Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
13 - Whisky


__ADS_3

..."Kekuatan cinta ternyata mampu membuat seseorang berubah menjadi pribadi yang berbeda dalam waktu persekian detik."...


..._______...


Aleta dan Damar kini berada di dalam mobil, mereka akan kembali pulang setelah menyelesaikan sesi prewedding yang cukup melelahkan.


Suasana begitu hening tak ada satu pun dari mereka yang membuka suara termasuk juga Erick yang saat ini sedang duduk di kursi kemudi.


Erick melirik keduanya di depan kaca spion mobil, keduanya terlihat saling mengalihkan wajah dan duduk berjauhan.


"*E**khmmm*!!"


Erick berdeham, memancing keduanya agar melihat kearahnya. Namun usaha yang dilakukannya tak membuahkan hasil, keduanya tetap menatap kearah jendela mobil.


"Sulit sekali memancing dua manusia yang sama-sama berwatak keras kepala ini!" Batin Erick terus menggerutu.


Suasana yang sangat tak diinginkan, membuat dirinya frustasi sendiri. Ia hanya bisa menghela napas panjang sambil mengusap dada, berharap dapat bertahan dalam situasi itu.


...•••...


Aleta selesai membersihkan diri ketika sampai di rumah Damar, ia melangkah menghampiri pintu kaca balkon kamar, sebelum akhirnya dibukanya pintu tersebut.


Kembali ia menatap langit malam, setelah sebelumnya ia sempat melihat hanya dari dalam mobil, ketika hendak berjalan pulang.


Langit malam yang penuh dengan taburan bintang dan bulan yang tampak cantik menggantung diatas sana melengkapi kesempurnaan yang diciptakan Tuhan.


Hembusan angin malam pun ikut menyapanya saat ini. Rambut ikalnya yang dibiarkan tergerai berayun mengikuti arah angin.


"Apa keputusan yang ku lakukan ini, memang jalan yang terbaik untukku? Entah sampai kapan aku bisa bertahan dengan dunia yang baru saja kujalani, walau sejujurnya aku tak ingin hidup diatur kesepakatan."


Sambil menatap langit, Aleta bergumam berharap keluhnya dapat didengar sang Pencipta dan memberikan jawabannya.


Sementara dari ruang yang berbeda, Damar juga ikut menikmati langit malam dari dalam jendela kamarnya. Sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada, ia kembali teringat akan suasana sesi pemotretan.


Dimana tirai putih itu terbuka dan memerlihatkan Aleta yang berdiri di hadapannya dengan gaun dan riasan yang berbeda dari diri Aleta yang biasa, meski dandanannya tidak begitu mencolok namun mampu membuat Damar terpanah.


Ia juga sempat berkata dalam hati bahwa Aleta terlihat begitu cantik, kendati egonya terlalu tinggi untuk ia katakan langsung dihadapannya.


Perlakuannya terhadap Aleta ketika di depan kamera, bisa di katakan itu adalah kekuatan hatinya yang menuntunnya untuk bersikap lembut dan hangat.

__ADS_1


Dan hal itu pun yang sedari tadi dipikirkannya, bagaimana bisa seorang Damar yang memiliki sifat egois, dingin dan sangat membenci Aleta bisa dengan mudah menghangat ketika manik mata keduanya sama-sama bertemu dalam jarak yang sangat dekat.


"Sepertinya aku kurang tidur, itu sebabnya aku bertingkah di luar dugaanku!"


...•••...


Pagi hingga siang Aleta di sibukkan dengan fitting baju dan segala agenda kegiatan yang berhubungan dengan acara pernikahannya. Tapi itu hanya ia lakukan di kediaman Damar, sebab Damar tak membiarkannya pergi keluar. Damar tak ingin mengambil resiko jika Aleta merusak susunan rencananya.


Sementara Damar tetap melanjutkan pekerjaannya di Kantor, ia tetap disibukkan dengan segala aktifitasnya. Ia tidak mempercayai rekan kerjanya begitu saja, setelah kejadian penghianatan yang dilakukan rekan kerja Ayahnya terdahulu dan itu sebagai pelajaran buatnya untuk lebih berhati-hati memperkerjakan orang lain.


Tok!


Tokk!!


Seorang wanita masuk begitu mengetuk pintu tanpa menunggu Damar untuk memintanya masuk. Wanita itu melangkah manja kearahnya.


"Damar, ayo kita makan siang bersama! sudah lama sekali kita tidak makan bersama," ucapnya sembari merangkul lengannya di pundak Damar.


