
Terdengarnya suara tembakan beserta suara kericuhan yang terjadi di desa itu, membuat Bunda Azra dan Damar terkejut. Damar yang saat itu berada di ruang Bunda Azra hendak menanyakan sikap perubahan Aleta terhadap dirinya, seketika terjeda akibat suara dentuman itu.
Keduanya sontak menoleh ke arah luar pintu, merasa ada yang tak beres di desanya itu bunda Azra pun segera melangkah keluar guna melihat situasi yang sebenarnya terjadi. Begitu juga dengan Damar, pria itu hendak berdiri dari duduknya namun, salah seorang pria bertubuh tegap memegangi pundaknya cukup kuat.
"Singkirkan tanganmu!" tegur Damar melirik ke arah jari-jari tangan yang menempel di atas pundaknya.
"Diam di sini," balas pria itu dengan berani, tak ada rasa takut sedikitpun dengan nada bicara Damar.
Tak suka karena merasa diatur, Damar menyingkirkan tangannya dengan menepis kasar. Kemudian Damar berdiri dan hendak melangkah namun, pria itu segera menghadang tubuh Damar.
Pria itu memang di tugaskan oleh bunda Azra untuk melindungi Damar dan Aleta dari orang-orang yang sengaja membuat kericuhan agar persembunyian mereka tidak terbongkar dari siapapun. Oleh karena itulah ia bersikeras untuk mencegah Damar pergi dari sana.
"Minggir!" ketus Damar menatap sinis pria yang menghadang tubuhnya.
"Lewati aku dulu, jika kau memang ingin pergi dari sini!" balasnya tegas.
Keduanya saling beradu pandang, tatapan tajam mendominasi pikiran mereka yang saling bertolak belakang. Hingga akhirnya, Damar mengalah dengan rasa kekesalannya. Ia mengepalkan tangan dan meninju salah satu meja di sana, sebagai ungkapan amarah yang dirasanya saat ini.
Baru kali ini, ia mengalah dengan seseorang yang hanya mengancamnya lewat tatapan mata, bahkan Damar tak bisa melawannya sedikitpun."Sial!" umpat Damar menatap geram.
...***...
Bunda Azra mendapatkan informasi dari salah seorang warga, bahwa sang penjaga pintu gerbang telah mati tertembak dengan peluru yang menancap di keningnya. Ia pun segera mengambil tindakan tegas untuk menutup seluruh wilayah desa tanpa adanya seorang penyusup yang bisa kabur dari sana dan mencari keberadaan penyusup itu untuk berhadapan dengannya langsung.
Perintah itu segera dilaksanakan para warga, mereka saling bicara lewat radio HT dan bersiaga di depan pagar pembatas desa yang saat itu sudah terkunci rapat dan sebagiannya berpencar untuk menemukan Devano.
__ADS_1
Sementara Devano yang saat ini telah gagal menyelesaikan tugasnya segera berusaha kabur dari tempat itu sebelum dicurigai dan tertangkap basah oleh penduduk setempat. Ia mencari celah dengan keadaan kericuhan yang terjadi di desa tersebut dengan melangkah menuju gerbang. Namun, langkahnya terhenti seketika saat beberapa warga terlihat berdiri di depan gerbang dan menutup serta mengunci gerbang tersebut.
Devano mengumpat sebelum akhirnya ia menghampiri sang penjaga yang tergeletak tak bernyawa dan berpura-pura ikut membantu beberapa warga yang sedang membawa jasad sang penjaga menggunakan tandu darurat.
Erick dan Rebecca yang baru saja tiba di lokasi, menghentikan langkahnya begitu melihat sang penjaga yang baru beberapa menit lalu mereka temui telah tak bernyawa. Rebecca menutup mulutnya rapat-rapat karena rasa keterkejutannya. Ia tak menyangka jika pagi itu menjadi pertemuan terakhirnya dengan sang penjaga pintu gerbang.
Netra mata Devano memicing sengit ke arah Erick sebelum akhirnya ia menyembunyikan wajah di balik topinya. Ia harus bisa keluar dari sana tanpa penyamarannya terbongkar oleh Erick.
...***...
Bunda Azra menghampiri jasad sang penjaga yang kini sudah siap untuk dimakamkan dengan dibantu Rebecca yang ikut turut serta mengeluarkan peluru dari dalam kepalanya.
