Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
69 - Ucapan Damar membuatnya terdiam


__ADS_3

..."Mereka yang melukai orang lain mudah melupakan, sedangkan mereka yang terluka mengingat selamanya."...


...______________________...


Tanpa ucapan Aleta berlalu meninggalkan Damar. Ia mengambil keranjang rotan lalu memungut bola-bola itu dan akibat perbuatan Damar, Aleta harus kembali membereskannya belum lagi bola yang menggelinding jauh darinya.


Damar membalikkan badannya, melihat Aleta yang tengah sibuk memasukan serta mengumpulkan bola tennis dalam keranjang. Ia menatap raut wajah Aleta yang terlihat lelah. Keringat berukuran sebiji jagung nampak mengalir dari dahinya.


Aleta menghapus keringat itu dengan punggung tangan dan sesekali ia berdiam sejenak lalu kembali mengumpulkan bola. Namun, tiba-tiba Damar menghampiri dan merampas keranjang rotan yang sedang dipegang oleh Aleta.


Tersentak dengan yang dilakukan Damar, Aleta hanya bisa mematung sebelum akhirnya ikut memungut bola bersama Damar. Sekilas keduanya saling menatap dan melemparkan senyum.


Setelah selesai Damar dan Aleta duduk bersandar di samping lapangan sambil berselonjor kaki. Damar menoleh ke arahnya dan memberikan sebuah botol minum air mineral yang telah lebih dulu dibuka tutupnya.


"Nah, minum!" ujarnya pada Aleta.


"Terima kasih." Aleta meraih botol dari tangan Damar.


Keduanya pun meneguk air dalam botol hingga menyisakan setengahnya. Sejenak mata Aleta memandang jauh hamparan lapangan di depannya, sebelum membuka suara lebih dulu.


"Kau pernah merasa seperti berlari di tempat?" Aleta bertanya tanpa menoleh meski, Damar yang duduk disamping melihat ke arahnya.


"Walau berlari sampai terasa mau mati dan kehabisan napas, kau tidak akan bisa maju." Sambungnya melanjutkan kalimat yang terhenti sejenak.


Mendengar ucapan Aleta, justru Damar balik bertanya, "Apa yang membuatmu paling bahagia?" Damar menoleh ke arah Aleta kembali.


Aleta tergemap dan reflek melihat ke arah Damar. "Apa?" terjeda, "hmm... soal itu..." Aleta bingung untuk menjawab pertanyaan Damar, sebab ia sendiri bahkan tidak tahu apa yang membuatnya bahagia.


"Mulailah dengan mencari tahu hal itu. Aku tidak bisa memberitahu, sebab orang yang paling tahu tentang kebahagiaanmu, hanyalah dirimu sendiri." terang Damar


Kini keduanya saling pandang. Damar melemparkan senyumnya sementara Aleta hanya diam tak membalas apapun, sebab ia masih memikirkan ucapan pria yang duduk di sebelahnya.


...***...


Ting!


Damar mendapatkan sebuah pesan yang datang dari Yuri. Wanita itu mengirimkan sebuah video, dimana rekaman itu diambil saat Damar dan Yuri masih sama-sama menjadi calon mahasiswa.


Terlihat keduanya sedang berbaris mengikuti ospek yang diadakan di salah satu *universi*tas. Di tengah kegiatan rupanya Yuri mendapatkan pelecehan dari salah seorang senior di sana.


Melihat Yuri diperlukan seperti itu lantas Damar tak terima, ia menghajar habis-habisan kakak seniornya di depan semua penghuni kampus. Bahkan Damar tak peduli jika nanti akan di keluarkan dari sana meski, masuk ke universitas itu merupakan impian yang ia cita-citakan sejak lama.


"Bangs*t! berani-beraninya kau melakukan hal tak pantas itu pada Yuri," hardik Damar sambil melayangkan bogem mentah untuk kakak senior itu.

__ADS_1


"Memangnya apa urusanmu, berengsek!" serangnya seraya membalas pukulan di wajah Damar.


"Dia, kekasihku dan siapapun yang berani menyentuhnya maka akan berhadapan denganku," jelas Damar semakin membabi buta memukuli senior itu.


Yuri terbelalak kaget saat mendengar pengakuan Damar pada seniornya itu. Meski belum pasti namun, ia cukup senang mendengarnya.


Sejak saat itupun Damar dan Yuri menjalani hubungan tanpa status kendati, Yuri mengklaim bahwa Damar adalah milikinya tapi tidak untuk Damar.


°Yuri°


"Kau ingat itu?"


"Kau pernah mengatakan


bahwa aku, kekasihmu!"


"Ku pikir ucapan mu itu


benar-benar tulus,"


"Ternyata kau pandai menipu,"


^^^°Damar°^^^


°Yuri°


"Baiklah. Aku hanya ingin


*meminta maaf atas semua


yang ku lakukan."


"Kau mau menerima maaf ku, kan?"


"Aku ingin kita berteman seperti dulu,"


"Jawab aku*!"


^^^ °Damar°^^^


^^^ "*Minta maaflah pada istriku, bukan padaku."^^^


^^^"Kau dan aku memang teman, ^^^

__ADS_1


^^^ tidak ada yang berubah sejak dulu*."^^^


°Yuri°


"*Baiklah, besok ajak dia


ke cafe dekat kantor."


"Aku ingin minta maaf padanya*,"


^^^°Damar°^^^


^^^"Ya."^^^


°Yuri°


"Good night."


...***...


Pagi itu Damar sudah kedatangan tamu dari orang Panti Asuhan yang diutus langsung oleh Kemal untuk mengantarkan invitation card padanya. Tak hanya itu saja, Kemal juga membawakan beberapa buah yang diletakkan di dalam sebuah keranjang dengan pita merah sebagai penghias.


Kemal membawakan dua keranjang buah sekaligus, untuk Damar dan Aleta. Ia meminta maaf karena tak bisa mengantarkan undangan secara langsung, sebab ada urusan mendesak yang mengharuskannya untuk pergi keluar kota.


"Maaf, Pak, ini ada titipan dari orang Panti, katanya." Salah seorang pelayan menghampiri Damar sambil menenteng dua keranjang buah.


"Buah itu letakkan saja di sana!" perintah Damar menunjuk ke arah meja di depannya.


"Baik, Tuan," balasnya patuh.


Pelayan itu pergi setelah meletakkan keranjang buah dan memberikan kartu undangan pada Damar. Sementara Damar hanya melihat sekilas dan langsung meneriaki nama Aleta.


"Aleta!" pekiknya sambil duduk santai menghadap televisi.


Mendengar suara teriakan Damar, Aleta pun turun dari kamarnya dengan langah malas. Pasalnya, baru semenit yang lalu ia menyelesaikan tugasnya untuk melayani Damar dan kini ia harus kembali lagi melayani orang itu.


"Apa!" jawabnya malas.


"Duduk di sini!" perintah Damar sambil menepuk sofa empuknya.


"Aku tak ingin menonton, tubuh dan pikiranku butuh istirahat." Aleta menolak dan hendak kembali pergi.


Greb!

__ADS_1


...♥️♥️♥️...


__ADS_2