"Pergi jangan ganggu aku," tolak Damar tegas tanpa menoleh kearahnya.


"Ayolah, sebentar saja!" paksanya lagi yang kali ini menarik tangan Damar.


Damar memekik didepan wanita yang bernama Han Yuri, sambil melepaskan tangannya kasar dari genggaman Yuri dan ia tak sekalipun menoleh kearahnya.


"Jahat! Kau sungguh keterlaluan, aku pikir makan siang ini akan menjadi perpisahan terakhir kita, sebelum kau menikah dengan wanita yang tak jelas itu!!" Han Yuri membalas ucapan Damar, kesal.


Sementara Damar tak lagi merespon ucapannya, ia tetap menatap lembaran-lembaran kertas yang berada diatas mejanya.


Merasa diacuhkan Yuri melangkah pergi sambil mendengus kesal pada Damar yang tak pernah mau menatapnya. Kendati mereka sempat berteman baik ketika kuliah di tempat yang sama dan kedua orangtua mereka juga pernah menjodohkan keduannya.


Sayangnya harus kandas, sebab Damar memilih untuk membalaskan dendam orangtuanya melalui Aleta anak dari rekan bisnis sang Ayah


Walau sebenarnya Damar memiliki perasaan yang sama seperti Yuri, tetapi harus ditahannya. Oleh sebab itu, Damar tak berani menatap mata Yuri.


...•••...


Alunan musik jaz didalam bar mampu menghipnotis pengunjung yang hendak melepaskan stress atau penatnya, dengan santai mereka duduk sambil menikmati segelas whisky yang ditambah dengan ice didalamnya.


Damar yang juga berada disana sendiri ikut menikmati whisky yang telah diminumnya, hingga gelas yang sudah tak dapat terhitung lagi. Raut wajahnya tampak gusar dan bimbang.

__ADS_1


Ia menumpahkan segala perasaannya pada minuman beralkohol itu. Sulit dirasanya melepaskan cinta pertamanya terhadap Han Yuri.


"Berikan aku segelas lagi," pintanya dengan suara parau khas orang mabuk.


"Maaf Tuan, tapi anda sudah terlalu banyak minum," tolak bartender sopan.


"Berikan cepat!!" bentaknya sembari menarik kerah kemeja bartender.


"Ba...baik Tuan." sahutnya terbata-bata.


Ia pun menuangkan kembali whisky kedalam gelas yang digenggam Damar. Sambil tersenyum melihat isi gelas tersebut, Damar merancaukan beberapa kalimat yang tak jelas.


Sudah hampir satu jam setengah Damar berada disana dan enggan melangkah pergi, walau bar akan segera tutup.


"Maaf Tuan, kami akan segera tutup!"


Tegur salah satu petugas sambil membangunkannya yang sudah tertunduk diatas meja bar. Karena tak ingin ambil pusing, petugas bar itu menelepon Erick untuk membawa Damar pergi dari sana.


Setibanya disana, Erick segera membopong tubuh Damar untuk masuk kedalam mobil dengan dibantu petugas bar. Setelahnya ia segera melaju ke arah pulang menuju mansion.


"Tidak biasanya dia minum sebanyak itu, sampai mabuk begini! Apa yang sedang dipikirkannya?" gumam Erick melirik.


Erick menatap Damar dari dalam kaca spion, ia memang tak pernah mengetahui jalan percintaan Bosnya itu, sebab Damar tak pernah menceritakan masalah percintaannya pada siapapun.


...•••...


Tiba di kediaman Damar, Erick membantunya berjalan masuk. Namun Damar menolak dengan tegas, justru ia meminta Ajudannya itu untuk segera pulang.


Karena Damar sudah memberi perintah, Erick hanya bisa menuruti semua ucapannya. Ia bergegas pulang, meninggalkan Damar yang masih terhuyung-huyung.


Damar meraih benda-benda yang sekiranya dapat membantunya tetap berdiri dan memapahnya berjalan, agar segera tiba di kamar. Beruntung akhirnya ia berhasil menaiki anak tangga.


Sementara Aleta yang baru saja keluar dari kamarnya karena hendak ingin mengambil air minum menghentikan langkahnya, ia melihat Damar yang berjalan gontai menuju kearahnya


Tiba-tiba saja Aleta terbeliak hebat dengan sikap Damar yang menyandarkan keningnya tepat di pundak Aleta.


"Maaf karena aku harus melukai perasaanmu lagi dengan ucapanku! Aku sangat mencintaimu, sangat!"


...♡♡♡...

__ADS_1


__ADS_2