
..."Setelah dilahirkan ke dunia, setiap orang punya perahunya masing-masing. Orang lain tidak bisa mendayung perahu milikmu."...
...________________...
Acara telah berlangsung sejak beberapa jam yang lalu. Kemeriahan semakin terasa setelah lantai dansa dipenuhi oleh beberapa pasangan yang hendak menggelengkan badan mengikuti irama musik.
Damar menarik tangan Aleta untuk ikut menari di atas lantai dansa itu namun, segera ditolak oleh Aleta sebab ia tak ingin melakukan apapun di acara itu.
"Ayo kita berdansa," ajak Damar bersemangat seraya mengulurkan telapak tangan di depan Aleta.
Raut wajah Aleta tampak datar sambil menggelengkan kepala cepat dan segera menghindarinya, tetapi Damar menghadang kepergian Aleta. Ia memaksa wanita itu untuk mengikuti permintaannya.
"Ikuti apa mau ku! jika tidak, maka kau akan ku cium di depan mereka semua," ancam Damar bersikukuh seraya menatap tajam.
Mata Aleta membulat lebar kala mendengar ucapan Damar yang berani dan to the point. Rasanya ingin sekali ia melayangkan bogem mentah di bibir Damar saat itu juga jika saja tangannya tidak digenggam kuat oleh Damar.
'Berengsek! Mudah sekali dia bicara seperti itu di depanku,' gerutu Aleta bergumam menatap sinis sambil mengepalkan tangan.
"Kau pikir aku takut dengan ancaman itu, Tn. Damar Emilio Kyler," tantang Aleta dengan berani.
Damar menyeringai penuh arti dari balik senyum miringnya itu, seakan memiliki maksud dari ucapan yang sengaja ia lontarkan kepada Aleta.
Melihat kepercayaan Aleta yang tak yakin dengan ucapannya membuat Damar segera menarik Aleta untuk mendekat ke dalam dekapan tubuhnya.
Damar menarik dagu Aleta dengan jari telunjuk dan ibu jari agar wajah Aleta menengadah tepat ke arahnya. Deru napas bisa Aleta rasakan ketika wajah Damar semakin mendekat.
Bahkan wangi parfum ciri khasnya menyeruak di kedua rongga hidung Aleta. Wangi candu yang selalu berhasil membuat Aleta melemah saat berada didekatnya.
Aleta menelan saliva susah payah sebelum akhirnya ia menahan napas agar tak mencium aroma candu Damar.
Melihat reaksi Aleta yang dapat ditebak Damar membuatnya terkekeh kecil meski masih dapat ditahan agar tak terlihat olehnya.
Damar menatap lekat kedua pipi Aleta yang mulai memerah bak tomat matang serta kedipan mata yang sejak tadi terus mengerjap tak karuan.
Baru saja ingin melancarkan aksinya, justru segera dihentikan oleh seseorang wanita paruh baya bertubuh tambun yang datang secara tiba-tiba menarik kerah kemeja Damar.
Keduanya terkejut dengan kehadiran wanita itu yang langsung bergelayut manja di samping Damar, ia melingkari kedua tangan pada leher Damar sehingga secara tak sengaja genggaman tangan Aleta terlepas begitu saja.
"Boleh aku pinjam pria mu sebentar, Nona," ucapnya memaksa.
__ADS_1
Aleta tergemap sejenak sebelum tersenyum kikuk. Pikirnya, itu kesempatan bagus agar ia tak selalu berdekatan dengan Damar.
"Silahkan," balas Aleta singkat.
Damar menoleh dan mengerinyit tak menyangka jika Aleta akan semudah itu mengizinkan seorang wanita untuk bersama dengannya.
Sementara sepengetahuannya Aleta tak menyukai Damar berdekatan dengan wanita sekalipun usia wanita itu tak lagi muda, terlihat saat ia mati-matian memperebutkan dirinya dari Yuri hingga harus beradu fisik di atas ring tinju.
'No ... no!' ucap Damar lirih seraya menggelengkan kepala kecil diikuti sorot mata yang mengisyaratkan permohonan.
"Nikmati sesuka anda. Pria ini dapat membuat anda senang dan puas," kelakar Aleta ketika melihat respon Damar yang tampak tak suka dengan kehadiran wanita itu.
"Benarkah! Kalau begitu, temani aku berdansa," ujar Wanita bertubuh tambun itu seraya menarik Damar untuk pergi ke lantai dansa.
