Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
51 - Emir Aleta Andreas


__ADS_3

..."Jika kau menyayangi seseorang, katakanlah sekarang. Akan lebih baik jika kau mengatakannya setiap hari, katakanlah sebelum waktu berlalu."...


...___________________...


Pagi itu Aleta sudah lebih dulu berada di ruang makan, ia duduk dan menunggu Damar untuk sarapan bersama. Namun pria yang ditunggunya justru melengos begitu saja tanpa melihat ke arahnya.


Sementara Erick yang berjalan di belakangnya langsung menyapa dirinya dengan membukukan badan dan setelahnya kembali melanjutkan langkah, mengekori Damar.


Aleta tertunduk sendu dan matanya mulai berkaca-kaca, rasa sedihnya hadir tatkala melihat sifat acuh Damar terhadapnya mulai kembali ia perlihatkan, kendati Damar memang memiliki sifat itu dan hanya ditujukan untuk Aleta seorang.


Hanya saja rasa acuh yang dulu ia perlihatkan dengan saat ini, begitu terasa berbeda. Jika dulu Aleta senang diacuhkan olehnya, namun sekarang ia justru merasa sakit dan sedih melihat Damar mengacuhkannya dengan tatapan dingin.


Ingin rasanya Aleta mengakhiri semua biduk permasalahan hidupnya. Ia lelah, batin dan pikirannya mulai terancam. Setelah dipikirnya hidup dalam kesendirian adalah jalan terbaik untuknya.


Aleta tak ingin mempercayai siapapun, entah itu Ayahnya ataupun Damar. Semua dirasa sama, sama-sama menyakitkan. Ia tak ingin memihak siapapun, hanya ingin terbebas dari keduanya.


"Maaf Nona, sup-nya sudah dingin," tegur salah seorang pelayan saat melihat Aleta belum juga menyentuh makanan sejak duduk di sana.


Aleta segera menyeka air mata agar tak diketahui pelayan itu, ia menoleh ke arahnya seraya tersenyum simpul.


"Apa mau saya hangatkan lagi, Non?" tawarnya pada Aleta.


"Tidak perlu, aku akan menghabiskannya." Tolak Aleta ramah.


Aleta segera mencicipi cream soup yang sengaja ia minta kepada sang pelayan untuk membuatkannya. Meski rasanya berbeda dari buatan sang Bunda, namun sedikit membuatnya senang.


Sedikit demi sedikit sup itu masuk ke dalam mulutnya hingga tak ingin menyisakan sedikitpun. Bulir air matanya kembali menggenang di pelupuk mata saat teringat kenangan bersama sang Bunda.


• • • •


Rumah Kasih, 2001


"Bunda membuatkan cream soup untukmu, makanlah! kau pasti lapar," tersenyum manis di depan gadis berumur 7 tahun.


Gadis itu tertunduk takut, ia tak menjawab dan tak menoleh sedikitpun ke arah wanita muda yang duduk di depannya. Hari itu, kali pertama baginya bertemu dan berbicara dengan orang asing.


"Hmm, sayang sekali kau tidak suka ya! sebenarnya aku hanya membuatkan untukmu saja, karena aku tidak punya teman untuk mencicipinya. Itu berarti kau tidak mau berteman denganku ya," ucapnya sendu sedikit merayu agar gadis itu agar mau memakannya.


Melihat respon dari anak gadis yang mulai melihat ke arahnya, cepat-cepat ia berlagak murung. Gadis itu pun akhirnya luluh, tak tega melihatnya bersedih. Di ambilnya sendok yang bersebelahan dengan mangkuknya dan mulai menyendoki cream soup lalu memasukkan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Bagaimana enak tidak?" tanyanya penasaran diikuti senyuman.


Gadis itu mengangguk pelan hingga tanpa sadar ia ikut membalas senyumannya. Senyuman hangat yang paling disukainya begitu melihat sosok yang di panggil dengan sebutan Bunda.


"Makanlah, kau harus menghabiskannya ya! itu energi untukmu, sebab esok kau harus siap menghadapi kehidupan barumu di sini," pesannya seraya mengusap lembut rambut anak gadis itu.


• • • •


Aleta menghabiskannya dengan cepat, ia membenarkan pesan sang Bunda bahwa ia harus siap menghadapi kehidupannya saat ini, ia harus berjuang hingga masa sisa pernikahannya dengan Damar berakhir dalam waktu 5 bulan kedepan.


"Bertahanlah, Aleta! sisa waktu pernikahanmu tinggal sebentar lagi. Kau harus bisa bertahan, meski sulit dan menyakitkan, tapi setidaknya kau tidak menyerah."


Aleta bermonolog menyemangati diri sendiri, menyakini bahwa dirinya bisa melewati hari-hari kehidupannya bersama Damar.


