Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
15 - H-1


__ADS_3

..."Hidupmu tidak akan berakhir hanya karena hari ini adalah hari yang menyedihkan untukmu. Kau harus tetap melangkah meski kau menyesalinya."...


..._______...


Sehari sebelum acara pernikahan terlaksana, Damar mengunjungi tempat sakral yang akan menjadi saksi pernikahannya bersama Aleta.


Ia menelisik semua titik tempat, mulai dari dekorasi, susunan acara dan yang paling penting adalah keamanan penjagaan seluruh tempat. Ia tidak ingin acaranya gagal hanya karena penyusup yang datang untuk menghalangi rencana yang telah dipersiapkan dengan matang.


Semua tempat juga telah terpasang cctv di setiap sudut, tanpa terlihat oleh tamu yang akan hadir esok hari. Ketika dirasanya sempurna, ia bergegas kembali, karena akan mengurus sebagian pekerjaannya yang sempat tertunda pagi ini.


Damar memang pria pekerja keras, ia tidak akan melepaskan tanggung jawabnya sebagai pemilik perusahaan walau ia harus membagi tugasnya dengan acara pernikahannya saat ini.


"Maaf Bos, anda sudah di tunggu Mr. Robert di restaurant maison pic," ujar Erick setelah menerima panggilan dari Ajudan Mr. Robert.


"Ya, sampaikan padanya 2 menit lagi aku tiba disana," balas Damar tegas sembari melangkah.


Erick menundukkan kepala pada Bosnya, menyampaikan pesan apa yang diperintahkan, sebelum akhirnya ia bergegas menuju mobil untuk membukakan pintu untuk Damar.


...•••...


Damar dan Mr. Robert terlihat menikmati makan siang mereka sembari berbicara santai mengenai hal kerja sama antar kedua perusahaan. Ia juga memberikan gift untuk Damar sebagai kado pernikahannya, karena tidak dapat menghadiri acaranya esok hari.


Begitu pertemuan mereka selesai, Damar hendak melangkah keluar dari restaurant namun pandangannya terarah ke satu meja yang ternyata Han Yuri sedang makan siang bersama dengan seorang pria.


Han Yuri terlihat begitu akrab dengannya, bahkan keduanya saling melemparkan candaan dan senyuman. Damar mencoba sekuat tenaga menahan rasa cemburunya, namun tak lama rasa cemburunya itu memuncak tatkala menyaksikan sang pria yang dengan berani menyentuh bibir Han Yuri dengan jari jemarinya.


Damar pun segera menghampiri mereka, tangannya sudah terkepal kuat terkesiap untuk memberikan tinjunya pada pria itu. Amarahnya semakin terbakar ketika melihat respon Han Yuri yang terlihat begitu senang, dengan sentuhan yang dilakukan pria tersebut.


Bukk!!


Damar berhasil melemparkan tinjunya di sudut bibir pria itu dengan satu tangannya, setelah sebelumnya ia menarik kerah kemejanya kasar. Sontak perlakuan Damar membuat heboh pengunjung di sana, mereka yang saat itu tengah menikmati santapan makan siang seketika tercengang melihat keributan yang dilakukan Damar.


"Aah astaga, Damar!!!" pekik Han Yuri.


"Hei!! apa-apan kau ini," tanya pria itu bingung sekaligus terkejut.

__ADS_1


Keduanya sama-sama syok dengan sikap Damar yang brutal. Han Yuri segera menjauhkan Damar dari pria yang saat ini menjadi teman kencannya. Sementara pria itu menahan rasa sakit di sudut bibirnya yang robek dan berdarah akibat perbuatan Damar.


"Kau tidak apa-apa, Zayn!" tanya Han Yuri memastikan keadaannya.


Zayn sedikit meringis. "Ya."


Melihat interaksi antara keduanya, Damar justru semakin emosi, dengan kasar ia menarik tangan Han Yuri tanpa peduli pengunjung di sana yang menonton aksinya.


Sementara Han Yuri berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman Damar. Ia juga marah dengan sikap Damar yang tak pernah dilihatnya selama ini. Namun dengan terpaksa Han Yuri pun akhirnya mengikuti langkah Damar yang menariknya masuk ke dalam mobil.


"Bo...Bos!!" panggil Erick kaget.


Erick juga ikut dikejutkan dengan Damar yang datang sambil membawa Han Yuri masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkannya disana.


"Ck... apalagi ini!!"


Erick berdecak bingung, ia pun cepat-cepat mengikuti mobil Bosnya itu sebelum kehilangan jejak. Ia tak ingin media tahu akan sikap Damar yang membawa wanita lain di dalam mobil, sementara Bosnya itu akan segera menikah.


...•••...


