
..."Sejahat apapun seseorang, dia masih bisa berubah. Bisa saja dia kembali menjadi lebih baik, sebab dia manusia yang dapat mengubah karakter hidupnya sendiri."...
...__________...
Damar terbahak-bahak saat mendengar jerit Aleta yang memanggil dirinya. Ia membayangkan bagaimana raut wajah kekecewaan Aleta saat mengetahui kapal itu telah berlayar tiga puluh menit yang lalu.
Rencana itu ia susun masak-masak agar Aleta tak bisa pergi darinya. Rupanya selain memiliki sifat arogan dan keras kepala, ia juga cukup jail pada Aleta.
...***...
Aleta menatap dirinya dalam pantulan cermin di kamar mandi setelah dirinya selesai berganti pakaian. Kemeja putih polos yang sempat di berikan oleh Damar memang terlihat longgar di tubuhnya tapi tidak untuk di bagian bawahnya, sebab panjang kemeja itu hanya sebatas pahanya saja.
"Aku tidak yakin tidur dengan pakaian seperti ini!" batinnya ragu.
Saat Aleta baru saja keluar dari pintu kamar mandi, tiba-tiba saja Damar datang menghampiri dan terperangah saat melihat Aleta dengan kemeja yang dipakainya.
"Kau sud--" ucapnya menggantung.
Damar mematung sesaat, ia menyoroti Aleta dari ujung kepala hingga ujung kaki dan beralih memandang kemeja yang dikenakannya, netra matanya membulat lebar saat terfokus pada kedua paha dan kaki jenjangnya.
Damar menelan saliva susah payah, ia terus menghayati pandangannya sebelum akhirnya berimajinasi liar di dalam otaknya. Godaan itu terus menerus meracuni pikirannya, hingga membuat sang Mr. P tegang.
"Ah! sexy ...," desisnya yang terdengar seperti kata-kata nakal.
Ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut Damar yang membuatnya tidak dapat mengontrol hasratnya. Sementara Aleta merasakan jika di otak Damar telah di penuhi pikiran kotor saat menatap dirinya dengan tatapan binal.
Karena kesal Aleta refleks menendang bagian Mr. P milik Damar dengan dengkulnya, hingga membuat sang empunya mengejan kesakitan diikuti erangannya.
"Dasar mesum!" maki Aleta saat berlalu pergi meninggalkan Damar yang menahan rasa denyutnya.
Terseok-seok Damar melangkah menuju kamar mandi, guna memastikan keadaan aset berharganya. Berharap masih bisa berfungsi dengan baik.
"Sial, wanita itu benar-benar gila! karena dia kepala dan perutku jadi sakit secara bersamaan. Bisa-bisanya dia menendang aset berhargaku. Lihat saja, aku akan membalasnya!" geram Damar seraya mengobati sang adik.
*fyi, awas jangan ngebayangin,😅*
.
__ADS_1
.
.
.
Aleta tiba di kamar lebih dulu, ia melihat isi kamar yang hanya memiliki satu ranjang tempat tidur. Sambil menggerutu, Aleta mencari cara untuk mengamankan dirinya dari kejahatan Damar.
"Kapal pesiar mewah tapi hanya memiliki satu ranjang dan satu kamar! cih." Gerutu Aleta berdecak sebal.
Begitu mendengar suara derap langkah kaki, Aleta cepat-cepat membanting tubuhnya di atas ranjang dan berguling menempelkan tubuh pada selimut putih tebal dan terkesiap membungkus tubuhnya yang di percaya tidak akan dapat tersentuh oleh Damar.
Damar pun masuk ke dalam kamar menatap heran Aleta dengan selimut putih yang melekat mengitari tubuhnya, persis seperti kue lemper yg terbungkus daun pisang. Damar menghampiri sambil berkacak pinggang, menelaah maksud dari tujuan Aleta yang sengaja melakukannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Damar berdiri memandangi tingkah anehnya.
"Apa? memang aku melakukan apa?" tanyanya balik terkesan menantang.
"Kau takut aku melakukan sesuatu padamu," tebak Damar benar.
Aleta terkekeh. "Omong kosong. Aku tidak takut." Sahutnya membela diri.
Segera Aleta berbalik mengalihkan pandangannya
berusaha tak menanggapi ucapan Damar, namun sepertinya Damar senang menggoda Aleta.
