Marriage Of The Game

Marriage Of The Game
53 - Kecelakaan


__ADS_3

..."Beberapa orang pasti akan pergi dari hidup kita, tapi itu bukanlah akhir dari cerita kita, melainkan itulah akhir dari peran mereka dalam cerita hidup kita."...


..._____________________...


Aleta terduduk sendu di sebuah halte bus, pikirannya jauh menerawang 15 tahun yang lalu saat ia masih bersama dengan Ibunya, namun menginjak usia ke 7 tahun, Aleta mendengar kabar dari salah satu pekerja di rumah, bahwa Ibunya menggantung diri di dalam kamar mandi.


Semenjak kepergian Ibunya, sikap sang Ayah semakin tak terkontrol terlebih seluruh awak media terus berdatangan ke kediaman keluarga Emir, hanya untuk sekedar mewawancarai pihak keluarga yang di tinggalkan tanpa ada rasa bela sungkawa sedikitpun.


Para pencari berita itu terus menuding, jika kematian Ibunya di sebabkan oleh salah seorang yang mengancam akan ketenangan hidupnya dan karena itulah Ibunya mengalami depresi akut hingga akhirnya sang Ibu mati bunuh diri. Sejak saat itu masalah mulai berdatangan, sang Ayah di pecat dari jabatannya akibat memanipulasi dana perusahaan.


Ia menjadi buronan kepolisian setelah terlilit hutang dengan keluarga Emilio, detik itu juga Emir justru menitipkan Aleta di panti Asuhan dengan berdalih akan menjemputnya setelah selesai bekerja, namun tak pernah sedikitpun batang hidungnya terlihat untuk menjemput sang anak yang sering menunggunya di depan pintu.


Aleta menundukkan kepala, menyembunyikan tangisnya agar tidak terlihat oleh orang-orang yang saat itu tengah berlalu lalang melintasi trotoar jalan. Sementara dari kejauhan terlihat seseorang tengah memantau dirinya.


Ya, Damar membuntuti Aleta sejak kepulangannya dari temu janji bersama Tn. Edward. Ia melacak keberadaan Aleta dari ponsel, mengetahui titik lokasi Aleta tak berada di rumah, Damar pun segera menuju lokasi keberadaannya saat ini.


Damar juga telah mengetahui bahwa Aleta baru saja bertemu dengan Emir, meski tak mendengar percakapan antara keduanya, tapi ia meyakini bahwa Aleta benar-benar bekerjasama dengan sang Ayah untuk menghancurkan kehidupannya setelah berhasil membunuh kedua orangtua Damar.


"Kalian tidak akan pernah bisa menghancurkan ku karena aku yang akan lebih dulu menghancurkan kalian!"


Gumam Damar menyoroti Aleta dengan tatapan bengis, ucapan yang ia lontarkan di dalam hatinya tidaklah main-main, Damar bertekad dan bersungguh-sungguh.


.


.


.

__ADS_1


.


Aleta menaiki bus dan segera duduk sambil menyandarkan kepala di jendela kendaraan umum tersebut. Tatapan mata dan pikirannya kosong, ia tak lagi memerhatikan ataupun mendengar bisikan-bisikan para penumpang yang saat itu tengah berbicara dengan penumpang lainnya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, Aleta tak mempedulikannya.


Tepat di samping Bus, Damar terus mengikuti. Sesekali pria itu memperhatikannya dari balik jendela mobil. Menatap dengan tatapan tajam dan penuh arti, namun yang mendapat tatapan itu justru tak menoleh sedikitpun ke arahnya.


...***...


Aleta melangkah perlahan menuju sebuah tempat pemakaman dengan membawa satu ikat bunga mawar putih dalam genggamannya. Rasanya sudah lama sekali ia tak pernah lagi menginjakkan kaki di tempat peristirahatan terakhir sang Ibu, setelah kejadian lampau.


Bunga mawar putih ia letakkan tepat di atas pusara makam setelah tiba. Sejenak Aleta terdiam sambil memandangi batu nisan yang tertanam, ia bicara dalam diam sebelum akhirnya terduduk di samping makam sambil menyandarkan kepala di atas batu nisan tersebut.


"Apa kabar Ibu? maaf aku terlambat datang berkunjung. Aku bawakan bunga mawar putih kesukaanmu dan beberapa minuman untuk teman kita berbincang-bincang."