...***...


Damar tiba di ruang kerjanya dan langsung terduduk di kursi sambil menautkan jari-jemarinya, ia tertunduk di atasnya. Pikirannya kembali mengingat kejadian saat ia dengan sengaja melewati ruang makan tanpa menoleh ke arah Aleta, sedangkan ia tahu bahwa Aleta tengah menunggu dan melihatnya melangkah pergi tanpa pamit.


Di satu sisi ia sangat merasa bersalah namun di sisi lain, ia harus melakukannya demi menolak perasaan sukanya pada Aleta. Damar bersikap seperti sediakala agar dapat membalaskan dendam seperti janji yang ia ikrarkan di depan makam kedua orangtuanya.


Menikah dengan anak dari seorang pembunuh hingga membuatnya luluh lalu mencampakkannya begitu saja. Itulah awal niatan Damar merencanakan sebuah pernikahannya bersama Aleta. Ia ingin Aleta merasakan sakit yang ia rasakan dahulu, menyayangi dan mencintai orang yang tiba-tiba meninggalkannya.


Damar memasang wajah santai, "Bagaimana dengan masalah kemarin?" tanya Damar mengalihkan ucapan Erick.


"Andreas dalam tahap pemeriksaan, ia belum mau mengakui apapun, namun petugas kepolisian memberikan ini!" jawab Erick sambil menyerahkan memori kartu pada Damar.


"Kau urus orang itu, buat dia sampai mau mengakui lalu--" ucap Damar terjeda saat ingin mengucapkan nama Aleta.


Erick menunggu ucapan Damar, "Lalu apa, Bos?" tanya Erick penasaran akan kelanjutan ucapannya.


"Ah, tidak! sudah kau boleh keluar sekarang," perintahnya tanpa menyelesaikan ucapan.


"Baiklah, kalau begitu saya pamit!" ucapnya mengangguk patuh meski merasa penasaran dengan ucapan Damar.


Begitu Erick keluar dari ruangannya, Damar segera memeriksa ponsel untuk melihat keberadaan Aleta yang ternyata masih berada di kediaman rumahnya. Damar bernapas sedikit lega, mengetahui bahwa Aleta tak lagi kabur secara diam-diam, walaupun ia masih terus bertanya bagaimana Aleta bisa pergi dan bertemu dengan Andreas.


Damar mencurigai Andreas berkomplotan dengan Emir dan juga Aleta. Ia mengeklaim bahwa ketiganya berada ditujuan yang sama, yaitu untuk menyerang dan menghancurkannya lagi setelah kedua orangtuanya.


Tok!!

__ADS_1


Tok!!


"Masuk," Damar mengizinkan seseorang di balik pintu untuk masuk begitu mengetuk pintu.


"Maaf, Pak, saya ingin memberikan kabar bahwa Tn. Edward akan mengadakan temu janji dengan anda di shisha lounge jam 2 siang nanti." Ujar Sekretarisnya memberikan pesan pada Damar.


"Ya, baik." Balas Damar mengerti.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi." Pamitnya sambil membawa berkas dari meja Damar setelah ditandatangani.


...***...


Drttt!!


Drttt!!


ponsel Aleta bergetar dan menampilkan nama si penelepon di layarnya. Aleta yang baru saja keluar dari kamar mandi segera menghampiri ponsel yang terletak di atas meja nakas. Ia menimbang-nimbang untuk menerima panggilan tersebut.


Aleta tampak berpikir, bagaimana ia memberikan alasan kepada sang Ayah bahwa ia tidak bisa menemuinya hari ini, sebab Damar mengawasi ketat dirinya. Damar kembali meminta 2 pengawal berjaga di depan pintu kamar dan sebagian lainnya berada memencar di seluruh sudut kediamannya.


Ting!!


Nada panggilan itupun berganti dengan nada pesan setelah beberapa detik tak di terima oleh Aleta. Aleta membuka pesan itu dan di bacanya pesannya.


°Ayah°


Maaf apa ini Aleta, anak dari Pak Emir?


saya ingin mengabarkan, jika Pak Emir


sekarang berada di klinik Vaidam.


Bisa anda kemari?


Aleta tercengang membaca pesan itu, ia panik sekaligus khawatir dengan keadaan sang Ayah. Aleta pun menghubungi nomor ponsel sang Ayah, menanyakan pada orang yang memberikannya pesan dan orang itu mengatakan bahwa Ayahnya tertabrak pengendara mobil pagi tadi.


Mendengar penjelasan dari orang itu, Aleta bersiap-siap untuk pergi dengan berdalih bahwa Damar memintanya untuk menemuinya di Kantor tanpa di antar oleh pengawal di sana.


...💕💕💕...

__ADS_1


__ADS_2