
petugas kepolisian menemukan sepasang jasad mayat yang berada di belakang gedung. Kedua mayat itu dimasukkan ke dalam kantong jenazah dan dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan autopsi oleh ahli forensik.
Sirene ambulance kembali memekik ketika melewati kerumunan warga serta para awak media yang berkumpul mengerubungi lokasi guna mengambil gambar serta menyiarkan berita langsung dari TKP.
Beruntung petugas kepolisian yang berjaga tepat di pintu gerbang segera mengerahkan tugas mereka untuk membukakan jalan pada mobil ambulance yang tengah berjibaku untuk membawa para korban yang selamat serta jenazah menuju Rumah Sakit.
.
.
.
.
Hampir setengah jam lamanya mobil ambulance berhasil lolos dari rintangan jalan yang berbatu serta berkelok-kelok. Kini, mobil pembawa korban berjalan mulus di jalan raya tanpa hambatan dengan suara sirene Nyang terus memekik di sepanjang perjalanan.
Mobil ambulance berhenti tepat di depan pintu Rumah Sakit dan sesegera mungkin para suster membantu menurunkan korban untuk dibawa menuju ruang pemeriksaan.
Erick pun ikut diturunkan menggunakan brankar dorong dan dibawa masuk oleh suster yang bertugas di sana. Tampak raut wajahnya merintih perih akibat terpaan hawa panas yang menyembur ke arahnya saat kejadian itu.
"Cepat bawa semua korban menuju ruang pemeriksaan!" perintah salah satu Dokter yang baru saja turun dari dalam mobil yang sama dengan para korban.
"Baik, Dok," sahut semua suster.
Suasana mulai ramai saat para korban memasuki lobi rumah sakit, terlihat orang-orang yang sedang duduk di ruang tunggu sontak berdiri melihat kondisi para korban yang begitu menyedihkan karena banyaknya luka di sekujur tubuh bahkan darah segar terpampang nyata di penglihatan mereka semua, bahkan sebagian dari para korban banyak yang menjerit kesakitan dan kepanasan.
Terdengar suara-suara sumbang dari pengunjung Rumah Sakit yang ikut prihatin dengan kondisi para korban. Tak sedikit dari mereka yang menutup kedua mata karena tidak kuasa melihat kulit-kulit dari sekujur tubuh yang terkoyak habis hingga memperlihatkan isi di dalamnya.
Awak media pun ikut berdatangan mengerubungi pintu masuk ketika melihat kedatangan para korban. Mereka hendak mengambil foto ataupun video untuk bahan berita terkini yang akan mereka sebar luaskan.
"Pak, bagaimana insiden itu bisa terjadi?" tanya salah seorang reporter menyodorkan sebuah microphone kepada petugas kepolisian yang saat itu ikut mengantarkan para korban menuju Rumah Sakit.
"Kami sedang menelusuri dan mencari tahu penyebab terjadinya ledakan di gedung tersebut dan sementara, kami dari pihak kepolisian meminta semua awak media untuk sama-sama mendoakan para korban." Brigjenpol itu menjawab dengan ramah serta meminta mendoakan korban.
"Kira-kira berapa banyak korban yang ada di dalam gedung itu, Pak?" awak media bertanya penasaran.
__ADS_1
"Dari data yang kami temukan, terdapat 235 orang yang ada di dalam gedung, namun masih terus kita tinjau lebih lanjut," ungkap Brigjenpol tegas.
Wawancara pun berakhir begitu Brigjenpol itu memberikan pesan agar awak media menjaga ketertiban saat berada di Rumah Sakit agar tak mengundang kehebohan dan mereka juga dilarang untuk menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya.
...***...
Mobil ambulance yang membawa jenazah tiba di instalasi pemulasaraan jenazah. Sebagian jenazah yang sudah teridentifikasi segera dimandikan, sementara jenazah yang belum teridentifikasi segera dibawa masuk kedalam kamar visum untuk dilakukan autopsi oleh tim ahli forensik.
Sepasang jenazah yang ditemukan di belakang gedung juga ikut diperiksa, mulai dari memeriksa fisik, organ dalam, pembedahan organ dalam kemudian, pengangkatan otak hingga pengembalian organ tubuh.
Jarum jam terus berputar hingga cukup lama tim ahli forensik melakukan pemeriksaan dari beberapa jenazah yang terkena ledakan boom itu. Kini tahap akhir tinggal menunggu hasil lab sebelum jenazah-jenazah itu dimakamkan.
