
Damar terduduk di kursi tahtanya setiba di ruang kerja. Ia memijat area dekat pelipis mata saat merasakan pusing. Terlalu banyak berpikir dan tak tidur malam dengan pulas, ternyata membuat penyakit itu datang secara tiba-tiba.
"Anda benar baik-baik saja, Bos?" tanya Erick untuk kedua kalinya saat mengkhawatirkan keadaan Damar.
"Ya. Kau boleh keluar sekarang," Perintah Damar tak ingin Erick terus menerus menanyakan keadaannya.
"Baiklah, Bos. Kalau begitu saya permisi." Sahut Erick sambil membungkukkan badan.
Sepeninggalan Erick, Damar segera mengerjakan aktivitasnya. Ia berniat menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini agar dapat memiliki waktu luang untuk beristirahat sejenak.
Damar menekan tombol sambungan pada telepon ruangannya, meminta sang Sekertaris untuk datang ke ruangan.
Tak lama sang Sekertaris pun datang sambil membawakan beberapa tumpukan berkas yang harus di koreksi dan di tandatangani Damar.
"Ini semua berkas-berkasnya, Pak," ucap sang Sekertaris seraya meletakkan beberapa map di atas meja kerja Damar.
"Ya." Sahutnya tanpa menoleh, sebab netra matanya sibuk menatap layar laptop.
"Satu lagi, Pak, ini ada titipan surat." Kata sang Sekretaris memberikan surat tersebut.
"Surat?" Damar mengangkat salah satu sudut alisnya.
"Pagi tadi pengantar Pos yang memberikannya." Ungkap sang Sekertaris.
"Baiklah, terima kasih. Kau boleh keluar," perintahnya.
Damar membuka isi surat tersebut dan segera membacanya. Tertera di dalam surat itu untuk dirinya yang berisikan sebuah ancaman dari seseorang yang tak jelas siapa pengirimnya. Tulisan tersebut bertinta merah dengan bertuliskan,
**Damar Emilio Kyler, pria pecundang dan pengecut bersiaplah untuk pergi ke Neraka bersama kedua orangtuamu, Hangus dan mati secara bersamaan. Terimalah Bangs*t*!!!*
Selesai membaca pesan ancaman itu, Damar mengepalkan kertas sampah itu kuat-kuat yang kemudian di lemparnya ke dalam tempat sampah.
Baginya pesan seperti itu hanyalah omong kosong, ia malas meladeninya, sebab itu akan membuang-buang waktu dan tenaganya.
Kembali Damar menekan tombol sambungan, ia meminta sang Sekertaris untuk tidak lagi menerima surat apapun dari Petugas Pos.
Emir menarik sticky note yang tertempel di pintu rumah. Rupanya kemarin Aleta sempat meninggalkan pesan di atas kertas tempel tersebut sebelum pergi. Emir menyeringai penuh kemenangan setelah mendapatkan jackpot yang kali ini siap di genggamnya.
Kertas pesan itu Aleta lubangi kecil-kecil menyerupai huruf dan angka, agar memudahkan Emir merabanya saat membaca isi pesan. Aleta rangkai se-rinci mungkin untuk sang Ayah.
*Ayah, maaf kemarin aku tidak bisa mengunjungimu. Aku kurang sehat, semoga Ayah memaafkan kesalahanku. Jika Ayah sudah kembali, tolong hubungi aku, +90 798-149-0653*
__ADS_1
Aleta memberikan nomor ponselnya kepada Emir, ia tak peduli dengan pesan Damar yang memintanya untuk tidak memberikan dan menyimpan nomor siapapun di dalam ponsel itu.
Emir pun segera menyimpan nomor Aleta setelah mendapatkannya. Setelahnya ia memanggil Aleta dari balik ponsel. Nomor miliknya telah ia sembunyikan terlebih dahulu, agar Aleta tak mengetahui nomor ponsel pribadinya.
"Halo, Aleta," panggil Emir begitu tersambung.
"Iya, ini Ayah?" tanya Aleta memastikan.
"Iya Nak. Bagaimana kabarmu, apa sudah sehat?" Emir berbasa-basi.
"Sudah Yah," jawab Aleta penuh sesal telah berbohong.
"Syukurlah kalau begitu." Balas Emir palsu.
"Apa Ayah sekarang sedang di rumah?" tanya Aleta penasaran.
"Iya, Nak," jawabnya singkat.
"Aku kesana sekarang, Yah!" Aleta bergegas begitu mematikan panggilan tersebut.
"Iya, Nak," sahut Emir menyeringai puas.
Panggilan pun di matikan oleh keduanya setelah selesai berbicara. Emir masuk ke dalam rumah, merangkai berbagai drama yang akan ia tunjukkan kepada Aleta.
Aleta tiba disana dengan cepat. Ia turun dari taksi setelah membayar ongkosnya. Berjalan cepat memasuki rumah itu dengan terus mengawasi lingkungan sekitar, ia takut jika bertemu kembali oleh wanita paruh baya kemarin sore ataupun orang-orang sekitar yang sedang berlalu-lalang.
