
..."Kau yang selalu membuatku nyaman. Tolong jangan pernah sedikitpun berubah apalagi pergi dan menghilang."...
...____________________...
Dokter yang menangani Damar akhirnya keluar dari ruang ICU setelah berjibaku dengan operasi kecil yang Beliau lakukan pada kepala Damar. Tampak ia melepaskan topi OKA dan menyeka sedikit keringatnya.
Erick yang melihat itu buru-buru menghampiri guna menanyakan kondisi terkini dari Bos-nya. Meski harap-harap cemas yang terus membuncah di dalam pikirannya.
"Bagaimana dengan keadaannya, Dok?" Erick bertanya.
"Anda keluarga dari pasien?" Dokter itu justru balik bertanya.
"Iya, Dok! saya dari keluarga Pasien." Jawab Erick segera tak sabar mendengar ucapan sang Dokter terkait dengan kondisi Damar.
"Mari kita bicara di ruangan saya!" pinta Dokter spesialis bedah itu mengajak Erick.
Mengangguk. "Baik, Dok," sahut Erick sambil mengikuti langkah sang Dokter dengan jalan beriringan.
.
.
.
.
Sampai di dalam ruangan Erick di persilahkan untuk duduk, sementara Dokter mengambil map kertas coklat dari atas mejanya yang kemudian Beliau berikan kepada Erick.
Erick membuka map tersebut dan melihat isi dalamnya, yang ternyata berisikan sebuah foto Rontgen tengkorak kepala Damar. Disana terlihat adanya kerusakan pada tengkorak belakang kepalanya.
"Sebelumnya kami sudah meneliti keadaan pasien menggunakan CT scan, karena saya mencurigai adanya kerusakan pada tengkorak belakang. Beruntung cederanya tidak sampai merusak syaraf pada otaknya." Terang Dokter panjang lebar.
"Lalu, apa kerusakan itu parah Dok," tanya Erick penasaran.
"Tidak begitu parah, namun saya dan tim medis lainnya harus tetap mengontrol kondisinya setiap beberapa jam, guna melihat reaksi dari pasien setelah siuman nanti." Perjelasnya bersikap setenang mungkin.
Erick menghela napas lega."Terima kasih Dok, saya berharap dia akan segera siuman setelah ini." Ucap Erick ikut tenang.
"Ya. Mungkin sekitar 2 jam lagi dia akan bangun." Balas Dokter itu.
"Baiklah kalau begitu saya permisi pamit, Dok," pamit Erick mengulurkan tangan sebagai tanda terima kasihnya sekali lagi.
Dokter itu menerima uluran tangan Erick sambil tersenyum. "Ya, saya selaku Dokter yang menangani Damar akan berusaha semampunya." Pesannya pada Erick.
...***...
__ADS_1
Aleta mengerlingkan mata berusaha mengingat kejadian yang mengakibatkan dirinya sampai di Rumah Sakit. Keningnya mengerut tanda berpikir keras, meski yang di ingatnya hanya pergi ke pemakaman dan selebihnya ia tak ingat apapun.
"Nona, sudah bangun?" tanya Erick yang baru saja tiba hingga membuat Aleta terkejut akan keberadaannya di Rumah Sakit.
Aleta termangu menatap Erick yang kini berdiri di samping ranjang, sementara Erick juga ikut mengekspresikan raut wajah bingung dengan tatapan Aleta yang tampak sama dengannya.
"Kenapa Nona menatap seperti itu?" tanya Erick penasaran sekaligus bingung.
"Ka..u tah..u dari mana aku berada di Rumah Sakit ini?" tanya balik Aleta penasaran.
"Polisi." Jawab Erick singkat.
"Polisi? Ahh sial. Pria itu juga pasti mendengar kabar jika aku berada disini dari Polisi, ah tamat riwayat ku!" gumam Aleta dengan raut wajah ditekuk.
"Ada apa Nona?" tanya Erick penasaran.
"Ah, tidak!" jawab Aleta terkekeh kikuk.
"Anda sudah merasa lebih baik?" tanya Erick yang sedari tadi terus menanyakannya.
"Iya. Aku akan bilang ke Ners itu, agar di perbolehkan untuk pulang." Tunjuk Aleta pada salah satu Ners yang tengah melayani pasien di depannya.
"Nona yakin? apa luka di kening itu sudah membaik?" Erick memberondong pertanyaan kepadanya.
"Saya hanya memperdulikan keadaan kesehatan anda," ungkapnya jujur.
"CK, hah!" Aleta tampak tak percaya, ia berdecak dan mengalihkan ucapan Erick, "Sudahlah, sebaiknya kau antarkan aku pulang sebelum Bos mu itu mengamuk," Aleta meneruskan ucapannya.
"Maaf, tapi Tn. Damar memang berada di Rumah sakit yang sama dengan Nona," kata Erick menjelaskan.
