
..."Ada kata yang sulit terucap dan ada rasa yang belum terungkap. Aku mencintaimu namun, kau terlalu jauh untuk ku gapai."...
..._______________________...
Ting!
Aleta menghapus jejak air mata di kedua pipi dan menghampiri ponsel yang terus berdering. Dilihatnya nama sang penelepon dari layar benda pipih tersebut.
"Halo!" sapa Aleta dengan suara parau.
"Aleta, bagaimana kabarmu, Nak?"
"Ayah!" ucap Aleta terkejut, ia lupa jika hanya memiliki dua nomor kontak dalam ponselnya.
"Suaramu kenapa begitu? kau menangis?"
Bibirnya terasa kelu ketika Emir mengetahui jika dirinya sedang menangis. Aleta menghela napas sebelum kembali menjawab panggilan dari Emir.
"Tidak, aku hanya kurang enak badan, Yah. Haatchii!" Tipu Aleta sambil berpura-pura bersin.
"Jangan bohong, Ayah tahu kau pasti sedang menangis. Apa yang dia lakukan sampai membuatmu sedih?"
"Tidak ada Yah, aku hanya kurang sehat saja." Kilah Aleta meyakinkan Emir untuk mempercayai ucapannya.
"Baiklah, untuk kali ini Ayah percaya padamu tapi tidak dengan anak muda itu!"
"Iya. Bagaimana kabar Ayah? maaf beberapa hari ini aku tidak bisa mengunjungi Ayah," ucap Aleta mengalihkan percakapan.
"Ayah baik. Ayah juga tahu alasanmu itu,"
"Maksud Ayah?" tanya Aleta bingung.
__ADS_1
"Ayah mendengar berita di Televisi mengenai kecelakaan itu."
'Aah!' gumam Aleta sambil menunduk malu tak bisa berbohong, sebab ternyata Emir sudah tahu lebih dulu.
"Maaf." Hanya kata itu yang bisa ia ucapkan saat ini untuk Emir.
"Kau harus tahu, Nak. Damar bukanlah pria baik, dia sengaja merencanakan kecelakaan itu. Jangan percaya dengannya."
Lagi-lagi Aleta mendengar ucapan Emir yang selalu mengatakan bahwa Damar adalah orang jahat yang harus diwaspadai. Emir terus saja menyudutkan Damar dengan tragedi kecelakaan itu.
"Apa kau sudah melihat kotak yang Ayah berikan?"
Emir kembali bersuara setelah tak mendengar sautan dari Aleta. Ia meyakini jika Aleta belum benar-benar percaya dengan ucapannya, maka dari itu ia kembali menanyakan kotak yang sempat ia berikan pada Aleta sebelum terjadinya kecelakaan.
"Maaf, aku belum sempat melihatnya." Jawab Aleta lirih.
"Segeralah lihat dan nilai sendiri bagaimana perbuatan keji keluarga Kyler pada Ibumu."
"Bantu Ayah membalas perbuatan mereka!"
Panggilan itu berakhir dengan pesan permintaan Emir yang terdengar mengintimidasi Aleta, sebab kalimat yang dilontarkan penuh penekanan di setiap katanya.
Aleta termangu menatap kosong pandangan dihadapannya sebelum kembali meneteskan air mata, menangisi kehidupannya yang malang. Berada ditengah-tengah kubu yang saling serang, tidaklah mudah.
Sulit bagi Aleta mengikuti kemauan Emir yang terus memaksa dirinya untuk membantu menghancurkan Damar, sementara ia mulai menyukai pria itu. Kendati ia menepis rasa suka itu sebagai rasa napsu sesaat saja.
Aleta mengambil kotak dari dalam laci meja rias yang langsung diletakkan di atas meja tersebut. Membuka kotak itu perlahan, sebab ada rasa takut saat menerima kenyataan bahwa yang dikatakan Emir benar adanya.
'Bagaimana jika semua itu benar? apa yang harus aku lakukan padanya? apa aku harus melakukan seperti yang Ayahku katakan! Aku takut, aku tidak siap menerima kenyataan jika dia benar-benar orang jahat seperti yang Ayah katakan,' gumam Aleta menatap kotak tersebut.
...***...
__ADS_1
Damar terus mondar-mandir di dalam kamar, raut wajahnya tampak frustasi memikirkan kejadian pagi tadi. Akibat kejadian itu, Aleta tak lagi terlihat keluar dari kamarnya.
Bahkan makan siang dan makan malam, mereka tak terlihat makan bersama Seperti hari-hari sebelumnya. Sedangkan Damar merindukan makan bersama dengannya.
Damar mengacak rambut serta meraup wajahnya sebelum akhirnya meninju tembok dengan tangan, sehingga buku-bukunya memerah. Ia benar-benar menyesali perbuatannya.
Sadar semua yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan, sebab larangan dalam surat perjanjian yang dibuat Damar justru dilanggar oleh dirinya sendiri.
"Argh!" jerit Damar melepaskan rasa kesal karena kebodohannya.
"Ada apa Bos?" tanya Erick khawatir setibanya masuk ke dalam kamar saat mendengar suara teriak Damar.
Damar melihat ke arah Erick dengan tatapan sengit. Ia menghampiri Erick dan secara tiba-tiba menarik kerah kemeja Erick tanpa sebab. Mendapat perlakuan tak biasa dari Damar, membuat mata Erick membola karena bingung sekaligus terkejut.
Tangan kanan Damar terkepal kuat hingga memunculkan garis-garis vena, serta kilatan mata yang tajam dan penuh emosi kembali dilihat Erick. Setelah beberapa tahun lamanya ia tak lagi melihat sifat tempramental itu.
"Aleta"
Erick menyebutkan satu nama yang diklaim sebagai penyebab Damar bersikap seperti itu. Kini ia sedikit mengerti jika Damar memiliki rasa dengan wanita yang masih menjadi target utama mereka.
Mendengar nama itu, mata Damar terpejam sejenak dan tertunduk pilu. Tangan kanan yang sebelumnya digunakan untuk melayangkan pukulan, terjatuh begitu saja.
Ia juga turut melepaskan cengkraman pada kerah kemeja Erick and mendorong tubuh pria itu, sebelum akhirnya menjatuhkan tubuhnya lemas di atas sofa. Damar menutupi mata dengan lengan kanannya.
"Sebaiknya anda istirahat, besok saya akan kembali." Erick membungkuk setelah memberikan pesan.
Ia memberi ruang untuk Damar menyendiri, meski kedatangannya saat itu ingin memberikan bukti mengenai Emir dan memberitahukan kehidupan masa lalu Aleta. Namun, kondisi tak cukup baik setelah melihat Damar. Akhirnya Erick mengurungkan niat itu dan berjanji akan memberitahukan besok pagi ketika keadaan tempramental Damar mereda.
Setelah mendengar langkah kaki kepergian Erick, Damar menangis dalam diam. Ia menyembunyikan tangis dari balik lengan. Ini kali pertamanya ia menangisi Aleta.
Air mata itu seakan memberi tanda karena sulit mengungkapkan kata-kata di dalam hatinya yang benar-benar menyesal melakukan itu pada Aleta. Ia tak berniat melakukannya namun, dorongan hasrat itu terus saja memaksa Damar untuk meminta lebih dari itu.
__ADS_1
...💕💕💕...