Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
54 - Ketidaktahuannya


__ADS_3

..."Dalam hidup, terkadang kita butuh berhutang budi atau perlu menyusahkan orang lain. Karena kehidupan memanglah seperti itu, butuh bantuan dari seseorang tidak ada salahnya, jadi jangan tahan deritamu seorang diri."...


..._____________________...


Damar membelalakkan mata setelah melihat keberanian Aleta yang berjalan di tengah-tengah mobil yang melintas, bahkan dengan santainya wanita itu sambil bernyanyi tak jelas.


Mendengar pejalan kaki yang histeris meneriakinya, membuat Damar keluar dari dalam mobil. Ia melihat pengendara truk melaju cukup kencang, cepat-cepat langkahnya menghampiri Aleta. Rasa kecemasan itu tergerak dengan sendirinya tanpa peduli sumpah janji yang baru saja ia tekankan di dalam hati, bahwa tak akan lagi menaruh perhatian dengan keadaan Aleta.


Tinnnnn!!!!!!!


Bunyi klakson mobil begitu nyaring hingga memekakkan telinga bagi semua pengguna jalan yang saat itu berada di tempat kejadian. Aleta masih asyik dengan dunia halusinasinya, hingga tak mengindahkan seruan mereka.


Brakkkkkk!!!!


Terdengar dentuman keras saat truk tersebut menabrak seseorang yang kini tengah tergeletak tak berdaya di depan kendaraan itu. Suasana semakin gaduh dan heboh setelah melihat seseorang itu mengeluarkan darah dari kepala belakangnya.


Mereka menghampiri meski tak berani melihat secara dekat, cepat-cepat salah seorang menelepon petugas kepolisian dan petugas rumah sakit agar segera mendapat pertolongan.


"Sudah ku katakan, kau hanya boleh mati di tanganku sendiri!"


Batin Damar memandangi Aleta yang tergeletak tak jauh darinya, tangannya terulur berusaha menangkap Aleta dengan jari-jari lemahnya. Meski tak akan bisa digapai, namun ia ingin melihat Aleta dalam keadaan baik-baik saja sebelum akhirnya Damar menutup mata tak lagi sadarkan diri.


Tak lama terdengar bunyi sirine mobil polisi dan ambulance menghampiri tempat kejadian. Segera petugas Rumah Sakit memberi pertolongan pertama pada korban, mulai dari memeriksa tingkat kesadarannya hingga luka yang ada di sekujur tubuh korban.


Selagi itu petugas kepolisian pun menutup sementara jalan tersebut guna memeriksa olah TKP dan salah satu pejalan kaki juga telah dimintai keterangan sebagai saksi mata dalam kecelakaan tunggal yang menyebabkan cedera parah pada dua korban yang kini tak sadarkan diri.


Keduanya pun masuk ke dalam mobil ambulance setelah di angkat menggunakan brankar. Aleta dan Damar di bawa menuju Rumah Sakit guna mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.


.


.


.


.


Drttt!!!


Ponsel Erick bergetar memunculkan nomor tak dikenal dari layar benda pipih tersebut. Walau merasa ragu-ragu menerima panggilan tak jelas, akhirnya ia menjawabnya.


"Maaf Pak, kami dari petugas kepolisian ingin mengabarkan bahwa saudara yang bernama Damar Emilio Kyler serta saudari bernama Aleta Quenby Kyler telah mengalami kecelakaan tunggal di jalan Kota." Beritahu petugas itu pada Erick begitu panggilan tersambung.

__ADS_1


"Kecelakaan!!!" Erick mengehentikan mobilnya secara tiba-tiba akibat rasa keterkejutan kabar itu, matanya terbelalak hebat hingga batinnya pun ikut terguncang.


"Saat ini kami dan korban sedang menuju Rumah Sakit Vaidam, bisa anda datang kemari?" tanya Petugas Kepolisian.


"Baik, saya segera kesana. Terima kasih Pak atas informasinya," ucap Erick sebelum menutup panggilan.


Erick memutar balik mobilnya ketika hendak menuju Rumah Sakit, raut wajahnya begitu panik dan takut pada keadaan Damar dan juga Aleta. Ia menekan gas lebih dalam agar secepatnya sampai di sana.


...***...


Damar dan Aleta di keluarkan dari mobil ambulance begitu tiba di depan pintu Rumah Sakit. Mereka berpisah di tengah-tengah lorong, satunya dibawa ke ruangan IGD sementara yang satunya menuju ruang ICU, karena sudah dalam kondisi kritis.


Keduanya pun kini dalam tahap penanganan dari beberapa Dokter dan butuh beberapa jam untuk menangani pasien di ruang ICU.


"Pasien hampir kehilangan banyak darah, Dok!" seru salah satu asisten Dokter yang ikut turut membantu di ruang ICU.


"Ambil tindakan secepatnya!" perintahnya sambil berusaha menutup bagian kepala yang terus mengeluarkan darah.


Tim Dokter tampak sibuk hingga berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan pasien yang kini tengah di ambang-ambang kritis saat alat pendeteksi jantung memperlihatkan kondisi grafik denyut jantungnya yang tampak tak normal.


