
..."Tidak ada manusia yang sempurna, semua orang munafik. Hidup penuh dengan kebencian, lalu pura-pura tidak di benci."...
...__________________________...
Semua pasang mata yang melihat adegan romantis itu ikut terharu dengan apa yang Damar lakukan pada Aleta, meski hanya sekedar mengecup kening. Sebagian dari mereka banyak bersorak penuh haru dan memberikan tepuk tangan.
Mereka juga ikut mengabaikan foto serta video pasangan itu dari ponsel masing-masing, lalu memposting di media sosial yang mereka miliki dengan caption seromantis mungkin.
Sementara Emir mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil mengeraskan rahang. Ia tak terima putrinya di sentuh oleh pria yang kini menjadi musuh terbesarnya.
Begitu kesal dan tak suka dengan perlakuan Damar yang sengaja mencium kening putrinya itu di depan orang banyak, membuat Emir berniat menghampiri Damar namun, segera dihentikan oleh Kemal.
Kemal tak ingin rencananya gagal hanya karena sikap emosional yang tengah ditunjukkan Emir padanya. Kendati ia tahu persisi bagaimana perasaan sahabatnya itu, ketika melihat putri semata wayangnya dilecehkan di depan banyak orang.
Bagi Kemal dan Emir pernikahan mereka hanyalah sampah tak berarti dan itu sebabnya Emir tak menyukai Damar menyentuh Aleta walau sejengkal pun.
Baginya Aleta tetap putrinya, meski ia terpaksa melibatkan Aleta dalam masalah dendam pribadinya dengan keluarga Emilio. Semua ia lakukan agar keluarga Emilio mati dalam kesengsaraan seperti yang dirasakannya dahulu.
"Tahan, kau jangan gegabah!" tegas Kemal menghentikan langkah Emir.
"Harus ku beri pelajaran, anak muda itu," geram Emir menatap tajam.
"Jika kau bersikap seperti ini, maka rencana kita akan gagal. Tahan emosimu," pinta Kemal sambil memberi kode pada anak buahnya untuk melanjutkan rencana kedua.
"Aku akan menghampiri mereka, kau bersembunyi lah," sambung Kemal sebelum melangkah pergi.
Kemal berjalan mendekati Damar dan Aleta, ia berdeham di depan mereka guna menyudahi adegan yang dianggap menjijikan itu.
"Ekhemm!"
Aleta menyadari keberadaan Kemal sesaat mendengar suara baritonnya. Segera Aleta menjauhkan diri dari Damar dan bersikap santai seolah tak terjadi apa-apa, meski kentara dari pipinya yang kini bersemu merah.
Damar pun turut mengikuti sikap yang Aleta tunjukkan kepada Kemal, keduanya tersipu malu. Terlihat salah tingkah di depan Kemal, lantas Damar menghilangkan rasa malu dengan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana serta netra matanya mengerling tak tentu arah.
__ADS_1
"Selamat datang Tn. Damar," sapa Kemal membuka suara setelah melihat keduanya telah berjauhan dan mengulurkan tangan.
Damar menerima uluran tangan itu sambil berkata, "ya, terima kasih atas undangannya." Balas Damar seraya tersenyum elegan.
"Selamat datang Ny. Aleta," ucap Kemal yang kini beralih menyapa Aleta.5p,
"Ya." Aleta membalas sapa itu dengan tersenyum kikuk sambil bersalaman dengan Kemal.
Damar mendekati Aleta saat melihatnya bersentuhan tangan dengan Kemal, cepat-cepat ia menarik tubuh Aleta untuk semakin menempel dengannya. Ia sengaja melakukan itu agar Kemal tak berlama-lama bersalaman dengan istrinya.
"Bisa kau lepaskan tanganmu itu," singgung Damar menatap sinis Kemal sambil menyoroti tangan keduanya.
Aleta mengerinyit lalu segera melepaskan tangan. Lagi-lagi aksi Damar yang tak terduga itu sukses membuatnya terkejut sekaligus bingung. Pria itu selalu berhasil meluluhkan hatinya.
"Suamimu sentimen juga ya," ejek Kemal dengan menyeringai.
Damar terkekeh sinis. "Aku memang sentimen pada pria yang ingin menyentuh Istriku," balas Damar tak ingin kalah.