Damar duduk disampingnya dan mengunci pergerakan Aleta dengan kedua tangan yang menempel di atas kasur berdekatan dengan wajahnya, sehingga membuat Aleta melirik ke kiri dan kanannya sebelum akhirnya netra matanya menatap Damar.
"Kau pikir dengan begini akan membuatmu aman?" tanya Damar seraya melirik sekilas selimut tebal itu.
Seketika ucapan Damar membuat Aleta memeriksa kembali selimut tersebut. Ia berusaha mengangkat kepalanya guna melihat dirinya yang masih terbalut aman, meski sedikit ragu.
Damar menarik salah satu sudut selimut yang dekat dengan wajah Aleta, sambil berkata. "Hmm, aku harus mulai dari mana ya?" ledeknya seperti orang berpikir.
Lagi-lagi ucapan Damar membuat Aleta ketakutan, ia berusaha bangun dari tidurnya diikuti suara teriaknya. Sayangnya dengan cepat Damar mendorong kembali tubuh Aleta ke atas ranjang dengan kasar.
Ia menarik kembali sudut selimut dan mendekat ke arah wajah Aleta dan memajukan bibirnya, mencoba menggoda Aleta dengan cara menciumi area wajahnya. Aleta merasa terintimidasi dengan sikap Damar, cepat-cepat ia menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan, guna melawan bibir Damar yang hendak menciumnya sambil berteriak agar Damar menghentikan aksinya.
__ADS_1
Damar terkekeh geli melihat reaksi Aleta yang ketakutan setengah mati, ia masih belum cukup puas menggoda Aleta.
Sambil berdiri, Damar berkata. "Hmm, Ini tidak akan membuatmu aman, jadi berhentilah!"
Aleta melirik takut.
Tak sampai di situ, Damar kembali beraksi, ia menarik selimut itu kasar hingga membuat Aleta terguling dan berakhir jatuh dari atas tempat tidur, sampai-sampai terdengar suara keras dari lantai vinly yang beradu dengan tubuhnya.
Aleta merintih sakit pada sekujur tubuhnya dan Damar hanya tersenyum puas dengan apa yang diperbuatnya saat itu. Ia beranggapan perlakuannya belum sepadan dengan yang Aleta lakukan pada Mr. P miliknya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Aleta emosi begitu ia berdiri.
"Kau bilang tidak takut," Jawabnya santai. "Aku tidak akan melakukan apapun padamu," sambungnya.
"Ishh!" Aleta mendengus kesal.
Tidak peduli dengan kemarahan yang dirasakan Aleta, justru Damar dengan santainya merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan kembali menggoda Aleta.
"Mau tidur bersamaku!" ledeknya dengan raut wajah seceria mungkin, sambil menepuk-nepuk ranjang.
"Tidak terima kasih." Tolak Aleta cepat.
"Kalau begitu selamat malam." Sapa Damar, "Ah iya, matikan lampu jika kau keluar," sambungnya memberi perintah.
"Argghhhh!!" geram Aleta mengepalkan tangan, ingin sekali meninju wajah menyebalkan Damar.
...***...
Aleta berjalan keluar dari kamar setelah mematikan lampu kamar yang telah diperintahkan Damar. Ia melangkah menuju ruang piano yang sempat di datanginya.
Merasa tempat itu paling aman dari tempat-tempat yang lain. Ia menjadi paranoid akibat melihat aksi dan sikap Damar barusan, sehingga membuatnya harus menyembunyikan diri dari pria yang dianggapnya mesum.
Membaringkan tubuhnya di atas sofa empuk dan meringkuk, sebab ukuran sofa tersebut tak sama dengan tinggi badannya. Sialnya, Aleta lupa membawa selimut tebal itu.
"Bodoh, kenapa aku bisa lupa membawa selimut itu bersamaku! tidak mungkin aku kembali ke sana, aku tidak mau pria batu itu terus-terusan membuatku jengkel." Gumam Aleta merutuki dirinya.
Tak ingin kembali ke kamar Damar untuk mengambil selimut, Aleta justru memilih untuk tidur tanpa selimut. Ia hanya mengunakan alas taplak meja untuk menutupi sebagian tubuhnya, agar tak terlalu terbuka.
__ADS_1
"Selamat malam Aleta, semoga pria batu itu tak berbuat macam-macam padamu." Monolognya penuh harap.
...💕💕💕...