Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
95 - Bertemu Damar


__ADS_3

Mobil sedan hitam berhenti tepat di depan pintu gerbang untuk membawa Aleta pergi dari sana. Tak lama terlihat salah seorang anak buah keluar dari pintu gerbang dengan menggandeng tangan Aleta dan disusul anak buah yang sempat terkena luka tembak di bagian lengan kirinya—berjalan dibelakang.


Aleta masuk ke dalam mobil tersebut dan duduk di belakang kemudi. Hati dan pikirannya masih terguncang setelah kejadian penembakan di desa tersebut, sehingga membuatnya diam seribu bahasa.


Sementara sang ayah sudah lebih dulu pergi dari tempat itu dengan menaiki mobil yang berbeda. Namun, sebelum pergi ia sempat mengamanatkan Alona—wanita yang menjadi kepercayaannya, untuk membawa Aleta pulang ke rumah utama.


"Nona Aleta," panggil Aliana saat menoleh ke belakang. Melihat kondisi Aleta yang tampak menyedihkan. Bahkan, ia dapat menangkap dengan jelas ketakutan yang dirasakan Aleta saat itu. "Minumlah!" sambungnya sembari memberikan botol berisi air mineral.


Sayangnya Aleta tak merespon apapun, menoleh saja enggan ia lakukan. Pikirannya masih mengambang dalam tragedi yang baru saja ia alami. Sedikit lebih memahami jika, saat ini dirinya menjadi incaran salah seorang yang menginginkan ia untuk mati.


Rasa ketakutan serta kecemasan mulai berkecamuk di dalam batin. Tubuhnya gemetar dan jari tangan mulai mengorek kuku-kukunya. Raut wajah wanita itu redup tak lagi secerah biasanya.


Satu yang jadi pertanyaan pada dirinya, untuk apa mereka mengincar Aleta sementara ayahnya hanya berurusan dengan Damar dan ia semakin takut jika kenyataan yang sebenarnya adalah sang ayah justru mencoba melakukan penembakan itu, saat di depan pintu gerbang, sebab hanya ayahnya saja yang tahu bahwa ia berada di sana dan meminta di jemput olehnya.


Aleta melirik ke depan kaca spion, memandang sang pengemudi dan juga wanita di sebelahnya. 'Aku harus kabur dari sini!' Aleta memerhatikan kedua orang itu yang terlihat fokus menatap jalanan.


Tiba di pemberhentian lampu lalu lintas, Aleta berniat keluar dari dalam mobil dengan cara menarik penyangga kunci di bagian pintunya agar dapat terbuka dan setelahnya Aleta bergegas keluar dan berlari secepat mungkin.


Alona serta sang pengemudi menoleh ke arah belakang begitu terdengar pintu mobil di buka oleh Aleta. Keduanya terbelalak dan meneriaki Aleta untuk kembali, namun hasilnya sia-sia saja. Justru, teriakan itu semakin membuat Aleta mempercepat langkahnya tanpa lagi menoleh ke belakang.


"Nona Aleta!" jerit Alona sembari melepaskan seat belt dan bergegas keluar dari dalam mobil.


Sementara mobil Van hitam yang berada di belakangnya segera menghentikan mobil di sisi jalan, dan anak buah Emir ikut keluar dari dalam mobil begitu melihat Aleta berlari memasuki permukiman kecil.

__ADS_1


"Cepat kejar dia!" perintah Alona begitu melewati para pria bertubuh tegap.


Aleta terus berlari tanpa memperdulikan orang-orang yang menatapnya dengan pandangan aneh, sebab berlari dengan menggunakan sepatu hak yang memang ia pakai saat pergi ke acara pesta gedung bersama Damar.


"Nona Aleta, berhenti di sana!" pekik Alona ketika berhasil melihat Aleta dari jarak yang tak cukup jauh darinya.


Mereka terus mengejar Aleta tanpa henti, meski sempat di berhentikan beberapa orang di sana. Namun, Alona berkilah dengan pintar—mengatakan bahwa Aleta seorang maling yang membawa kabur sejumlah uang milik bosnya, dengan begitu orang-orang di sana dapat dengan mudah dikelabui Alona.