"Oh, begitu rupanya. Tapi, kau jangan salah paham. Aku dan Istrimu hanya sebatas pengasuh di saat dia kecil, tidak mungkin kau bisa cemburu melihatku bersalaman dengannya," perjelas Kemal menyunggingkan senyuman, meski di balik senyum itu penuh dengan kemunafikan.
"Bisa tidak kalian hentikan percakapan ini, aku risi mendengarnya. Percakapan kalian membuatku haus!" gerutu Aleta sambil mencoba melangkah pergi namun, digagalkan oleh Damar.
"Tunggu! aku ikut bersamamu," tutur Damar sambil merangkul pinggang ramping milik Aleta. "Kalau begitu, kami ke sana dulu, Mr. Kemal," pamit Damar sebelum melangkah pergi meninggalkan Kemal yang mulai kesal.
Kemal memaksakan senyumnya di depan Damar dan Aleta. "Silahkan! nikmatilah pesta ini sesuka kalian, semoga kerasan." Kemal menekan kata di akhir kalimatnya dengan tatapan mata tak terbaca.
Damar dan Aleta melangkah menuju meja sajian. Keduanya terlihat berbisik-bisik di depan Kemal, sesekali tampak Aleta berusaha menjauhkan diri dari Damar namun, segera dicegah pria itu.
'Kita lihat saja nanti, setelah ini tidak akan ada lagi adegan menjijikan yang bisa kalian perlihatkan pada dunia. Matilah dalam kesengsaraan.'
Kemal menatap punggung keduanya sambil menatap bengis dan mencengkram kuat tongkat kakinya. Sorot mata tajamnya sangat mengerikan meski hanya memakai satu mata.
Tanpa disadari ternyata sikapnya itu dilihat oleh dua anak kecil bertubuh gempal dan bertubuh kecil. Mereka tampak ketakutan saat menyaksikan Kemal. Bahkan es krim yang saat ini mereka genggam, ikut bergetar akibat rasa takut.
__ADS_1
...***...
Erick hampir tiba di lokasi namun, sayang ia harus mengalami kendala saat ban mobilnya terselip antara bebatuan besar. Ia terus mencoba menekan pedal gas agar ban mobilnya lolos dari bebatuan itu.
Tampak dari kejauhan, seseorang tengah menatap ke arah mobil Erick. Seseorang itu sedikit membuka jendela dan meneropong ke arah ban mobil Erick. Ia menyeringai sebelum akhirnya menghubungi Bosnya.
"Dia terjebak, Bos," ucapnya pada Bosnya itu.
"Bagus, lanjutkan rencananya!"
"Baiklah."
Setelah mengakhiri percakapan dari balik ponsel, seseorang ini melanjutkan rencana sesuai yang di perintahkan oleh Bosnya. Ia terus memastikan dari dalam mobil sampai rencana yang di perintahkan berjalan lancar.
.
.
.
.
Erick mulai frustasi setelah 15 menit berjuang meloloskan mobilnya dari bebatuan itu. Akhirnya ia keluar dari mobil dan berniat untuk berjalan kaki, meski memakan waktu cukup banyak.
Celingak-celinguk melihat sekeliling lingkungan, berharap ada salah satu kendaraan yang berbaik hati memberikan tumpangan untuknya, agar segera tiba di lokasi.
Erick melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. "Masih ada waktu 20 menit lagi, ku harap ada kendaraan yang melewati jalur ini," desisnya penuh harap.
Begitu setengah melangkah, Erick mendengar suara kendaraan beroda empat. Cepat-cepat ia menoleh ke belakang dan menjulurkan tangan, guna memberi kode tumpangan untuknya.
Mobil itupun berhenti tepat di sampingnya. Erick segera masuk ke dalam mobil itu tanpa bertanya atau melihat kejanggalan yang ada di dalam mobil. Rasa curiganya hilang sesaat pikirannya terlalu berfokus pada keadaan Damar saat ini.
Erick duduk di belakang kemudi dan melihat ke arah luar jendela. Tepat saat matanya menangkap tiang rambu penunjuk jalan yang tak sesuai seperti diminta. Sedangkan ia telah memberitahukan kepada sang Sopir untuk membawanya ke Pokut Yaylasi.
__ADS_1
Deg!
...♥️♥️♥️...