Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
18 - Maldives


__ADS_3

..."Walau aku selalu merasa ragu, tapi hari ini aku merasa tenang dan nyaman ketika berada ditempat ini!"...


..._______...


Kini mereka tiba di bandara Male namun mereka kembali melanjutkan perjalanan, sebab untuk sampai di pulau Maldives mereka harus menggunakan kapal atau pesawat amfibi.


Dengan pesawat amfibi, memudahkan Damar dan Aleta untuk tiba dengan cepat. Mereka pun memasuki pesawat dan setelahnya pesawat bergegas terbang.


Menaiki amfibi membuat adrenalin Aleta memuncak, tatkala menyaksikan jelas pemandangan dari atas laut. Ia juga takjub dengan pemandangan yang dapat menyegarkan mata.


Laut yang begitu jernih dengan warna kebiru-biruannya dan tampak hamparan penghijauan yang begitu segar terlihat dari pinggir pantai.


Rasa bahagia tak lagi terbendung dari raut wajahnya, bibirnya ternganga akibat takjub. Bisa dikatakan itu merupakan pengalaman pertamanya dapat merasakan liburan ke pulau indah nan eksotis.


Amfibi pun mendarat di bawah hamparan luas setelah tiba di lokasi penginapan. Damar dan Aleta langsung disambut ramah dari para staff penginapan, mereka juga mengalungkan rangkaian bunga di leher pengantin baru itu, sebagai bentuk ucapan selamat datang.


"Silahkan Tn. Damar dan Ny. Aleta, saya antar menuju penginapan!" sapa ramah dari salah satu staff.


Mereka segera mengikuti langkahnya diikuti para pengunjung. Aleta terus saja mengedarkan pandangan ke semua area, ia merasa liburan pertamanya ini dapat membuatnya bahagia atau setidaknya mengurangi sedikit beban pikirannya.


Tiba di penginapan, Damar segera menuju ruang kamarnya. Sementara Aleta masih terpaku diambang pintu, sebelum akhirnya staff penginapan menegurnya sopan.


"Silahkan nikmati liburan anda, Nona! Jika butuh bantuan bisa hubungi kami," ujarnya sambil meletakkan koper Aleta dan Damar ke dalam ruangan.


"Iya terima kasih, Pak!" balas Aleta tersenyum ramah.


Setelah penjaga itu pergi, Damar kembali keluar dari kamarnya untuk mengambil koper miliknya. Dilihatnya Aleta yang masih saja mematung di tempat.


"Apa kau akan terus saja berdiri di situ?" tanya Damar jemu.


Aleta tersadar, "Dimana kamarku?" tanyanya.


Damar menunjuk dengan gerakan kepala, "Disana," jawabnya singkat.


Aleta menarik kopernya menuju kamar. Setelah memasuki kamar lagi-lagi ia dibuat terpukau, sebab suasana kamarnya langsung disuguhkan dengan pemandangan lautan.


Ia berlari kecil menuju balkon kamar. Sambil tersenyum puas, Aleta melompat kegirangan seperti anak kecil. Ia juga bersenandung kala menggambarkan rasa senangnya.

__ADS_1


"Pulau ini benar-benar indah, aku senang berkunjung ke pulau ini! Semua yang kau ciptakan terlihat sangat sempurna, Tuhan."


...•••...


Menjelang senja, Aleta baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya di dalam sana. Ia berniat untuk berjalan-jalan sendiri di sekitaran penginapan.


Aleta membuka isi koper untuk mengambil salah satu pakaian ganti, Namun begitu melihat isi koper matanya terbelalak tatkala pakaian yang berada di dalam koper tersebut berbeda dari pakaian yang dibawanya.


"Apa ini, Kenapa bentuk pakaiannya seperti ini? Ini bukan pakaian milikku. Tunggu, apa koperku tertukar dengan orang lain? Aduh bagaimana ini!! Tidak mungkin aku keluar dengan pakaian seperti ini kan!"


Gerutu Aleta bingung, ia terus berpikir. Namun otaknya terus mengarah pada Damar, karena satu-satunya orang yang bisa membantunya hanyalah Damar. Walau ragu, bagaiamana caranya ia menemui Damar dengan pakaian sesexy itu.


Mau tak mau, ia harus meminta bantuan Damar agar kopernya dapat kembali. Aleta pun memilih salah satu pakaian yang menurutnya tak begitu terbuka, tapi sialnya pakaian di koper itu semuanya terlihat sexy.


"Sial, tidak ada satupun yang bisa ku pakai! Seharusnya aku tidak perlu membasahi pakaianku sebelumnya. Hufff!!!"


Tokk!!


Tokk!!


"Cepat keluar," tegur Damar lagi yang membuat Aleta semakin panik.


