
..."Jika tujuanmu hanya untuk membunuhku, kenapa tidak sejak awal kau melakukannya! Kau bersikap hangat padaku, hanya karena sebuah rekayasa!"...
..._______...
Damar memerhatikan sejenak Aleta yang tertidur pulas di sofa, sebelum akhirnya ia menggendong Aleta masuk ke dalam kamar.
"Wanita ini terus saja merepotkan, kalau saja bukan karena Erick yang memaksaku, aku tidak akan mau membawamu sejauh ini!"
Gerutu Damar jemu sembari menyelimuti Aleta, sebab baju yang dikenakannya memperlihatkan jenjang kaki Aleta yang putih juga mulus dan itupun yang sejak tadi membuat pikirannya risih.
Sebelum memindahkan Aleta ke dalam kamar, Damar menimbang-nimbang untuk membantunya, sebab lekukan tubuh Aleta dari balik pakaian berhasil mengusik syahwatnya.
Damar segera mematikan lampu kamar Aleta dan kembali ke kamarnya, ia tertidur setelah merebahkan tubuhnya di ranjang, menghilangkan rasa keinginan yang terus bergelayut dipikirannya.
...•••...
Deburan ombak di pagi hari membangunkan tidur Aleta. Mengerjap sebelum akhirnya teringat jika malam kemarin ia tertidur di sofa.
Segera Aleta memeriksa dirinya dari balik selimut, khawatir jika Damar melakukan sesuatu yang buruk padanya ketika ia tertidur.
"Huuff, syukurlah! Aku pikir pria berengsek itu akan melakukan hal buruk padaku." Gumamnya lega.
Aleta bergegas membersihkan diri sebelum pergi mencari kopernya yang tertukar dan terpaksa kembali mengenakan pakaian milik orang lain, ia juga berniat menemui Damar untuk meminta izin. Namun sayangnya tak terdengar sautan dari dalam kamar saat Aleta mengetuk pintu.
"Mungkin dia masih tidur! Aku pergi saja kalau begitu, lagipun aku tidak akan lama!"
Gumam Aleta sebelum bergegas pergi menuju receptionis untuk menanyakan prihal koper miliknya.
Sementara di tempat berbeda, Damar tengah menerima panggilan dari Erick guna membahas berkas laporan yang sudah dikirimnya melalui email.
Setelah mengakhiri panggilan, kini Damar menunggu Aleta di restauran. Hampir satu jam ia berada disana, tak juga menampakan batang hidung Aleta tiba disana.
"Apa dia masih tidur? Sudah hampir siang begini dia belum juga bangun? Dasar kerbau."
Umpat Damar jengkel sesaat kembali ke penginapan untuk membangunkan Aleta yang dianggapnya masih tertidur pulas.
Damar membuka pintu saat memanggil Aleta beberapa kali dan tak mendengar sautannya. Melihat kamarnya yang tertata rapi, mendatangkan kecurigaan dipikiran Damar.
"Sial, kemana perginya wanita itu? Apa dia berusaha kabur dariku!"
tangannya terkepal kuat hingga memperlihatkan garis vena. Emosinya mulai meradang, karena melihat Aleta yang pergi diam-diam darinya.
__ADS_1
...•••...
Aleta yang tengah dicari oleh Damar, kini berada di ruang penyimpanan barang memeriksa kopernya, karena sebelumnya petugas memberitahukan bahwa ada salah satu koper yang sempat tertinggal di ruang penyimpanan.
Sayang koper yang tertinggal itu ternyata bukanlah miliknya. Aleta pun keluar dari ruangan dan kembali ke penginapan.
"Jika nanti anda menemukan koper milik saya, tolong hubungi di penginapan lavender, terima kasih," pesan Aleta pada petugas yang berjaga di depan ruangan.
"Iya, baik Nona!" sahutnya.
Derap langkahnya lambat begitu memasuki penginapan. Pikirnya ia dapat membawa kembali kopernya itu, sebab di dalam kopernya terdapat foto sang Ibunda yang selalu ia bawa. Hanya itulah kenangan satu-satunya yang ia miliki bersama sang Bunda.
Belum merasa tenang dengan perasaannya, kini Aleta disambut dengan pistol yang digenggam Damar setibanya disana. Aleta terkejut bukan main hingga terbelalak melihat Damar yang tiba-tiba saja menodongkan pistol ke arahnya.
Sambil menelan saliva ia menafsirkan raut wajah Damar yang tampak begitu marah padanya. Memorinya pun kembali mengulang perlakuan Damar yang berani menembaknya.
"Sepertinya kau lupa, bahwa aku tidak akan segan-segan membunuhmu di tanganku sendiri," hardik Damar terkesiap dengan pistol di tangannya.
"Kau benar-benar ingin membunuhku?" Tanya Aleta meyakinkan kembali ucapan Damar.
