
..."Orang lain tidak akan mengerti apa yang kau rasakan, jika ia tidak pernah berada di posisi yang sama."...
..._______________________...
Bodyguard Damar terus membuntuti wanita itu, tepat dibalik tembok gang sempit, ia menghentikan langkahnya dan bersembunyi di sana karena melihat wanita itu tengah mendekati mobil sedan berwarna hitam.
Tampaknya wanita itu sedang membicarakan sesuatu dengan seseorang dari balik jendela mobil yang hanya terbuka sedikit. Interaksi keduanya membuat sang bodyguard mengerutkan kening sebab tak dapat mendengar percakapan antar keduanya.
Namun, hanya bisa melihat seorang pria berkaca mata yang duduk di dalam mobil. Ia mengeluarkan ponsel dan mencoba merekam keduanya lalu, mengirimkan rekaman itu kepada Erick.
.
.
.
.
Ponsel Erick bergetar di atas kasur saat dirinya tengah melakukan sarapan pagi di Rumah Sakit. Netra matanya beralih ke arah ponsel, melihat notifikasi pesan yang masuk.
Setelah membuka isi rekaman itu, Erick pun segera menghubungi bodyguard Damar. Memberi perintah agar terus memantau wanita tersebut karena Erick yakin, pria berkaca mata yang ada di dalam mobil adalah Emir.
Erick juga meminta bodyguard itu untuk menyamar menjadi penduduk di sana, supaya memudahkannya untuk mengintrogasi rencana yang sedang mereka lakukan.
Seketika panggilan itu terputus begitu saja, saat Dokter dan suster datang menghampiri Erick. Ia segera meletakkan ponsel di tempat semula, lalu menyamarkan raut wajah sakitnya.
"Bagaimana Erick? apa kau hari ini jadi untuk pulang?" tanya Dokter meyakinkan Erick setelah semalam ia mendengar Erick meminta untuk pulang.
"Iya, Dok. Saya sudah merasa lebih baik." Erick bicara dengan rasa percaya diri.
"Sebenarnya lukamu belum kering dan aku tidak bisa mengijinkan pasienku untuk pulang tapi ...," ucap sang Dokter terhenti.
"Tapi apa, Dok?" tanya Erick penasaran.
"Tapi aku akan mengijinkan kau untuk pulang dengan syarat," saran Dokter yang tiba-tiba disela oleh Erick.
"Kenapa harus memakai syarat? saya sudah lebih baik," tolak Erick segera sambil memukul tangannya untuk meyakinkan sang Dokter, bahwa dirinya tak merasa sakit sedikitpun.
__ADS_1
...***...
Damar menghadapkan tidurnya ke arah Aleta. Dilihatnya wajah wanita itu dari samping, tampak pucat dan sedih. Damar tak habis pikir, bagaimana bisa Emir meledakkan gedung sementara Aleta ada di sana saat kejadian itu berlangsung.
'Apa yang sebenarnya terjadi? mengapa dia berniat membunuh anaknya sendiri? bukankah target dia adalah aku, tapi?'
Muncul banyak pertanyaan di benak Damar. Semula ia pikir Aleta merupakan komplotan ayahnya, namun kini ia sadar bahwa Aleta hanya dimanfaatkan oleh Ayahnya sendiri sebagai umpan agar masuk dalam perangkap permainan Emir dan juga Kemal.
Damar mengepalkan tangan kuat-kuat kala menyebut nama Kemal. Pria tua berkaki tongkat itu telah berani-beraninya membohongi Damar, ia yakin Kemal juga terkait dalam pembunuhan orangtuanya.
'Kalian telah berani melukai orang-orang yang aku sayang, tunggu akibatnya karena sebentar lagi kalian akan menerima balasannya.' Damar berucap sungguh-sungguh, ia tak akan tinggal diam setelah kejadian ini.
Tak lama terdengar suara lirih Aleta yang memanggil nama bundanya. Dengan mata terpejam, Aleta terus menyebut nama yang tak dikenali Damar. Damar bersusah payah untuk bangun dan segera menghampiri Aleta.
"Bunda Azra ...." Aleta terus menerus memanggil nama itu.
"Aleta!" panggil Damar segera.
Datang wanita paruh baya yang saat itu membawakan sarapan untuk Damar. Dilihatnya punggung Damar yang sedang berada di samping ranjang Aleta, karena khawatir ia melangkahkan kakinya untuk segera masuk dan meletakkan nampan di atas meja.
