
..."Akibat tersulut emosi, aku melakukan kesalahan besar dan mempermalukan diri sendiri."...
..._______...
Pagi ini Aleta memberanikan diri untuk mendatangi kantor polisi, dengan mengenakan masker penutup mulut dan juga topi hitam, ia menceritakan semua kejadian yang dialaminya akhir-akhir ini.
Segera Aleta menuju bagian sentra pelayanan kepolisian terpadu, begitu tiba. Namun sebelum menceritakan kejadian tersebut, ia diminta data pribadi mengenai dirinya oleh petugas disana. Tetapi data yang diberikan mengenai dirinya justru data palsu, ia memalsukan semua identitasnya tak terkecuali alamat sewa rumahnya.
Sudah sejak lama sebenarnya ia memalsukan semua identitas dirinya begitu kabur dari panti asuhan. Ia tidak lagi memakai nama Aleta Queenby Elvina melainkan mengubahnya dengan nama Kyla Panagiota.
Jelas ia memiliki alasan mengapa dengan sengaja mengganti nama itu, alasan yang sejak lama dirahasiakan olehnya. Kini orang-orang hanya mengenalnya sebagai Kyla wanita si introvert.
Setelah dua jam lamanya berada di dalam sana, akhirnya ia keluar dengan perasaan lega, sebab laporannya sudah diterima dan akan ditindaklanjuti setelah petugas polisi mengkaji semua penuturan Aleta secara teliti.
Langkahnya tampak ringan saat hendak berjalan keluar dari Kantor kepolisian. Tepat di area parkir, terlihat sosok pria yang berada di dalam mobil menatap Aleta tajam. Begitu tak sukanya ia melihat Aleta yang merasa begitu tenang.
Pria itu mengikuti langkah Aleta menggunakan mobil pribadinya. Pandangannya tak lepas dari sosok Aleta kendati ia melajukan mobilnya perlahan. Sampai tiba dimana Aleta mampir ke salah satu cafe, pria itu terus mengikutinya.
Ia juga turut serta masuk kedalam cafe dan duduk tepat menghadap Aleta yang hanya berselisih satu meja. Dilihatnya wanita itu yang sibuk menghitung isi tabungannya.
"Bodoh!"
Gumam pria itu sembari menyeringai sebelum pelayan cafe mendatanginya.
"Silahkan mau pesan apa, Tuan?" tanya sang Pelayan telah siap mencatat di atas secarik kertas
"Tidak ada," tolaknya datar dan singkat.
"Lalu, ada yang bi..." ucap sang pelayan terpotong.
Menyerahkan kotak kecil, "Berikan kotak ini, pada wanita itu!" sanggahnya memberi perintah sembari mengeluarkan beberapa lembar uang, untuk diberikannya pada pelayan tersebut.
Pelayan tersebut lantas memasukan uang kedalam saku apron yang melekat di kaos hitamnya dan menghampiri meja Aleta dengan membawakan kotak kecil untuknya.
"Maaf Nona, ini untuk anda!" serunya pada Aleta.
__ADS_1
Aleta mendongak, menatap pelayan itu seraya memerhatikan kotak yang dipegangnya.
"Untuk saya?" tanyanya heran sambil mengerutkan dahi.
"Iya, ini diberikan oleh Tuan yang duduk disana!" jawabnya sambil mengarahkan tangan ke meja di depan.
Pandangan Aleta segera beralih menatap meja di depannya yang justru tidak ada siapa pun yang duduk disana, sebab pria itu telah pergi beberapa detik yang lalu dan membuat Aleta tidak dapat mengetahui sosoknya.
Karena rasa keingintahuannya pada isi kotak tersebut, ia segera membukanya dan tercengang setelah mendapati ponsel miliknya dalam keadaan hancur berkeping-keping di dalam kotak tersebut.
Aleta mengambil secarik kertas yang terlampir di bawah kepingan ponselnya. Sebuah pesan ancaman yang tertulis disana.
"Ini hadiah untukmu! bagaimana, kau suka melihatnya? Selanjutnya, bukan hanya ponselmu yang akan ku buat hancur, tapi kau dan segala kehidupanmu akan merasakan hal yang sama seperti keadaan ponselmu saat ini."
Setelah membaca pesan singkat itu, Aleta semakin membelalakkan matanya lebar-lebar, kini sekujur tubuhnya telah meruak hawa panas bahkan kertas itu digenggamnya kuat-kuat hingga kusut. Wanita itu sangat marah pada seseorang yang dituding sebagai pelaku yang menerornya selama ini.
Ia mengedarkan pandangan, menelisik beberapa orang yang tampak mencurigakan. Terlihat sosok pria berkaca mata hitam tersenyum licik dari luar cafe yang mengarah padanya. Pria itu begitu santai duduk di atas kap mobilnya.
