
Damar ingin sekali tahu mengenai asal-usul kehidupan terdahulu Aleta, mulai dari penyebab kematian ibunya, mengapa ia sampai tinggal di panti hingga tujuannya mengubah semua identitas diri. Rasa penasaran itu terus menggelayuti pikiran sejak Damar tersadar dari keadaan koma.
Seperti di datangi mimpi yang nyata, Damar mendengar suara Isak tangis seorang wanita yang saat itu tengah memeluknya erat. Dekapan dan sentuhan jari-jemarinya begitu terasa hangat di tubuhnya.
Sayup-sayup terdengar wanita itu terus memanggil namanya, suara yang tak lagi asing di pendengaran. Dalam mimpi itupun Damar turut memanggil nama Aleta setelah suara wanita itu lama-lama menghilang tak lagi terdengar. Damar terus mencari dan memanggil, namun tak ada satupun sautan yang ia terima.
Rupanya itu bukanlah sebuah mimpi, melainkan kejadian nyata yang memang pada saat itu Aleta datang menjenguknya, namun sayang setelah kepergian Aleta dari kamar itu, Damar justru siuman.
Rasa cemas dan khawatir pada Aleta membuatnya tersadar karena merasa kehilangan saat tak lagi mendengar suara Aleta dari dalam mimpinya. Damar membuka mata perlahan-lahan sambil menyebut nama Aleta lirih diikuti bulir air mata yang menetes di ujung ekor matanya.
Damar mengingat semua kejadian saat ia koma, cerita itu disimpannya sendiri tanpa memberitahukan kepada Erick setelah beberapa menit yang lalu Ajudannya itu menceritakan bahwa Aleta menangis sambil memeluk saat menjenguknya, persis seperti mimpi yang dialaminya.
"Jadi itu bukanlah sebuah mimpi? pantas saja aku dapat merasakan kehadirannya. Pelukan dan sentuhan hangat itu mampu membuatku tersadar dari koma, apa itu karena ketulusannya padaku?"
Bergumam penuh tanya. Ia terus berpikir apakah Aleta juga merasakan hal yang sama seperti dirinya saat ini, sedangkan yang ia ketahui, Aleta tak pernah terlihat bahagia saat di dekatnya, wanita itu hanya akan marah dan mengoceh saat bersama Damar.
Ting!!
Dering ponsel berbunyi menampilkan notifikasi pesan masuk pada layar benda pipih. Damar meraih ponsel itu yang berada di dekatnya, melihat dan membuka isi pesan yang datang dari Erick.
Erick mengabarkan bahwa Aleta besok pagi di perbolehkan untuk pulang, sebab keadaannya sudah lebih baik. Mendengar kabar itu, Damar memerintahkan Erick untuk menjemputnya dan terus mengawasinya. Ia tak ingin kejadian Aleta pergi secara diam-diam terulang kembali.
Saat pagi menjelang, Erick sudah tiba lebih dulu sebelum Aleta selesai bersiap-siap. Pria itu menunggunya di luar ruangan setelah menyelesaikan semua administrasi.
__ADS_1
Tak lama Aleta keluar dari ruangan sebelum dirinya berpamitan dengan nenek yang juga seorang pasien di sana. Ia dan nenek itu jadi dekat setelah pesan yang disampaikan membuatnya tersadar. Keduanya bahkan sering berbincang-bincang dan tak lupa memberikan nasihat padanya.
"Silahkan Nona," ucap Erick mempersilahkan Aleta untuk berjalan lebih dulu.
Aleta menatap Erick tanpa membalasnya. Ada sesuatu yang ingin ia katakan pada Ajudannya Damar itu, namun rasanya berat untuk mengucapkan karena ia tahu dengan jawaban yang akan diterimanya, terlebih sudah mendengar langsung dari ucapan Damar.
"Ada yang ingin Nona sampaikan?" Erick bertanya setelah membaca dari sorot mata Aleta.
Aleta menggelengkan kepalanya, bibirnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan itu, meski ingin sekali jujur pada Erick bahwa ia ingin berpamitan pada Damar sebelum pulang.
