Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
60 - Rasa Curiga Erick


__ADS_3

..."Sebelum kau sedingin hamparan hujan deras, kau pernah sehangat hembusan napas,"...


...______________________...


Pagi-pagi sekali Damar sudah rapi, ia telah berganti pakaian dan menunggu Erick untuk menjemputnya. Pagi itu ia terlihat sangat bersemangat, rasanya tak sabar menemui Aleta untuk membuat kejutan akan kehadirannya.


"Ingat pesanku, Damar, kau tidak diperbolehkan untuk bekerja dulu sebelum recovery dan satu lagi kau harus menjaga kepalamu dari benturan apapun, mengerti!" perintah sang Dokter tegas, diakhir kalimat beliau memberi penekanan agar Damar menurut.


"Siap Dokter, tenang saja aku mengingat semua ucapan mu di dalam memori otakku," sahutnya sembari menyunggingkan senyuman.


"Minta padanya untuk merawat mu hingga sampai keadaanmu pulih," Dokter menambah pesannya lagi.


Seperti menemukan sebuah ide brilian setelah mendengar perkataan sang Dokter. Tiba-tiba mencuat rencana untuk mengerjai Aleta, matanya memicing dan ia tersenyum miring penuh arti.


Nampaknya rencana itu merupakan suatu keberuntungan untuk dirinya tapi tidak untuk Aleta. Melihat sikap Damar yang aneh, segera Dokter menegurnya.


"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya kepada Damar.


"Terima kasih Dok, atas saran anda aku jadi mempunyai ide." Jawabnya sumringah.


Dokter mengerutkan keningnya sambil berkata, "Maksudnya?" tanyanya bingung.


Damar hanya membalas dengan senyuman tanpa menjelaskan lebih jauh kepada sang Dokter. Pikirnya, mau bagaimana pun dijelaskan Dokter itu juga tidak akan paham, sebab hanya dirinya sajalah yang mengerti maksud dan tujuan idenya itu.


...***...


Saat mobil berhenti di depan pintu utama, Damar bergegas turun tanpa menunggu Erick untuk membukanya. Sepertinya pria itu sudah tak sabar memberikan kejutan untuk Aleta.


"Bos, tung--" ucap Erick terputus begitu saja setelah mendapati Damar telah melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat.


"Ckck, sebegitu inginnya kah, dia kembali ke rumah! atau memang ada seseorang yang dirindukannya?"


Gumam Erick penasaran, sebab ia sempat berbicara dengan Dokter mengenai permintaan Damar yang ingin sekali pulang ke rumah, meski tidak begitu mengetahui lebih jelas alasan Damar untuk segera pulang.

__ADS_1


.


.


.


.


Damar tiba di depan pintu kamar Aleta kemudian mengetuk pintu sang pemilik kamar, namun tak terdengar sautan apapun dari dalam sana. Beruntung ia memiliki kunci cadangan kamar, sehingga memudahkannya untuk masuk tanpa menunggu persetujuan Aleta.


Kepalanya melongok dari balik pintu guna memastikan keadaan di dalam kamar, takut-takut Aleta sudah bangun dari tidur malamnya. Mengetahui wanita itu masih tertidur pulas di atas ranjang, Damar pun bergegas masuk dengan langkah hati-hati.


Ia menghampiri mengintip Aleta yang masih memejamkan mata sambil bersembunyi dari balik selimut tebalnya. Berniat membangunkan wanita itu dengan cara membuka gorden dan pintu balkon selebar mungkin, agar sinar mentari dan udaranya masuk.


Pikirnya, dengan cara itu Aleta dapat segera bangun karena terusik dengan kilauan mentari yang menerangi wajahnya serta hembusan angin pagi yang menyergap masuk ke dalam sela-sela kulit wajahnya.


Damar berkacak pinggang di depan pintu balkon menggambarkan siluet seluruh tubuhnya yang atletis, ia berpose layaknya model. Menebak jika Aleta bangun, netra matanya segera menoleh kearah dirinya yang saat ini masih berlagak keren bak pria gagah.


5 menit menunggu, ternyata Aleta tak juga bangun. Damar melirik dari ujung ekor matanya, saat merasa tidak ada suara apapun dari balik punggungnya. Ia kira, dengan ia berdiri di sana, Aleta akan memeluk tubuhnya dari belakang.


kalimat yang baru saja ia lontarkan ternyata membuat kepercayaan dirinya meningkat 90 persen, Damar mengambangkan senyuman saat sekelebat bayang-bayang sikap Aleta muncul di atas kepalanya.


