Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
90 - Penyesalan


__ADS_3

..."Cara terbaik untuk mengetahui seseorang mencintaimu atau tidak, cukup lakukan satu hal, yaitu jangan paksakan dia untuk bertahan."...


...____________________...


Seusai Aleta membantu Damar mengantikan perban, ia hendak berjalan namun, terhenti saat tangan Damar menggenggam pergelangan tangan Aleta, hingga membuat tubuhnya berbalik dan terduduk tepat di sebelah Damar.


Aleta mencoba melepaskan tangannya namun, ditahan oleh tangan kekar Damar. Pria itu menelaah wajah Aleta lebih dalam, mulai dari bagian mata, hidung hingga bibir mungilnya. Semua ingin ia ingat di dalam memori otak.


Waktu kontrak pernikahan mereka tinggal beberapa bulan lagi, entah selepas dari surat perjanjian itu mereka masih bisa bersama ataukah dari salah satu justru berniat untuk tak lagi saling bertemu.


Maka dari itu, Damar ingin mengingat semua kenangan manis bersama Aleta terlepas masa-masa buruk yang pernah ia lakukan padanya. Mulai detik itu Damar berjanji tak akan membuat Aleta menangis karenanya.


Tangan kanan Damar menyentuh lembut pipi Aleta kemudian, mengecup lembut keningnya cukup lama. Ada rasa mendalam yang tak bisa diungkapkan bahwa Damar tidak ingin kehilangan Aleta. Seakan mengisyaratkan jika Aleta hanya milikinya dan Damar berharap Aleta tidak terluka sedikitpun, serta tidak akan meninggalkan Aleta.


Aleta tersentuh, jantungnya berdebar dan mata ikut terpejam. Merasakan bagaimana ungkapan ketulusan cinta yang diberikan Damar untuknya, membuat Aleta menitihkan air mata. Ingin sekali rasanya ia membalas dengan memeluk erat tubuh pria itu, bersandar di depan dadanya menumpahkan segala keresahan dan kegelisahan yang selalu bertengger di dalam hati. Namun tak dapat melakukannya sebab ia sadar, hubungan yang dijalaninya saat ini hanya bersifat sementara.


"Aku mencintaimu, Aleta." Damar mengungkapkan isi hati di depan Aleta seusai melepaskan kecupan itu.


Meski ucapannya setengah berbisik namun, berhasil membuat Aleta terbelalak dan membeku sesaat. Ia menatap kedua mata Damar, tersirat kejujuran pada kata-kata yang baru saja keluar dari mulutnya.


Kali ini terdengar sangat menyentuh hati hingga berhasil membuat perasaannya goyah. Aleta berada di antara kebimbangan. Lidahnya terasa kelu, sulit untuk merespon ungkapan Damar.


Tangan Damar menyentuh pipi Aleta sebelum akhirnya ia mendekati wajah Aleta, hendak mencium bibir wanita itu namun, sikapnya justru segera ditepis oleh Aleta.


Aleta mengalihkan wajahnya berusaha untuk menahan gejolak rasa keinginan yang sama dengannya. Damar pun mengurungkan niat untuk tak memaksa Aleta membalas ungkapan rasa cinta dan ciumannya, sadar jika posisinya hanya sebagai pria berengsek yang selalu Aleta sebutkan.

__ADS_1


"Maaf jika sikapku ini terlalu lancang, hingga membuatmu semakin marah. Aku tak akan memaksamu untuk menjawabnya, hanya saja aku ingin mengungkapkan perasaan itu sebelum penyesalan menghampiriku," terang Damar berkata dengan jujur, berharap Aleta memahami maksud sikap dan ucapannya barusan.


"Aku berharap setelah pernikahan ini berakhir, kita tidak perlu lagi saling bertemu." Perjelas Aleta tiba-tiba.


Aleta menahan diri untuk tidak menangis di depan Damar, kendati sejujurnya ia berat mengucapkan kalimat itu namun, ia harus melakukannya demi menepati janji yang sudah ia sepakati.


Tidak ada rasa cinta yang harus ia tinggalkan dalam pernikahannya. Terhitung sejak malam ini, ia kembali menanamkan perasaan benci kepada Damar agar mudah meninggalkan pria itu nanti.


"Bagiku, kau tetaplah pria berengsek yang paling ku benci!" sambung Aleta dengan menatap dingin lawan bicaranya sebelum berangsur pergi.


