
..."Aku tidak memiliki keberanian lebih untuk mengatakan bahwa aku merindukanmu, hanya berani mengungkapkan dalam hati."...
..._______________________...
Bulir air mata menggenang di pelupuk mata saat Aleta membaca pesan yang di tuliskan langsung oleh Damar, pesan tersebut membuat hatinya terenyuh. Damar yang ia tahu hanya membencinya kini menjadi orang yang berbeda.
Tidak biasa-biasanya pria itu mengirim pesan bijak untuknya agar membuat dirinya kuat dan semangat melalui kehidupannya. Kendati masalah itu selalu datang ketika bertemu Damar.
Namun Aleta ingin meluruskan semua perselisihan yang terjadi diantara dua keluarga dan ia tak ingin terus-menerus menjadi tumbal akibat permasalahan Ayahnya.
Aleta menghirup aroma bunga yang masih begitu segar dan harum. Diletakkannya bunga-bunga itu di atas meja nakas samping kiri dan kanan ranjang setelah menangkap gambar dari kamera ponselnya. Gambar itu langsung ia kirimkan kepada Damar dengan ucapan terima kasih yang diakhiri memakai emoji senyum.
.
.
.
.
Damar memerhatikan layar ponselnya setelah mendapatkan notifikasi pesan masuk dari Aleta. Senyum mengambang dari wajahnya dan hati ikut beriak, seakan ingin menyuarakan bahwa dirinya tengah senang setelah mengetahui Aleta sudah menerima buket bunga pemberian darinya yang ia pesan melalui Erick.
"Bersifatlah seperti bunga yang enak dipandang namun sukar dipetik. Meskipun esok akan layu, pasti akan mekar dan indah kembali. Terima kasih atas bunganya ( ◜‿◝ )"
Begitulah bunyi pesan yang Aleta kirimkan untuknya. Ada rasa bangga pada diri sendiri karena dapat membuat Aleta menyukai bunga yang diberikannya, meski sebelumnya tak pernah ia lakukan hal romantis semacam itu pada Yuri.
"Dok, apa hari ini aku diperbolehkan untuk pulang?" Damar bertanya kepada sang Dokter yang saat itu sedang membuka perban dan cervical collar.
Seketika Dokter itu menghentikan kegiatannya dan menyoroti dengan tatapan mata elang, beliau sangat mengenal semua pasiennya, terlebih pasien yang saat ini berada di hadapannya.
Damar memang dikenal sebagai orang yang keras kepala, ia hanya mau melakukan apa yang diinginkannya tetapi tak pernah mau mendengar semua perkataan orang lain, saat dengan kondisi seperti ini pun ia masih ngeyel.
Sedangkan sang Dokter sudah memperingatinya ratusan kali, bahwa ia dilarang untuk pulang sebelum sembuh total. Tetapi pria itu terus saja bersikukuh, meyakinkan Dokter jika dirinya telah sehat dan bisa melakukan apapun.
__ADS_1
Namun sayang Dokter tak mempercayai ucapannya, sebab Damar untuk menoleh kearah kanan dan kiri saja masih sulit, kentara sekali raut wajahnya tampak meringis saat Dokter ingin meminta bukti jika yang dikatakannya itu memanglah benar.
"Damar..Damar," ucap Dokter sambil menggelengkan kepalanya heran dengan pasiennya yang satu itu.
"Ayolah Dok! aku sudah benar-benar sehat." Tegasnya percaya diri menyeru bahwa dirinya tak ingin berlama-lama di Rumah Sakit.
"Bukan berarti aku melepaskan penyangga leher dan perban ini lantas kau berujar bahwa dirimu baik-baik saja, Damar," terang sang Dokter sambil melanjutkan kembali kegiatannya.
"Lalu kapan aku bisa pulang?" tanya Damar penasaran dan penuh harap.
"Memangnya apa sih yang membuatmu ingin sekali pulang? kau merindukan istrimu?" Dokter itu balik bertanya.
Damar terdiam, sejenak ia kembali mengingat momen-momen kebersamaan dirinya bersama Aleta meski lebih banyak kenangan pertengkaran mereka, tapi itulah yang membuatnya rindu dengan sosok Aleta.
"Kenapa diam?" tanya Dokter memerhatikan Damar yang sedang senyum-senyum sendiri.
