Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
97 - Pertemuan Damar dan Emir


__ADS_3

"Halo," ucap Alona gemetar.


"Hentikan pencarian, kalian bisa kembali sekarang!" perintah Emir pada Alona. Setelah itu Emir memutuskan panggilan tanpa menunggu jawaban darinya.


Emir menggenggam erat ponsel miliknya diikuti ekspresi wajah yang terlihat menahan amarah, sebab saat ini Kemal sedang duduk bersandar sambil mengangkat kedua kakinya yang diletakkan di atas meja dan memandang rendah sahabatnya itu.


Bisa dikatakan Kemal sedang merayakan sebuah kemenangan kecil yang diperlihatkan pada sahabat kentalnya itu. Berkat dirinya yang menghasut Devano untuk berkhianat pada Emir, akhirnya berhasil mengacaukan segala rencana Emir.


Sembari memegang gelas yang berisi champange, Kemal menyodorkan minuman tersebut ke arah Emir. Dengan senyumnya yang tipis serta mengangkat sebelah alisnya diikuti dagu yang sedikit terangkat, menandakan Kemal sedang menyombongkan dirinya.


"Kau suka permainanku?" Kemal sengaja melemparkan pertanyaan yang terdengar seperti mengejek.


"Seharusnya aku tidak mempercayai dirimu!" seru Emir bengis.


"Aku tidak meminta kau untuk percaya padaku," balas Kemal santai sembari asyik memainkan gelas di tangannya.


Mendengar hal itu, Emir semakin dibuat marah. Lantas kakinya melangkah menghampiri Kemal, hendak melayangkan tinju pada mulut kasar sahabatnya itu. Namun, belum sempat kepalan tangan itu sampai ternyata Kemal sudah lebih dulu menendang kaki Emir dengan keras, hingga membuat Emir bersimpuh di bawah kaki Kemal secara tidak sengaja.


"Beginilah seharusnya posisimu di hadapanku," maki Kemal mendekati wajah Emir.


Emir tak bisa lagi melawan perlakuannya itu selain hanya bisa diam dan menahan rasa sakit pada tulang kering di kedua kakinya. Kendati ia benar-benar kecewa dan marah pada Kemal, sebab telah memandang rendah dirinya.


"Jangan berlaga kuat, kau itu hanya semut kecil, bagiku." Kemal melanjutkan kembali umpatannya sembari menekan kuat salah satu pundak Emir, hingga membuat sang empunya meringis.


Susah payah Emir menghempaskan tangan Kemal dari pundaknya. "Singkirkan tanganmu!" perintah Emir menatap dengan sorot mata tajam.


Kemal pun menjauhkan tangannya pada pundak Emir setelah sebelumnya berganti menjadi mengusap, layaknya seorang sahabat yang sedang membersihkan debu di jas kemeja Emir. Meski maksud sikapnya berbeda dari mulut kasarnya. "Jas ini terlalu usang, hingga terlihat sama dengan isi kepalamu."


Puas mencemooh Emir, Kemal pun berdiri dari duduknya dan melangkah pergi dari ruang pribadi Emir. Namun, ia berhenti di ambang pintu dan memutar kembali tubuhnya. "Ikuti permainanku, jika ingin anakmu selamat."


Ternyata Kemal berniat meninggalkan pesan yang terdengar seperti sebuah ancaman, agar Emir tak lagi melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan dirinya.

__ADS_1


Sepeninggalan Kemal, Emir melampiaskan rasa amarah serta emosionalnya itu pada bingkai foto kaca yang terdapat gambarnya dan juga Kemal saat semasa kecil hingga sekarang, serta beberapa koleksi guci keramik yang juga turut serta terkena imbas kemarahan Emir.


Stik golf itu berhasil menghancurkan barang-barang yang berada didekatnya. Banyaknya serpihan-serpihan dari hancurnya bingkai dan guci keramik, tak juga menyurutkan rasa amarahnya.


Beruntung Alona segera datang dan menghentikan aksi gila Emir yang hendak melayangkan kembali stik golf itu ke arah meja kerjanya yang di mana banyak sekali menyimpan lembaran-lembaran kertas penting.


"Hentikan, Bos!" pinta Alona menahan tangan Emir.


"Jangan ikut campur, pergi sana!" hardik Emir menghempaskan tangan Alona dengan kasar, hingga membuat tubuh wanita itu terhuyung ke belakang.


Alona segera berdiri dan kembali mencoba menghentikan aksi Emir. "Bos!" pekiknya di depan Emir sembari memperlihatkan foto dari layar ponselnya.