"Liang lahad sudah siap, Bu," ujar salah seorang warga.
"Baiklah. Kuburkan jasadnya dengan baik, ya!" pesan bunda Azra untuk beberapa warga yang telah di tugaskan untuk menguburkan sang penjaga pintu.
"Tolong selamatkan putriku, saya mohon!" pinta sang Ibu mengiba pada semua orang yang berada di dalam ruangan.
"Ibu, tidurkan putrinya di sini, Bu! biar saya bantu periksa dulu." Rebecca menghampiri dan meminta sang Ibu meletakkan di salah satu ranjang besi yang kosong.
Bunda Azra mengerinyit dan menghentikan aksi Rebecca, sebab ia tak pernah sekalipun melihat wanita berjubah putih dengan memakai kaca mata yang menjadi salah satu warga desanya dan ia pun menaruh rasa curiga pada Rebecca dan juga Erick, setelah bunda Azra menangkap sosok Erick yang berdiri mematung di dalam pintu masuk.
"Hentikan!" bentaknya, membuat suasana dalam ruangan hening seketika dan sorot mata tertuju pada bunda Azra.
Rebecca menghentikan kegiatannya saat bunda Azra menghampiri dan berdiri di hadapannya. Rebecca menatap dengan takut-takut, sorot mata bak elang itu seakan mengintimidasi dirinya yang hendak berusaha menyelamatkan seorang gadis cilik.
__ADS_1
"Siapa kau?" tanyanya tanpa basa-basi sembari mengeluarkan pistol dari saku celananya dan mengarahkan ke dagu Rebecca.
Semua orang di dalam ruangan tercengang melihat bunda Azra dengan berani menodongkan pistol ke arahnya, sementara yang mereka ketahui Rebecca sosok wanita yang baik dan penolong, terlebih salah satu warga mengenalinya karena ia sempat mendapatkan pertolongan darinya saat Rebecca masih bertugas di wilayah desa tersebut beberapa tahun silam.
Netra mata Rebecca terbelalak hebat tatkala melihat senjata api itu menempel di bawah dagunya. Rasa takut pun menghampiri, tubuhnya gemetar dan jantung berdetak cepat, ia hampir menangis di sana.
Erick yang melihat itu segera menghalangi tindakan bunda Azra yang dinilai keterlaluan. Bagaimana tidak? ia tahu Rebecca itu berniat membantu namun, disalah artikan oleh bunda Azra.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Erick begitu berdiri di sampingnya. "Singkirkan pistol itu!" Erick meminta dengan tegas diikuti sorot mata tajamnya.
"Kau tak berhak mengatur! Ini wilayahku. Untuk apa penyusup seperti kalian datang ke tempat ini dan berbuat onar?" balas bunda Azra dengan nada bicara cukup tinggi.
Erick terdiam sebab ia membenarkan bahwa dirinya memanglah seorang penyusup yang ingin menemui Damar dan membantunya keluar dari desa itu. Namun, disebut sebagai pembuat onar, ia tidak terima.
Erick hendak membalas perkataan bunda Azra namun, harus dihentikannya sebab dari beberapa warga yang ada di dalam ruangan itu membuka suara.
"Dia bukanlah seorang penyusup, melainkan seorang suster yang pernah bertugas di desa ini!" celetuk salah seorang warga.
"Iya benar. Dia suster Rebecca," timpal warga lainnya.
Bunda Azra menoleh ke arah semua warga yang merasa yakin dengan ucapan mereka. Karena desakan para warga, akhirnya bunda Azra menjauhkan kembali pistolnya itu dan menyimpannya di dalam saku celana seperti sebelumnya.
"Setelah ini, kalian temui aku di ruangan!" pesannya sebelum melangkah pergi dari ruangan itu.
Kedua tumpuan kaki Rebecca lemas, beruntung Erick sigap membantu Rebecca dengan menopang tubuhnya. "Kau baik-baik saja?" tanya Erick khawatir melihat wajah Rebecca yang pucat.
__ADS_1
Rebecca menganggukkan kepala pelan. salah seorang warga memberikannya minum guna menghilangkan rasa ketakutannya itu. Berselang beberapa menit Rebecca kembali menolong anak gadis itu dengan di temani Erick yang berdiri di sampingnya.
...❤️❤️❤️ ...