Akhirnya ia mengambil salah satu pakaian di dalam koper dan segera memakainya karena merasa terdesak.


"Sedang apa dia didalam kamar sejak tadi!"


Gumam Damar sebelum kembali mengetuk pintu. Dan Aleta akhirnya membuka pintu kamarnya perlahan, memperlihatkan pakaian yang ia kenakan di depan Damar.


Dengan memakai mini dress dengan warna maroon, seketika membuat Damar terpaku menatap Aleta. Ia mendeskripsikan jika Aleta sengaja memakai pakaian itu di depannya. Pasalnya yang ia tahu selera pakaian Aleta jauh dari kata sexy.


"Jangan salah paham, aku memakai pakaian ini bukan untuk diperlihatkan padamu! Hanya saja koperku tertukar dengan koper orang lain, jadi aku memakai pakaian ini." Perjelasnya sebelum Damar berkomentar.


"Aku tidak peduli apapun yang kau pakai. Aku kesini hanya mengingatkanmu untuk makan malam," balas Damar, "Waktu makan malam ku sudah terlambat karenamu," sambungnya sebelum pergi.


"Ugh, dasar berengsek!! Aku pikir kau berniat membantuku. Lagi pula kenapa dia harus menyalahkanku, jika waktu makan malamnya telat, si berengsek itu kan bisa makan sendiri! Ughhh!!!"


Aleta mengumpat kesal mendengar respon Damar yang sama sekali tak memperdulikan pakaian yang ia kenakan saat itu, bahkan berniat menolong saja tak ditunjukan Damar.

__ADS_1


...•••...


Damar tiba lebih dulu di restaurant dekat dengan penginapan, ia duduk di salah satu kursi menghadap laut lepas sambil menunggu kedatangan Aleta.


Selang lima menit Aleta pun tiba dan segera duduk di kursi yang berbeda, ia memilih tidak satu meja makan dengan Damar karena kesal dengannya.


Damar melihat ke arahnya yang langsung disambut dengan tatapan sengit Aleta. Wanita itu mengalihkan pandangan kearah lain agar tak saling beradu pandang, meski banyak para pengunjung pria yang terus saja menyoroti Aleta sejak kedatangannya tadi, ia tidak terlalu memperdulikan.


Mereka terpesona dengan kecantikan Aleta, walau ia hanya merias tipis wajahnya. Ia berpikir jika para lelaki itu memandangnya karena pakaian yang dikenakannya terlihat begitu terbuka, sehingga membuatnya merasa risih dan ingin segera pergi dari tempat itu.


Damar merasa kesal dengan tatapan buas para lelaki hidung belang itu terhadap istrinya, ia pun segera menghampiri Aleta dan ikut duduk bersamanya, berniat agar para lelaki itu berhenti memerhatikan sang istri.


"Apa kau sengaja membuatku kesal," tegur Damar begitu duduk di depan Aleta.


"Jika kau duduk disini hanya untuk marah-marah padaku, lebih baik aku pergi," balas Aleta hendak bangun dari duduknya.


Dengan cepat Damar menarik tangannya, "Duduk." titahnya singkat, meski hanya dibalas dengan tatapan sinis Aleta.


"Ku bilang duduk," lanjut Damar seraya menarik tangan Aleta kasar, hingga Aleta terpaksa kembali terduduk.


Keduanya terdiam, hanya terdengar suara denting sendok dan garpu yang beradu di atas piring setelah makanan tersaji di meja.


Sesudah menyelesaikan makan malam, Damar meminta Aleta kembali ke penginapan dan tidak boleh pergi kemanapun sampai ia kembali. Aleta hanya bisa menuruti perintahnya ,meski sebenarnya ia merasa jengkel dengan Damar yang selalu memerintahnya.


Damar tak ingin Aleta kembali ditatap para lelaki hidung belang, itu sebabnya ia sengaja meminta Aleta untuk diam di dalam penginapan.


...•••...


Sambil bersandar di sofa, ia menonton siaran televisi yang tak di mengerti bahasanya dan mulai merasa bosan berada di dalam penginapan.


Waktu menunjukkan pukul sebelas malam tak jua membuat Damar kembali. Aleta yang sejak tadi menunggu kedatangannya terus saja berharap jika Damar membawakan kembali kopernya atau tidak pakaian yang bisa di kenakannya dengan nyaman.


Lama menunggu Damar, akhirnya Aleta tertidur di sofa dengan suara televisi yang terdengar cukup bising ditengah larut malam. Suara yang saling beradu dengan ombak laut.


Damar yang baru saja tiba hanya mematikan televisi dan bergegas ke kamarnya, ia tak peduli dengan Aleta yang tertidur disana. Namun tak lama kemudian ia kembali keluar dan menghampiri Aleta.


...♡♡♡...

__ADS_1


__ADS_2