Keduanya pun terlibat kesalahpahaman. Aleta pikir Damar berada di Rumah Sakit ini, karena sengaja ingin menjemputnya namun enggan untuk menemui. Sementara Erick berpikir jika Aleta tahu bahwa Damar berada di tempat yang sama karena mereka baru saja mengalami kecelakaan.
Ia mengira sebelum kejadian itu terjadi keduanya sedang berada di dalam mobil yang sama. Memang setelah sampai di Rumah Sakit, Erick tak sempat bertemu dengan pihak kepolisian untuk menanyakan kronologisnya karena ia tengah panik sehingga langsung menuju ruangan ICU untuk melihat kondisi Damar dan melewati beberapa polisi yang menunggunya di depan lobby.
"Permisi Nona Aleta, saya periksa sebentar ya!" ujar Ners yang menghentikan obrolan Aleta dengan Erick.
"Kalau begitu saya pamit, Nona," ucap Erick hendak turun ke lobby menemui petugas kepolisian yang ia lupakan.
...***...
Menjelang malam Aleta tampak gusar, ia tak bisa tidur sejak meminum obat yang telah di sediakan oleh Ners yang berjaga. Pikiran berarah tak jelas, sempat berpikir mengenai Damar yang di katakan Erick bahwa pria itu berada di Rumah sakit sore tadi.
Aleta memeringkan tubuhnya menghadap layar televisi yang tertempel di atas tembok ruang rawat inap. Raut wajahnya sedikit kesal dan kecewa saat Damar tak mau menemuinya, sedangkan ingin sekali ia mendapatkan perhatian dari pria itu.
"Apa dia begitu marah padaku, sehingga tak mau mengunjungi dan melihatku disini!" gerutunya sendu.
__ADS_1
.
.
.
.
Saat ingin menutupkan mata berusaha tidur, tiba-tiba terdengar suara dari salah seorang pembaca berita di televisi dengan menayangkan liputan kecelakaan sore tadi. Volume dari suara televisi itu di setel kencang oleh pasien yang terlihat tengah fokus melihat berita itu.
"Selamat malam pemirsa breaking news update, hari ini kami akan melaporkan beberapa tindak kejahatan dan kecelakaan lalu lintas. Semua akan kami rangkum dalam sekilas update.
Telah terjadi kecelakaan hebat sore tadi di persimpangan jalan Kota, sebuah truk pengangkut barang dengan nomor polisi 98 A 9989 mengemudikan kendaraan dengan kecepatan di atas 120km/jam. Atas kejadian itu 2 pejalan kaki harus menjadi korbannya.
Pengemudi tersebut di berikan hukuman 5 tahun penjara karena terbukti bersalah, akibat mengendarai secara ugal-ugalan. Sementara 2 korban segera dilarikan ke Rumah Sakit Vaidam, karena mengalami luka berat di kepala.
Hingga saat ini keterangan identitas yang kami dapat, satu korban merupakan pengusaha muda yang bernama Damar Emilio Kyler sedangkan korban yang satunya belum diketahui identitasnya dan kedua korban kini dalam tahap penyembuhan.
Sekian breaking news update melaporkan."
Aleta terduduk tiba-tiba saat mendengar nama Damar telah di sebutkan oleh pembaca berita itu, matanya terbelalak hebat saat melihat kilas balik reka ulang adegan kecelakaan sore tadi.
Saat itu juga Aleta melepaskan jarum infusan di tangannya dan melangkah keluar kamar, ia berlari menemui Ners yang kini sedang berada di ruang jaga. Ia tak ingin percaya begitu saja dengan pemberitaan itu.
"Ners, apa benar Damar Emilio Kyler di rawat di Rumah Sakit ini?" tanya Aleta begitu menemui Ners jaga.
"Nona, kenapa anda keluar dari kamar!" seru Ners terkejut melihat kedatangan Aleta.
"Jawab aku, Ners!!" bentak Aleta tak sabar mendengar jawaban darinya.
"I..ya benar," jawabnya terbata.
Ia pun memaksa Ners untuk memberitahukan ruang rawat Damar, tanpa memikirkan keadaannya yang hampir pucat pasi dengan tangan yang mengeluarkan darah akibat jarum infusan yang dilepasnya.
"Nona, sebaiknya kembali beristirahat!" terang sang Ners hendak mengantar Aleta.
Aleta menepis tangan Ners itu,"Beritahu aku dimana kamar dia, Ners," paksa Aleta dengan air mata yang kini membendung di pelupuk mata.
Belum sempat membalas ucapannya, Aleta tiba-tiba saja jatuh pingsan di atas lantai dingin. Ners itu pun terkejut dan segera meminta Mers untuk membantunya membawa Aleta kembali ke kamar.
...💕💕💕...
Terima kasih masih setia membaca, tetap dukung karya ku ya dengan cara like komen dan beri gift vote 😁. Aku mau rekomendasi karya temanku nih, sambil menunggu karya ku kalian bisa mampir baca ke karya nya ulfa. Selamat membaca❤️
__ADS_1