Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
34 - Es krim


__ADS_3

..."Ciuman adalah trik cinta yang dirancang oleh alam untuk menghentikan ucapan gombal."...


...----------...


"Baiklah, akan aku tunjukkan bagaimana kuatnya aku!" gertak Damar dengan sorot mata tajam.


Tanpa berlama-lama Damar mengeluarkan segala tenaga kekuatannya untuk bisa mengayuh pedal itu seorang diri. Ia ingin menunjukkan sikap kejantanan sebagai seorang pria pada Aleta.


Perahu bebek itu bergerak cukup cepat tidak seperti sebelumnya. Aleta berdecak kagum melihat kegigihan dan ucapan Damar yang tak pernah main-main.


Hanya butuh waktu lima menit perahu itu akhirnya berhenti di tepian. Damar bergegas turun dan melangkah cepat meninggalkan Aleta. Terlihat raut wajahnya yang begitu kesal dan marah pada Aleta.


"Dasar anak kecil, begitu saja marah." Batin Aleta sebelum berlari mengikuti langkahnya yang telah menjauh.


Aleta terus saja berjalan di belakang Damar sambil memandangi punggung pria itu dan melamunkan sesuatu. Membayangkan bagaimana perasaan kesedihannya saat kedua orangtua yang begitu ia sayangi meninggal, sementara Aleta justru membenci kedua orangtuanya sendiri dan berharap Ayahnya benar-benar telah tiada.


Bukk!!


Aleta menabrak punggung Damar yang berhenti secara tiba-tiba. Damar berbalik ke arahnya dan menatapnya dingin, tak peduli Aleta yang meringis sambil memegangi keningnya yang terbentur punggung tegapnya.


"Kita pulang!" katanya singkat.


"Tunggu, ikut aku sebentar!" Pinta Aleta sambil menarik dan menggenggam tangan Damar.


Mau tak mau Damar pun mengikuti langkah kaki Aleta, meski tidak mengetahui kemana tujuan Aleta membawanya. Tak menolak ataupun menepis kasar sikap Aleta, Damar memasrahkan diri padanya yang entah bagaimana seorang Damar bisa dengan luluh mengikuti ajakannya.


.


.


.


.


Aleta berhenti di dekat gerobak mini penjual es krim di sana. Ia meminta sang Penjual membuatkan dua ice cream cone waffle dengan varian rasa yang sama. Aleta mendorong tubuh Damar untuk mendekati gerobak dan memintanya untuk mengambil es krim tersebut.

__ADS_1


Begitu hendak di genggamnya, ternyata sang Penjual menjahili Damar dengan berbagai trik. Dari membolak-balikkan es krim dengan tongkat panjang, hingga membodohi Damar dengan mainkan cone nya.


Damar yang tampak kesal lantas mengeluarkan dompet dan memberikan beberapa lembar uang kepada Penjual es itu. Ia tak ingin bersusah payah merespon keisengan sang Penjual.


Meski di berikan beberapa lembar uang, sang Penjual segera menolak. Ia tak ingin Damar menyogoknya hanya karena sebuah es krim. Dengan ramahnya ia memberikan Damar dua es krim sambil memberikan isyarat, jika Damar harus lebih banyak tersenyum.


"Sial!" umpat Damar begitu berhasil mendapatkan es krim.


Sementara Aleta tertawa senang melihat Damar dipermainkan oleh sang Penjual. Kendati ia tahu jika Damar lagi-lagi akan mengeluarkan uangnya untuk mendapatkannya dengan mudah tanpa harus bersusah payah.


"Nih!" Damar menyerahkan dua es krim dengan wajah masam.


"Terima kasih." Ucap Aleta sumringah seraya mengambil kedua eskrim itu.


Dengan santainya Aleta berjalan meninggalkan Damar yang masih diam terpaku menatap Aleta. Damar pikir wanita itu akan berbagi salah satu es krim dengannya, namun nyatanya kedua es krim itu justru dinikmatinya seorang diri.


Aleta menoleh ke belakang melihat Damar yang masih terdiam. "Hei, bukankah kau bilang ingin pulang!" tegur Aleta.


Damar berjalan ke arahnya dan menatap sinis Aleta sambil komat-kamit tak jelas, persis seperti anak kecil yang tak di berikan es krim. Mendapati sikap Damar yang terlihat lucu, membuat Aleta semakin bersemangat mengerjainya.