Aleta mengeluarkan 2 gelas kecil dan satu botol minuman beralkohol, lalu ia menuangkan air itu ke dalam 2 gelas tersebut dan meminumnya setelah bersulang dengan bayang-bayang halusinasinya.


"Kupikir kau lebih kuat dariku, tapi kenyataannya justru aku yang lebih kuat. Kau menyerah begitu saja tanpa pamit sedikitpun, bahkan kau menunjukkan kematian mu padaku." Aleta terkekeh, mentertawakan kebodohan Ibunya.


"Hidupmu tidak akan berhenti sampai di sini hanya karena kau ingin menyerah! kau ingat itu? kata-kata yang sering aku dengar dari mulutmu, kau bicara padaku agar aku tak dapat menyerah, tapi kenapa kau yang mematahkan ucapan itu?" sambung Aleta dengan nada sedikit meninggi karena kesal.


"Aku pernah membencimu dan mungkin sampai detik ini pun rasa benci itu tetap akan sama. Kebahagiaan ku hilang setelah kepergian mu, kau meninggalkan luka yang begitu menyakitkan untukku. Aku membencimu tapi rasa sayangku padamu lebih besar. Aku ingin melupakan semua orang di masa kelam itu, tapi kalian hadir yang kini justru menambah goresan luka yang lebih dalam lagi!" sambung Aleta semakin meninggikan suaranya seraya menghabiskan beberapa gelas minuman beralkohol.


"Aku benci terlahir sebagai Aleta, hidup sebagai Aleta hanya membuatku tak nyaman."


Tangis Aleta meledak di depan pusara makam sang Ibu, tak lagi kuat menahan masalah kehidupannya yang silih berganti terus berdatangan. Ia bahkan sempat tersedak karena terus meminum alkohol yang telah dihabiskannya 3 botol penuh.


"Apa kau bisa membantuku, Ibu!" jeritnya terisak-isak seraya menepuk-nepuk dada yang terasa sesak.

__ADS_1


.


.


.


.


Damar memantau dari kejauhan dan mendapati Aleta tengah menangis dan menjerit lirih di sana. Ia enggan menghampiri, tak ingin lagi peduli akan tangisnya. Baginya tangis dan jerit Aleta hanyalah rangkaian drama yang disusun bersama Ayahnya.


Mobil Damar kembali melaju saat melihat Aleta yang kini tengah meninggalkan pemakaman. Ia membuntuti dari belakang sambil terus menatap Aleta dari dalam mobil. Langkah kaki yang tak seimbang dengan gerakan tubuh, membuat Aleta sulit berjalan dengan benar.


Bahkan sesekali Aleta hampir menabrak tiang lampu yang berdiri di samping jalan, akibat keleyengan yang menjalar di kepalanya efek dari mabuk yang ditimbulkan karena meminum 3 botol alkohol.


Aleta terlihat seperti orang gila, merancaukan beberapa kata kebencian, bernyanyi dengan suara parau hingga menggerakkan tubuhnya seolah-olah mengikuti irama musik yang ternyata hanya sebuah halusinasi.


Senja yang telah berganti malam membuat seluruh lampu jalan menyala diikuti ramainya pejalan kaki yang hendak menuju ke salah satu tempat, namun tidak untuk Aleta yang justru melangkah tak tentu arah, ia terus berjalan meski tidak tahu kemana tujuannya saat ini.


Tiba saat lampu penyebrangan berwarna hijau, Aleta melangkah seenaknya di atas zebra cross tanpa rasa takut sedikitpun dengan mobil yang melintas sambil membunyikan klakson di depannya.


Terlihat dari kejauhan sebuah truk pengangkut barang melaju dengan cepat, hingga tak menyadari Aleta yang masih berada di tengah-tengah zebra cross itu. Semua orang yang memerhatikan Aleta terus meneriakinya untuk tak berada di sana, karena terlalu berbahaya.


Sampai tiba dimana truk hampir mendekat, ia masih setengah sadar dan tak mendengar suara klakson keras dari truk tersebut, hingga akhirnya Aleta terlempar cukup jauh.


...💕💕💕...


*Hai pembaca setia MOTG, aku mau rekomendasi karya novel dari teman sesama author juga nih! karya author Anggie_r, yuk mampir siapa tahu suka sama ceritanya sambil nunggu up bab ceritaku selanjutnya.

__ADS_1



__ADS_2