'Aleta, kau benar-benar membuatku marah, setelah ini terima akibatnya, kau tidak akan bisa lari dariku!' gumam Damar menggerutu sembari menatap sengit.
"Bersenang-senanglah!" seru Aleta diikuti senyum lebarnya.
Damar pasrah begitu dipaksa mengikuti langkah wanita itu yang membawanya pergi ke lantai dansa. Terlihat raut wajahnya tampak kesal, mulutnya tak lepas merancaukan beberapa umpatan.
...***...
Erick memasangkan headset bluetooth di telinga kanannya, lalu menekan tombol power. Ia menghubungi salah seorang yang merupakan ketua dari kelompok itu.
Panggilan tersambung saat terdengar sautan dari sebrang sana. Erick menanyakan prihal keberadaan serta kondisi di lokasi tersebut.
"Bagaimana?" tanya Erick.
"Kami hampir tiba dan sepertinya, kawasan ini telah dipantau oleh orang-orang suruhan dia,"
"Berhati-hatilah, lawan yang kita hadapi bukan orang sembarangan!" terang Erick dengan pesannya.
"Mungkin aku akan telat sebab ada yang harus aku bereskan saat ini," sambung Erick seraya menatap tajam spion mobil.
"Baik kami mengerti."
Panggilan itu berakhir setelah menghentikan mobil di pinggir jalan. Ia kembali memantau mobil yang ada di belakanganya, ternyata mobil itu ikut berhenti dengan jarak yang cukup jauh.
Erick keluar dari mobil dan berpura-pura memeriksa mesin dengan membuka kap mobil. Rupanya itu salah satu bagian dari rencana untuk mengelabui para penguntit.
__ADS_1
Langkah kaki ia percepat saat memasuki hutan dengan dipenuhi pohon-pohon yang menjulang tinggi. Dedaunan yang telah kering dan banyak berjatuhan di tanah membuat suara langkahnya terdengar.
Tak lama Erick mendengar suara bariton pria yang berbicara dengan temannya serta derap langkah kaki yang tengah berlari menyusuri hutan.
"Kemana pria itu?" tanya pria bertato naga di pundaknya.
"Cepat sekali dia kabur," sahut temannya seraya mengedarkan pandangan.
"Cepat cari, sebelum dia berhasil ke tempat itu!" Perintah pria yang mengenakan kain penutup wajah.
Mereka pun kembali melangkah mencari keberadaan Erick yang saat ini tengah bersembunyi dibalik batang pohon besar.
Erick menilik ke empat orang itu yang dua diantaranya telah ia kenal. Masing-masing dari mereka memegangi senjata.
'Aku harus bisa menghindari mereka agar segera menemui Tn. Damar,' gumamnya sebelum melangkah.
Tepat setelah kepergian Erick, salah satu dari ke empat orang itu melihat Erick dan sontak meneriaki Erick sehingga yang lain ikut menoleh ke arah yang ditunjuk temannya.
"Hei, berhenti disana!" Pekik salah seorang dari kelompok itu.
"Kejar dia, cepat!" Perintah pria bertato.
Mendengar teriakan itu Erick segera berlari menaiki atas bukit. Napas yang memburu tak menyurutkan langkahnya untuk terus berusaha menghindari mereka.
"Hei, berhenti!" teriak ke empatnya secara berganti sambil mengejar Erick.
Melihat Erick mengacuhkan perintah, pria yang mengenakan kain penutup wajah mengeluarkan peluru dari dalam pistolnya.
Dentuman keras yang mengenai batang pohon memekik telinga membuat Erick refleks menunduk dan menyembunyikan diri guna menghindar dari tembakan tersebut.
Erick pun membalas tembakan itu, ia mengincar salah seorang yang terlihat begitu dekat dengan tempat persembunyiannya.
Shoot!
Peluru berhasil tertancap di kening pria itu setelah Erick membidik tepat sesuai sasaran yang diinginkan. Pria itu tergeletak lemas di atas dedaunan kering.
Ketiga orang itu segera menyembunyikan diri dari balik batang pohon begitu melihat temannya terkena tembakan oleh Erick.
Kini, Erick dan ketiga orang itu terlihat saling menyerang. Mereka terus membidik ke arah persembunyian Erick begitu juga sebaliknya, Erick tak mau kalah meski harus melawan tiga orang sekaligus.
__ADS_1
...❤️❤️❤️...