
..."Sekali orang memandang mu tak baik, maka apapun yang kau lakukan akan selalu terlihat tak baik."...
..._____________________...
Aleta memberitahukan alamat tujuan pada Sopir taksi, ia tak membiarkan taksi itu berhenti tepat di depan rumah Damar, sebab jika sang penjaga tahu bahwa dirinya baru saja pergi dan kembali menggunakan taksi maka sang Penjaga akan melaporkannya segera pada Damar.
Setelah cukup lama berada di dalam taksi, netra mata Aleta menangkap jalan dengan jalur yang tidak pernah di lewatinya. Ia celingak-celinguk menatap kiri kanan jalan dari dalam jendela.
"Maaf Pak, sepertinya ini bukan jalan yang harus di lalui!" tegur Aleta pada sang Sopir.
"Iya Nona, saya sengaja memutar mengambil jalan pintas." Balasnya.
Aleta diam, ia meragukan ucapan Sopir itu. Pasalnya jika memang benar sang Sopir mencari jalan pintas, seharusnya ia bisa tiba lebih dulu di rumah Damar. Namun saat ini justru Aleta merasa sangat lama untuk tiba di sana.
Tiba-tiba taksi itu memasuki jalan bebatuan dengan pohon-pohon tinggi yang menjulang di kiri dan kanan jalan—tampak seperti hutan. Senja yang telah memudar, kini berganti menampakan bulan purnama yang menemani Aleta sebagai penerangan di saat menelusuri jalan yang gelap dan sunyi.
Taksi berhenti di depan sungai dengan air yang mengalir begitu derasnya. Aleta bergidik ngeri saat merasakan hawa menyeramkan dari dalam taksi. Ia menatap sang Sopir yang kini terlihat mencurigakan dengan penutup mulut dan juga topi hitamnya.
"Maaf Nona, tunggu sebentar di sini!" ucap Sopir itu tanpa jelas.
"Anda mau kemana?" tanya Aleta was-was.
Sopir itu meninggalkan Aleta seorang diri di dalam mobil, ia tak menjawab ucapan yang di tanyakan Aleta. Dengan cepat sopir itu pergi entah kemana. Aleta pun segera keluar berusaha untuk mengejar sang Sopir, namun langkahnya terlalu cepat sehingga Aleta tidak bisa menemukan kemana arah Sopir itu berlari.
Aleta mengedarkan pandangan, melihat semua area yang benar-benar seperti hutan. Tidak ada satupun rumah atau kehidupan di sana, semua tampak sunyi dan gelap gulita.
Srkkk!!
Terdengar bunyi dedaunan kering yang seperti terinjak oleh seseorang. Aleta berbalik dan melihat ke arah sumber suara yang ternyata tak ada apapun di sana.
"Siapa di sana?" pekik Aleta berusaha tenang meski ia telah ketakutan setengah mati.
Tak ada sautan yang dirasakannya hanya hembusan angin malam yang semakin kencang hingga terasa di seluruh tubuhnya. Cepat-cepat Aleta memasukkan kedua tangannya di dalam saku jaketnya.
Saat ingin melangkah masuk ke dalam taksi, tiba-tiba datang seseorang yang memukul tengkuk lehernya cukup keras hingga membuatnya terjatuh dan tak sadarkan diri.
...***...
Damar masih saja terlihat kesal melihat Yuri yang sengaja mengunci diri bersama dengannya di dalam kamar, serta menyembunyikan kunci tersebut di area privasi wanita itu.
"Cepat berikan kunci itu sebelum kesabaranmu habis!" ancam Damar menekan setiap kata.
__ADS_1
Bukannya merasa takut mendengar ucapan Damar, Yuri justru merasa tertantang—ingin sekali melihat reaksi Damar yang mengambil kunci itu dari dalam pakaiannya.
"Ambil saja kalau kau bisa," ledeknya terkekeh.
Damar mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga membentuk garis vena pada kedua lengan kekarnya dan rahang giginya juga ikut ia tekan, raut wajahnya mulai berubah. Damar kesal, ia tak suka di permainkan seperti itu.
Yuri melihat jelas reaksi anggota tubuh Damar yang mulai emosi. Ia mengeluarkan semirknya dan menatap tajam, bersiap menerima kemarahannya.
Damar melangkah pasti mendekati Yuri dan langsung mengangkat tubuh Yuri untuk di bawanya ke atas ranjang. Di bantingannya tubuh Yuri dengan kasar dan segera membuka pakaian yang di kenakan Yuri.
Yuri tersenyum bangga akan hasil perbuatannya, ia melingkarkan kedua tangannya di leher Damar saat pria itu berjarak cukup dekat dengannya. Yuri menarik kuat Damar dengan tangannya yang masih menempel di leher Damar, sehingga membuat Damar hampir menimpa tubuh Yuri.
