
..."Sesuatu yang kau kerjakan mungkin saja akan berbalik kepadamu. Baik maupun buruk, semua tergantung pada perbuatan mu sendiri."...
..._______...
Aleta kembali ke kamar yang telah rapi seperti sediakala. Ia termangu di samping ranjang sambil mengingat sesuatu, netra mata indahnya menatap sendu foto sang Ibunda.
Ibu pengganti yang mengurusnya ketika ia pertama kali tinggal di panti asuhan, kala itu Aleta masih berumur 5 tahun. Ia menangis tersedu-sedu di depan pintu gerbang panti, karena derasnya suara hujan tak ada satupun seseorang yang mendengar atau melihatnya dari dalam panti.
Beruntung dewi fortuna masih berbaik hati padanya karena mengirimkan sosok wanita paruh baya yang datang untuk menolong Aleta. Wanita paruh baya itu mendekap hangat tubuh mungil Aleta, walau seluruh tubuhnya tengah basah kuyup.
Dengan penuh kasih sayang ia mengurus Aleta seperti anaknya sendiri dan sebab itulah Aleta memanggilnya Bunda, sang malaikat tak bersayap yang mampu membuatnya kembali ceria.
Sayangnya kebahagian itu tak berlangsung lama, sebab sang Ibunda menghilang pergi entah kemana. Aleta pun kembali merasa kesepian dan sedih.
Baru saja merasakan dekapan hangat seorang Ibu, kini takkan bisa dirasakannya kembali karena kepergian sang Ibunda yang begitu mendadak tanpa memberikan pesan terakhir apapun padanya.
'Aku merindukanmu, sangat merindukanmu, Bunda. Bisakah kita kembali bertemu? Ada banyak sekali hal yang ingin ku ceritakan padamu,'
Aleta mengusap lembut foto sang Ibunda dengan jari- jemarinya. Bulir air mata yang membendung di pelupuk mata sejak tadi akhirnya runtuh seketika begitu mengingat akan kerinduan pada sang Ibunda.
Ia berharap bisa segera kembali bertemu dengan Ibundanya, seseorang yang paling ia sayang melebihi Ayah dan Ibunya sendiri.
...•••...
Erick memberikan kabar pada Damar bahwa wedding organizer yang akan mengurus acara pernikahan mereka, meminta keduanya untuk datang ke studio.
Undangan pernikahan juga telah dibagikan ke semua kalangan relasi dan orang-orang penting terdekatnya. Damar memang meminta Erick untuk mencetak semua undangan sebelum Aleta menyetujui pernikahan tersebut, semua rencana ia persiapkan dengan matang sebelum hari itu terjadi.
Erick yang sempat merasa curiga, hanya bisa membungkuk patuh dan mengikuti perintahnya saja, kendati ia merasa khawatir jika nanti rencananya itu akan berbalik pada Bosnya sendiri.
"Sore nanti kau hantarkan wanita itu ke studio, aku akan tiba lebih dulu disana!" perintah Damar tegas.
"Baik Bos," Jawab Erick tanpa bertanya lebih lanjut.
__ADS_1
"Kau boleh pergi sekarang!"
Erick menundukkan kepala sebelum akhirnya ia melangkah pergi dari ruang kerja Damar. Sementara Damar memutar kursi kebesarannya menghadap jendela, ia mengangkat salah satu sudut bibirnya sembari memainkan pulpen di jarinya.
'Permainan akan segera dimulai, Tn. Emir. Segeralah keluar dari tempat persembunyian mu itu dan nikmati permainan ku!'
...•••...
Aleta sudah tiba di studio setelah Erick membawanya kesana. Selama di perjalanan ia terus saja memandangi sudut Ibu Kota, karena hampir 3 hari ini ia tidak dapat merasakan udara luar, semenjak Damar mengurungnya di dalam kamar.
"Silahkan, Nona!" ucap Erick sopan saat melihat Aleta mematung di tempat.
Aleta segera mengikuti langkah Erick yang sudah lebih dulu masuk kedalam. Ruang studio itu tampak sepi dan hening dari segala aktifitas bahkan tidak terlihat satupun orang selain Aleta dan Erick disana. Hanya terdapat tirai-tirai putih dan sedikit taburan bunga di atas lantai vinyl yang menghiasi keindahan ruangan.
"Saya permisi, Nona!" Erick menundukkan kepalanya sebelum melangkah pergi.
Aleta memutar kearahnya, "tung ...," ucapnya terputus begitu melihat Erick sudah tak lagi terlihat.
Aleta menatap tanpa berkedip hingga tak sadar jika Damar berjalan kearahnya. Yang dilihatnya saat itu bukanlah sosok Damar seperti biasanya.