Bagai tertusuk duri sembilu, ucapan Aleta sukses membuat telak batinnya. Bagaimanapun ia tak mengharapkan kata-kata itu keluar dari mulutnya namun, begitulah cara Aleta untuk membuat Damar marah hingga ikut membencinya kembali seperti awal mereka bertemu.


Damar termangu setelah menatap kepergian Aleta dari ruangan itu. Ia mengepalkan tangan sebelum akhirnya mengusap wajah yang tampak gusar. Merasakan penyesalan yang akhirnya datang menghampirinya.


Seandainya saja pernikahan mereka tidak dilandaskan pada pembalasan dendam, mungkin perjalanan hidupnya bersama Aleta tak akan seburuk ini. Semua harus Damar terima, akibat perbuatannya yang sengaja menyusun rencana untuk membuat Aleta menderita justru berjalan tak sesuai yang diharapkannya dahulu.


...***...


Erick bergegas melangkah keluar dari kamar apartemennya setelah ia membersihkan diri dan menganti pakaian serba hitam lengkap topi yang berwarna senada.


Tiba di parkiran, ia masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankan mobilnya namun, tiba-tiba seseorang menghadang di depannya sehingga Erick menekan pedal rem secara mendadak dan membuatnya terkejut setengah mati akibat kemunculan seseorang yang sangat ingin ia hindari.


"Dasar gila, apa dia mau mati!" sembur Erick segera keluar dari dalam mobil dan menghampirinya.


"Apa yang kau lakukan, ha? kau bosan hidup!" celetuk Erick sambil berkacak pinggang saat ia berdiri dihadapannya.

__ADS_1


Tanpa membalas ucapan Erick, kini Erick kembali dibuat kaget dengan sikapnya yang secara tiba-tiba berjalan cepat melewatinya dan masuk ke dalam mobil miliknya sambil mengunci seluruh pintu.


Erick memutar badan dan melongo, menatap heran suster yang saat ini dianggapnya gila. Kembali Erick melangkah dan berdiri di depan pintu kemudi sebelum akhirnya ia mengetuk jendela mobil itu.


"Cepat keluar, jangan buang-buang waktuku!" serunya sambil menyilangkan tangan di depan dada.


Suster itu menggelengkan kepalanya berkali-kali. Entah apa yang ia inginkan hingga harus melakukan hal yang membahayakan dirinya sendiri jika saja Erick tak cepat-cepat menghentikan mobil itu.


Terdengar suara decak kesal dari mulut Erick, ia benar-benar dibuat kesal karenanya. Erick menghela napas dan mencoba berbaik hati bicara pada suster itu dengan nada bicara sangat halus.


"Bisa kita bicara saja di luar? aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau inginkan sekarang," bujuk Erick seraya memaksakan senyuman yang tampak kaku.


Suster itu membuka sedikit jendela mobil dan membalas ucapan Erick, "aku akan memberitahukan apa mau ku, setelah aku ikut denganmu."


Rupanya suster itu hanya berdalih agar dapat mengawasi Erick sesuai dengan perintah sang Dokter untuk tetap merawat Erick. Ia sengaja menunggu Erick di ruang basement yang panas dan juga sunyi itu hanya untuk memantau kegiatan Erick. Untung saja instingnya tepat saat yakin, bahwa Erick akan pergi setelah tahu dirinya tak berada di sana.


"Tidak! kau tidak bisa ikut denganku, cepat keluar sekarang!" perintah Erick merubah nada bicaranya tak selembut sebelumnya.


Erick menolak tegas permintaan suster itu untuk mengikutinya sebab ia tak mau mengambil resiko yang lebih besar, jika suster itu terluka atau bisa saja mati.


"Baiklah, kalau begitu." Suster itu menutup jendela dan menyalakan mesin mobil, hendak menjalankan mobilnya dengan sengaja menekan pedal gas bersamaan dengan koplingnya, sehingga terdengar suara dengungan dari mobil itu.


Ulahnya itu kembali membuat Erick panik, bagaimana tidak! suster itu ternyata belum memahami apapun tentang mobil, sehingga yang dilakukannya saat ini justru berdampak buruk pada kondisi mobil Erick dan juga dirinya karena mobil itu bisa saja terpental jika pedal gas yang ia injak terlalu dalam.


Raut wajah Erick semakin kalang kabut begitu melihat sikap gila suster itu yang kembali menekan kedua pedal tersebut sambil menoleh ke arahnya yang terkesan mengintimidasi.

__ADS_1


"Ahh, shitt!"


...❤️❤️❤️...


__ADS_2