"Baiklah kalau begitu, mari Nona," ucapnya kembali mempersilahkan.
Aleta pun berjalan lebih dulu dan disusul oleh Erick yang berjalan di belakangnya. Tiba di lorong menuju ruang kamar Damar, Aleta berhenti sejenak sambil menoleh ke arah lorong itu.
"Aku pamit pulang dulu, segeralah sehat agar kau bisa kembali pulang ke rumah. Aku tidak ingin berada disana tanpamu!"
Gumam Aleta sebelum melangkahkan kakinya kembali. Sementara Erick menilik sikap Aleta yang seakan-akan ingin menemui Damar, namun enggan untuk mengatakan hal itu padanya.
Damar menatap ke arah luar jendela sambil duduk di kursi roda, raut wajahnya tampak sendu. Rasanya ingin sekali ikut pulang bersama Aleta, sebab ia tak suka berlama-lama berada di Rumah Sakit.
"Aku harus segera sehat agar bisa kembali ke Rumah dan meninggalkan tempat yang menyesakkan ini!"
Gumam Damar bersikukuh untuk dapat sehat kembali, meski beralasan tak menyukai berada di Rumah Sakit. Ternyata Damar memiliki alasan lainnya untuk sehat, yaitu Aleta. Kini, Aleta lah yang menjadi prioritasnya untuk bisa segera sehat.
__ADS_1
Damar ingin kembali ke rumah bersama dengannya, rasanya ia rindu sekali berdebat dengan wanita itu saat tidak sedang dengannya. Aleta mampu membuatnya kesal sekaligus gemas melihat tingkahnya secara bersamaan.
Aleta tiba di kediaman rumah Damar, ia turun dan langsung di sambut hangat oleh para pelayan disana. Ada sedikit rasa canggung dan asing saat melihat sikap pelayan yang tak biasa itu.
Aleta melewati mereka yang sedang berdiri berjajar di depan pintu masuk sambil mengulas senyum ramah. Mendapat keramahan dari para pelayan itu, membuat Aleta mau tak mau ikut membalas senyum mereka, meski kaku.
"Selamat datang kembali ke Rumah, Nona Aleta!" sambut ketua pelayan itu sambil mengulas senyum.
"Apa aku salah masuk Rumah? kenapa mereka jadi seramah ini padaku, padahal setahuku pelayan di sini memiliki sifat dan karakter yang sama seperti majikannya."
Gumam Aleta sambil melewati mereka dengan terus mengerlingkan mata dan senyum kakunya. Tampak aneh memang tapi itulah yang Damar perintahkan kepada mereka.
Damar meminta semua pelayan dan petugas untuk bersikap ramah pada Aleta, bahkan ia juga meminta mereka untuk menyambut kedatangan Aleta saat wanita itu tiba di Rumah.
Tujuan Damar melakukan itu hanya ingin membuat Aleta nyaman berada di Rumahnya, ia mau Aleta menganggap Rumah itu sebagai Rumahnya juga agar Aleta kerasan di sana.
"Saya akan mengantar anda ke kamar, Nona," ajak salah seorang pelayan sambil berjalan di belakangnya diikuti Erick yang mengikuti keduanya.
Aleta merasakan keanehan yang terjadi di Rumah itu setelah kepulangannya, atmosfer terasa berbeda. Jika kemarin suasananya terasa dingin kini tergantikan dengan kehangatan dan keramahan dari orang-orang yang berada di dalamnya.
Begitu tiba di depan pintu kamar Aleta segera membukanya, ia dikejutkan dengan beberapa buket bunga yang berada di atas ranjangnya, mulai dari seikat bunga mawar merah, bunga Daisy merah muda hingga bunga gardenia putih, semua bunga yang diberikan Damar memiliki artinya masing-masing.
Aleta menghampiri dan melihat bunga-bunga cantik itu, terlampir selembar kartu di dalam buket. Ia membaca satu persatu pesan yang tertulis di atas kartu tersebut.
__ADS_1
Aku mau rekomendasi salah satu temanku nih, karyanya Dwi msari, kuy mampir ya guys👇