
..."Tidak ada kehidupan tanpa rintangan dan tidak ada perjalanan tanpa kesulitan. Hanya, terkadang kita lupa jika hidup ini adalah proses yang sangat memerlukan kesabaran."...
...__________________...
Hampir satu jam lebih suster itu mengendarai mobil Erick yang tak juga kunjung sampai. Erick melirik jenuh, wajahnya tampak gusar. Rasanya tak sabar melihat cara suster itu mengendarai mobil.
"CK!" Erick berdecak bosan seraya memijat pelipis.
Entah butuh waktu berapa lama lagi ia akan tiba di apartemennya sementara mobil yang dikendarai oleh suster itu hanya bergerak perlahan. Erick yang melihatnya justru merasa gemas karena berjalan terlalu lambat.
"Lebih baik, aku saja yang menyetir!" pinta Erick menoleh ke arahnya.
"Tidak apa, kau istirahat saja, sebentar lagi kita sampai." Suster tersenyum kikuk sambil terus fokus menatap jalan.
Erick membuang napas berat akibat mendengar ucapan suster itu, yang masih saja bersikeras untuk membawa mobil Erick, meski tahu bahwa ia memang belum lancar mengendarainya namun, terlalu percaya diri.
Dan akhirnya merekapun tiba di pintu masuk apartemen. Erick meminta untuk mengantarnya sampai di depan pintu masuk utama saja namun, suster itu justru menawarkan diri untuk memarkirkan mobil Erick di basement.
Erick segera menolak namun, lagi-lagi ucapan sang suster sulit dibantah sebab ia melengos begitu saja menuju basement tanpa menunggu persetujuan sang pemilik mobil.
"Dasar wanita," ucapnya kesal.
Mobil pun terparkir setelah susah payah mengatur posisi yang benar. Erick segera keluar diikuti langkah sang suster yang mengekori di belakangnya.
"Kenapa masih mengikuti ku?" tanya Erick setelah berbalik.
"Aku hanya ingin memastikan jika kau benar-benar sampai di kamar dengan selamat," Jawabnya sambil mengernyih.
"Tidak perlu! kau bisa segera pulang," usir Erick segera.
Suster itu terdiam sejenak sebelum berkata, "baiklah." Menjawab dengan singkat.
Erick akhirnya bisa bernapas lega setelah melihat suster itu melangkah pergi dan tak terus-menerus mengekorinya. Ia kembali melangkahkan kaki menuju ruang kamar tanpa rasa beban.
...***...
Bunda Azra mendatangi rumah sepasang suami-istri yang terkena luka dari pisau tajam akibat ulah wanita suruhan Emir. Kedua pasangan itu mendapatkan perawatan dari Dokter yang bertugas di lingkungan tersebut.
Para warga juga bersiaga di rumahnya, menjaga agar kejadian serupa tak lagi terulang. Mewaspadai orang-orang asing yang mendatangi wilayah pedesaan mereka.
Bahkan bunda Azra memerintahkan agar segera menyeret orang itu keluar dari wilayah lingkungan, jika gerak-gerik terlihat mencurigakan.
"Apabila orang asing itu memiliki senjata tajam segera masukkan ke dalam sel tahanan bawah tanah," titah Bunda Azra tak main-main.
__ADS_1
"Baik, saya mengerti, Bu." Perintah Bunda Azra segera di patuhi warga-warga dari desa itu.
Kali ini ia tak akan segan-segan melawan kejahatan yang dilakukan Emir, sebab kesabarannya telah pupus bersamaan dengan rasa amarah. Ia sangat geram begitu mengetahui ada warganya yang terluka karena perbuatan Emir, otak dibalik kejadian kejahatan tersebut.
Selepas kepergian warga-warga itu, Damar melangkah masuk ke dalam ruangan Bunda Azra. Rupanya Damar mendengar semua percakapan antara Bunda Azra dan para warga.
"Bisa kau jelaskan padaku, maksud ucapan mu itu!" pinta Damar saat berdiri di depan meja kerjanya.
Bunda Azra sempat terkejut melihat Damar tiba-tiba datang ke ruang kerjanya dan mengetahui pembicaraannya. Sehingga mau tidak mau harus ia beberkan kepada Damar.
"Seperti yang kau dengar tadi, aku tidak akan segan-segan memberi pelajaran pada orang-orang yang sengaja menyakiti penduduk di sini!" terangnya sambil melipat kedua tangan di depan dada.
"Kau mengenal Emir?" tanya Damar penasaran.
"Kau sendiri, ada hubungan apa kau dengannya?" Bunda Azra balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Damar yang di ajukan lebih dulu padanya.
