
Erick memandangnya dengan tatapan tak mengenakan sebab ternyata suster itu tidak mau mendengar pesannya. Sekali lagi Erick memerintahkan suster itu untuk segera kembali ke dalam mobil namun, kehadiran suster itu justru disambut antusias sang penjaga gerbang.
"Suster Rebecca!" serunya ketika melongo dari dalam pos penjaga sembari menyunggingkan senyuman.
Sontak Erick melihat ke arah sang penjaga dengan raut wajah bingung sekaligus kesal, sebab semenit yang lalu tatapan sang penjaga terlihat tak suka dengan kehadirannya namun, kini tatapan itu seketika berubah merekah layaknya kumbang yang baru saja menghisap madu dari setangkai bunga.
"Pagi, Pak!" balas suster yang bernama Rebecca itu.
Erick mengerinyit melihat interaksi keduanya yang tampak saling mengenal, bahkan tak segan-segan sang penjaga itu segera membukakan pintu untuk Rebecca dan mempersilahkannya masuk tanpa memperdulikan Erick yang masih berdiri mematung di depan gerbang.
Erick menguping, mencoba mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan hingga seserius itu. Sesekali sang penjaga melihat sinis ke arahnya dan Erick pun membalas dengan tatapan yang sama. Ia meyakini jika kedua orang itu sedang membicarakan dirinya.
"Hei!" panggil Rebecca kepada Erick sembari mengayunkan tangan agar Erick melihat ke arahnya.
Erick menoleh dengan gengsi yang kemudian bertanya, "apa?"
"Cepat kemari!" pinta Rebecca setengah berteriak.
Tanpa pikir panjang Erick segera melangkah masuk ke dalam. pikirnya, suster itu berhasil merayu sang penjaga untuk memberikan izin kepada Erick agar diperbolehkan masuk dengan dalih profesinya sebagai suster.
"Kalau begitu saya permisi ya, Pak," pamit Rebecca menarik tangan Erick untuk berjalan beriringan.
"Ya, kalau perlu apa-apa, bisa panggil saya, ya!" sahut penjaga itu dengan sumringah, tapi tidak untuk Erick.
Penjaga itu memasang raut wajah beringas pada Erick, terlebih melihatnya bergandengan bersama Rebecca. Kedua alis saling bertaut karena Erick tidak memahami arti raut wajah sang penjaga itu.
Sambil membalas senyuman, Rebecca setengah berbisik pada Erick. "Ayo, cepat jalan!" perintah Rebecca mempercepat langkahnya dengan menarik lengan Erick.
Erick yang masih diambang kebingungan hanya mengikuti saja. "Ada bagusnya juga aku mengajak suster ini untuk ikut!" gumamnya tersenyum tipis.
__ADS_1
Mereka pun berjalan menyusuri jalan pedesaan dengan berbekal informasi yang diberikan Rebecca. Ternyata suster itu sempat tinggal di sana, ketika dirinya di tugaskan untuk menjadi sukarelawan di salah satu daerah.
"Pantas saja orang itu mengenalmu dan kau sangat mengetahui nama-nama daerah di sini," tutur Erick tak lagi penasaran dan bingung.
Rebecca tersenyum malu-malu, sebenarnya ia ingin mengatakan hal itu pada Erick ketika di perjalanan namun, Erick terlihat tak suka jika ia berbicara di dalam mobil oleh sebab itu ia membungkam mulutnya.
"Oh iya! kita belum berkenalan, namaku Rebecca," ucapnya sumringah sembari mengulurkan tangan ke arah Erick.
Erick melirik ukuran tangan itu dengan membalas, "Ini bukan saatnya untuk berkenalan!" sahut Erick sebelum melengos pergi begitu saja meninggalkan Rebecca yang masih berdiam diri di tempat.
...***...
Aleta menekan nomor seseorang dari layar ponselnya, meski sebelumnya ragu-ragu. Namun, ia memberanikan diri untuk menghubungi seseorang itu demi mengakhiri pertikaian yang terjadi saat ini.