Tatanan gaya rambut yang berbeda dan juga senyum yang mengambang di wajahnya, membuat Aleta terpesona dengan aura ketampanannya.
"Cepat ganti pakaianmu, jangan hanya diam sambil menatapku!"
Bisik Damar ditelinga Aleta seketika menghentikan lamunannya, ia mendorong tubuh Damar untuk segera menjauh darinya. Pikirannya yang sempat melayang kini kembali normal. Sorot matanya juga kembali menatap sinis Damar.
"Mari, Nona ikut dengan saya!" tutur sang penata rias.
Aleta segera mengikuti langkah petugas wedding organizer, karena tak ingin berada di ruangan yang sama bersama dengan pria yang begitu dibencinya.
Selang 20 menit, akhirnya Aleta telah siap dengan gaun putih nan sexy yang akan di pakainya untuk sesi foto hari ini. Ia berdiri di depan tirai tempat dimana Damar berdiri sebelumnya.
Tirai itu terbuka memperlihatkan Aleta di depan Damar yang sedang duduk santai menatapnya. Sementara Aleta tidak begitu nyaman dengan gaun yang dikenakannya saat ini.
__ADS_1
Ia tampak sibuk, ketika kedua tangannya bersilang di depan dada untuk menutupi belahan auratnya. Tak pernah sekalipun ia memakai gaun yang memperlihatkan bagian pribadi tubuhnya. Jangankan memakainya, memilikinya saja tidak ingin.
Damar tiba-tiba berdiri dan melangkah kearahnya. Begitu ia mendekat, Aleta justru mencoba melangkah mundur menjauhinya karena mencurigai wajah mesum Damar. Sialnya, ia hampir terjatuh akibat high heels yang dipakainya.
Seumur hidupnya baru kali ini ia memakai sepatu berhak tinggi. Baginya sepatu semacam itu akan merepotkan ketika berjalan belum lagi harus merasakan lecet di bagian jari kaki dan tumit.
Penata rias yang sedang berdiri terkejut saat melihat Aleta terjatuh, sedangkan Damar hanya berdiri sambil memasukkan tangan kedalam saku celana, sebelum akhirnya ia berjongkok hanya untuk mengolok-olok Aleta.
"Kau bukan hanya wanita bodoh tapi kau juga wanita yang buruk! Kau pikir aku ingin menyentuhmu? Jangan terlalu percaya diri, seleraku bukan dengan wanita rendah sepertimu," cibir Damar kasar.
Ucapan itu langsung dibalas tatapan sengit oleh Aleta. Ia tak habis pikir dengan Damar yang selalu menyebutnya wanita bodoh dan rendah.
"Tidak perlu menatapku seperti itu, cepat berdiri dan ikut denganku!" lanjutnya lagi sebelum melangkah.
Petugas WO segera membantu Aleta berdiri dan memapahnya berjalan, mereka tahu jika kaki Aleta sedang terluka, karena sempat melihat perban yang terlilit di pergelangan kakinya setelah membantu Aleta memakaikan gaun.
Sesi foto pun dimulai, Aleta dan Damar diminta oleh sang fotografer untuk berpose mesra saat di depan kamera. Permintaan itu membuat Aleta berat hati, bagaimana ia bisa berpose mesra dengan pria yang jelas-jelas di bencinya dan gaun yang dipakainya pun ikut membuatnya risih, jika harus membiarkan belahan dadanya itu terekspos di depan kamera.
Hampir 30 menit sesi pemotretan berlangsung, namun sang Fotografer belum juga menemukan pose yang cocok dan bagus, sebab keduanya tidak sedikitpun memiliki chemistry.
Hampir saja sang Fotografer menyerah dengan hasilnya yang kurang bagus, tiba-tiba dengan berani Damar merangkul pinggang Aleta dan membawanya untuk mendekat kearahnya.
"Lakukan sesuai keinginanku, aku sudah bosan berlama-lama disini denganmu!" Bisik Damar di telinga Aleta.
Hendak berniat membalas ucapan Damar, kini Aleta dibuat bungkam olehnya, karena Damar menatapnya lekat sambil mengecup kening dengan lembut dan membelai wajahnya mesra.
Aleta mengerjapkan matanya berkali-kali tatkala mendapatkan perlakuan Damar yang tak biasa. Walau dirasa ucapannya kasar, namun sikapnya begitu lembut dan hangat saat mereka sedang berpose mesra.
Dan kini keduanya mulai terbuai dalam pemotretan tersebut. Sementara sang Fotografer segera menangkap gambar keduanya yang mulai mendapatkan feel. Mereka juga ingin mengakhiri sesi yang cukup melelahkan hari ini.
"Yah good, bagus sekali oke. Oke kita dapat gambarnya!" sang Fotografer bersorak-sorai, ia terlihat begitu senang.
...♡♡♡...
__ADS_1