Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
7 - Bunuh diri!!


__ADS_3

..."Jika aku dilahirkan kembali pada kehidupan selanjutnya, aku berharap akan ada kebahagian yang mengganti rasa sedihku saat ini."...


..._______...


Damar kembali menanyakan persetujuan Aleta, mengenai ajakan untuk menikah dengannya. Sayangnya dengan tegas Aleta menolak permintaan Damar, sebab permintaannya itu tak masuk akal.


Aleta juga tak ingin menikah dengan pria yang sama sekali tak dikenalnya, terlebih pria itu mengajaknya menikah hanya karena untuk membayar hutang sang Ayah.


"Baiklah! kalau kau menolak permintaan dariku, maka kau bersedia membayar semua hutang dari pria tua bangka itu!" bengisnya.


"Sudah ku katakan, aku tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Lagipula dia bukan Ayahku!" kiat Aleta.


"Aku tidak peduli jika dia itu bukan Ayahmu, yang aku inginkan kau harus membayar semua kerugian ini dan perlu kau ingat namamu sudah masuk dalam daftar pencarian polisi. Apa perlu aku melaporkanmu pada polisi sekarang juga!" sebuah ancaman Damar yang langsung membuat Aleta mengertakkan gigi dan mengepalkan tangan kuat.


Bak disambar petir siang bolong, Aleta pun harus menerima kenyataan pahit yang mengharuskan dirinya untuk bersedia menikah dengan Damar Emilio Kyler. Pemuda kaya yang memiliki segudang perusahaan dengan cabang yang tersebar luas di berbagai negara.


Yang dipikirnya saat ini adalah, bagaimana caranya ia membayar uang ganti rugi dengan jumlah yang sangat besar, jika menolak permintaan pria yang kini duduk santai dihadapannya sambil bersedekap dada.


"Dasar gila! Ini semua tidak masuk akal, untuk apa juga aku menerima permintaannya, sementara aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun padanya."


Gerutunya yang dapat terdengar dari telinga Damar. Pria itu menyeringai puas dengan apa yang dibuatnya saat ini. Tidak akan ada yang berani melawan permintaanya, terlebih Ayah Aleta terlilit hutang padanya.


"Cepat katakan saja apa keputusanmu, aku tidak punya banyak waktu untuk berlama-lama dengan wanita serendah dirimu!" celaan Damar.


Perkataan kasar dari mulutnya berhasil membuat Aleta berdiri dari duduknya dan segera merobek kertas yang sama sekali tidak ada hubungan dengannya. Bagaimanapun itu semua murni kesalahan yang dilakukan sang Ayah dan ia tidak bersedia untuk mewakilinya sebagai barang pengganti hutang Ayahnya.


"Kau pikir, aku peduli dengan semua isi di kertas ini! Gali saja pemakamannya dan minta semua hutangnya, untuk bisa membayar lunas. Aku tidak ada hubungannya dengan masalah ini!"


Wanita itu lantas pergi meninggalkan Damar yang tersenyum dengan smirknya disertai netra matanya menatap tajam punggung Aleta.


"Rupanya kau mau bermain-main denganku! Baiklah, aku akan membuatmu bersenang-senang dengan permainanku."


...•••...


Tok!

__ADS_1


Tok!


Tok!


Aleta mengawasi dari celah gorden ketika seseorang yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya. Seorang kurir terlihat membawakan sebuah amplop untuknya.


Namun Aleta enggan untuk membuka pintu rumahnya, hingga akhirnya kurir itu menyelipkan amplop pada celah pintu rumahnya. Ia bergegas membuka isi amplop itu dan mulai membacanya. Sebuah surat penagihan hutang untuknya dari beberapa store ternama.


"Tunggu, apa-apaan ini! Sejak kapan aku pernah membeli barang dari toko-toko ini, bahkan jumlahnya pun cukup banyak!"


Ia berpikir sejenak, sesaat setelah menyadari jika perbuatan itu ulah dari Damar. Pria itu sengaja melakukannya agar membuat Aleta terdesak dengan permintaannya. Sialnya lagi Damar telah mengetahui data kartu rekening bank Aleta dari ponsel yang ada di tangan Damar sebelum ponsel miliknya hancur mengenaskan.


"Sial!"


Aleta mengumpat kesal. Damar tidak akan pernah berhenti mengganggu kehidupannya sebelum Aleta menyetujui permintaannya.


Tak lama ketukan pintu terdengar kembali, namun suara ketukan itu berbeda seperti sebelumnya. Aleta pun kembali mengawasi dari celah gorden, melihat seseorang yang tak begitu asing.


"Ada apa ya? Bukankah sekarang belum waktunya saya membayar uang sewa rumah!" ucap Aleta pada pemilik tempat yang terlihat begitu marah padanya. Sorot matanya menatap Aleta tajam ditambah dua pria bertubuh gempal yang berdiri di belakang sang pemilik.