"Minggir! ada apa?" tanya wanita paruh baya itu setelah berhasil meminta Damar untuk menyingkir.
"Bunda Azra ...," panggil Aleta sekali lagi menyebut nama itu.
Wanita paruh baya itu terdiam sejenak saat mendengar nama yang terlontar dari bibir pucat Aleta. Bulir air mata menetes begitu saja dari pelupuk mata, hatinya meringis pilu.
Ia menggenggam tangan Aleta sambil bicara dalam hati. "Bunda di sini, Nak."
Rupanya wanita paruh baya itu adalah Bunda Azra yang sempat merawat Aleta ketika di panti Asuhan. Ia kembali pada Aleta setelah bertahun-tahun lamanya dan Bunda Azra ini merupakan satu-satunya saksi kunci cerita kehidupan keluarga Emir.
Ia memberanikan diri keluar dari tempat persembunyiannya selama ini karena mendengar kabar dari salah seorang pekerja di panti asuhan, bahwa Kemal dan Emir mengundang Aleta pada acara pesta di gedung yang letaknya tak jauh dari kawasan pedesaan rumahnya.
Untungnya saat tragedi ledakan itu terjadi, Bunda Azra dan beberapa warganya sudah standby di dekat lokasi namun, mendengar kabar akan adanya ledakan dari gedung itu mereka harus bersembunyi di balik bukit menunggu ledakan itu usai.
Namun, Bunda Azra mendengar teriakan rintihan seseorang dari belakang gedung. Cepat-cepat ia berlari melihat dua korban yang tergeletak di atas tanah dengan satu pria yang masih meringis kesakitan dan satu wanita yang sudah pingsan tak sadarkan diri.
Saat tahu bahwa wanita yang menjadi korban itu adalah Aleta, ia pun meminta para warga untuk membawa Damar dan Aleta pergi menjauh dari lokasi itu, sebelum diketahui oleh Emir dan juga Kemal.
__ADS_1
.
.
.
.
Setelah mendapatkan sentuhan hangat dan lembut dari tangannya, Aleta kembali tenang. Bunda Azra memeriksa kondisi Aleta yang sedikit mulai membaik daripada sebelumnya.
Damar menghela napas lega begitu mendengar kondisi Aleta dari wanita yang merawatnya. Entah siapa wanita paruh baya yang saat ini berdiri dihadapannya itu, Damar tak begitu ambil pusing.
"Terima kasih," ucap Damar tulus.
"Pergi isi tenaga mu dulu!" perintah Bunda Azra seraya menoleh ke arah nampan yang berisikan sepiring nasi dan semangkok soup serta air mineral.
"Aku tidak lapar," tolak Damar kembali melangkah ke tempat tidurnya.
"Dasar keras kepala!" umpat Bunda Azra.
Damar menoleh sengit ke arah wanita yang belum ia kenal namun sudah berani mengejeknya, bahkan wanita itu tak takut sedikitpun dengan tatapan Damar yang dikenal mengerikan.
"Berhenti bersikap seperti itu, apa kau pikir kondisimu yang sekarang bisa melawan mereka?" ungkap Bunda Azra melanjutkan ucapannya.
"Melawan mereka? apa maksud perkataannya?" Damar bergumam penuh pertanyaan.
"Makanlah, selagi aku masih berbaik hati memberikan fasilitas yang baik buat mu!" celetuknya membuyarkan tanda tanya Damar. Setelahnya ia melangkah pergi.
...***...
Erick berdecak kesal sambil mengusap-usap rambut tampak frustasi, setelah ia berjalan keluar dari pintu masuk Rumah Sakit dan hendak menuju parkir mobil. Ia menyesali permohonannya pada Dokter itu.
"Hei, dengar ya!" Erick memutar badannya seraya menunjuk-nunjuk kepada lawan bicaranya.
Lawan bicaranya itu malah tersenyum senang dihadapannya, sehingga membuat Erick semakin frustasi. Erick menghela napas panjang berusaha menahan rasa kekesalannya.
"Dengarkan aku! kau bebas kemanapun asal tidak mengikuti ku dan anggaplah ini hari libur kerjamu selama beberapa minggu ke depan, tidak perlu khawatir pada Dokter itu karena aku yang akan mengurusnya, mengerti!" Erick memberikan pesan kepadanya sebelum melangkah pergi.
__ADS_1
Greb!
...♥️♥️♥️...