"Dia adalah mertuaku." Damar menjawab dengan singkat tanpa panjang lebar. Ia memilih untuk tak menceritakan apapun pada wanita yang kini tengah duduk santai di depannya.
Bunda Azra menyeringai. "Oh, jadi kau dengan wanita itu sudah menikah!" serunya tak yakin dengan ucapan Damar yang terkesan menyembunyikan sesuatu darinya.
Keduanya lebih tertarik untuk membungkam mulut satu sama lain. Ada hal yang harus mereka selidiki terlebih dahulu sebelum menceritakan semua, kendati Bunda Azra mengetahui identitas Damar.
"Kau belum menjawab pertanyaan dariku," balas Damar tak sabar mendengarnya.
"Apa tujuan dia mencelakai orang-orang di sini?" tanya Damar lagi semakin penasaran.
"Untuk mencari tahu keberadaan kalian," jawabnya cepat.
"Itulah kenapa aku menyembunyikan kalian di tempat ku," sambungnya begitu melihat Damar yang sedang memikirkan sesuatu.
"Jadi pria tua itu tahu, aku dan anaknya masih hidup!" ucap Damar setengah bergumam.
"Ya, dia tahu kalian masih hidup. Tapi tak perlu khawatir, kalian akan aman di tempat ini," sahutnya meyakinkan saat melihat raut wajah kecemasan Damar.
Damar menatap ragu, takut jika wanita yang berada di depannya itu sedang berpura-pura memperdulikan mereka. Berucap meyakinkan serta memasang raut wajah yang sulit terbaca, membuat Damar menaruh rasa curiga terhadap bunda Azra.
.
.
.
.
__ADS_1
Damar kembali ke kamar, sejenak ia menghentikan langkah dan berdiri di ambang pintu. Memperhatikan Aleta yang tengah berdiri di dekat jendela sambil memikirkan sesuatu.
Damar mengetuk pintu sebelum melangkah masuk. Aleta menoleh sekilas lalu membuang muka saat mengetahui orang yang mengetuk pintu adalah Damar.
Rasa sesal kembali menggerogoti relung batin, seharusnya Aleta tidak melangkah sejauh ini bersama Damar. Seandainya saja hari itu takkan pernah ada, mungkin Aleta bisa hidup dengan bebas.
Aleta melirik dari ujung ekor mata setelah mendengar rintihan dari mulut Damar, rupanya pria itu tengah melepaskan perban yang melingkar di punggungnya.
Luka bakar yang belum kering itu masih terasa perih di kulit punggungnya bahkan terdapat bercak darah yang menempel di kain kasa tersebut. Damar meringis perih saat membuka bagian akhir penutup luka.
tiba-tiba tangan Aleta ikut membantu Damar melepaskan penutup kain itu, setelah melihat Damar yang kesulitan melepaskannya sehingga Aleta menghampiri dengan niat membantunya.
"Aku tahu, kau masih peduli padaku!" ujarnya yakin sambil menoleh ke samping, di tempat Aleta berdiri.
"Jangan terlalu percaya diri, aku hanya membantu saja karena rasa kemanusiaan." Aleta menampik ucapan Damar.
"Kau marah padaku?" tanya Damar ingin sekali tahu.
"Sangat," jawab Aleta singkat dan dingin.
"Apa yang membuatmu begitu marah padaku?" Damar kembali bertanya agar dapat mendengar omelan dari wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta.
"Aahh!" Bukannya menjawab pertanyaan Damar, Aleta justru sengaja menekan bagian luka Damar sehingga membuat Damar memekik perih.
"Kau sengaja melakukan itu!" seru Damar menoleh sinis ke arahnya.
"Anggap itu sebagai salah satu hukuman mu karena kau telah berbohong padaku," tegas Aleta memasang raut wajah ketidaksukaannya.
"Aku berbohong?" tanya Damar tidak mengerti.
"Dasar laki-laki! suka sekali berpura-pura tidak tahu, jika sudah terbukti salah." Perjelas Aleta.
"Maaf," ucap Damar tulus seraya memandang dengan tatapan sendu.
Kata maaf yang terucap dari mulut Damar berhasil membuat Aleta terbungkam seketika. Baru pertama kali ia mendengar Damar mengucapkan kata maaf padanya, bahkan sorot mata teduh terlihat oleh Aleta. Mereka beradu pandang dan bicara dalam lamunan.
'Seandainya saja pernikahan ini tidak dilandaskan kebencian, mungkin ceritanya jauh lebih bahagia.' Aleta bergumam.
'Rasa benci yang selalu ku tanamkan dalam diri berubah menjadi rasa cinta, dan aku justru merasa senang menerima hukum karma itu.' Damar bergumam.
...T E R I M A K A S I H ❤️...
__ADS_1