
...“Meskipun kau berpikir tak bisa melakukannya, tetaplah berjuang sampai akhir. Dalam hidup banyak hal yang harus kau mulai meskipun kau tahu seperti apa hasilnya”...
..._________...
Terbesit Ide brilian—Aleta tersenyum cerah sebelum kedua anak kecil itu menegurnya, sebab keberadaannya mengganggu waktu bermain mereka.
"Tante, bisakah Tante tidak berdiri didepan kami," tegur Ayemi gadis kecil bersurai panjang dengan pipi gembulnya.
"Tante mengganggu konsentrasi bermain kami," timpal Gio, pria kecil yang ikut berkomentar.
"Ah, maaf ya Tante mengganggu kalian!" kekehnya kikuk. "Hmm, Apa kalian bisa menolong, Tante?" tanya Aleta sambil menghampiri Ayemi dan Gio.
Kedua anak kecil itu saling memandang, mempertanyakan apa mereka diijinkan sang Ibu untuk menolong orang yang tak mereka kenal.
Aleta meyakinkan keduanya, "Kalian tidak perlu khawatir, Tante bukan orang jahat kok," tangkasnya saat mengetahui maksud dari saling pandang keduanya.
"Tapi kata Ibu, kami tidak boleh dekat-dekat dengan orang asing," balas Ayemi dan Gio berbarengan.
"Kalau begitu Tante akan memperkenalkan diri, kenalkan aku Aleta Quenby Elvina." Aleta mengulurkan tangan, sebagai tanda agar Ayemi dan Gio tidak menganggapnya orang asing.
"Tante ini siapa?" tanya Gio mempertegas, guna tak ingin tertipu begitu saja pada Aleta.
"Aku istrinya, ekhmm!" jeda Aleta, "Damar." Jawabnya penuh percaya diri.
Begitu mengetahui Aleta adalah istri dari Damar, keduanya langsung mendekati Aleta dan menanyakan bantuan apa yang bisa mereka lakukan untuknya. Tanpa basa-basi Aleta meminta mereka untuk meminjamkan tablet yang mereka mainkan sejak tadi.
Meski keduanya mengajukan beberapa pertanyaan kepada Aleta prihal tablet yang ingin ia pinjam, Aleta berhasil meyakinkan kembali, kendati semua jawaban-jawaban itu palsu.
Tak ingin membuang kesempatan, kini Aleta tengah menatap serius layar tablet tersebut, didampingi Ayemi dan Gio yang ikut duduk disamping kiri dan kanannya—menjamin agar tablet mereka aman bila disentuh Aleta.
Aleta membuka satu persatu folder yang kebanyakan hanya berisi data-data kantor Damar, Namun ada sedikit yang menarik perhatiannya, nama folder yang bertuliskan 'bitter memories'
Dibukanya isi folder itu, hingga menampilkan sepenggal cerita dari kisah keluarga Damar, serta nama sang Ayah yang masuk dalam daftar pencariannya sebagai dalang dibalik kematian kedua orangtua Damar.
Aleta terbelalak sambil menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangan kiri, akibat rasa keterkejutannya. Sementara kedua anak itu refleks melihat raut wajah Aleta yang berubah murung.
...***...
Sepulangnya bekerja, Damar mendapatkan kabar bahwa Aleta belum juga terlihat keluar dari kamarnya setelah sore tadi berkeliling taman, ia juga tak turun ke ruang makan untuk makan malam bersamanya.
Sang penjaga yang tadi mengikutinya juga tak mengetahui apapun mengenai keadaan Aleta saat ini, sebab ia hanya mengawasinya dari kejauhan.
"Apa ada laporan mengenai wanita itu?" tanya Damar menilik bodyguard dihadapannya.
__ADS_1
"Tidak ada, Bos." Jawabnya yakin.
Walaupun bodyguard nya itu merasa yakin, tetap saja Damar merasa ada yang tidak beres. Ia meyakini, jika Aleta mulai menjalankan misi keduanya. Ia mewaspadai semua yang wanita itu lakukan, mulai dari sikap, gaya bicara dan gelagatnya.
Alih-alih membangun benteng pertahanan kepada Aleta, Damar justru mengingat kembali aroma napas tubuh Aleta yang selalu mengganggu pikirannya. Ia ingat betul bagaimana cara wanita itu merayunya, kendati Damar seorang pria yang pada umumnya akan terguncang s*ksualitasnya, jika bersentuhan langsung dengan lawan jenis.
"Aku sangat membutuhkanmu malam ini, Damar!"
"Kau begitu menggoda, aku tidak sabar ingin melakukannya bersama mu,"
"Damar!"
"Damar!"
"Damar!!"
Ia terngiang-ngiang akan suara rayu Aleta yang penuh dengan des*han manja. Suaranya, tatapannya dan belaiannya mampu mengusik ketenangan jiwa kejantanan pria itu.