Dari depan pintu sudah terlihat Emir yang menyambut kedatangannya dengan penuh semangat. Aleta menghampiri dan meminta Emir untuk segera masuk.
"Kita bicara di dalam saja, Yah," pintanya.
"Baiklah, Nak," sahut Emir yang melangkah masuk di tuntun oleh Aleta.
Mereka duduk di antara dua kursi di ruang tamu. Mata Aleta sibuk menelusuri ruang tamu yang kali ini dilakukan secara detail, berharap menemukan benda yang dapat menjawab kebenaran mengenai rumah itu.
"Tunggu di sini sebentar, Ayah akan mengambilkan kau minum," tutur Emir hendak pergi.
Aleta menghadang Ayahnya saat melangkah, sebab ia hanya sebentar berada di sana. Tidak banyak waktu yang ia punya karena ia pergi secara diam-diam dari rumah Damar. Itu sebabnya ia mempersingkat waktu untuk mendapatkan jawaban dari Emir.
"Ayah tidak perlu repot, aku hanya sebentar berkunjung." Tolaknya ramah.
"Kau sibuk ya," Emir berkomentar.
__ADS_1
"Ya." Kilahnya, "Kemarin Ayah pergi kemana?" tanya Aleta melanjutkan percakapan.
"Oh, Ayah kemarin pergi ke dokter untuk memeriksa keadaan mata." Dalihnya tanpa ragu.
"Ayah pergi sendiri?" tanya Aleta penasaran.
"Tidak, ada salah seorang supir taksi yang berbaik hati selalu mengantarkan Ayah ke Rumah Sakit." Penjelasnya menambah daftar kebohongan baru.
"Lain kali beritahu aku jika Ayah ingin pergi ke Rumah Sakit, biar aku yang mengantar!" Pinta Aleta sungguh-sungguh.
Emir tersenyum, "Tidak perlu, kau pasti sibuk," tolaknya sengaja memancing Aleta.
"Benar juga, aku tidak mungkin bisa bebas keluar karena Damar tidak akan mengizinkanku pergi begitu saja dengan mudah." Monolog Aleta.
"Ayah benarkan!" tebak Emir benar.
Aleta tersenyum kikuk membenarkan ucapan Emir.
"Bisa kau jelaskan, apa yang membuatmu sibuk?" tanya Emir menyidik.
Netra matanya berkeliling mencoba mencari jawaban yang pasti. "Hmm, itu..." ucap Aleta bimbang.
"Damar!"
Aleta membeliak kala Emir menyebutkan nama Damar. Rupanya Emir tak sabar menunggu Aleta menceritakan soal Damar kepadanya. Ia sangat ingin tahu kelemahan Damar agar dapat memusnahkannya segera.
"Ayah benar lagi kan?" tanya Emir menghentikan rasa keterkejutan Aleta.
"Ayah tahu aku dan Damar sudah--" ucap Aleta terpotong.
"Menikah! Ayah bahkan tahu jika kau dan dia sekarang tinggal bersama, itu sebabnya kau sembunyi-sembunyi datang menemui ku," perjelas Emir setelah memotong ucapan Aleta.
"Ayah tahu darimana aku sudah menikah dengannya?" tanya Aleta penasaran.
"Kemarin Kemal mengunjungi Ayah, dia mengatakan kau sudah menikah dengan anak muda itu. Meski awalnya Ayah tak percaya tapi Ayah membenarkannya, sebab Ayah pernah terikat janji hitam di atas putih pada kedua orangtuanya. Maaf Nak, itu semua bukan kemauan Ayah, mereka yang memaksa Ayah untuk menandatangani surat perjanjian itu. Ayah tidak ingin kau menjadi sasaran dari keluarganya. Maafkan Ayahmu yang telah menjadikanmu barang pengganti hutang yang tak sama sekali Ayah lakukan, keluarga Emilio lah yang menyusun rencana sedemikian rupa." Ungkap Emir panjang lebar.
"Untuk apa mereka melakukan itu pada Ayah?" tanya Aleta ingin tahu lebih dalam sebelum ia salah mengambil langkah.
"Mereka tak suka dengan Ayah, saat mengetahui Ayah akan mendirikan perusahaan sendiri, mereka mengancam akan membunuh Ayah serta Ibumu. Maka dari itu Ayah sengaja menitipkan mu di Panti Asuhan, berharap keluarga Emilio tidak pernah bertemu denganmu. Tapi ternyata anak muda itu lebih cepat bertemu denganmu sebelum Ayah." Jawab Emir penuh kepalsuan.
Sekarang Aleta memahami maksud tujuan Emir meninggalkannya di Panti Asuhan dan mengetahui sebab perkara yang terjadi antara Ayahnya dan keluarga Damar, hingga melibatkan dirinya.
__ADS_1
Emir menambahkan bumbu-bumbu pada cerita kepalsuannya. Ia terus saja menghasut Aleta agar membenci Damar, mengatakan jika keluarga Damar lah yang menyebabkan Ibunya meninggal.
Emir meminta bantuan pada Aleta untuk membalaskan dendam akan kematian Ibunya, namun Aleta masih merasa bimbang. Ia ragu dengan semua cerita Emir yang terus-menerus menyudutkan keluarga Damar.