oleh Damar. Kendati ia terus berusaha mencari cara untuk kabur dari sana, sayang hasilnya nihil, karena penjagaan di kamar itu terlalu ketat.
Ia kembali memeriksa ruangan untuk mencari celah, agar segera pergi dari kediaman Damar. Sejenak Aleta teringat akan jendela ventilasi kamar mandi yang cukup lebar. Cepat-cepat ia melangkah ke kamar mandi dan memanjat melalui bathtub untuk bisa menjangkau ventilasi.
Tak butuh waktu lama akhirnya ia dapat keluar dari celah jendela, karena tubuhnya yang ramping memudahkannya untuk dapat lolos tanpa harus terjepit. Ia mempercepat langkahnya sambil terus mengedarkan pandangannya untuk berhati-hati, agar tidak diketahui oleh anak buah Damar.
Ia terkejutnya dan bergeming, tatkala menatap Damar yang tengah siap menodongkan pistol ke arahnya, lagi.
"Sudah ku peringatkan untuk tidak pergi, apa kau lupa dengan kejadian pagi tadi!!" suara tenor itu mengintimidasi jika Damar tak main-main dengan ucapannya.
"Aku tidak peduli dengan ancamanmu! Aku akan tetap keluar dari rumah neraka ini!!" pekik Aleta menantang Damar.
Ia merasa putus asa dan juga tidak peduli jika pria itu akan menembaknya. Hidup di luar sana maupun di rumah itu tetaplah sama buruknya, kehidupannya akan selalu dihantui oleh Damar.
Aleta meremas kuat sisi bajunya, sebelum akhirnya ia nekat melangkah melewati Damar yang terus menodongkan pistol kearahnya.
Duarr!!!
Duarrr!!!
__ADS_1
Damar mengeluarkan pelurunya sebanyak dua kali kearah Aleta. Pria itu berhasil membuat Aleta terjatuh di halaman rumahnya. Melihat Aleta yang tak lagi sadarkan diri, ia hanya mengeluarkan smirknya.
Sementara anak buahnya yang baru saja tiba langsung di buat tercengang dengan perlakuan Damar pada seorang wanita. Mereka sungguh tak menyangka jika Bosnya itu benar-benar nekat melayangkan peluru padanya.
Mereka merasa iba dan tak tega pada Aleta, sebab mereka menilai jika Aleta hanyalah seorang wanita yang lemah dan jauh dari kata penjahat, seperti sang ayah. Hanya karena dendam, Aleta harus menerima sikap kasar dari Bosnya itu.
"Bawa wanita itu ke kamar!" perintahnya tegas.
"Tapi Bos, tidak sebaiknya dibawa kerumah sakit?" ucap Erick khawatir.
"Kau tidak mendengar ucapanku," bentak Damar dengan sorot mata tajam.
"Baik Bos," ucap Erick kikuk
Erick menunduk paham akan perintah yang diberikannya. Ia pun meminta anak buah lainnya untuk membantu membawa Aleta ke kamar.
...•••...
Malam itu Damar kembali bermimpi, mimpi yang sama seperti malam kemarin. Namun di dalam mimpinya, Damar menangis sambil memeluk sosok wanita itu. Ia terus mengucapkan kata maaf padanya.
Damar pun terbangun dan terduduk, raut wajahnya tampak gusar dan bingung. Bagaimana mungkin ia bisa mendapatkan mimpi yang sama seperti kemarin malam, pikirnya.
Ia meraup wajahnya sambil menoleh kearah jam di atas nakas. Jarum jam masih menunjukkan pukul 02.00am, karena tidak bisa kembali tidur Damar melangkah keluar untuk menyegarkan pikiran.
Ketika hendak melewati kamar Aleta, ia berniat melihat keadaannya, sebentar. Dihampiri dan dilihatnya lekat wanita yang masih terus memejamkan matanya.
Damar melihat setetes bulir airmata yang terjatuh diujung ekor matanya. Ia merasa jika Aleta sudah sadar, namun enggan membuka mata.
"Tanda-tangani saja surat permintaanku itu! Aku hanya memintamu menikah denganku dalam kurun waktu satu tahun, setelah itu kau bebas dariku!" tutur Damar sebelum melangkah keluar.
Ia yakin Aleta mendengar ucapannya dengan jelas, walau tidak mendapatkan balasan apapun darinya.
"Aku beri waktu kau tiga hari, untuk segera mempersiapkan dirimu menerima permintaanku itu!" tambahnya.
__ADS_1
Setelahnya Damar melangkah keluar dari ruang kamar Aleta, meninggalkan wanita yang masih memejamkan matanya.
...♡♡♡...