Hampir saja terlarut membayangkan hal kotor, Damar segera menyadarkan dirinya dan mengibaskan bayang-bayang itu dari atas kepalanya. Ia merapalkan kalimat yang dianggapnya mampu menolak hasrat gilanya.
"Tahan ya, jangan bangun. Ok!" serunya tersenyum simpul sambil menatap ke bawah celana piyama yang dipakainya saat ini.
...***...
"Kenapa kau begitu jahat padaku? tidak puas kah, kau membuang ku di panti neraka itu! kau tega menjadikanku alat sebagai penghapus dosa yang kau lakukan pada keluarganya, bahkan kau sengaja menutupi kematianmu hanya karena takut mengakuinya."
Kini Aleta segan bertemu Damar, ia rasa tak punya muka lagi, jika harus melihatnya langsung. Bagaimana perasaan Damar yang kehilangan kedua orangtuanya, Aleta dapat mengetahuinya. Meminta maaf ratusan kali pun tak akan cukup menggantikan rasa kehilangan orang yang ia sayangi.
Tok...
Tok...
Aleta segera menyapu sisa airmata yang ada di kedua pipinya dan meletakkan kembali kalung tersebut kedalam kotak usang, kemudian menghampiri pintu kamar.
"Sudah ku katakan, aku tidak ingin maka..." ucap Aleta terputus begitu membuka pintu.
Damar menatap wajah Aleta, menelaah raut wajah mencurigakan. Alih-alih menelaah, Damar justru mendapati bahwa Aleta baru saja menangis.
"Mau apa kau kemari? cepat katakan aku sudah mengantuk." Tegurnya segera.
"Kau," Damar menatap yakin, "Menangis?"
Aleta memalingkan wajahnya sekilas, "Bukan urusanmu! jika hanya itu yang ingin kau katakan, lebih baik aku kembali tidur," sanggah Aleta sambil menutup kembali pintu kamarnya.
__ADS_1
"Kau pikir bisa menipu ku? dasar bodoh." Gumamnya di depan pintu kamar Aleta.
"Maaf." Ucap Aleta lirih dari balik pintu.
...***...
Pagi, selepas Damar berangkat kerja, Aleta kembali berkeliling taman mencari Ayemi dan Gio, sebab ia berjanji akan memberikan kedua anak kecil itu hadiah sebagai ucapan terimakasihnya karena telah meminjamkan tablet padanya.
"Hai, Tante!" sapa Ayemi dari belakang.
"Hai!" balas Aleta,"Mana Gio?"
"Gio, Sekolah." jawabnya sendu.
Aleta yang melihat reaksi Ayemi segera berjongkok, menyamakan tingginya, lalu mengusap lembut pucuk rambut gadis kecil itu.
"Kenapa murung?" tanya Aleta dengan senyuman.
"Aku ingin bersekolah sepertinya, tapi Ibu belum punya cukup uang," jawabnya merunduk sedih.
"Hmm, kau jangan bersedih! Tante yakin jika suatu hari nanti, kau bisa bersekolah seperti Gio," balasnya seraya menyelinapkan anak rambut pada telinga Ayemi.
"Benarkah?" tanyanya meyakinkan ucapan Aleta.
"Ya tentu saja," jawab Aleta tersenyum kembali.
Aleta berjanji akan menemaninya bermain disaat Gio sedang Sekolah, mendengar itu Ayemi tersenyum riang, ia senang karena tak akan merasa sendirian, jika Gio sedang tak bersamanya.
Kegembiraannya tak henti sampai disitu, Aleta memberikan sepasang gelang yang akan dipakainya bersama Gio. Ayemi memekik girang, gadis itupun berlari kecil memasuki taman labirin dan Aleta juga mengikutinya dari belakang.
"Ayemi, tunggu Tante!" panggilnya pada Ayemi yang berlari semakin dalam masuk ke taman labirin.
Gadis kecil itu memiliki energi yang luar biasa, ia bisa dengan cepat hilang dari penglihatan Aleta.
"Ayo Tante, cepat ikuti Ayemi!" seru Ayemi dari kejauhan yang masih bisa terdengar oleh Aleta.
"Ayemi, kamu dimana? tunggu Tante," Aleta terus melangkah masuk, meski suara Ayemi sayup-sayup terdengar.
Hingga tiba dimana suara Ayemi tak lagi bisa didenganya, Aleta terus saja memanggil gadis kecil itu, ia takut jika Ayemi tak menemukan jalan keluar, walupun ia juga harus memikirkan dirinya sendiri yang saat ini sedang tersesat.
...✨✨✨...
*fyi, tolong bantu koreksi jika terdapat penulisan atau dialog tag yang salah🙏 *
__ADS_1