Keringat mulai membanjiri kening Aleta yang kian lama merosot ke samping pipinya dan menjalar hingga dagu dan juga lehernya. Napas pun ikut tersengal-sengal, ia mulai kelelahan. Langkah kakinya melemah tak secepat sebelumnya.


Aleta menoleh ke belakang, melihat segerombolan orang-orang berpakaian serba hitam hampir mendekatinya. Melihat jarak yang semakin dekat membuatnya semakin takut, ingin terus berlari namun ia tak lagi sanggup.


...***...


Bersamaan dengan itu, Damar datang dengan raut wajah penuh amarah. Ia mengebrak pintu dengan kasar tanpa meminta izin untuk masuk terlebih dahulu. Sorot mata tajam dengan kilatan merah dari dalam sklera mata itu tertangkap jelas oleh bunda Azra.


Napas Damar memburu setibanya di depannya, ia meletakan telapak tangan di atas meja dengan tubuh setengah membungkuk diikuti wajah yang mengarah padanya.


"Apa yang kau katakan pada Aleta, pagi tadi?" tanya Damar tegas sembari menatap bengis.


Mendengar ucapannya, bunda Azra menunjukkan sikap tenangnya dengan menyandarkan punggung di kursi hitam sambil menyilangkan tangan di depan dada dan membalas tatapan Damar.


"Itu bukan urusanmu," balasnya santai sambil menyeringai.

__ADS_1


Emosi Damar memuncak dengan kasar ia menarik kerah kemeja bunda Azra. "Cepat katakan! jangan macam-macam denganku," perintah Damar diikuti ancamannya. Ia tak lagi peduli dengan rasa kesopanan terhadap wanita yang usianya lebih jauh dari Damar.


Bunda Azra melirik sekilas genggaman tangan Damar yang berada di pundak sedang menarik kerah kemejanya sebelum akhirnya ia menilik tatapan mata Damar yang menggambarkan rasa kehilangan setelah tahu Aleta pergi dari desanya.


"Aku mengatakan sesuai dengan apa yang ingin dia ketahui." Cukup tegas bunda Azra menjawab pertanyaan Damar. "Setidaknya tahu lebih awal bukan sebuah hal yang buruk, sebelum rasa sakit itu semakin dalam dirasakannya," imbuh bunda Azra yang berhasil membuat Damar melepaskan genggaman tangan dari kerahnya.


Memang benar yang dikatakan bunda Azra, Damar juga tidak ingin membuat Aleta merasakan sakit yang lebih dalam mengenai perseteruannya dengan Emir. Namun, ia tak rela jika Aleta harus pergi darinya.


"Kau tahu anak muda!" bunda Azra memberi jeda pada ucapannya, "jika saja kau tidak menyangkut-pautkan Aleta dalam masalahmu dengan ayahnya, mungkin hubungan kau dengan dia tidak akan menyedihkan seperti ini!" terang bunda Azra.


"Tidak bisakah kau berhenti ikut campur!" seru Damar kembali marah dengannya. "Dan satu lagi, jangan pernah menasehatiku sebab kau bukan siapa-siapa bagiku dan juga Aleta." Damar menambahkan ucapannya.


Bunda Azra menyeringai, rupanya sampai dengan detik itu Damar belum mengetahui sosok bunda Azra ini. Damar terus menyalahkannya karena selalu menghasut Aleta untuk menghentikan hubungannya.


"Setelah kau tahu siapa aku ini, mungkin cara bicara dan sikapmu akan lebih sopan terhadapku!" balas bunda Azra tersenyum mengejek.


Tok..tok!


Suara ketukan pintu membuat keduanya terdiam sejenak dan ternyata orang yang mengetuk pintu itu, Erick dan Rebecca. Saat hendak melangkah masuk ke dalam ruangan, Erick terpaku sesaat kala melihat Damar yang juga berada di ruangan tersebut.


"Bos," panggil Erick yang membuat ketika orang itu menatap ke arahnya.


...❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2