
..."Jika saja hidup berjalan sesuai dengan apa yang aku inginkan, maka aku tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya berjuang melewati masa sulit, sebab itulah yang akan membuatmu bertahan melawan rasa takutmu."...
..._______...
Akhirnya tiba dimana pernikahan segera berlangsung dan mereka akan menjadi sepasang suami dan istri yang sah Dimata semua para saksi undangan, kendati keduanya memiliki perjanjian hitam diatas putih.
Aleta menatap dirinya pada pantulan cermin, tidak dapat membayangkan dirinya bisa menjadi pengantin wanita dari seorang pria yang tak begitu dikenalnya.
Raut wajahnya tampak datar, tak tersenyum atau pun bersedih. Baginya pernikahan ini merupakan kebodohan yang dilakukannya seumur hidup.
Seharusnya ia tidak berada di dalam posisi yang mengharuskannya untuk menerima semua jaminan atas perbuatan sang Ayah. Menyalahkannya saja tidak akan mungkin, sebab yang ia tahu Ayahnya telah lama meninggal dunia.
Mau tak mau ia harus merelakan hidupnya tinggal bersama Damar, selama perjanjian itu berakhir. Mungkin baginya itu tidak akan terlalu lama, tapi entah apa yang membuatnya terus memikirkan hal kedepannya bersama dengan Damar.
"Aleta, kau wanita kuat dan berani! Kau harus yakin, jika ini bukan masalah besar untukmu. Hidupmu tidak akan berakhir begitu saja hanya karena hidup bersamanya, ya kau hanya perlu bersabar sampai dimana kebebasanmu itu tiba! "
Aleta bergumam dalam hati, mencoba menyemangati dirinya sendiri untuk tidak bersikap lemah di hari pernikahannya.
"Maaf Nona, anda sudah ditunggu," ucap Erick yang berdiri diambang pintu setelah ia mengetuk pintu.
Mendengar ucapannya, Aleta segera menghela napas panjang sebelum akhirnya ia berjalan menghampiri Erick yang telah lama menunggunya.
...•••...
Semua tamu yang menjadi saksi pernikahan mereka kini tengah menunggu pengantin wanita, mereka tak sabar melihat sosok wanita teristimewa yang dipilih Damar untuk menjadi istrinya.
Krek!
Pintu ruangan terbuka, memperlihatkan sang pengantin wanita yang berdiri diambang pintu. Raut wajahnya terlihat begitu gugup ketika semua pasang mata beralih kearahnya.
"Silahkan, Nona" sapa Erick ramah.
Erick berdiri di samping Aleta memberikan lengannya untuk bisa dirangkul Aleta, karena ia tahu jika wanita itu kini tengah gugup. Ia juga turut membantunya berjalan menuju altar, untuk menghampiri Damar yang sudah menunggu di depan sang Penghulu.
Derap langkahnya begitu berat dirasanya, tatkala melewati para tamu yang berdiri disamping kiri dan kanannya. Mereka tak pernah melepaskan pandangan kearah Aleta.
"Pandang saja kedepan, tidak perlu memerhatikan mereka!" bisik Erick memberikan pesan yang sempat diamanatkan oleh Damar.
Aleta pun mengikuti apa yang dikatakan Erick. Ia mencoba membuang rasa gugupnya dengan membayangkan, bahwa hari ini adalah hari terbahagianya.
Langkahnya terhenti ketika berdiri tepat disamping Damar, netra mata Damar tak lepas menatap Aleta sejak kedatangannya tadi. Ia begitu terpesona dengan kecantikan Aleta yang mengenakan wedding dress, tampak begitu anggun dan saat ini keduanya saling berhadapan, ketika sang Penghulu memintanya.
__ADS_1
Damar mengucapkan janji sucinya di depan Penghulu dan para tamu yang menjadi saksi pernikahannya. Sementara Aleta bergeming saat sang Penghulu menanyakan perihal janji sucinya.