"Maksud anda apa? saya tidak membohongi siapapun?" Aleta kebingungan menerima perlakuan dan ucapan sang pemilik sewa.


"Sekarang aku tahu siapa kau ini sebenarnya! Cepat pergi dari sini, aku tidak sudi menyewakan tempat untuk wanita penipu sepertimu!!" bengisnya tanpa ampun.


"Tunggu, bisa anda jelaskan apa maksudnya? Saya benar-benar tidak mengerti!" tanya Aleta.


Sang pemilik melemparkan surat kabar di depan wajah Aleta dengan kasar. Ia pun mengambil surat kabar yang terjatuh di lantai dan melihat wajah dan namanya terpampang nyata dalam surat kabar.


Headline news yang menceritakan jika Aleta seorang penipu, dimana ia sudah menipu semua orang dengan berkedok wajah cantiknya, mengambil keuntungan dengan memalsukan semua identitasnya, agar dapat meraup sejumlah uang dari pemilik perusahaan ternama berinisial DEK, inti dari surat kabar tersebut.


Aleta menggumpal kuat kertas dan dijatuhkannya ke lantai. Kesabarannya kini mulai habis, ia tidak bisa lagi menahan amarahnya pada Damar.


Pria yang tak henti-hentinya menambahkan masalah baru untuknya setiap hari.


"Cepat pergi dari sini, sebelum aku memanggil polisi!" usir pemilik rumah dengan kalimat yang tak begitu enak didengar.

__ADS_1


"Bu, tunggu saya bisa jelaskan semua ini!" sanggah Aleta.


"Cepat pergi!!" pekiknya sambil mendorong tubuh Aleta.


"Saya mohon dengarkan penjelasan saya, tolong jangan usir saya, Bu!" Aleta terus memohon pada sang pemilik untuk tidak mengusirnya dan bersedia mendengar alasan ia mengubah seluruh identitas.


Sang pemilik itu tak mau mendengarkan apapun yang terlontar dari bibir Aleta, justru ia meminta dua bodyguard itu menyeret Aleta keluar dari rumahnya. Ia tidak peduli saat Aleta bersimpuh di bawah kakinya sambil menangis dan terus mengutarakan kata mohon padanya.


Begitu Aleta berhasil diseret keluar dari sana beserta tas dan pakaiannya yang berserakan di tanah, Ia mencoba kembali masuk sebelum akhirnya pintu rumah itu tertutup rapat-rapat.


"Bu, tolong ijinkan saya menginap malam ini saja! Saya tidak punya tempat lagi selain rumah ini, saya mohon!" ucapnya memelas sambil menggedor-gedor pintu.


Lagi-lagi tak digubris oleh sang pemilik tempat. Dengan isak tangis Aleta membereskan pakaian-pakaiannya dan melangkah pergi, entah kemana kaki itu membawanya.


Sementara dari kejauhan terlihat Damar menyeringai girang saat memerhatikan Aleta yang menangis pilu.


"Ikuti dia!" perintahnya tanpa melepaskan pandangan pada sosok Aleta.


"Baik Bos." sahut sang Ajudan


...•••...


Deburan ombak mengantarkan Aleta terduduk menyendiri disana, sambil meneguk beberapa botol alkohol dingin. Itulah kebiasaan yang dilakukannya jika sedang merasa terpuruk seperti saat ini. Ia akan datang ke tepi pantai sambil membawa beberapa botol minuman beralkohol.


"Tuhan, apa kau melihat keadaanku sekarang? Apa kau juga ikut mentertawakan jalan hidupku? Kenapa kau harus menciptakan ku, jika kau membuat skenario buruk untukku? Aku muak hidup di dunia ini!! Aku benci terlahir sebagai Aleta!!! Aargghhh!!!!"


Aleta marah benar-benar marah dengan takdir hidupnya yang selalu berakhir dengan kesedihan dan penderitaan. Baginya sudah cukup ia merasakan perihnya hidup saat ia berumur 7 tahun, tapi entah mengapa hidupnya tidak akan pernah lepas dari bayang-bayang menyakitkan.


Kini ucapan dan pikirannya tak lagi sejalan, ia sudah mabuk berat hingga memaki-maki dirinya sendiri sambil terus tertawa kemudian kembali menangis, persis orang gila.


Antara di ambang-ambang ketidaksadaran ia melangkah pelan menuju air laut yang semakin lama langkahnya semakin dalam hingga hampir ketengah laut.


"Tuhan, maaf karena aku tidak bisa menjadi umatmu yang baik! Aku lelah, benar-benar lelah! Aku tidak sanggup untuk melanjutkan kehidupanku ini dan aku menyerah. Selamat tinggal dunia terpurukku."


...♡♡♡...

__ADS_1


__ADS_2