Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
100 - Ketegangan di dalam ruangan


__ADS_3

Sebelumnya Emir sudah menghubungi Kemal, memberitahukan kepadanya bahwa Damar dan Erick menuju ke tempat di mana Aleta disekap.


Ia juga meminta Kemal untuk tidak menyakiti Aleta selama ia tiba di lokasi. Namun, permintaanya justru dihiraukan Kemal. Pria itu merasa tidak puas jika belum menyakiti Aleta.


Saat ini Kemal sudah berada di ruangan bersama dengan Aleta dan juga Devano. Ia memerintah Devano untuk menyingkirkan ember yang berisikan air dingin itu pada kedua kaki Aleta dan mengisyaratkan Devano untuk melakukan sesuai dengan rencana yang mereka susun. Devano segera mematuhinya. Ia mengambil koper yang diletakkan di bawah kolong meja dan membuka koper tersebut.


Devano mengambil salah satu senapan panjang sementara Kemal mengambil sebuah pistol dan tombol peledak bom, yang nantinya akan mereka gunakan untuk pelindung diri.


"Hei bangun, bodoh!" maki Kemal seraya menyiram wajah Aleta dengan air dingin, agar Aleta segera membuka mata. Meski Kemal tidak peduli kondisi Aleta yang sudah lunglai.


Akibat dari air dingin itu, Aleta pun membuka kedua matanya, meski terlihat sayu. Samar-samar ia mendengar suara Kemal yang memberi perintah kepada Devano, sebelum akhirnya Aleta kembali menundukkan kepalanya karena tidak adanya sandaran untuk sekedar menopang kepalanya. Ia memasrahkan diri dengan perlakuan Kemal selanjutnya—tidak dapat melawan. Seluruh tenaganya terkuras habis karena mengalami hipotermia.


"Ingat, jika orang itu berani mendekat ke arah wanita ini, kau tembak saja dia!" seru Kemal kembali memberitahu.


"Baik, saya mengerti. Kalau begitu, saya sembunyi lebih dulu," tuturnya sebelum menyembunyikan diri.


Mereka pun akhirnya bersembunyi di dalam ruangan sampai Damar tiba. Kemal sengaja melakukannya, karena ingin melihat reaksi Damar terlebih dulu, saat mengetahui kondisi wanitanya kini.


Tak lama berselang terdengar suara pintu yang didobrak secara paksa, hingga pintu terbuka dan menampakkan Damar serta Erick yang berdiri di sampingnya.


Kedua pasang mata mereka terbelalak hebat tatkala melihat seseorang yang duduk sambil menundukkan kepala. Damar bisa dengan cepat menebak bahwa itu benar-benar Aleta.


Kakinya melangkah dengan pasti untuk menghampiri Aleta, meski sebelumnya Erick kembali menghadang Damar. Sayangnya Damar tetap bersikukuh, ia terus mengikuti apa kata hatinya.


"Aleta ...," panggilnya lembut.

__ADS_1


Mendengar suara Damar, lantas Aleta berusaha mengangkat kepalanya dan memandang Damar dengan tatapan penuh arti.


Dilihatnya wajah Aleta yang memucat dengan mata sayu, terlihat sekali wanitanya itu sedang menahan kesakitan. Damar merutuki dirinya sendiri karena tidak sempat menahan kepergian Aleta saat itu.


Perlahan kakinya mulai kembali melangkah namun, dengan cepat Aleta menghentikannya. "Berhenti di sana!" pekiknya.


Suara teriakan Aleta berhasil membuat langkah Damar terhenti. Ia bertanya dalam hati, "kenapa? aku ingin menyelamatkanmu."


Kemal yang melihat keduanya dari tempat persembunyian mendengus kesal, segera ia memberikan kode bahasa tubuhnya pada Devano untuk memberikan waktu mereka bicara.


"Jangan mendekat!" seru Aleta. "Aku tidak menginginkanmu ada di sini, pergi!" pintanya terus terang.


"Aku tidak akan pergi!" sanggah Damar tegas dan mencoba kembali melangkah.


"Pergi! Aku membencimu!" Aleta kembali memekik karena melihat Damar yang justru semakin memberanikan diri untuk melangkah.


