
..."Ketika maaf dijadikan penenang lalu, selebihnya kembali mengulang."...
...________________________...
Erick terbelalak ketika seseorang menodongkan pistol di belakang kepalanya. Sialnya, ia tak bisa keluar dari sana sebab tengah di kepung oleh beberapa orang bertubuh tegap. Ketiga pria itu sengaja menyamar sebagai penduduk di daerah sana, sehingga dapat dengan mudah mengelabui Erick.
"Jangan bergerak, jika tak ingin mati!" ucap salah satu pria yang duduk di belakang Erick.
'Sial! ternyata orang-orang ini bagian dari Emir dan Kemal. Aku harus bisa kabur dari mereka agar dapat menyelamatkan Damar.' Erick bermonolog.
Erick terdiam dan melirik dari ujung ekor mata sementara tangan kanannya mengambil pistol yang disembunyikan di samping lingkar pinggang. Ia berhati-hati agar tidak terlihat oleh sekelompok orang tersebut.
Belum sempat meraih pistol, mobil justru berhenti tepat di depan rumah kayu yang berada di atas bukit. Orang-orang itu keluar dari dalam mobil beserta Erick yang terpaksa mengikuti perintah mereka.
"Ayo turun, cepat!" bentaknya pada Erick seraya mendorong punggung Erick.
"Cepat!" perintahnya lagi memaksa dengan nada tinggi.
Seseorang yang berada di belakang terus menodongkan pistol ke arahnya sementara yang lain sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah guna menilik lokasi yang dirasa cukup aman mengurung Erick di dalam sana.
Beruntung mereka tak sempat mengeledah seluruh tubuhnya sehingga senjata yang menjadi alat pelindung diri itu masih aman tersimpan. Erick menunggu waktu yang pas untuk bisa kabur dari pengawasan sekelompok orang tersebut.
"Duduk diam disini!" perintahnya, "jangan coba-coba kabur dari kami sebab peluru ini akan tertanam di dalam otakmu," ancamnya pada Erick.
"Sudah selesai. Dia sudah ku ikat dengan erat," ujar teman satunya seusai mengikat kaki Erick.
"Bagus. Aku akan mengabari Bos, kalian pergilah makan siang!" perintah dari ketua itu.
"Baiklah," ucap keduanya bersamaan.
Ketiga orang itu keluar dari ruangan setelah akhirnya mengurung Erick di dalam sana. Erick mendengar jelas langkah kaki sepatu yang kian lama menghilang suaranya.
Erick menoleh ke samping kiri, dimana terdapat pecahan kaca yang tergeletak di atas meja. Ia sedikit menggeser kursi agar dekat dengan meja. Dijulurkan jari-jarinya untuk dapat meraih serpihan kaca tersebut.
__ADS_1
Wajah Erick memerah serta keringat mengucur deras di kening saat bersusah payah mengambilnya, terlihat ia menekan gigi kuat-kuat tanda geram akibat sulit menjangkau serpihan kaca.
"Argh!" terdengar erangan kecil dari mulutnya saat jari-jari tangan Erick hampir dekat.
Akhirnya Erick berhasil meraih salah satu serpihan kaca, cepet-cepet ia gesekan ikatan tali di tangannya agar segera terpotong. Tak lama terdengar derap langkah kaki seseorang yang hendak mendatangi ruangan.
Matanya membulat lebar saat menoleh ke arah pintu, sejenak Erick terdiam mendengar suara langkah kaki yang kian terdengar di telinganya. Segera ia melepaskan ikatan tali pada tubuhnya setelah berhasil terpotong.
Seseorang itu membuka pintu dan terkejut saat melihat tali yang sempat terikat di tubuh Erick tergeletak begitu saja di bawah kursi. Ia melangkah masuk guna memeriksa jendela kaca yang terlihat berayun.
"Sial!" umpat pria itu saat melongok ke arah luar jendela.
Tiba-tiba sebuah tali langsung terlilit di leher pria itu sehingga membuatnya terbelalak akibat merasakan tercekik hebat. Ia berusaha menarik tali itu agar terlepas dari lehernya namun, tenaga Erick lebih kuat dibandingkan dengannya.
'Tolong lepaskan aku!' ringkih pria itu memohon ampun.
