Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
33 - Piknik


__ADS_3

..."Daripada mencari cara untuk membencimu, aku akan mencari cara untuk membuatmu menyukaiku."...


...__________...


Mobil berhenti tepat di hamparan rerumputan dengan pemandangan danau di depannya. Aleta keluar dari dalam mobil dan melangkah semangat menuju danau. Manik kedua matanya berbinar senang, meski hanya melihat sebuah danau.


Suasana yang sejuk nan damai seakan mengantarkan kebahagiannya pagi itu, setidaknya ia melupakan sedikit kesedihannya, pikir Damar. Ya Damar memang sengaja berniat mengajak Aleta untuk piknik, sekedar membayar rasa bersalahnya kemarin malam.


Entah apa yang ada dipikiran pria itu hingga berinsiatif mengajak istrinya bertamasya, walau hanya di pinggir danau yang jauh dari kata kemewahan. Meski begitu, ia juga menyukainya.


Damar menurunkan keranjang makanan disertai alas untuk mereka duduk di sana. Aleta yang melihat Damar kesulitan segera berlari kecil untuk membantunya, namun pria itu menolak dengan berdalih,


"Ini tugas pria, kau tidak perlu membawa ini!" tegasnya.


Aleta mendengar penuturan Damar justru membuat dirinya tak ingin hanya berdiam saja, lantas ia mengambil alas dari genggaman Damar yang kemudian di bawanya. Segera ia melebarkan alas bermotif garis-garis itu di atas rerumputan, setelahnya Damar meletakkan keranjang piknik di atasnya.


Pria itu mengeluarkan satu persatu kudapan dalam keranjang tersebut, mulai dari empat lembar potong sandwich, beberapa buah-buahan, makanan kering


lainnya, serta jus buah segar dan tak lupa air mineral.


Disajikannya makanan tersebut di atas piring satu persatu, meski terlihat sederhana namun food plating yang dilakukan Damar nampak cantik dan menarik. Sehingga membuat Aleta tak sabar ingin segera melahapnya.


"Kau punya bakat juga menata makanan ini," ungkap Aleta seraya mengamati kesibukan Damar.


"Memangnya hanya wanita saja yang bisa melakukannya." Balasnya tanpa menoleh ke arah Aleta.


"Ya, ku pikir keahlian mu hanya bisa memerintah dan membentak saja," ledeknya.


Damar melirik sinis yang seketika membuat bibir Aleta terkatup dan tak lagi berani bicara.


...***...


Erick terlihat sibuk saat menggantikan posisi Damar sebagai CEO di perusahaan. Pagi itu, Dania sang Sekretaris memberikan beberapa tumpukan map yang harus di periksa kembali olehnya, guna meninjau ide-ide para karyawan di bagian Marketing, sehingga nantinya mempermudah Damar untuk menyetujui ide tersebut.


Tok!


Tok!


Yuri masuk kedalam ruangan setelah mengetuk pintu. Ia sedikit terkejut melihat Erick yang duduk di kursi kebesaran Damar.


Yuri menoleh ke kiri dan ke kanan. "Damar dimana?" tanya Yuri begitu menghampiri meja.


"Bos sedang piknik bersama Istrinya." Jawab Erick terus terang.


"Apa!!" Yuri terbelalak dengan nada pengucapan kesal.


Erick tak menjawab keterkejutannya itu, ia justru tak mempedulikannya Yuri, kendati ia tahu betul jika saat ini Yuri kesal dan jengkel mendengar Damar bersama Aleta.

__ADS_1


"Kemana mereka pergi?" tanya Yuri ingin tahu.


Erick mengedikkan bahu. "Entahlah, Bos tak memberitahu ku kemana tujuan mereka akan pergi!" jawabnya.


"Ck!" Yuri berdecak kesal sebelum ia melangkah keluar dari ruang kerja Damar.


"Untuk apa lagi kau mengurusi hidupnya, Bos ku sudah berkeluarga jadi sebaiknya kau urus saja hidupmu sendiri!" gumam Erick saat menatap punggung Yuri.


...***...


Damar dan Aleta sangat menikmati suasana liburan mereka. Sambil mengunyah sandwich, keduanya tak lepas memandang perahu bebek yang terparkir di pinggir danau.


Damar yang sudah cukup lama tak pernah lagi menaikinya, berniat untuk mencobanya kembali. Ia pernah menaiki perahu itu bersama Yuri saat mereka melakukan liburan akhir tahun.


Sementara Aleta tak pernah sekalipun merasakan perahu itu, sebab semasa hidupnya hanya bisa berdiam diri di rumah tanpa terkecuali bekerja. Karena itulah ia sangat senang saat Damar mengajaknya berlibur.