"Aku tidak mau! pernikahan ini tidak akan pernah berakhir karena aku tidak ingin wanita yang kucintai pergi." Damar menolak permintaan Aleta.


"Aku tidak mencintaimu ... bagiku pernikahan yang diawali dengan kebohongan, tidak akan pernah bisa berubah menjadi cinta." Perjelas Aleta diikuti Isak tangisnya.


Kalimat yang terlontar dari mulutnya, membuat hati Damar tersayat. Bagaimanapun, ucapan Aleta memang benar adanya. Pernikahan mereka memang diawali dengan kebohongan karena upaya balas dendam yang direncanakan Damar namun, seiring berjalannya waktu justru rasa kebenciannya terhadap Aleta mulai terkikis habis. Meskipun rasa dendam kepada ayah Aleta masih tetap sama.


Tiba-tiba netra mata Damar menangkap Devano dari pantulan jendela. Terlihat Devano tengah siap dengan senapan yang ada dalam genggaman dan mengarah padanya.


Saat itu juga Damar memberikan kode jari pada Erick, sebagian tanda bahwa ruangan itu berbahaya. Paham akan isyarat yang diberikan Damar, Erick pun segera antisipasi—mengirimkan pesan kepada salah satu ketua bodyguard Damar yang telah siap mengamankan lokasi tersebut.

__ADS_1


Erick mengeluarkan pistol dari saku celana dan bersembunyi di samping lemari kayu yang tampak usang. Pistol ia bidik ke arah Devano dan siap menekan pelatuknya, jika Devano terlihat berancang-ancang untuk menembak Damar.


Damar memberanikan diri untuk melangkah mendekati Aleta, meski wanita itu bersikeras melarangnya. Ia tidak ingin melihat Damar tertembak oleh Devano dan juga Kemal. Belum sampai mendekat, dari luar gedung terdengar suara tembakan beberapa kali.


Suara tembakan dan kehebohan yang terjadi, sontak membuat semua orang yang berada di dalam gedung bergeming dan menoleh ke arah sumber suara. Damar pun mengambil kesempatan saat Devano tidak lagi fokus ke arahnya.


langkah kakinya ia percepatan saat ingin mendekati Aleta. Damar bertekuk yang kemudian segera melepaskan tali pada kaki Aleta. Tubuh wanita itu terasa sangat dingin saat Damar berhasil menyentuhnya.


"Pergilah, aku tidak ingin kau terluka!" pinta Aleta kembali bersuara dengan suara parau.


Ucapan Aleta dihiraukan Damar, justru Damar terus berusaha melepaskan tali yang mengikat kedua tangan Aleta setelah sebelumnya berhasil melepaskan tali pada kaki Aleta. Entah kenapa hatinya terasa sakit melihat keadaan Aleta saat ini. Wanitanya itu selalu mendapatkan siksaan setelah bertemu dengannya.


Damar menyembunyikan wajahnya dari Aleta, ketika air mata kesedihan menetes di kedua pipinya. Tidak ingin memperlihatkannya pada Aleta, Damar mengeraskan rahangnya untuk menahan rasa sedihnya dan bersikap setenang mungkin.


"Damar ...," panggil Aleta lembut. "Jika kau memang benar-benar mencintaiku, tolong turuti permintaanku!" imbuh Aleta sambil menggenggam tangan Damar erat-erat.


Damar menatap jelas wajah Aleta, memperhatikan setiap inci mata, hidung serta bibir Aleta. Meskipun tampak pucat, Aleta masih terlihat cantik di matanya.


"Aku mohon!" seru Aleta dengan sorot mata yang terus berharap jika Damar akan menuruti permintaannya itu.


Devano dan Kemal terkejut saat melihat Damar sudah berada di dekat Aleta, bahkan berhasil melepaskan ikatan di tangan dan kaki wanita itu. Devano melihat ke arah Kemal yang memberikan isyarat untuk segera melakukan tugas selanjutnya.


Tanpa basa-basi, Devano kembali membidik senapannya ke arah Damar dan dalam hitungan mundur, Devano mulai menekan pelatuknya secara perlahan.


Dar!!!

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


__ADS_2