Pikiran dan tatapannya tiba-tiba saja kosong, ia tak mendengar apa yang dikatakan sang Penghulu untuknya. Namun dengan cepat Damar segera menggengam tangan Aleta erat, hingga membuatnya tersadar dengan ucapan penghulu yang telah mengulang perkataannya.
"Ya, saya bersedia menikah dengannya!" sahutnya asal.
Begitu selesai mengucapkan janji suci, sang Penghulu pun mengumumkan bahwa keduanya kini telah resmi menjadi pasangan suami dan istri, setelah sebelumnya Damar menyematkan cincin di jari manis Aleta begitupun sebaliknya.
Damar membuka veil yang menutupi wajah Aleta, ia mendekat dan segera menci*mi kening Aleta dengan lembut. Sementara Aleta memaksa memejamkan mata.
Menafsirkan jika perlakuan Damar hanya sebatas kebohongan yang sengaja diperlihatkannya di depan para tamu undangan, agar mereka tak mencurigai apa yang sebenarnya terjadi dibalik sikap romantisnya pada Aleta.
Begitu janji suci mereka telah selesai, acara pesta pun berlanjut di ruangan yang berbeda. Aleta dan Damar juga telah berganti gaun pengantin mereka.
Aleta mengenakan gaun berwarnakan biru langit dengan aksen payet mutiara mix swarowski, sementara Damar mengenakan slim tuxedo suit yang berwarnakan senada dengan Aleta. Tak terlalu formal namun masih terlihat elegan dan glamor.
Semua para tamu satu-persatu memberikan selamat untuk keduanya. Aleta mengikuti perintah Damar yang terus memaksanya untuk merangkul lengannya, meski malas.
Damar menghampiri tamu penting untuk diperkenalkan langsung dengan Aleta. Tamu dari panti asuhan Rumah Kasih, tempat Aleta sempat bernaung.
"Terima kasih anda telah hadir di pernikahan kami, Tn. Kemal." Sapa Damar mengulurkan tangan.
Mata Aleta membola tatkala mendengar nama pria itu disebutkan oleh Damar dan ciri khas suara yang sangat dikenalinya. Aleta yang sejak tadi terus bersembunyi dibalik tubuh Damar, kini mencoba memastikan bahwa pemikirannya salah.
"Hai Aleta Quenby, lama tak bertemu!" sapa Kemal saat mendapati Aleta yang bersembunyi dibalik tubuh Damar.
Aleta tersentak saat pria itu mengenali dan memanggil namanya dengan jelas. Ia terpaku, sesaat pemilik panti itu menyapanya seraya menyunggingkan senyum. Senyum kejahatan yang pernah ia lakukan pada anak berusia 7 tahun, Aleta ingat betul bagaimana senyum pria itu saat menyiksanya dengan bangga.
"Anda mengenalnya?" tanya Damar menelisik tatapan mata keduanya.
"Ya tentu saja, dia anak kesanyanganku ketika di Rumah Kasih," jawabnya sembari mengelus punggung Aleta.
Sikapnya membuat Aleta kembali teringat akan kejadian pemukulan yang dilakukannya pada punggung Aleta dengan sengaja, begitu sarkasnya ia membuat punggung Aleta memar dan bengkak selama sebulan penuh.
"Aahh!!"
Aleta memekik sembari merintih, ia tertunduk dan tubuhnya bergetar hebat saat kembali merasakan sakit dipunggungnya dan tangan kirinya menggenggam kuat gaun yang ia kenakan sementara tangan kanannya masih merangkul lengan Damar. Rasa trauma itu tak akan pernah hilang dari pikiran dan batinnya,
Ia menjadi sangat takut bertemu dengan pemilik panti itu. Segera ia melepaskan kasar rangkulan di lengan Damar dan mencoba pergi dari sana, namun usahanya gagal, sebab Damar berhasil menghalanginya.