Sementara pasien yang satunya telah selesai ditangani oleh Dokter meski belum sepenuhnya sadar, ia masih tertidur di atas ranjang Rumah Sakit dengan perban yang terbalut di kepala dan juga tangannya.


"Apa Keluarganya sudah datang?" tanya sang Dokter kepada Suster di depannya yang tengah menyelimuti tubuh pasien setelah menggantikan pakaian Rumah Sakit padanya.


"Baiklah kalau begitu, saya akan melihat ke sana!" ujarnya hendak berjalan.


Suster mengangguk. "Baik Dok."


.


.


.


.


Erick bergegas keluar dari mobil ketika memarkirkan mobil, ia berlari menuju ruang informasi yang ada di lobby. Setelah mengetahui keberadaan Damar dan Aleta, ia pun segera menghampiri ruang ICU yang berada di lantai 4.


Cepat-cepat Erick menekan tombol lift menuju lantai 4, begitu pintu terbuka Erick kembali berlari menyusuri lorong sepi dan mencari ruang ICU dari tanda panah yang terpasang di dinding Rumah Sakit.


Langkahnya terhenti perlahan begitu menemukan ruangan tersebut, ia takut untuk mendekati ruangan itu. Bayang-bayang tak mengenakkan terus mengusik pikirannya. Erick menggelengkan kepalanya berkali-kali, meneguhkan hati bahwa Bos nya akan baik-baik saja.

__ADS_1


Erick menatap suasana dalam ruangan ketika beberapa Dokter tengah sibuk menangani keadaan Damar. Ya, Damar kini dalam keadaan kritis akibat benturan hebat di belakang kepalanya yang terkena aspal hingga terpelanting beberapa meter dari truk yang menabraknya.


Bahkan kaca depan dari truk itu pecah tak tersisa karena tubuh Damar membantingnya, sehingga membuat Damar terlempar jauh bersamaan dengan Aleta yang juga ikut terseret.


Erick mengacak-acak rambut tampak gusar sambil berkacak pinggang. Rasanya ia telah gagal menjadi Ajudan yang telah di percayai keluarga Emilio untuk melindungi Damar dalam keadaan apapun.


Terduduk lemas di sebuah kursi yang ada di depan ruangan sambil tertunduk pilu, Erick merapalkan beberapa kata untuk kesembuhan Damar. Baru saja ia ingin memberikan kabar bahwa Andreas berkomplotan dengan Emir, Ayah Aleta.


...***...


2 jam berlalu Aleta menggerakkan jari-jari lalu mengerjapkan mata perlahan. Ia melihat langit-langit atap yang begitu asing kemudian melihat sekelilingnya yang ternyata telah di tutupi tirai sebagai sekat pemisah dengan ranjang pasien lainnya.


Aleta merintih perih pada kepalanya saat berusaha bangun untuk duduk. Dilihatnya tangan yang terpasang infusan lalu memegangi kepala dengan tangan satunya dan kembali merintih.


"Hisss, aw! kepalaku sakit sekali." Rintihnya.


"Apa yang terjadi padaku?" sambungnya menanyakan kepada dirinya sendiri.


Suster yang bertugas untuk memeriksa Aleta datang membawakan beberapa kantong infusan. Ia begitu senang melihat Aleta telah sadar.


"Anda sudah sadar, Nona?" tanyanya, "Saya periksa sebentar ya," sambungnya memeriksa keadaan Aleta memastikan bahwa keadaan tubuhnya telah kembali normal.


"Apa yang terjadi dengan ku?" tanya Aleta padanya.


"Anda baru saja mengalami kecelakaan, Nona." Jawabnya. "Syukurlah kondisi tubuh anda saat ini telah kembali normal," ungkapnya.


"Saya akan pulang sekarang, Sus!" tegas Aleta hendak melepaskan jarum infus secara paksa.


"Nona, belum di perbolehkan untuk pulang saat ini." Cegah sang Suster segera menghentikan Aleta.


"Tapi-" terpotong.


"Setelah anda membaik, anda bisa pulang," pesannya menidurkan tubuh Aleta untuk beristirahat dan setelahnya Suster itu pergi meninggalkan Aleta untuk memeriksa pasien lainnya.


Aleta terdiam memikirkan Damar yang sudah pasti akan bertambah marah karena kembali melihat Aleta tak lagi berada di rumahnya.


"Bagaimana ini, dia pasti akan memarahiku, jika tahu aku tidak berada di rumah!" ucapnya takut.


...💕💕💕...


*Terima kasih sudah membaca hingga di bab ini, jangan lupa tinggalkan jejak berupa like ataupun komentar ****ya🤗**** beri gift atau vote juga boleh banget 😅 *karena itu salah satu bentuk dukungan kalian atas karyaku😁***✌️**

__ADS_1


oh iya aku mau rekomendasi nih karya cerita dari sobat pena ku juga namanya Senja Merona, jangan lupa mampir ya kakak² ceritanya seru di jamin nagih sambil nunggu cerita ku kakak boleh mampir ke karyanya❤️



__ADS_2