"Damar, kenapa kau lakukan itu padanya?" tanya Yuri membuka percakapan.


"Itu pelajaran untuknya," jawab Damar kesal.


"Apa maksudmu? Aku benar-benar bingung melihat sikapmu ini!" mengerinyit.


Damar bergeming, ia juga tak menoleh ke arahnya ketika berbicara, sebab itulah yang membuat Yuri semakin kesal dan kecewa padanya.


"Jika memang kau tidak menyukaiku, jangan pernah melarangku untuk dekat dengan siapapun. Kau akan segera menikah dan itu artinya aku tidak bisa lagi bersamamu, aku juga ingin mencari pasangan dan menikah, sama sepertimu, Damar!" perjelasnya.


"Walau aku berharap dapat menikah denganmu. Ku rasa kau juga tahu bahwa aku telah mencintaimu selama ini! tapi entah kenapa sikapmu berubah, kau tidak lagi sehangat dulu, senyumanmu kini tak bisa lagi ku lihat, begitu hebatnya wanita itu hingga dapat merubahmu menjadi seperti ini! Begitu hebatkah dia sampai bisa merebut posisiku dihatimu!" lanjutnya.


"Aku ingin kau jujur padaku, benarkah kau tidak pernah mencintaiku, Damar! Tolong lihat aku sekali saja," pinta Yuri sambil menggenggam tangan Damar.


Rasanya seperti tertusuk panah tajam yang menancap tepat di hati, semua ucapan Yuri mampu membuatnya hancur seketika. Meski ia menyembunyikan itu semua dibalik wajah dinginnya.

__ADS_1


"Damar, lihat dan jawab ucapanku!" panggil Han Yuri sekali lagi.


Damar mengeraskan rahangnya tatkala berhasil menatap kedua mata Yuri dengan berani. Ia juga berhasil menutupi semua rasa cinta dan sayangnya di depan wanita itu.


"Aku tidak pernah menyukaimu, kau hanya temanku tidak lebih!"


Ungkapan Damar penuh penekanan untuk meyakinkannya, ungkapan Damar seketika mampu melumpuhkan perasaan Yuri, hatinya sangat hancur dan sedih, ia juga menangis di depan Damar.


Yuri tertunduk sebelum akhirnya ia menatap kembali Damar dan melemparkan senyum terakhirnya untuk pria yang begitu dicintainya. Ia juga tak melihat ada kebohongan di mata Damar, semua terlihat nyata dan cukup jelas.


"Terima kasih atas kejujuranmu, itu artinya hanya aku yang menyukaimu selama 5 tahun dan aku terjebak didalam friend zone ini!" ungkap Yuri pilu.


"Kalau begitu mulai saat ini, aku akan berusaha menghapus rasa cintaku padamu dan sekali lagi terima kasih, karena kau sudah memberikan harapan palsu untukku, walau itu menyakitkan tapi aku senang dapat merasakan perlakuan manismu," tambahnya.


Han Yuri mengecup lembut pipi Damar sebelum akhirnya pergi meninggalkannya disana. Damar pun terduduk lemah di depan mobilnya, rasa penyesalan yang sedang beradu antara hati dan pikirannya, kini mulai berkecamuk didalam batinnya.


"Aaaaaarrrrrggghhhh!!!!"


Damar memekik kuat sambil mengusap wajahnya gusar, kali ini ia harus benar-benar merelakan Han Yuri pergi dari hidupnya begitu saja, sebelum ia berani mengungkapkan perasaan yang sebenarnya.


...•••...


Malamnya, Aleta sempat mendengar Erick memberikan pesan pada pelayan untuk membiarkan Damar beristirahat dan siapapun tidak diijinkan untuk masuk kedalam kamarnya, tanpa terkecuali Damar sendiri yang meminta.


Aleta masih berdiri diambang pintu kamarnya, sesaat setelah Erick menyapanya dan memberikan note berisikan hal-hal yang harus dan tidak boleh dikerjakannya besok, ketika acara pernikahan terlaksana.


Kendati tak sekalipun ia membaca isi kertas itu, ia teramat bosan harus melakukan semua perintah yang tak sama sekali disukainya. Justru ia meletakan note tersebut diatas nakas dan segera membaringkan tubuhnya diatas ranjang.


Aleta berdoa, berharap akan segera lepas dari dunia gila ini. Setelahnya ia mematikan lampu kamar dan memejamkan mata.


Bukannya terlelap, ia justru membayangkan hal-hal aneh setelah pernikahannya digelar. Aleta akan menjadi seorang istri dari pria kasar dan egois.


"Astaga, tolong jauhkan aku dari pikiran-pikiran gila itu!! Aku ingin tidur sekarang!"


...♡♡♡...

__ADS_1


__ADS_2