Cepat-cepat Damar menahan dengan satu tangannya di atas ranjang persis di samping kepala Yuri. Namun tak menyerah begitu saja, Yuri kembali beraksi dengan binal. Ia menciumi seluruh wajah Damar sampai puas.
Damar mulai merasakan tubuhnya menegang kuat saat sengatan bibir Yuri mengecup bibirnya penuh dengan kenikmatan. Tanpa sadar bibir Damar merespon kecupan itu hingga akhirnya Damar yang kini berbalik menciumi bibir Yuri.
Dan keduanya kini saling beradu, menikmati setiap sengatan yang mengalir di bibir mereka. Hingga tangan nakal Damar berhasil membuka seluruh pakaian yang dikenakan Yuri yang kini hanya menyisakan dalam*nnya saja.
Tak sabar dengan apa yang dilakukan Damar, Yuri membuka pengait bra itu sendiri karena hasrat bercintanya telah menggebu-gebu. Ia tak sabar bercumbu mesra dengan Damar di atas ranjang, hingga membuatnya lupa akan kunci yang ia sembunyikan di dalam bra miliknya.
Sementara Damar berhasil meraih kunci tersebut dari atas sprei yang tergeletak disana dan segera ia memasukkannya ke dalam saku celana.
Kembali Yuri menciumi Damar sembari tangannya sibuk melepaskan kancing baju kemeja Damar. Setelah pakaian Damar terlepas, Yuri memandang nakal tubuh atletis Damar—siap menerkam.
Drttt!!!
Drttt!!
Drttt!!
Ponsel Damar berdering, segera Damar beralih ke arah ponsel dan meraihnya. Melihat nama Erick yang tertera di layar ponsel miliknya, rupanya Erick telah menghubunginya beberapa kali.
"Hallo!"
"Hallo, Bos,"
"Ada apa?"
"Nona tidak ada di rumah, Bos!"
"Apa!!!"
__ADS_1
"Sejak pagi, Nona sudah pergi dari rumah."
"Cari dia sekarang!"
Damar menutup panggilan itu sebelum Erick menyelesaikan percakapannya. Damar bergegas pergi dari sana setelah memakaikan kembali kemejanya.
"Mau pergi kemana kau!" seru Yuri yang tak suka melihat Damar menghiraukannya.
"Itu bukan urusanmu," sahut Damar acuh.
"Kau tidak akan bisa pergi dari sini," ujar Yuri terkekeh sengit.
Damar menyeringai,"Lakukan sesukamu, aku tidak peduli." Jawab Damar melangkah pergi.
Ia mengeluarkan kunci dari saku celananya kemudian memasukan kunci itu kedalam silinder kunci pada bagian pintu. Yuri terbelalak melihat Damar berhasil membuka pintunya dengan kunci yang sempat ia sembunyikan.
"Jangan lakukan hal seperti itu, kau semakin terlihat murahan di hadapanku!" pesan Damar di ambang pintu kamar sebelum melanjutkan langkahnya.
"*Argghhhh berengs*k*!!!" pekik Yuri mengepalkan tangannya kuat setelah mendapatkan pesan itu sambil menatap tajam punggung Damar yang kian menghilang.
...***...
Aleta mengerjapkan mata perlahan saat sinar lampu menerangi matanya. Ia tampak terganggu dengan cahaya lampu yang begitu menyilaukan penglihatannya.
Saat ini Aleta terduduk di sebuah kursi kayu dengan tangan dan kakinya yang terikat menyatu dengan kursi tersebut. Ia teringat akan kejadian sebelum dirinya tak sadarkan diri, saat seseorang yang dengan sengaja memukul dirinya dengan tongkat kayu.
"Lepaskan aku!!!" pekik Aleta kepada seseorang yang diyakininya berada di tempat yang sama dengannya.
Tap!!
Tap!!
Tap!!
Aleta mendengar suara derap langkah kaki yang menghampiri ke arahnya. Pria dengan setelan serba hitam yang lengkap dengan penutup kepala dan mulutnya.
"Rupanya sudah sadar wanita ****** ini!" cibirnya pada Aleta sambil ikut duduk di hadapannya.
"Siapa kau bajing*n?" tanya Aleta membalas ucapan kasarnya.
pria itu terkekeh dan berkata, "Kau melupakan diriku, sayang," godanya sambil mengusap wajah Aleta dengan tangan kanannya.
__ADS_1
Aleta segera membuang wajahnya dari sentuhan pria itu, ia tampak tak asing mendengar suaranya tapi tak mengingat siapa pria itu.
...💕💕💕...