Damar terkekeh garing. "Sepertinya Dokter benar, aku memang merindukannya bahkan sangat merindukannya." Ungkap Damar jujur.
"Terima kasih Dokter," balas Damar tersenyum senang.
...***...
Aleta menuruni anak tangga menuju ruang makan, walau suasana rumah itu telah berubah namun hatinya tetap terasa sepi. Ia merasa kehilangan sosok Damar yang setiap hari selalu mengajaknya berdebat, belum lagi dengan keisengan dan kejahilan Damar, Aleta merindukan suasana itu.
"Silahkan Nona," sapa sang Pelayan saat melihat Aleta tiba di ruang makan.
Aleta membalasnya dengan senyuman, wanita itu duduk di tempat seperti biasa sambil memandangi hidangan di atas meja yang kemudian beralih ke arah kursi kosong yang biasa di tempati oleh Damar.
"Aku tidak pernah merasa kehilangan seperti ini, biasanya jika pria itu tak di rumah aku justru merasa senang tapi mengapa hari ini terasa berbeda?"
Gumam Aleta menatap sendu kursi tersebut sambil melamunkan sosok bayangan Damar yang seakan-akan berada di hadapannya dan menatap dengan tatapan mata kebencian seperti biasa.
Aleta menyantap makanan tak bersemangat meski makanan tersebut begitu lezat. Melihat ketidakpuasan Aleta, membuat sang pelayan menawarkan makanan lainnya. Namun segera di tolaknya, sebab mau sebanyak apapun makanan yang di hidangkan ia tidak akan berselera.
__ADS_1
"Aku hanya ingin dia disini!" gumam Aleta sendu.
...***...
Yuri menghamburkan semua barang-barang yang ada di kamarnya, tampak ia begitu marah dan kesal setelah mendapatkan kabar bahwa Aleta menerima buket bunga dari Damar.
Seisi kamar terlihat seperti kapal pecah tak beraturan, bahkan ia tak segan-segan menghancurkan ponsel miliknya karena meradang. Ia tak suka melihat Damar memberikan bunga untuk Aleta.
Sementara dirinya tak pernah sekalipun diberikan bunga oleh pria yang masih dicintainya sampai saat ini. Ia tak rela Aleta menerima cinta dari Damar, baginya cinta Damar hanya akan menjadi miliknya.
Setiap kali berusaha menjauhkan Damar dari Aleta, ia selalu gagal. Segala upayanya untuk menarik perhatian Damar kini tak pernah lagi berhasil, meski dahulu Damar selalu merespon perhatiannya.
"Aku akan menghancurkan hubungan kalian, entah bagaimana pun caranya kalian harus berpisah. Aku tidak suka Damar menjadi miliknya, Damar hanya milikku sampai kapanpun dan aku tidak rela membaginya dengan wanita gila yang tak jelas asal usulnya." Ucapnya bersikeras sambil mengepalkan tangan dan menyoroti foto Aleta yang tertempel dia atas papan dart board dengan ditancapkan panah kecil.
Yuri berikrar penuh dendam. Ucapannya kali ini terdengar bersungguh-sungguh walaupun harus melibatkan nyawanya, ia tak peduli asalkan Damar kembali bersamanya. Ia akan melakukan cara apapun untuk membuat Aleta pergi dari kehidupan Damar.
...***...
Dari jendela kamar yang baru saja dibuka, membuat hawa sejuk masuk kedalam ruang kamar Aleta. Berhembus dan menyergap masuk begitu saja, meski sang pemilik kamar masih enggan untuk membuka mata.
Aleta tampak mengerutkan kening saat merasakan sentuhan hangat di atas keningnya. Sayup-sayup terdengar suara seseorang yang mengucapkan selamat pagi padanya, namun ia masih memejamkan mata.
Kembali ia merasakan ada seseorang yang tidur di sampingnya sambil mengusap lembut rambut panjangnya dan sesekali merapikan anak rambut yang diselipkan di belakang kuping Aleta.
"I Love You"
...💕💕💕*...
*Terima kasih sudah membaca karyaku, jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan berikan gift dan votenya ya agar aku lebih bersemangat 😘
By the way, aku mau rekomendasi karya sahabat pena ku nih, karyanya Kim O. Cerita Sekar dan Arion. Kuy mampir sambil menunggu karya ku up 👐
__ADS_1