Bergegas lari menghampirinya, sebelum ia lolos dari tangkapan. Aleta sangat mencurigai pria itu semua gerak-gerik dari wajah dan sikapnya membuat Aleta semakin yakin bahkan sangat yakin.
Begitu emosinya Aleta meninju pria itu tanpa ampun. Tidak peduli dengan rintihan dan perkataannya, ia terus membabi buta wajahnya dengan pukulan keras tangannya, walau ia juga merasakan sakit pada jari-jarinya.
Menghantam wajah dan perut. "Terima semua ini sialan! anggap pukulan ini sebagai balasan teror sampah mu itu!" hardik Aleta semakin meradang.
Untung saja seorang wanita paruh baya datang dan dengan cepat menghentikan aksi brutal Aleta sebelum pria itu berakhir di rumah sakit atau bisa jadi di pemakaman. Beliau mendorong dan menarik rambut Aleta, hingga sang empunya merintih.
"Apa yang kau lakukan padanya?" pekiknya ikut tersulut emosi melihat aksi Aleta.
"Jangan ikut campur, pria ini harus ku habisi sekarang!!" bentaknya tak peduli.
"Jangan sentuh Anakku, dasar wanita ******!!" caci wanita paruh baya itu yang ternyata ibu dari pria yang saat ini terduduk lemah di batu carport.
Wanita paruh baya itu membantu anaknya berdiri sambil terus memberikan sumpah serapahnya pada Aleta. Wajahnya tampak begitu marah dan habis kesabaran, karena tanpa alasan yang jelas, Aleta memukulnya hingga babak belur.
"Biarkan saya memukulnya, saya sudah muak mendapat ancaman darinya," ucap Aleta belum juga puas akan aksinya.
__ADS_1
"Dasar gila, bagaimana bisa Anakku mengancam mu sedangkan dia tak bisa melihat!!!" balasnya yang kini membuat Aleta tersentak luar biasa.
Perdebatan diantara keduanya pun terhenti. Sejenak Aleta merutuki dirinya karena kebodohannya ia melukai seseorang dan sulit mengontrol emosi.
Segera ia meminta maaf pada pria itu dan ibunya kendati permintaan maaf Aleta ditolak mentah-mentah oleh keduanya.
Mereka juga berniat melaporkan tindak kriminal Aleta kepada polisi. Dengan berat hati Aleta bersimpuh pada keduanya, memohon agar kejadian itu tidak sampai di tangan polisi.
Jika polisi mengetahui kejadian yang ia lakukan maka identitasnya dapat terbongkar dan masalahnya akan berbuntut panjang, ia sudah pasti akan masuk kedalam sel tahanan jeruji besi.
...•••...
Wajahnya terus tertunduk begitu petugas kepolisian mendengar penuturan dari wanita paruh baya tersebut. Petugas polisi itu dapat mengenali jelas Aleta, karena saat beberapa jam yang lalu Aleta juga baru saja melaporkan tindak kejahatan padanya.
Petugas polisi menggelengkan kepalanya pelan, melihat tindakan Aleta yang menghakimi seseorang tanpa bertanya terlebih dahulu. Kini laporannya telah dibatalkan oleh pihak kepolisian, karena tindakan kriminal yang baru saja dilakukannya.
"Maaf Nona, laporan anda kami batalkan dan sekarang, anda kami tahan sementara sampai Wali anda datang. Jika selama 24jam Wali anda belum juga hadir, maka hukuman bisa kami perpanjang selama sang pelapor mencabut laporannya."
Ucapan petugas polisi hanya bisa diterima Aleta dengan pasrah. Bagaimana bisa ia mendatangkan seorang Wali dari keluarganya, sementara ia hanya hidup seorang diri.
Kini ia harus membiasakan diri hidup didalam sel tahanan, entah sampai kapan. Ia hanya berharap wanita paruh baya itu segera mencabut laporannya.
Selama 7 jam penuh Aleta terduduk di sudut tembok jeruji besi. Wajahnya terus bertengger di kedua lengan dan matanya terpejam, mencoba menahan semua beban beratnya untuk tidak lagi menangis.
"Nona, anda bisa keluar sekarang!"
Suara gemericik kunci yang beradu dengan gembok sel, terdengar jelas dari telinga Aleta dan ia senang mendengar ucapan petugas polisi yang mengatakan jika ia terbebas dari hukuman.
"Silahkan temui Wali anda!"
"Wali??" keningnya berkerut.
Ucapan petugas itu, membuatnya bingung sekaligus kaget. Siapa orang yang datang dan mengaku sebagai Walinya. Walau sempat dipikirnya jika wanita paruh baya itu telah mencabut laporannya, nyatanya salah.
Aleta berdiri sejenak diambang pintu masuk, ketika menghampiri pria yang mengaku sebagai Walinya. Ia menelaah pria tegap dengan setelan jas hitam rapi, sedang berdiri membelakanginya.
__ADS_1
"Ekhm,"
...♡♡♡...