"Cepat habiskan sandwich mu," tegurnya saat menoleh ke arah Aleta.


"Boleh aku menaiki perahu bebek itu?" tanyanya penuh harap.


"Jangan membuatku repot." Tolaknya mentah-mentah.


"Aku janji tidak akan membuatmu repot," ucapnya sambil menjulurkan dua jari di hadapan Damar—tanda bahwa Aleta benar-benar serius dalam janjinya.


"Habiskan sandwich mu!" tegas Damar tak membalas keseriusan Aleta.


Damar pun berdiri dari duduknya yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Aleta yang masih saja memasang wajah masam. Wanita itu juga tak peduli kemana Damar pergi, yang dilakukannya hanya menghabiskan sandwich lalu duduk termenung melihat orang-orang yang sedang asyik menaiki perahu bebek tersebut.


"Jika saja aku memiliki uang, mungkin aku tidak perlu mendapatkan persetujuan darinya." Batinnya jengkel.


.


.


.


.


Tak lama kemudian datang sebuah perahu bebek yang sengaja mendekat kearahnya, Aleta yang tampak bingung mencoba memicingkan mata, guna mempertegas pengelihatannya.


"Ayo cepat naik!" perintah seseorang dari dalam perahu.


"Damar? bukankah tadi dia menolak untuk menaiki perahu itu!" gumamnya terpaku sesaat.


"Kau mau naik tidak? kalau tidak aku akan meninggalkanmu di sini," ancam Damar sedikit memaksa.


Tanpa berpikir panjang, Aleta menghampiri tepi danau dan melangkah dengan hati-hati untuk bisa masuk ke dalam perahu. Setelahnya ia langsung terduduk di samping Damar.

__ADS_1


Ia mengedarkan pengelihatan ke seluruh dalam perahu, meski terbilang udik, Aleta tak peduli. Rasa keingintahuannya lebih besar dibandingkan rasa malunya.


"Cepat bantu aku mengayuh!" ucap Damar.


Aleta melihat Damar yang tengah sibuk mengayuh perahu, sebelum akhirnya ia ikut mengayuh pedalnya. Perahu pun berhasil berlayar di atas danau. Aleta nampak kegirangan, mimik wajahnya sumringah puas merasakan kesejukan semilir angin serta air danau yang begitu jernih.


"Ah!"


Aleta terkejut sehingga membuat Damar berhenti mengayuh sejenak dan segera menoleh ke arahnya.


"Ada apa?" tanya Damar penasaran.


"Kita meninggalkan barang-barang di sana!" ucapnya panik.


Damar menghela napas. "Kau tidak perlu khawatir, aku telah meminta petugas di sana untuk mengawasi barang-barang kita." Jelasnya.


"Ah, iya aku lupa!" serunya, "Seharusnya aku tidak perlu mengkhawatirkan masalah itu, kau kan bisa melakukan semuanya dengan mudah." Batin Aleta.


"Kau melupakan apa?" tanya Damar yang lagi-lagi dibuat penasaran oleh kata-kata Aleta.


Aleta menggelengkan kepala cepat diikuti senyum kakunya.


"Dasar wanita aneh." Kritik Damar sambil melanjutkan kembali mengayuh pedalnya.


Tiba di pertengahan danau, Damar kelihatan kesulitan mengayuh pedal yang semakin lama terasa berat. Kentara jelas keringat yang membanjiri dahinya hingga mengalir ke dagu, meskipun ia menyembunyikan rasa letih itu di depan Aleta dengan dalih gengsi.


Damar melihat arah kaki Aleta yang ternyata sejak tadi tak mengayuhnya, yang dilakukan Aleta hanya mengikuti gerak pedalnya.


"Kenapa kau tidak membantuku mengayuh perahu ini?" tanya Damar jengkel.


"Aku lelah." Jawabnya enteng.


Damar menatap sinis. "Mudah sekali kau menjawabnya. Cepat bantu aku!" perintahnya tegas.


"Tidak mau." Tolak Aleta cepat.


"Apa kau bilang!" geram Damar terbelalak.


"Kau kan pria, aku tidak perlu melakukan ini." Ucapnya seakan mengulang kalimat yang sempat dilontarkan Damar.


"Aarghhh!!" pekik Damar yang geram saat mendengar ucapan Aleta.


"Silahkan Tn. Damar lanjutkan mengayuhnya, kau itu kan pria kuat, pasti ini hal yang tidak sulit buatmu!" ledek Aleta seraya tersenyum puas akan keberhasilannya mengerjai Damar.


...💕💕💕...


*fyi, maaf lama update. aku disibukkan dengan dunia real life🙌❤️*

__ADS_1


__ADS_2