Kini Damar menggengam tangan Aleta erat, ia tak ingin istrinya itu pergi dan membuat masalah di hari pernikahannya.
__ADS_1
"Aku tidak menyuruhmu untuk pergi, tetap disini dan ikuti semua ucapanku!" Damar berbisik di telinga Aleta
Aleta menatap Damar dengan sorot mata sendu seakan memohon padanya agar mengizinkan dirinya untuk pergi dari tempat itu. Sayang Damar tidak memperdulikan sama sekali perasaannya saat ini.
"Sepertinya, istri anda terlihat terkejut melihat saya!" ledek Kemal menatap Aleta senang.
"Dia hanya sedikit lelah saja. Kalau begitu silahkan nikmati pestanya!" balas Damar sebelum melangkah pergi bersama Aleta.
"Tentu saja, aku akan menikmati pesta pernikahan kalian!" ucap Kemal terkekeh, sorot matanya terus saja menatap Aleta.
Setelah pertemuannya dengan Kemal, Aleta menjadi diam, tak sedikit pun mengeluarkan sepatah kata, meski para tamu banyak yang bertanya padanya.
Karena tak ingin membuat kecewa tamu undangan, Damar lah yang menjawab semua pertanyaan mereka mengenai Aleta, alih-alih tidak mau membuat kecurigaan di mata mereka.
Tiba dimana di akhir acara, Damar dan Aleta diminta untuk berdansa bersama. Keduanya mengikuti apa yang diinginkan oleh tamu undangan, kini Damar dan Aleta telah berdiri di lantai dansa dan terkesiap mengikuti alunan musik dansa slow romantis.
Damar meraih pinggang Aleta dan tangan Aleta diarahkannya pada tengkuk lehernya, seolah-olah Aleta sedang merangkulnya. Aleta hanya mengikuti langkah Damar, walau sebenarnya ia merasa pusing dengan suasana keramaian pesta malam ini.
Aleta memang memiliki trauma kepanikkan saat bertemu dengan orang banyak, ia akan merasa pusing dan pikirannya juga kosong, terlebih ia memiliki kenangan yang kelam semasa kecilnya.
"Tatap aku sekarang!"
Damar meminta Aleta untuk menatapnya, sebab sejak tadi ia hanya tertunduk. Melihat sikap Aleta yang tak mau mendengar ucapannya membuat Damar jengkel, ia pun segera mengangkat dagu Aleta agar melihat kearahnya.
"Aku tidak sanggup lagi, tolong!"
Lirih Aleta saat melihat kearah Damar, bibirnya terlihat pucat dan wajahnya dipenuhi keringat. Damar sempat terkejut melihat keadaan Aleta, sebelum akhirnya Aleta tak sadarkan diri didekap Damar. Damar sendiri merasakan tubuh Aleta begitu dingin.
...•••...
Acara kemeriahan pesta pernikahan telah usai ketika waktu menunjukkan pukul satu dini hari, meski di acara itu Damar dan Aleta tak lagi berada disana, sebab Damar segera membawa Aleta pulang saat istrinya itu tak sadarkan diri.
Untung saja acara tetap berjalan lancar tanpa adanya tamu yang menanyakan kejadian yang terjadi dengan Aleta, karena sebelumnya Damar telah memberikan penjelasan.
Kini Aleta telah beristirahat di kamarnya setelah Dokter memeriksa keadaannya dan Damar pun diminta membawa Aleta ke psikiater, untuk memeriksa keadaannya lebih lanjut.
"Sebaiknya, kau membawanya ke psikiater! Jika istrimu terus saja seperti ini, kemungkinan akan memperparah kondisi kesehatan mentalnya. Tolong jaga dia!"
Pesan dari Dokter itu, membuat Damar sedikit cemas akan keadaan Aleta. Ia juga tak menyangka jika Aleta memiliki perasaan trauma, sementara yang ia lihat itu Aleta wanita yang berani dan keras kepala.
...♡♡♡...
__ADS_1