"Ya, aku sangat ingin membunuhmu sekarang," jawab Damar tanpa ragu-ragu.
"Apa karena aku tak menuruti kemauanmu, lantas kau ingin membunuhku?" tanya Aleta saat menelisik sayat-sayat kemerahan dari netra mata Damar.
"Jadi kau membawaku jauh-jauh ke tempat ini, hanya karena ini," ucap Aleta yang diikuti gelak tawanya yang tak menyangka dengan sikap rekayasa Damar.
"Ku bilang DIAM!!!" bentak Damar seraya mendekat dan meletakkan pistol ke arah dagu Aleta.
Sambil mengeraskan rahang Aleta membalas, "Apa begitu mudah bagimu melayangkan peluru padaku? Inikah tujuanmu membawaku ke tempat ini! Bukankah aku telah menuruti perintahmu, melakukan semua yang tak ku sukai. Jika kau memang ingin melihatku mati di tanganmu, baiklah, tembak aku sekarang...." Aleta meluapkan semua isi pikiran sambil terisak-isak.
Sejenak Damar terdiam melihat bulir air mata Aleta yang menetes mengenai pistolnya.
"Kenapa kau diam! Cepat tembak aku sekarang, Tembak!!!!" jeritnya lelah.
Sambil berderai air mata ia memaksa Damar untuk menembaknya, Aleta lelah menjalani hidup yang selalu diatur olehnya, meski menunggu hingga satu tahun pun akan sia-sia jika akhirnya ia terus dihadapi sikap kasar dari Damar. Melihat aksi Aleta di luar kendali mengacu emosinya, hingga ia menekan pelatuk pistol itu dengan kuat.
Duarrr!!!
Peluru itu menembus atap ruangan hingga membuat serpihan terjatuh dan hampir mengenai kepala Aleta. Sementara Damar melangkah pergi meninggalkan Aleta yang masih memejamkan mata akibat dibuat gemetar ketakutan oleh suara peluru.
...•••...
__ADS_1
Setelah kejadian siang itu, Aleta tak juga keluar dari kamarnya. Tak habis pikir dengan sikap Damar yang ingin sekali membunuhnya, meski telah melakukan semua apa yang diperintahkan.
Aleta termenung sambil bersandar menatap hamparan lautan dengan suara deburan ombak yang menjadi penyejuk sejenak batinnya. Aleta memang tak lagi menangis, namun hatinya masih terasa sakit jika mendapati perlakuan kasar dari pria yang kini menjadi suaminya.
Kehangatan yang diberikan pria itu saat berada di pesawat nyatanya hanya sementara dan semu. Sikapnya itu ditunjukkan semata-mata untuk menutupi rasa bencinya pada Aleta.
Kringg!!!
Aleta menjawab panggilan yang diyakininya akan memberikan informasi bahwa kopernya telah ditemukan.
"Halo, Nona Aleta! Saya mau memberitahu, bahwa koper milik anda berada diruang penyimpanan sekarang!" ujar salah satu petugas.
"Iya, saya akan segera mengambilnya!" balasnya girang.
Aleta menutup panggilan dan bergegas menuju ruang penyimpanan. Lagi-lagi Damar tak mengetahui keberadaannya saat ini, sebab pria itu berada di bar.
Aleta sangat berterima kasih kepada petugas karena telah membantunya. Setelahnya ia kembali menuju penginapan, namun terhenti di persimpangan jalan karena mendapati Damar bersama wanita lain.
Wanita yang terlihat cukup akrab dan juga manja dengannya, bahkan tak segan-segan menyentuh pipi Damar. Aleta menghela napas, berusaha tak memperdulikan apa yang dilakukan pria itu di luar sana, toh ia bukan siapa-siapa baginya.
...•••...
Esok paginya, Aleta tak melihat Damar keluar dari kamarnya. Ia teringat akan wanita yang bersama Damar kemarin malam.
"Mungkin dia menginap di tempat wanita itu! Syukurlah, aku merasa bebas jika dia tak berada disini!"
Gumam Aleta lega sambil menyesap teh hangat dan juga roti selai, ia menikmati udara pagi sambil memandangi laut biru yang tampak menyegarkan.
Ting!!
Ting!!
Aleta membuka pintu setelah bel penginapannya berbunyi. Terlihat seorang pria dengan pakaian serba hitam lengkap dengan kaca mata hitamnya berdiri didepan pintu.
"Anda siapa?" tanya Aleta menelaah.
"Saya diminta Tn. Damar untuk mengantar anda, Nona," balasnya tegas.
"Mengantar saya? Maaf tapi kemana?" tanya Aleta sedikit curiga.
"Saya tidak diperbolehkan memberi tahu anda, jadi silahkan ikut saya, Nona," jawabnya datar.
__ADS_1
Aleta pun akhirnya mengikut pria misterius itu, sebab mendengar Damar yang meminta untuk menemuinya.
...♡♡♡...