Dari semua jenazah hanya sepasang jenazah itu yang sulit dikenali wajahnya karena kedua wajah pasangan itu terbakar habis. Bahkan identitas KTP tak ditemukan satupun hanya saja tim ahli forensik menemukan salah satu cincin di jari manis jenazah wanita itu sementara untuk jenazah prianya, tim ahli forensik menemukan jam rolex yang diduga harganya cukup fantastis.
"Sepertinya sepasang jenazah ini bukan orang sembarangan," celoteh salah satu tim ahli forensik berbisik dengan teman sesama timnya.
"Aku juga merasa seperti itu," sahut temannya pelan.
"Kau lihat jam rolex yang dipakainya! itu jam rolex keluaran terbaru dan harganya bikin gila," ucapnya bersemangat menceritakan harga dari jam tersebut.
Ia pun mengeluarkan ponsel dari saku jubah putihnya dan membuka salah satu aplikasi pencarian mengenai harga jam itu dan segera menunjukkannya pada temannya yang merasa tak percaya.
"What!" seru temannya dengan mata terbelalak serta mulut melongo tak menyangka.
"Ssstt! pelankan suaramu," perintahnya mengerlingkan pandangan dari tim-tim ahli forensik yang lainnya.
"Aku bisa membeli satu buah mobil dari jam rolex itu," desis temannya mulai tergiur.
"Kau gila! memangnya kau mau membeli mobil dari jam milik orang mati," ucapnya mengomel kepada temannya yang dianggap gila.
"Hei kalian! jangan berisik diruang ini," tegur ketua tim.
Kedua orang itu menoleh dan langsung menunduk patuh tanpa menyahut ucapan sang ketua lebih lanjut.
"Kerjakan tugas kalian, ini bukan ruangan untuk bergosip." Ketua tim ahli forensik itu kembali menegur.
__ADS_1
Mendapat teguran keduanya segera melanjutkan tugas yang seharusnya mereka kerjakan karena tak ingin mendapatkan Omelan dari ketua tim yang dikenal judes dan galak.
.
.
.
.
Selang 1 jam ruang visum tengah sepi, tak ada satupun tim ahli forensik yang berada disana kecuali petugas security dan salah seorang petugas kepolisian yang diminta untuk ikut berjaga di depan pintu gedung instalasi pemulasaraan jenazah.
Dengan berjalan santai salah seorang tim ahli forensik menuju masuk ke dalam gedung. Meski ia menahan kegugupannya takut dicurigai para penjaga itu.
"Maaf Pak, dompet saya tertinggal di dalam ruangan, saya mau mengambilnya." Salah seorang tim ahli forensik berdalih.
"Baiklah, tapi saya ikut menemani ke dalam," tutur polisi bersenjata itu.
"I--iya Pak," sahutnya terbata-bata.
Ia dan polisi itu berjalan masuk ke dalam gedung menuju ruang kamar visum. Sambil menggerutu kesal, ia berharap jika aksinya akan berhasil.
Tepat di depan pintu kamar, ia meminta polisi untuk menunggu di luar sebab ruang tersebut hanya diperuntukkan untuk tim ahli forensik kendati itu hanya alih-alihnya saja agar bisa leluasa mengambil jam rolex itu.
"Tunggu di sini saja, Pak!" pintanya seraya menunjukkan bacaan yang tertempel di depan pintu.
"Baiklah, cepat ya." Polisi itu pun mengiyakan tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun setelah membaca larangan masuk untuknya.
Ia pun segera masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Melangkah dengan hati-hati sebelum menghampiri jenazah pria yang menggunakan jam tangan rolex itu.
Tiba di sampingnya, ia mengeluarkan tangan dari penutup kain putih dan bergegas melepaskan jam tangan rolex itu dengan menggunakan sarung tangan, ia merasa tidak akan meninggalkan sidik jarinya di sana.
'Untung saja jam tangan mahal ini masih menggantung di pergelangan tangannya. Aku jadi penasaran dengan kekayaan yang dimiliki jenazah ini, sayang sekali kau dan pasangan mu itu harus mati dalam insiden ledakan, tapi terima kasih ya jamnya! dengan jam ini aku bisa membeli mobil seperti yang temanku katakan,' gumamnya sumringah setelah memasukkan jam tangan rolex itu ke dalam saku jubahnya.
Ia pun melangkah begitu ringannya setelah meninggalkan tempat itu tanpa takut dicurigai siapapun termasuk polisi yang berjalan di belakangnya.
__ADS_1
...❤️ T E R I A K A S I H ❤️...