Wajah pria itu pucat pasi serta bibirnya mulai membiru ketika aliran darah di area leher tidak berjalan dengan lancar karena tertahan oleh tali yang melilit itu, sehingga membuatnya sulit bicara dan bernapas.
'Beruntung, kau tidak sampai aku bunuh!' gumam Erick.
Erick menyusun rencana agar dapat kabur tanpa perlu dicurigai oleh kedua kaki tangan Emir dan Kemal. Ia mengganti jas miliknya dengan jaket kulit milik pria yang tengah tak sadarkan diri serta mengambil topi untuk ia pakai.
Pria itu juga ia posisikan duduk di atas kursi dengan tali yang terlilit di tubuhnya. Duduk menghadap pintu dengan kepala yang tertunduk, dianggapnya akan berhasil untuk mengelabui kedua orang itu.
Derap langkah kakinya perlahan keluar dari ruangan, ia memantau keadaan di luar rumah dari balik tembok kayu. Matanya menilik tajam ke arah kedua orang yang kini berjalan hendak masuk ke dalam rumah.
'Ya, sekarang Erick!' monolognya pada diri sendiri sambil mengepalkan tangan.
Erick melangkah berani melewati kedua orang itu untuk bisa keluar dari sana sebab rumah itu hanya memiliki satu pintu sebagai akses keluar-masuk. Sebelum melangkah menghampiri pintu, ia menurunkan sedikit visor topi guna menyembunyikan sebagian wajahnya.
Gagang pintu ia tarik agar terbuka dan tepat setelah itu keduanya berada di hadapan Erick. Ia berhenti di ambang pintu sambil mengeraskan rahang guna menahan rasa kecurigaan.
"Bos, mari kita berpesta! kami membeli banyak botol," ujar salah seorang seraya menunjukkan kantong keresek di depan Erick.
__ADS_1
"Iya Bos, hari ini kita berpesta sampai malam!" imbuh temannya sumringah.
Erick tak merespon dan menjawab perkataan mereka yang dilakukannya justru melangkah melewati mereka begitu saja sambil menabrak bahu dua orang itu.
Mendapati sikap aneh dari Bosnya, kedua orang tersebut saling memandang dan mengedikkan bahu tanda tak mengerti. Mereka mengamati punggung Bosnya yang hendak berjalan menghampiri mobil.
"Sudah biarkan saja dia, ayo kita rayakan berdua!" ajaknya seraya melangkah masuk tak memperdulikan keanehan pada Bosnya.
Sementara teman yang satu terus mengamati tingkah Bosnya yang tak biasa, apalagi cara jalan serta gestur perawakannya seperti berbeda dari Bosnya itu.
'Ck, seperti ada yang aneh!' batinnya sambil berdecak penuh tanda tanya.
pria itu memicingkan mata tatkala melihat Erick berada di dalam mobil yang hendak melaju meninggalkan pekarangan rumah.
Sambil menggosok-gosok mata guna memperjelas penglihatannya, ia bermonolog, bukankah itu pria yang aku ikat tadi? apa aku salah lihat ya!'
"Hei! kenapa diam di sana cepat masuk dan bawakan kantong itu," tegur temannya kembali keluar dan menghampiri.
"Tunggu!" balasnya segera.
Mengerutkan kening. "Ada apa?" tanya temannya bingung seraya meletakkan telapak tangan di atas pundaknya.
"Aku mencurigainya, sepertinya ada yang tak beres!" balasnya terus menatap mobil yang kian lama menghilang dari pandangan.
"Ah! sudahlah mungkin itu hanya perasaanmu saja, sebaiknya kita masuk dan periksa orang itu di dalam." Temannya memberi saran.
Keduanya pun masuk ke dalam rumah, hendak memeriksa Erick di dalam ruangan. Erick berhasil kabur tanpa perlu bersusah payah membuang energinya. Ia sukses mengelabui kedua pria yang kini tengah kalang kabut melihat Bosnya bertukar peran menjadi Erick.
...♥️♥️♥️...
*Maaf lama up karena kemarin saya drop, saya hanya manusia biasa yang juga bisa sakit ya guys😢 Maaf ya sudah membuat kalian menunggu cerita MOTG 🙏
...T E R I M A K A S I H ❤️...
__ADS_1