Damar masuk ke dalam mobil disusul Aleta yang masih asyik menikmati es krim di tengah teriknya cuaca matahari. Damar melirik sekilas sebelum akhirnya melajukan mobil.


Lagi-lagi Damar menoleh sambil menelan salivanya, berusaha bersikap sesantai mungkin, agar tak terpengaruh akan kenikmatan es krim itu.


"Kau mau?" tawar Aleta menyodorkan es krim di sampingnya.


"Habiskan saja, aku tidak sudi memakan es krim itu!" tolaknya tanpa menoleh.


"Ok, baiklah!" balas Aleta singkat.


"Menyebalkan, ku pikir dia akan memaksaku untuk memakan es krim itu!" gumam Damar menghela napas.


Disepanjang jalan Damar terus saja terganggu dengan suara Aleta yang dengan sengaja membuatnya tergiur. Hingga tiba di puncak kesabaran, Damar memberhentikan mobil di sisi jalan dan mendekati Aleta untuk segera menggigit es krim itu hingga sisa setengahnya.


Aleta masih diam terbelalak kaget, melihat Damar yang secara tiba-tiba mendekat ke arahnya dan memakan es krim yang sebelumnya telah ia makan, sementara es krim utuh itu masih berada di tangan sebelah kirinya.

__ADS_1


Deg!!


Jantung Aleta berdegup cukup kencang saat merasakan aroma Damar yang begitu dekat dengannya. Belum lagi Damar sempat menatapnya sambil membersihkan sisa es krim yang tertempel di ujung bibir Aleta, akibat Damar yang berhenti secara tiba-tiba saat baru saja memasukan es krim kedalam mulutnya.


Jari jemarinya menyentuh lembut sisi bibir Aleta serta menatap bibirnya kemudian beralih menatap matanya dalam-dalam. Semakin lama tatapan mata itu semakin intens, hingga membuat Damar terbuai dan ingin memintanya lebih dari sekedar menatap.


Tanpa sadar jari jemarinya mengusap lembut pipi Aleta dan sekali lagi ia menyentuh bibir ranumnya, sebelum akhirnya Damar terkesiap menempelkan bibir Aleta dengan bibirnya. Merasakan kembali ciuman yang pernah ia rasakan sebelumnya, walau caranya cukup kasar.


Damar menutup kedua matanya rapat-rapat ketika ia sudah hampir tiba di angan-angan terindahnya untuk menikmati bibir manis milik Aleta, setelah beberapa hari pikirannya tak tenang karena wanita yang kini hadir dan menjadi istri kontraknya.


Chuupp!!!


Damar tersentak begitu merasakan hawa dingin dan manis pada bibirnya, ia membuka mata dan mendapati es krim tertempel di dekat bibirnya. Segera ia mengambil es krim dari tangan Aleta dan memperbaiki posisi duduknya seperti semula.


Rasa malu pun melekat di kedua pipi mereka, Aleta mengalihkan wajahnya agar tak kentara rona merah pipinya di depan Damar sedangkan Damar berusaha bersikap tenang sambil menghapus noda es krim pada bibirnya dengan tisu, meski sebenarnya ia juga merasa malu akan kebodohan dirinya.


"Dasar bodoh! bisa-bisanya kau mau mencium wanita itu, sadar Damar sadar!!" batinnya merutuki dirinya sendiri.


...***...


Mobil berhenti tepat di depan pintu rumah. Aleta bergegas turun dan melangkah masuk ke dalam. Melihat sikap Aleta seperti itu membuat Erick berpikir kejadian apa yang baru saja mereka lakukan.


Sedangkan yang ia tahu keduanya senang berdebat akan masalah sepele, namun jika sedang berjauhan keduanya justru saling pandang dan melemparkan senyum.


Erick menghampiri. "Ada masalah apa, Bos?" tanyanya penasaran.


Damar menggelengkan kepala. "Tidak ada." Jawabnya singkat.


Mendapat jawaban yang kurang meyakinkan, Erick pun memicingkan matanya berusaha menangkap salah satu raut wajah Damar agar bisa di tebak olehnya.


"Kenapa memerhatikan ku begitu?" tegur Damar tak suka.


"Ah, tidak Bos!" dalihnya tersenyum kaku.


"Cepat masuk!" perintah Damar sembari melangkah.

__ADS_1


"Baik Bos." sahut Erick mengikuti langkah di belakangnya.


...💕💕💕...


__ADS_2