Bayangan Aleta yang tengah uring-uringan dan melamunkan dirinya sehingga membuatnya sulit untuk tidur. Damar terkekeh puas sekaligus geli membayangkan raut wajah Aleta yang gemas.


Damar mendekat dan segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tubuhnya diarahkannya tepat di depan Aleta dan kepalanya bersandar di atas telapak tangan.


Kedua manik matanya menatap lekat wajah Aleta, kemudian tangan kanannya mengarah pada anak rambut yang telah mengganggu wajah wanita itu, lalu ia rapikan di belakang telinga.


Sempat Damar menempelkan telapak tangannya ke pipi Aleta, sehingga membuat sang empunya Sedikit terusik dengan sentuhan tangan hangatnya, meski matanya masih saja terpejam.


Pria itu terbuai seakan lupa akan perjanjian yang ia ajukan pada Aleta, melupakan segala kebenciannya pada sosok Aleta yang pernah dikenalnya sebagai anak dari seorang pembunuh.


Semua ia kesampingkan saat melihat wajah teduhnya, lagi-lagi Damar menarik sudut bibirnya ke atas, tanda senang. Rasa kerinduannya terbayarkan meski tak sepenuhnya.

__ADS_1


Damar mengecup lembut kening Aleta sebagai tanda obat kerinduannya dan tanpa ragu jari telunjuknya terarah pada bibir merah muda milik Aleta, yang kemudian disapukan oleh bibirnya.


Cukup lama ia mencium bibir wanita itu sambil memejamkan kedua mata, merasakan kenikmatan setiap sentuhan antara kedua bibir yang saling menempel. Ciuman itu sudah ia lakukan sebanyak 2 kali pada saat Aleta tertidur.


Setelahnya Damar melepaskan ciuman itu lalu menautkan keningnya dengan kening Aleta, sehingga deru napas Aleta sangat terasa olehnya ketika kedua hidung saling berhadapan.


"I love you"


Ucap Damar lirih setengah berbisik di depannya. Wanita itu merespon dengan mengerutkan kening tanpa membuka mata sedikitpun. Tak ingin mengganggu tidurnya, Damar pun bergegas keluar dari kamar.


Begitu membuka pintu kamar, ia di sambut dengan tatapan sinis Erick yang saat itu berdiri diam di depan pintu kamar. Rupanya Ajudannya itu mencurigai sikap Damar semenjak kepulangan Aleta ke rumah.


"Astaga!" Damar terkejut saat membuka pintu dan melihat sorot mata tajam dari Erick.


Erick hanya diam menunggu Bosnya itu untuk menceritakan kejujurannya, mulai dari sikap Perubahan dirinya hingga sejak kapan menyukai Aleta, wanita yang diketahuinya sangat dibenci oleh bosnya itu.


"Ke--kenapa kau menatapku seperti itu?" tanyanya terbata-bata karena takut.


"Sedang apa?" tanya Erick singkat dan dingin.


Bola mata Damar memutar, memikirkan jawaban yang relevan. "Hmm, itu, hmm, aku hanya memeriksa apa dia di rumah!" ucapnya seraya menyeringai kaku.


Damar pun melangkah pergi berusaha menjauhi Erick agar Ajudannya itu tidak menodongkan pertanyaan padanya, sebab ia akan bingung untuk menjelaskannya.


Erick melihat punggung Damar sambil menggelengkan kepala, tanda tak percaya dengan perubahan sikap Damar yang terbilang cukup aneh dan tak biasa.


"Ckck, gerak-geriknya semakin mencurigakan dan alasannya tidak masuk di akal! aku harus mencari tahu sendiri jawaban rasa penasaranku."


Monolognya sebelum mengikuti langkah Damar yang berjalan di belakangnya sambil membawa tas kecil berisikan satu buah laptop.


...💕💕💕...


*Terimakasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan berikan gift atau vote ya, Terima kasih masih sedia mendukung karya remahanku 😁, salam sayang AUTHOR😘

__ADS_1


By the way, aku mau rekomendasi lagi nih karyanya Anezaki Igarashi Ricky, kuy mampir sambil menunggu MOTG up🤗



__ADS_2