"Jemput aku di depan gerbang desa!"
Tanpa penjelasan lebih lanjut, Aleta mengakhiri pesan suara itu dan menggantungkan ponsel di dalam genggamannya sembari menatap ke arah luar jendela. Entah apa yang akan ia lakukan setelah ini, jika bertemu dengan sang ayah.
Terlebih Aleta mencurigai Kemal yang ikut menjadi komplotan bersama sang ayah dan tidak sampai di situ saja, Aleta juga meragukan kebutaan yang dialaminya. Semua ingin ia cari tahu sendiri tanpa mendengar dari orang lain lagi.
Tak berselang lama terdengar dering ponsel milik Aleta, ia menekan tombol hijau dan mendengar si pemanggil itu bicara. Tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulutnya, ia hanya cukup mendengar dan setelahnya mematikan ponsel tersebut.
Aleta memantapkan langkahnya untuk pergi dari sana, tempat persembunyian dirinya bersama Damar dari pencarian Emir dan juga Kemal. Tak ada satupun yang tahu jika Aleta kabur dari rumah itu.
Sedangkan Aleta tak menyembunyikan wajahnya dari orang-orang di sana, ia melangkah tegak di depan para warga yang saat itu tengah sibuk dengan aktivitas paginya. Sementara dari kejauhan terlihat Devano sedang mengintai dirinya.
"Bunuh saja dia!" perintah Kemal setelah Devano melaporkan padanya.
Perintah itupun segera dipatuhinya. Devano mengeluarkan senjata api dari saku celana dan mengarahkannya pada Aleta setelah sebelumnya ia membidik tepat di punggung Aleta.
__ADS_1
Devano menekan pelatuk pada senjata tersebut dan keluarlah isi satu peluru dari dalamnya yang hendak mendekat ke arah Aleta. Sementara hampir beberapa langkah lagi kaki itu mendekati pintu gerbang namun, tiba-tiba suara tembakan memekik cukup keras, hingga membuat orang-orang di daerah tersebut berlarian tak tentu arah karena ketakutan.
Bahkan mereka sempat berteriak kala menyaksikan seseorang yang tergeletak tak berdaya di atas tanah dengan darah segar yang mengalir dari atas kepalanya. Aleta terperanjat saat melihat pria itu mati tepat di bawah kakinya.
Rasa ketakutan pun ia rasakan saat itu, hingga tak mampu berjalan sebab keterkejutan itu membuatnya menganga lebar dan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Sementara orang-orang berlarian kesana-kemari di depannya.
.
.
.
.
Emir pun ikut terkejut mendengar suara tembakan dari dalam pedesaan tersebut. Ia keluar dari dalam mobil setelah mendapatkan laporan adanya seseorang yang tertembak di sana dan segera memerintahkan anak buahnya untuk segera membawa Aleta pergi dari tempat itu.
"Cepat bawa anakku keluar dari tempat itu!" perintah Emir setelah melihat Aleta dari teropong jarak jauh.
Sebagian anak buahnya itu pun mematuhi perintah Emir dan bergegas menghampiri. Mereka menarik Aleta untuk mengamankannya dari tembakan tersebut.
Benar saja, suara tembakan itu terdengar kembali yang kali ini mengenai lengan anak buah Emir. Tak tinggal diam, ia pun membalas tembakan tersebut ke arah Devano yang menyembunyikan diri di balik tembok rumah.
"Cepat bawa dia!" perintah salah satu anak buah Emir.
"Amankan Aleta!" sambung salah satunya.
"Baik," sahut temannya mematuhi.
Aleta menatap jelas suasana kegemparan yang terjadi di desa itu, melihat bagaimana rasa ketakutan dan kegelisahan mereka dengan raut wajah sedih saat melihat salah seorang warga mereka terkena tembakan.
__ADS_1
Air mata yang sempat terbendung kini mengalir deras, lagi-lagi ia menyalahkan dirinya karena tragedi yang baru saja terjadi. Kericuhan yang terjadi di desa itu akibat keberadaannya.
...♥️♥️♥️...