Emir merampas ponsel dan melihat foto itu secara dekat. Matanya terbelalak hebat tatkala menangkap Damar bersama Erick yang sedang berdiri di depan pagar rumah sewaannya.


Semula ia meyakini Damar telah tewas dalam pengeboman gedung beberapa minggu yang lalu, namun nyatanya ia melihat sendiri Damar dari foto itu dengan kondisi baik-baik saja.


"Pria itu mencari keberadaan nona Aleta." Beritahu Alona setelah menelaah emosi Emir yang sedikit meredam. "Anda bisa memanfaatkan pria itu untuk membebaskan nona dari Kemal." Ide brilian Alona disambut semangat oleh Emir.


"Akan ku jadikan anak muda itu tameng, dengan begitu aku lebih mudah membawa pergi anakku dari Kemal." Emir menyeringai penuh maksud.


...****...


Dering ponsel berbunyi dari saku celana Erick, selepas ia dan Damar kembali ke dalam mobil. Erick pun merogoh saku untuk mengambil ponselnya yang masih berdering kencang. Sesaat ia melihat nomor asing yang tertera di layar ponselnya.


"Nomor siapa ini?" tanyanya untuk diri sendiri.


Damar memandang Erick dari pantulan kaca spion. "Ada apa?" tanya Damar setelah melihat wajah kebingungan Erick.


Erick menoleh ke belakang, tempat di mana Bosnya itu duduk. "Ada nomor asing yang menghubungiku." Jawab Erick kembali menatap layar ponsel.


"Angkat saja." Damar memberi saran.

__ADS_1


"Halo." Erick menjawab panggilan tersebut setelah menerima saran dari Damar.


"Berikan ponselmu, padanya!"


Mata Erick membulat tatkala mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Rasa keterkejutannya itu pun tercetak jelas di wajah tampannya, hingga Damar turut merasa penasaran dengan ucapan si penelepon.


"Bos, ada yang ingin bicara denganmu." Erick memberikan ponselnya saat kembali memutar badannya untuk menghadap Damar.


Tanpa bertanya lebih lanjut, Damar menjawab panggilan tersebut dengan nada tegas. "Halo!" serunya.


"Temui aku di Egirdir."


Panggilan itu terputus secara sepihak, sebelum Damar membalas lebih lanjut. Namun, orang yang menjadi target pencariannya selama ini ternyata telah memiliki keberanian untuk menghubunginya setelah sekian tahun, meski hanya berani bicara beberapa kata saja.


Damar memberikan kembali ponsel milik Erick sambil mengatakan, "Kita ke Egirdir sekarang!"


Erick mengangguk patuh. "Baik, Bos," sahutnya sembari menjalankan mesin mobil.


Tidak ada pertanyaan lebih lanjut mengenai ucapan Emir pada Bosnya. Ia paham dengan hanya perintah Damar yang memintanya untuk pergi ke wilayah itu. Sementara Damar tengah bersiap menghadapi ayah Aleta yang berpikir jika Aleta ada bersamanya.


Damar tidak peduli seandainya nanti harus berjibaku menyelamatkan Aleta untuk lepas dari Emir. Damar mengetahui semua mengenai kehidupan Emir terdahulu, bahkan ia juga mengetahui alasan dibalik nama Aleta yang menjamin utangnya dengan keluarga Emilio.


Rahasia kehidupan Emir ia ketahui dari bunda Azra dan juga informasi tambahan dari Erick. Bunda Azra memberikan kaset rekaman berupa walkman, di mana di dalamnya tersimpan semua rekaman suara Ibu kandung Aleta yang menceritakan sejarah perjalanan kehidupannya bersama Emir.


Bunda Azra juga meminta Damar untuk memberikan rekaman suara itu kepada Aleta, agar nantinya Aleta bisa mendengar sendiri cerita yang sejujurnya dan satu pesan dari sang ibu untuk anak semata wayangnya itu.


"Tidak akan kubiarkan, orang tua itu menyakitimu!"


Damar bicara dalam hati sambil menatap jendela. Sorot matanya penuh keyakinan untuk menyudahi perang dinginnya bersama Emir, walau harus bersimbah darah sekalipun.


Erick melihat Damar dari dalam kaca spion, raut wajah yang tampak serius dan sungguh-sungguh itu dapat diartikan oleh Erick. Ia menambah kecepatan agar segera tiba di lokasi yang di minta Emir untuk bertemu. Mobil pun melesat secepat mungkin.

__ADS_1


...❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2